Lima Warga Norwegia Tewas di Panah, Polisi Tiup Isu anti-Islam

Photo of Lima Warga Norwegia Tewas di Panah, Polisi Tiup Isu anti-Islam BERDUKA - Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre meletakkan bunga dan menyalakan lilin selama kunjungannya ke Kongsberg, Norwegia, Jumat, 15 Oktober 2021. (Terje Bendiksby/NTB via AP)

HELSINKI, SP -  Pemerintah Norwegia pada Sabtu, 16 Oktober 2021 malam atau atau Minggu, 17 Oktober 2021 subuh WIB,  mengumumkan akan segera mempublikasikan kasus pembunuhan lima warga dengan menggunakan di sebuah swalayan, Kota Kongsberg selatan, Rabu, 13 Oktober 2021.

Aksi berutal warga asli Morwegia ini sebagaimana dilaporkan The Associated Press dari Helsinki, Ibukota Norwegia, Minggu dinihari WIB ini, pihak kepolisian di negara Suku Viking ini menyatakan bahwa pelaku yang mengamuk tanpa alasan jelas itu mengaku baru saja memeluk agama Islam.

Pernyataan ini pun langsung diklaim sebagai provokasi untuk membenci imigran Islam dan juga menebar kebencian anti-Islam di Norwegia.

Waqar Dar,  juru bicara komunitas Muslim Norwegia menyatakan bahwa jika pun tersangka Espen Andersen (37)  mengaku sudah mualaf, tapi tidak tindakan brutalnya janganlah  dikaitkan dengan Islam,  karena Islam adalah agama yang menyayangi semua mahluk apa pun etnis, suku dan agamanya. 

Sangat Menyakitkan
Menurut Dar, pernyataan pihak kepolisian dari pengakuan pelaku itu sangat tidak bertanggung jawab,  karena hanya akan memancing isu negatif terhadap Islam.  

“Sakit, sangat menyakitkan. Ada banyak pemuda Muslim yang menulis surat kepada saya, dan mengatakan bahwa mereka memiliki firasat buruk. Mereka mencintai Norwegia tetapi merasa tidak dicintai kembali," keluhnya. 

Sementara pihak otoritas terkait di Norwegia pada Minggu dinihari WIB ini telah mengumumkan akan mengadakan penyelidikan independen terhadap tindakan polisi, dan badan keamanan menyusul serangan busur dan anak panah yang menewaskan lima orang dan melukai tiga lainnya.

Menebar isu anti-Islam diduga sengaja dilakukan pihak kepolisian karena pihak kepolisian di negara itu telah dikritik karena bereaksi terlalu lambat untuk menahan aksi pembantaian itu sekalipun mereka sempat berhadapan dengan si penyerang.

Badan intelijen domestik Norwegia,  yang dikenal dengan akronim PST, menyatakan bahwa pihaknya memutuskan untuk meninjau kasus itu setelah berkonsultasi dengan komandan polisi nasional dan regional di negara itu terkait serangan.

Norwegia 2

Pihak  kepolisian sendiri menyatakan telah menahan pelaku dan kini menjalani evaluasi psikiatri. “Mengingat keseriusan masalah ini, sangat penting bahwa poin pembelajaran dan setiap kelemahan dan kesalahan seharusnya diidentifikasi dengan cepat,  agar dapat segera menerapkan tindakan,” kata PST dalam sebuah pernyataan.

Media Norwegia mempertanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan petugas untuk menangkap Braathen setelah departemen kepolisian regional menerima laporan tentang seorang pria yang menembakkan panah di sebuah swalayan.

Menurut garis waktu polisi, informasi pertama tentang serangan itu dicatat pada pukul 18:13. dan Braathen ditangkap pada pukul 18:47.

Pihak berwenang belum mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dalam periode 34 menit itu.

Secara umum, petugas polisi menyatakan, petugas pertama di TKP telah mengamati tersangka,  tetapi berlindung,  dan meminta bala bantuan ketika panah ditembakkan ke arah warga.  

Para pejabat telah mengakui bahwa tersangka membunuh lima korban berusia antara 52 dan 78 tahun baik di luar maupun di dalam beberapa apartemen. 

Norwegia 5

Akibat Negara Aman, Polisi Jarang Bersenjata
Norwegia adalah satu dari sedikit negara di dunia di mana petugas penegak hukum tidak secara otomatis membawa senjata meskipun mereka memiliki akses cepat ke senjata, tergantung situasinya.  

Pihak berwenang dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa polisi tidak bersenjata selama pertemuan pertama mereka kemudian dipersenjatai selama pertemuan selanjutnya dengan Braathen. 

Pihak berwenang menyatakan,  salah satu orang yang terluka adalah seorang perwira polisi yang sedang tidak bertugas.  Petugas itu dipukul hingga terluka di dalam swalayan tapi sudah keluar dari perawatan rumah sakit. 

Pelaku sebenarnya telah diketahui oleh polisi sebelum melakukan serangan mematikan itu. Penyiar publik Norwegia NRK melaporkan bahwa pejabat keamanan PST menerima informasi tentang  Braathen pada 2015. 

Agen kemudian mewawancarainya pada 2017 untuk menentukan apakah dia menimbulkan ancaman. "Pada tahun berikutnya, agensi menghubungi otoritas kesehatan Norwegia tentang dia,  dan menyimpulkan bahwa dia menderita penyakit mental yang serius," kata NRK. 

Surat kabar VG juga melaporkan bahwa agensi tersebut mengira Braathen mungkin melakukan 'serangan skala rendah dengan cara sederhana di Norwegia'.

Norwegia 3

PST tidak mengomentari laporan itu. 

Polisi menyatakan kecurigaan mereka bahwa penyakit mental tersangka yang menyebabkan serangan itu semakin kuat, sementara pernyataan Braathen sebagai seorang mualaf,  menjadi jalur penyelidikan yang kurang penting.

“Dia sendiri telah mengatakan bahwa dia telah masuk Islam. Ini adalah hipotesis, tetapi juga hipotesis bahwa dia belum melakukannya. Investigasi sejauh ini menunjukkan bahwa dia tidak melakukan ini (pindah agama) dengan serius," kata inspektur polisi Per Thomas Omholt dalam konferensi pers,  Sabtu. 

Omholt menegaskan,  tiga senjata, termasuk busur dan anak panah, digunakan dalam serangan itu, tetapi menolak untuk mengidentifikasi jenis senjata lain lebih lanjut,  atau mengungkapkan bagaimana lima korban tewas karena penyelidikan sedang berlangsung. 

Menteri Kehakiman Emilie Enger Mehl yang menjabat sejak Kamis lalu bersama dengan sisa pemerintah kiri-tengah Norwegia yang baru, sejauh ini belum mengomentari penanganan polisi atas serangan tersebut. 

Norwegia 6

“Sekarang penting bagi polisi untuk meninjau dan menyelidiki masalah ini secara menyeluruh,” katanya kepada penyiar publik Swedia SVT. 

Polisi Norwegia pada Sabtu mengidentifikasi empat korban perempuan sebagai Andrea Meyer (52),  Hanne Englund (56), Liv Berit Borge (75), dan Gun Marith Madsen (78). Korban laki-laki diidentifikasi sebagai Gunnar Erling Sauve (75). 

Beberapa dari korban adalah bagian dari komunitas seniman Kongsberg yang sedang berkembang pesat, media Norwegia melaporkan.

NRK menggambarkan Englund sebagai pembuat tembikar dan seniman yang sangat disegani, yang mengelola galeri dan tinggal di Kongsberg.  

Madsen adalah seorang pelukis otodidak dan Borge memegang posisi dewan di organisasi seni nirlaba lokal.

Sauve memiliki karir yang panjang sebagai hakim lokal,  dan sebelumnya bekerja untuk kementerian lingkungan Norwegia.

"Dia adalah mitra Borge,"  kata NRK, dan Meyer disebut telah pindah ke Norwegia dari negara asalnya, Jerman,  beberapa tahun lalu.

Putra Mahkota Haakon dan Putri Mahkota Mette Marit akan mengunjungi Kongsberg pada Minggu hari ini, dan menghadiri upacara peringatan bagi para korban di gereja utama kota itu.(pws)

 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda