Internasional post authorPatrick Sorongan 17 November 2021

Waspadai Jaringan dan Kedatangan Teroris Indonesia yang Dilatih ISIS-Khorasan di Afghanistan!

Photo of Waspadai  Jaringan dan Kedatangan Teroris Indonesia yang Dilatih ISIS-Khorasan di Afghanistan! ISIS-KHORASAN - Gerombolan ISIS Khorasan di Afghanistan. Banyak orang Indoensia diduga dilatih oleh gerombolan ISIS dari wilayah Khorasan yang juga menjadi bisul di pemerintahan baru Taliban.(Foto: News Yolo)

BERBAGAI  kalangan di Asia Tenggara menyatakan salut kepada Tim Antiteror Densus 88 Polri terkait gencarnya penangkapan terhadap para terduga teroris di Indonesia. Sebab, jaringan gerombolan teror ini kian berbahaya apalagi dipastikan banyak yang sudah saling berkolaborasi.

Lewat gerakan bawah tanah dan juga pengumpulan dana untuk membiayai rencana aksi-aksi terorisme, jaringan-jaringan gerombolan  bandit ini sedang menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali sehingga mereka dikalim harus dilibas hingga ke akar-akarnya.

IS4

Selain Jamaah Islamiyah yang merupakan gerakan sempalan dari al-Qaeda, gerombolan yang lebih tangguh, dan belum mati, yakni Islamic State  (IS) atau juga disingkat ISIS, dipastikan menyusun kekuatan di Afghanistan,  lewat gerakan ISIS-Khorasan yang sukar diberantas oleh pemerintahan Taliban, dan juga melibatkan banyak teroris dari Indonesia yang memhayakan jika mereka 'pulkam'.

Demikian analisa yang dilansir Suara Pemred dari The Diplomat, 18 Agustus 2021. Penulisnya adalah Jasminder Singh, analis senior di Pusat Internasional untuk Penelitian Kekerasan Politik dan Terorisme (ICPVTR), sebuah unit konstituen dari S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Universitas Teknologi Nanyang.

IS10

Penulis satunya lagi adalah Rueben Ananthan Santhana Dass Rueben, seorang analis riset di Pusat Internasional untuk Penelitian Kekerasan Politik dan Terorisme (ICPVTR), sebuah unit konstituen dari S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Universitas Teknologi Nanyang.

Menurut analis akeduanya, ISIS telah memiliki hubungan dengan Asia Tenggara sejak konsepsinya pada 2014.

IS13

Banyak yang berharap bahwa pengepungan ISIS di Marawi, Filipina, yang berakhir pada Oktober 2017, dan kekalahan fisik ISIS di Suriah dan Irak pada Maret 2019, telah mengakhiri ancaman ISIS di Asia Tenggara.

IS12

Begitu pula dengan kematian pemimpin-pemimpin utama gerombolan bandit berkedok agama ini di Asia Tenggara, seperti Bahrumsyah, Bahrun Naim , dan Abu Jandal.

Toh ISIS tetap hadir bahkan  lebih berbahaya dari sebelumnya. Sejak keruntuhannya, kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan ISIS telah melakukan beberapa serangan yang mematikan termasuk bom bunuh diri di Filipina dan Indonesia.

Pandemi Covid-19, mungkin telah menghambat operasi dan teror mereka sampai batas tertentu, tetapi ISIS tetap aktif dalam penyebaran propaganda dan perekrutan di domain online.

IS14 

Namun, fakta yang lebih relevan dalam hal ini adalah bahwa masih ada pemimpin kunci yang berafiliasi dengan ISIS, yang mampu memimpin,  dan melakukan operasi militer di Asia Tenggara.

Seorang pemimpin utama ISIS di Asia Tenggara yang masih buron adalah Saifullah, warga negara Indonesia, yang telah dikaitkan dengan sejumlah serangan di wilayah tersebut.

Siapakah Saifullah?

Saifullah alias Danial atau Chaniago diyakini berasal dari Padang, Provinsi Sumatera Barat. Setelah penangkapan rekan dekatnya, M Fachry pada Maret 2015, Saifullah pindah ke Pesantren Ibnu Masud di Bogor, dan bekerja sebagai pustakawan.  

Sekolah yang ditutup pada 2017 ini dikenal karena menyebarkan Islam radikal, dan telah dikaitkan erat dengan Aman Abdurrahman, pendiri dan pemimpin Jemaah Ansharut Daulah (JAD),  yang berafiliasi dengan ISIS di Indonesia.  

IS6

Sekolah itu dilaporkan juga merupakan sumber penting untuk perekrutan anggota gerombolan yang mengklaim berjihad untuk konflik Suriah pada 2014 dan 2017.   

Dari Bogor, Saifullah dilaporkan mencoba melakukan hijrah (migrasi) ke Suriah melalui Turki pada akhir tahun 2015.

Pada Maret 2016, Saifullah ditahan di rumah persembunyian ISIS di Istanbul, Turki, bersama seorang warga negara Indonesia lainnya bernama Aulia, dan dideportasi ke Indonesia.  

IS11

Sekembalinya, Saifullah kembali ke Pesantren Ibnu Masud,  dan berhubungan dengan Munawar Kholil, mantan guru di pesantren, yang pernah bergabung dengan ISIS di Suriah.  

Munawar adalah anggota kunci dari Katibah Nusantara (Batalyon Kepulauan Melayu) di bawah Bahrumsyah, dan telah ditugaskan untuk merekrut personel ISIS di Irak dan Suriah. 

Dari markasnya di Bogor, Saifullah menjadi titik kontak utama di mana Munawar melakukan transaksi keuangan,  dan berusaha untuk memindahkan personel ISIS dari Indonesia yang direkrut ke Suriah melalui Turki.  

IS1

Saifullah dan Munawar dilaporkan telah memfasilitasi pergerakan 57 WNI ke Suriah. Yang lebih penting lagi, sebagai bagian dari jaringan ISIS yang lebih luas di Asia Tenggara, Munawar dikaitkan dengan Dr Mahmud Ahmad, orang Malaysia yang pro-ISIS, dan  memainkan peran kunci dalam menemukan, dan mendanai rekrutmen ISIS di Filipina.

Pada Maret 2016, Munawar bekerja sama dengan Saifullah, diyakini telah mentransfer dana kepada Dr Mahmud untuk para personel (yang jika 'mati akan masuk surga dan dijemput bidadari-bidadari) di Pulau Mindanao, Filipina selatan, termasuk beberapa yang akhirnya mengambil bagian dalam Pengepungan Marawi.

IS3

Antara Maret 2016 dan September 2017, Saifullah menerima dana dari Munawar untuk transfer selanjutnya ke Mindanao. Dana ini, diyakini telah disalurkan ke Dr Mahmud, yang mengalir dari jauh,  seperti Trinidad dan Tobago, Venezuela, Jerman, Maladewa, dan Malaysia, dengan lebih dari 28.000 dolar AS ditransfer untuk operasi Marawi.

Pada Juli 2017, Saifullah melakukan perjalanan ke Afghanistan melalui Bangkok. Di Saifullah bergabung dengan ISIS-Khorasan, afiliasi ISIS di Afghanistan. IS-Khorasan diyakini termasuk pemberontak dari Afghanistan dan Pakistan, dan mungkin Asia Tengah.

'Migrasi' Saifullah ke Afghanistan telah menimbulkan pertanyaan penting apakah ada ;sayap Asia Tenggara' ISIS di Afghanistan, tempat di mana Jemaah Islamiyah pro-al-Qaida diinkubasi, kemudian menjadi organisasi teroris utama di Asia Tenggara dari 1999 hingga 2009, dan yang tetap aktif hingga saat ini.

IS2

IS-Khorasan, sebagai wilayah ISIS (sebuah divisi administratif), seharusnya mencakup Asia Selatan dan Tengah.

Namun, kehadiran Saifullah di ISIS-Khorasan memunculkan kemungkinan bahwa wilayah ini memiliki tanggung jawab 'di luar wilayat', yang terkait dengan Asia Tenggara, terutama setelah kematian Isnilon Hapilon Filipina pada Oktober 2017, emir ISIS untuk Asia Tenggara.

Saifullah kemudian melakukan perjalanan ke Afghanistan di tengah Pengepungan Marawi, dan bekerja sama erat dengan para pemimpin dan personel  ISIS di wilayah Asia Tenggara, yang berbasis di Filipina dan dengan Munawar, yang kemudian berbasis di Suriah.

Muncul pertanyaan:  Apakah Saifullah sedang diposisikan sebagai orang yang mungkin ditunjuk IS untuk koordinasi antara Afghanistan dan Asia Tenggara?

Saifullah juga diyakini dekat dengan kelompok pro-IS di Indonesia, khususnya JAD, yang telah menerima dana operasional dari ISIS melalui Saifullah dan Munawar.

Pada Mei 2018, beberapa hari sebelum aksi bom pro-ISIS di Surabaya, Saifullah memfasilitasi dan mendanai perjalanan Bagiyo Saleh, warga negara Indonesia yang sebelumnya telah dideportasi dari Turki pada Oktober 2015.  

Bagiyo meninggalkan Indonesia dengan dalih melakukan umrah (haji kecil ke Mekah) tetapi akhirnya bekerja untuk IS-Khorasan di Afghanistan dengan Saifullah.  

Munawar yang menginstruksikan Saifullah bahwa ISIS-Khorasan terbuka untuk migrasi, sehingga sejumlah keluarga Indonesia ;bermigrasi' ke Afghanistan.  

Peran Saifullah menjadi semakin penting setelah Munawar ditangkap oleh pasukan Kurdi pada Desember 2018.  

Munawar saat ini diyakini dipenjara di penjara al-Malikiyah di Suriah yang dikuasai Kurdi.

Meskipun berbasis di Afghanistan, nama Saifullah muncul terkait dengan pemboman Katedral Jolo di Mindanao pada Januari 2019.

Andi Baso dari Indonesia, perekrut kunci dan fasilitator pengeboman, disebut berhubungan langsung dengan Saifullah.  

Transfer Uang dari Banyak Negara

Salah satu pelaku serangan Movida 2016 di Kuala Lumpur,  juga diketahui telah mentransfer uang kepadanya.  

Saifullah telah menjalin hubungan dengan kelompok ekstremis Mujahidin Timur Indonesia (MIT), dengan menginstruksikan seorang individu bernama Novendri untuk menyalurkan dana kepada mereka.

Dia juga telah dikaitkan dengan yang lain bernama Yoga, yang diyakini telah menggantikan Andi Baso (yang meninggal di tangan pasukan pemerintah Filipina pada Agustus 2020), sebagai jembatan antara afiliasi ISIS di Indonesia dan Filipina. 

Dari Afghanistan, Saifullah berjanji akan mengirimkan uang untuk membeli senjata di Filipina untuk serangan di Malaysia dan Indonesia.

Pada Juni 2019, 11 WNI dalam perjalanan ke Afghanistan,  dihentikan di bandara Bangkok, dengan pemimpin kelompoknya  adalah Aulia, kontak lama Saifullah.  

Dengan demikian, tampaknya ada komunitas jihad Indonesia yang muncul di Afghanistan, termasuk banyak yang diyakini telah 'bermigrasi' dari Suriah ke Afghanistan sejak Maret 2019.

Mengingat penarikan AS dari Afghanistan dan kehadiran Saifullah di sana, Afghanistan memiliki potensi untuk membangun kembali dirinya sebagai basis pelatihan bagi teroris Asia Tenggara. 

Implikasi dan Masa Depan ISIS di Asia Tenggara

Meskipun dilaporkan bahwa Saifullah telah tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS di Afghanistan pada 2019, fakta bahwa namanya telah muncul kembali sebagai dalang dari serangan teror baru-baru ini di Makassar hingga akhir Maret 2021,  menunjukkan fakta bahwa Saifullah mungkin masih hidup, dan aktif! 

Dalam situasi seperti ini, pertanyaannya adalah apakah Saifullah telah muncul sebagai ujung tombak dan pemimpin utama ISIS di Asia Tenggara, meskipun dia saat ini berbasis di Afghanistan. 

Apakah poros IS Saifullah di Asia Tenggara?

Jelas, kepemimpinan pusat ISIS tidak memiliki perwakilan yang lebih baik dari Saifullah di Asia Tenggara.

Berbasis di Afghanistan, Saifullah aman dari operasi oleh aparat keamanan kawasan, dan tetap di bawah perlindungan ISIS-Khorasan, yang telah tumbuh dalam kekuatan di Afghanistan, dan kemungkinan akan terus melakukannya, dengan penarikan pasukan AS dan NATO, dan keitka Taliban telah menguasai negara itu. 

Saifullah juga orang Indonesia, perwakilan dari negara Muslim terbesar di dunia, di mana dia diyakini memiliki hubungan dekat dengan berbagai kelompok pro-ISIS,  seperti JAD.  

Saifullah juga berpengalaman dalam melakukan transaksi keuangan rahasia, memfasilitasi perjalanan ke zona pertempuran, dan menggunakan komunikasi yang aman, serta memiliki hubungan dengan kelompok ISIS di luar Indonesia, seperti di Malaysia dan Filipina. ]

Tapi yang penting untuk dicatat hari ini: Bahwa kolaborasi di antara kelompok-kelompok teroris, hampir mirip dengan struktur front persatuan di Mindanao, yang terlihat selama Pengepungan Marawi.

Struktur ISIS yang semakin terdesentralisasi di Filipina selatan,  akan menjadi tantangan untuk diberantas dalam situasi COVID-19, mengingat pergeseran prioritas dari kontraterorisme ke manajemen pandemi,m  dan tanpa pemimpin primus inter pares yang jelas muncul (sebagian karena kebutuhan taktis) di wilayah tersebut.

Namun, dalam situasi di mana tidak ada pemimpin ISIS terkemuka lainnya di wilayah tersebut, yang semuanya telah terbunuh atau ditahan, Saifullah tetap menjadi 'orang terakhir yang bertahan'.  

Dengan pengalaman dan hubungannya dengan ISIS di Timur Tengah, Afghanistan, dan Asia Tenggara, Saifullah jelas merupakan individu penting yang harus diperhatikan oleh para pejabat keamanan di Asia Tenggara.***

 

Sumber: The Diplomat

 

 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda