Internasional post authorPatrick Sorongan 16 September 2022

Ngeri-ngeri Sedap, AS akan Berperang Sendirian Lawan Rusia!

Photo of Ngeri-ngeri Sedap,  AS akan Berperang Sendirian Lawan Rusia! (GambarL Dreamtime)

Terus berkacamuknya  perang matikan di Ukraina antara pasukan Kiev vs Moskow sejak 24 Februari 2022 tak lain merupakan pertempuran proksi antara AS dan Rusia.

Hanya saja, negara pemimpin Pakta Pertahanan  Atlantik Utara (NATO) ini, diprediksi akan ditinggalkan sejumlah  negara aliansi tersebut serta juga sebagian besar negara di dunia, sebagaimana laporan Patrick Sorongan dari Suara Pemred berikut ini.

MASALAHNYA, Benua Eropa sedang kelabakan menghadapi krisis energi, di mana gas untuk pembangkit tenaga listriknya, sebagian besar dipasok  oleh Rusia lewat pipa Nordstream.

Dalam perang proksinya di Ukraina, AS secara perlahan akan gagal memaksa komunitas global untuk mendukung posisinya dalam perang proksinya  dengan Rusia.

Banyak negara di Benua Asia terutama China dan Afrika, terutama Afrika Selatan, misalnya, bersikap abstain di Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi ke Rusia atas pernag tersebut.

Masalahnya, dalam catatan Suara Pemred, sebagian besar dunia tidak tertarik untuk tersedot ke dalam perjuangan antara Rusia dan Barat.

Selain pasokan minyak dan gas, banyak negara di Asia dan Afrika sangat bergantung dari pangan berupa biji-bijian dari Ukraina dan migas dari Rusia.

Menurut  Direktur Program Klub Valdai, sebuah lembaga think tank,  Timofey Bordachev, sekarang ini bukan lagi era Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet.

"Karena Rusia bukanlah  Soviet," tulis Bordachev dalam tulisannya di koran Pemerintah Rusia, Russia Today, Selasa, 13 September 2022, dilansir Kalbar-Terkini.com.

Bordachev menegaskan, salah satu tanda perubahan yang terjadi saat ini,  bukanlah terbelahnya dunia menjadi kubu-kubu yang berseberangan.

Melainkan,  terjadi penyesuaian terhadap perubahan kondisi akibat konflik antara kekuatan-kekuatan besar.

"Hal ini sangat mungkin menjadi sinyal bahwa di masa depan, kita tidak akan melihat pemulihan tatanan internasional bipolar yang ada sejak 1945 hingga 1990," tulisnya.

Kini Umat Manusia lebih Bersatu

Sikap yang diambil sebagian besar dunia tentang konflik Rusia dan Barat, menunjukkan bahwa umat manusia sekarang jauh lebih bersatu.

Menurut Bordachev, umat manusia  juga telah mampu beradaptasi. Bahkan,  untuk tantangan besar yang mungkin tidak dibayangkan beberapa waktu lalu.

Ini juga memungkiri anggapan tentang kuatnya sentralitas AS dalam urusan dunia.

Anggapan ini terus membuat masalah apa pun yang terkait dengan Washington karena AS merasa menjadi yang paling penting di dunia.  "Ini juga mampu menyebabkan perpecahan global," kecamnya.

Tapi, tidak berarti Rusia harus berpikir bahwa dengan berada di sisi kanan sejarah,secara otomatis akan mendapatkan dukungan mayoritas negara.  

"Ini adalah sesuatu yang masih harus diperjuangkan," tegasnya.  

Jadi,  akan sembrono untuk berasumsi bahwa penolakan mayoritas negara di dunia, yang mewakili 85 persen populasi global untuk bergabung dalam perang ekonomi Barat vs Rusia, berarti mendukung perilaku Moskow.

Enam bulan setelah dimulainya operasi militer Rusia di Ukraina pada 24 Februari 2922, sebagian besar negara ingin menjaga jarak. "Inilah dinamika sikap internasional terhadap konflik politik-militer," ujar Bordachev. 

Kian pro-Rusia, China Dikecualikan

Pengecualian di sini adalah China, yang kebijakannya semakin pro-Rusia. "Ketika masalahnya sendiri dengan AS meningkat, China terus menunjukkan kedalaman rasa saling percaya yang nyata dengan Moskow," pujinya. 

Namun, hubungan ini berasal dari perkembangan hubungan kedua negara selama 20 tahun terakhir. 

Ini juga dampak dari  konvergensi objektif terkait pendekatan China terhadap masalah sistemik utama, yakni tidak terkait dengan krisis langsung di Eropa. 

Menurutnya, masih terlalu dini untuk mengklaim seperti apa tatanan internasional di masa depan. 

Hal ini setelah Barat dipaksa mengakui kekalahan bersejarahnya dalam perjuangan mempertahankan dominasi global.  

"Ini akan dibentuk secara bertahap sebagai kekuatan terkemuka," lanjut Bordachev. 

Hal ini seringkali dilakukan Barat dengan cara yang sangat berbahaya. Barat selalu ingin menentukan batas kemampuan kekuatan mereka,  dan batas apa yang mereka izinkan. 

Proses ini, mengingat irasionalitas perang umum besar dan skala masalah yang sudah berlangsung lama, kemungkinan akan jauh lebih berlarut-larut. 

Bahkan ini bakal lebih  berlarut-larut daripada episode perubahan radikal sebelumnya dalam tatanan internasional.  

"Kita sekarang menyaksikan salah satu tahap pertama dari penataan kembali politik global yang langgeng," tambah Bordachev.

"Tapi faktanya, kita sedang berbicara tentang akhir dari suatu periode yang telah berlangsung beberapa ratus tahun," lanjutnya.

Tetapi, ujarnya, "Bahkan  pada tahap ini, kita sudah dapat melihat beberapa tanda perilaku kekuatan." 

Tanda perilaku kekuatan ini  menjadi faktor sistemik dalam perkembangan politik internasional. Karena itu, menurut Bordachev, penting disadari, salah satu tanda perubahan yang terjadi bukanlah pembagian dunia ke dalam kubu-kubu yang berlawanan.

Melainkan – sebagian besar – penyesuaian terhadap perubahan kondisi akibat konflik. "Hal ini sangat mungkin menjadi sinyal bahwa kita tidak mengambil risiko memulihkan sistem bipolar,"jelasnya.

Sistem ini telah menjadi ciri tatanan internasional periode Perang Dingin.

"Dan,  kita bisa membuat argumen tambahan bahwa aturan dan norma perilaku saat itu hanya bisa menjadi pelajaran bagi politik luar negeri di era modern," tulis Bordachev.

Kebangkitan Diam-diam India

Menurutnya, unggulan dari adaptasi tersebut,  tentu saja adalah India, salah satu negara terbesar dalam hal populasi. Apalagi, India memiliki ambisi yang sangat serius dalam hal perannya di dunia.  

Sejauh ini, India belum mencapai pembangunan ekonomi, militer atau manusia yang akan menjadikannya kekuatan besar sejati.  

Tetapi pada saat yang sama, India adalah pemimpin mayoritas. India tidak berniat membiarkan dirinya dibagi menjadi kubu-kubu yang berlawanan. 

India juga tak berniat membiarkan dirinya menjadi basis sumber daya untuk saingan, seperti AS, Rusia atau China.  

New Delhi secara konsisten mempertahankan hubungan bisnis dengan Moskow. India bahkan telah menjadi salah satu mitra dagang luar negeri terbesar Rusia dalam beberapa bulan terakhir. 

Pejabat India terus-menerus menekankan bahwa pandangan dunianya  adalah tidak anti-Rusia. 

Adapun  keengganan India di beberapa bidang dalam kerja sama dengan Rusia, hanya terkait dengan ketakutan yang beralasan. 

Ketakutan ini,  tak lain  terkait bisnis domestiknya  yang berisiko terkena pembalasan AS.

Menurut Bordachev,  India dipandang sebagai panutan oleh sebagian besar negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.  

"Kami melihat secara khusus bahwa enam bulan setelah krisis Rusia-Barat telah berubah menjadi bentrokan politik-militer," katanya.

Makin Banyak Negara Menolak Dukung AS 

Jumlah negara yang bersedia, bahkan secara lisan untuk mendukung AS dalam perjuangannya melawan Moskow, telah berkurang lebih setengahnya. 

Dengan demikian,  lanjutnya, perhatian pengamat pada pekan lalu telah tertuju ke upaya untuk menggalang dukungan negara-negara PBB.  Dukungan ini  terkait pernyataan baru yang mengutuk kebijakan Rusia tentang masalah Ukraina.  

Sementara lebih dari 140 negara mendukung resolusi serupa di Majelis Umum PBB pada Maret 2022, kali ini hanya ditindaklanjuti oleh 58 negara. 

Sebanyak 30 negara dari 58 negara ini adalah anggota resmi blok militer NATO pimpinan AS. Beberapa negara yang lain terikat ke Washington oleh perjanjian pertahanan bilateral. 

Dengan demikian, menurut Bordachev, lebih dua pertiga dari seluruh komunitas internasional, telah menghindari menguraikan posisinya dalam urusan Eropa.  

Ini tentu saja, sebagian merupakan hasil dari diplomasi Rusia dan China. Diplomasi kedua negara ini yang dilakukan terus-menerus, menunjukkan bahwa penyebab sebenarnya dari perang di Eropa adalah kebijakan AS. 

Tetapi,  dinamika ini terutama menunjukkan bahwa negara-negara berkembang memahami bahwa ada peluang bagi untuk tidak membuat pilihan seperti itu.  

"Sebaliknya, strategi jarak dari konflik lebih rasional, dapat dibenarkan dalam konteks saat ini," tulisnya.

Urusan di Eropa pun berlarut-larut dan mengambil ciri-ciri konflik permanen antara Rusia dan Barat, dengan berbagai tingkat ketegangan," tambah Bordachev.

Karena itu, sebagian besar negara di dunia akan semakin beradaptasi dengan kehidupan dalam keadaan seperti ini.

Bagi AS sendiri, pengurangan kapasitas untuk memaksakan kehendaknya telah mengarah ke strategi intimidasi.  "Juga tekanan terhadap pemain independen di dunia internasional," lanjutnya. 

Namun, kebijakan ini juga tidak akan berhasil.  Washington memiliki mesin represif yang sangat besar, mengubah semua kegiatan internasionalnya menjadi penegakan 'sanksi'. 

Tapi, menurut Bordachev, hal ini akan membuat semua sanksi itu  sama sekali tidak efektif.

"Yang lauin mengatakan, kita tentu tidak bisa mengesampingkan skenario seperti itu. Akibatnya, semakin banyak negara akan bekerja sama dengan Rusia dan Barat. Dan,  kecepatan kerja sama ini akan bergantung pada kemungkinan mendapatkan sesuatu dari kedua musuh ini," tulisnya.

Pada gilirannya, konflik di Eropa akan menjadi semakin terlokalisasi karena hanya menarik minat langsung para peserta utama.  

"Apa yang dilakukan seluruh dunia adalah mencoba untuk tidak berpartisipasi," prediksi Bordachev.

Bagi Rusia, lanjutnya,  ini berarti Moskow harus tetap terbuka. Moskow juga harus mampu menawarkan kepada negara-negara berkembang tentang apa yang mereka butuhkan.  Misalnya, kebutuhan di bidang energi, barang, sains, atau pendidikan.  

Tetapi,  sarannya, sama sekali tidak perlu memikat siapa pun ke dalam perjuangan untuk kepentingan dan nilai-nilai Rusia.

"Hal ini persis apa yang ingin dihindari oleh sebagian besar dunia,"  tulis Bordachev.

"Dengan demikian, kita bisa relatif tenang," lanjutnya.

Masalahnya, pembagian dunia menjadi kubu-kubu saling berlawanan, yang merupakan kondisi integral untuk pecahnya perang yang lebih besar akan dapat dihindari.***

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda