Internasional post authorAju 19 Mei 2021

Kisah Dr Connie, Seorang Muslim Indonesia, Ikut Ritual Jalan Salib Agama Katolik di Israel

Photo of Kisah Dr Connie, Seorang Muslim Indonesia, Ikut Ritual Jalan Salib Agama Katolik di Israel Dr Connie Rahakundini Bakrie, analis pertahanan Universitas Jenderal Ahmad Yani, Bandung.

JAKARTA, SP – “Saya ikut ritual jalan salib dalam Gereja Katolik di Israel. Saya seorang Muslim, tapi ikut panggul salib, melewati pemukiman warga Arab beragama Islam.”

“Coba kalau di Indonesia, pasti sudah pada ribut semua,” kata Dr Connie Rahakundini Bakrie  (56 tahun), analis pertahanan Universitas Jenderal Ahmad Yani, Bandung.

Connie mengisahkan pengamatannya tentang kerukunan hidup beragama di Israel, ketika menjadi Senior Research Fellow di Institute of National Security Studies (INSS) Tel Aviv.

Kisah Connie, terkesan kontraproduktif di tengah-tengah kita memperhatikan Israeli Defense Forces (IDF) dari matra Israeli Air Forces (IAF) dalam meluluh-lantakkan puluhan bangunan bertingkat yang diklaim sebagai basis pertahanan teroris Gerakan Pertahanan Islam (Hamas) dan Jihad Islam Palestine (JIP) di Gaza, Palestina, sejak Senin, 10 Mei 2021.

The Jerusalem Post, Reuters dan Al Jazeera, Rabu pagi, 19 Mei 2021, melaporkan, setidaknya 218 warga Palestina, termasuk 63 anak-anak, telah tewas di Gaza sejak serangan dimulai. Sekitar 1.500 warga Palestina terluka. Dua belas orang di Israel tewas, termasuk dua anak, sementara setidaknya 300 lainnya luka-luka.

Mantan Perdana Menteri Palestina, Ismail Hanniyeh (59 tahun), sudah keburu kabur ke Doha, Qatar, menyusul tokoh lainnya, Khaled Mashal (64 tahun) yang hidup dengan bergelimang harta pribadi Rp36,400 triliun (US$2,6 miliar).

Gubernur Gaza, sekaligus sebagai Komandan Hamas, Yahya Al Sinwar (55 tahun), menghilang setelah kediamannya dibombardir rata dengan tanah di Gaza, Palestina, Minggu, 16 Mei 2021.

“Masalah toleransi hidup beragama, ada baiknya Indonesia, belajar dari Israel. Cuma, masyarakat di Indonesia, kesannya, belum sepenuhnya mendapat informasi yang utuh tentang Israel,” kata Connie.

Israel memiliki wilayah seluas 22.145 kilometer persegi dan dihuni tidak lebih 11 juta jiwa, Palestina seluas 6,020 kilometer persegi dengan populasi sekitar 5 juta jiwa, sementara Indonesia sekitar 5 juta kilometer persegi dan dihuni 167 juta jiwa.

Selama berada di Israel, Connie tertarik akan kerukunan hidup beragama. Pemeluk agama Yahudi di Israel (74,2 persen), Islam (17,8 persen), Nasrani (Katolik dan Kristen) 2 persen, Druze (1,6 persen) dan lain-lain (4,4 persen).

“Suatu saat, ketika ritual Jalan Salib pada masa puasa umat Katolik, saya ikut. Saya pilih terlibat langsung di dalam penyelenggaraan ritual, dengan ikut memanggul salib, melewati rute yang sudah ditentukan,” kenang Connie.

Di antara melewati pemukiman Suku Arab berpenduduk padat yang beragama Islam. Mereka menyambut dengan ramah, tidak ada rasa risih satu sama lain, karena sudah biasa. Tidak ada mencemooh dan lain sebagainya.

Masyarakat di Israel dapat dijadikan contoh, bagaimana dalam mengimplementasikan hidup beriman, menggunakan  logika dan akal sehat, dimana seseorang mesti mengedepankan kesalehan sosial.

Yaitu, menghargai keberagaman, menghormati orang lain, tidak menganggap diri dan kelompoknya saja paling benar, demi menjaga ketenteraman dan ketertiban masyarakat, serta tidak menganggap orang lain sebagai musuh, hanya lantaran berbeda sumber keyakinan.

Masyarakat di Israel betul-betul menghayati hidup berkebudayaan yang aplikasinya, kaya akan substansi keharmonisan, perdamaian, cinta kasih, menghargai kemanusiaan, keberagaman, keseimbangan hidup, mengutamakan kearifan, kebijaksanaan, toleransi dan sejenisnya.

Tidak dikenal orang mabuk agama di Israel. Orang di Israel tidak menjadikan doktrin sumber keyakinan imannya dijadikan rujukan menilai orang lain.

Negara maju dan kekuatan militer

Israel mengumumkan kemerdekaannya pada 11 Mei 1947, dan atas dukungan Amerika Serikat, diterima menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tanggal 11 Mei 1949.

Israel merupakan negara di kawasan Timur Tengah yang industrinya, terutama industri manufaktur, relatif paling maju sejak 1970-an, saat negara-negara Arab masih mengandalkan sumber uang dari minyak.

Kemajuan industri di Israel tidak lepas dari banyaknya tenaga ahli yang melakukan eksodus dari negara-negara Eropa selama pecah Perang Dunia II untuk menghindari persekusi.  Hingga tahun 1970-an, industri-industri yang sudah berkembang pesat di Israel antara lain pupuk, pestisida, farmasi, bahan kimia, plastik, dan logam berat.

Pada tahun 2008, Israel memiliki industri manufaktur dengan jumlah pekerja mancapai 384.000 orang yang sebagian besar merupakan pekerja terampil. Dengan keterbatasan wilayah, pada tahun 2008, Israel sudah memiliki 11.000 pabrik yang menghasilkan 58 miliar dollar Amerika Serikat, dan separuhnya di ekspor ke seluruh dunia.

Selain industri manufaktur, sektor pertanian di Israel adalah termasuk yang paling maju di dunia dengan produktivitas lahan yang sangat tinggi karena memanfaatkan teknologi tinggi. 

Menurut kompas.com, Israel adalah salah satu negara pengekspor alat-alat pertanian dan peternakan canggih terbesar secara global. Perusahaan teknologi Israel juga merupakan negara di mana perusahaan-perusahaan teknologi tumbuh sangat subur.

Pada tahun 1980-an, banyak orang yang bekerja di Silicon Valley bermigrasi ke Israel. Meski telah tinggal di Israel, para warga Yahudi ini mendirikan pusat-pusat penelitian dan pengembangan untuk perusahaan-perusahaan teknologi Amerika Serikat, seperti Microsoft, IBM, dan Intel.  

Tahun 1990-an, para insinyur terampil juga berdatangan dari negara-negara bekas Uni Soviet untuk bermigrasi ke Israel, membuat negara itu semakin diberkati dengan kelimpahan sumber saya manusia terampil. Israel mencatatkan pertumbuhan industri teknologi sebesar 8 persen per tahun.

Perusahaan-perusahaan baru di sektor teknologi terus bermunculan bak jamur di musim hujan. Kondisi ini membuat ranking penelitian dan pengembangan (R&D) Israel selalu menempati peringkat 10 besar dunia.

Sektor teknologi yang sebelumnya hanya menyumbang sebesar 37 persen dari produk industri meningkat menjadi 58 persen di tahun 1985, dan kembali meningkat jadi 70 persen pada 2006.

Ekspor produk teknologi asal Israel meningkat empat kali lipat dari 3 miliar dollar AS di tahun 1991 menjadi 12,3 miliar dollar AS di tahun 2000, lalu menjadi 29 miliar dollar AS di tahun 2006. 

Israel menerima banyak pendanaan untuk pengembangan riset dan teknologi dari negara lain, seperti Amerika Serikat, Kanada, Italia, Austria, Perancis, Irlandia, Belanda, Spanyol, China, Turki, India, dan Jerman.

Banyaknya perusahaan besar di bidang teknologi tentu menyumbang pemasukan besar untuk Pemerintah Israel dari sisi pajak, sumber devisa, ataupun penyerapan jumlah tenaga kerja. Ini belum termasuk royalti dari paten-paten yang dibuat di perusahaan Israel. 

Israel dikenal pula memiliki industry militer cukup diperhitungkan di tingkat dunia. Punya pabrik iron dome, senjata penangkis rudal. Tank mercava yang banyak dipesan negara-negara lain, dan senjata runduk yang digunakan pasukan elit.

Situs Global Fire Power tahun 2021, Israel berada di peringkat 20 dunia. Dengan populasi 8.675.475 orang, Israel memiliki pasukan militer sebanyak 643.000 orang.

Negara berbendera bintang daud ini memiliki 595 pesawat udara yang meliputi lebih dari 250 pesawat tempur. Sebanyak 23 pesawat udara digunakan untuk misi khusus serta 48 helikopter serbu.

Kekuatan darat Israel juga cukup banyak, yakni 1.650 tank, 7.500 kendaraan tempur, 650 artileri, serta 100 pelontar roket.

Apabila dibandingkan kekuatan udara dan darat, persenjatan laut Israel terbilang sedikit. Israel memiliki empat unit corvette, lima kapal selam, dan 48 kapal patroli.

Global Fire Power menempatkan Indonesia pada peringkat 16 kekuatan militer dunia atau empat tingkat di atas Israel. Indonesia tercatat memiliki 1.080.000 pasukan militer aktif dengan 400.000 personel aktif.

Indonesia memiliki 458 pesawat udara dengan di antaranya 79 pesawat tempur. Sebanyak 17 pesawat udara untuk misi khusus serta 188 helikopter. Indonesia juga memiliki 332 tank dan 1.430 kendaraan tempur, 153 artileri dan 63 pelontar roket.

Untuk kekuatan armada laut, menurut Global Fire Power, Indonesia memiliki 282 unit, yakni di antaranya 24 kapal corvette, tujuh kapal frigate, lima kapal selam, 179 kapal patroli.

Nasionalisme dan pondok ratapan

Menurut Connie, kunci utama kemajuan Israel, adalah nasionalisme. Akar nasionalisme digali dari sejarah peradaban orang-orang Israel.

Akar nasionalisme itu menjadikan orang-orang Israel sebagai pekerja keras, produktif.

Pijakan etika berperilaku dan etos kerja orang Israel, konsisten bersumber dari akar sejarah peradaban orang Israel itu sendiri. Itulah yang membedakan orang Israel dengan warga negara lain.

Secara fisik akar peradaban Israel, salah satunya dalam bentuk Tembok Ratapan. Tembok Rapatan merupakan tempat suci bagi Agama Yahudi, simbol peradaban orang Israel, dimana sekarang dikenal di seluruh dunia, sebagaimana Kota Medinah dan Kota Mekah di Arab Saudi yang dikenal sebagai tempat suci bagi umat Islam dari seluruh dunia.

Tembok Rapatan berada di Kota Yerusalem, disebut al-Haaith al-Mubky atau Kotel Ha Maaravi dalam Bahasa Ibrani. Tembok Rapatan, saksi bisu kejayaan Nabi Sulaiman.

Tembok Ratapan  sisa dinding Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Herodes. Bait Suci itu hancur ketika orang-orang Yahudi memberontak kepada kerajaan Romawi pada tahun 70 Masehi.

Panjang Tembok Rapatan, aslinya sekitar 485 meter, dan sekarang sisanya hanyalah 60 meter. Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah berdiam "Shekhinah" (kehadiran ilahi). Jadi, berdoa di situ sama artinya dengan berdoa kepada Tuhan.

Tembok Ratapan, dulu, dikenal hanya sebagai Tembok Barat, tetapi kini disebut "Tembok Ratapan" karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa mereka, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah-celah dinding itu.

“Sekarang, bukan hanya masyarakat dari pemeluk Agama Yahudi saja yang datang ke Tembok Rapatan. Tapi masyarakat dari agama lain, dari banyak negara datang. Tembok Ratapan tidak pernah sepi sepanjang tahun,” kata Connie.

Dinding Tembok Rapatan, dibagi dua dengan sebuah pagar pemisah (mechitza) untuk memisahkan laki-laki dan perempuan. Orang Yahudi Ortodoks percaya bahwa mereka tidak boleh berdoa bersama-sama dengan kaum perempuan.

Tembok Rapatan, sisa dari bangunan besar Bait Suci Kedua yang dibangun Herodes. Bait Suci sendiri ialah tempat peribadatan paling sentral dan sakral dari puncak spiritualitas keyakinan Yahudi dan persatuan bangsanya.

Sejarah pembangunan Bait Suci tidak bisa dilepaskan dari konteks Kerajaan Israel kuno dan keyakinan akan keberadaan Tabut Perjanjian yang dibawa oleh Musa, sosok sentral dalam agama Yahudi.

Tabut Perjanjian berisi 10 Perintah Tuhan yang diturunkan kepada Musa ini dalam narasi keagamaan Yahudi kemudian secara berkala dipindahkan di beberapa tempat-tempat yang diyakini suci oleh para penerusnya.

Di masa kepemimpinan Raja Daud, Kerajaan Israel merasa perlu membangun tempat khusus untuk sebuah kuil atau bait, guna meletakkan Tabut Perjanjian warisan Musa tersebut.

Daud kemudian memilih sebuah bukit bernama Gunung Moriah, tempat yang diyakini dalam keyakinan Yahudi sebagai lokasi Abraham membangun altar ketika hendak mengorbankan anaknya Ishak. Namun, bukan Daud yang kemudian membangun sebuah kuil atau bait tempat Tabut Perjanjian diletakkan.

Anaknya Salomo-lah yang membangun sebuah Bait Suci yang selesai pada 957 SM. Bait Suci yang pertama dibangun ini berfungsi utama sebagai tempat tinggal Tabut Perjanian dan perkumpulan seluruh rakyat.

Bangunan Ratapan, tidak besar, tapi halamannya luas. Bangunan menghadap ke timur, berbentuk persegi panjang dan terdiri dari tiga kamar yaitu teras, ruang utama sebagai ibadah, dan ruang mahakudus tempat Tabut Perjanjian disimpan.

Sebuah tempat penyimpanan berada mengelilingi area Bait Suci dengan pengecualian di bagian depan. Bangunan Bait Suci pertama atau juga umum disebut Bait Suci Salomo ini hancur ketika Raja Nebukadnezar II dari Kekaisaran Babilonia menyerang Yerusalem.

Kala itu, Raja Israel adalah Yoyakim. Peristiwa penghancuran kuil ini terutamanya dicatat oleh Kitab Ibrani ketika pasukan dari Nebukadnezar membakar Bait Suci tersebut pada 587 SM. Narasi Kitab Ibrani menyebutkan masa restorasi Bait Suci Salomo yang hancur dilakukan ketika Koresh yang Agung dari Persia memasuki Yerusalem.

Pada 559 SM Raja Koresh mulai menata kembali kota Yerusalem. Pada 515 SM bangunan Bait Suci Kedua yang direstorasi ini selesai dilakukan. Ketika itu, Kekaisaran Babilonia telah jatuh dan mengizinkan para tawanan Yahudi yang selama ini dibawa ke Babilonia untuk membangun reruntuhan dari Bait Suci Salomo itu dengan versi yang lebih sederhana.

Apa yang disebut sebagai pembangunan Bait Suci Kedua justru datang ketika Herodes memerintah Kerajaan Israel. Dalam buku Leen Ritmeyer berjudul Secrets of Jerusalem's Temple Mount, pembangunan yang dimulai pada 20 SM ini memperluas wilayah dari Bait Suci Salomo hingga dua kali lipat dan menurut narasi Kitab Ibrani berlangsung selama 46 tahun.

Banyak dari benda-benda Kuil Pertama Salomo hilang, termasuk Tabut Perjanjian sehingga, tidak terdapat lagi dalam Bait Suci Kedua yang dibangun Herodes. Maka, fungsi utama yang tersisa adalah pusat peribadahan Yahudi beserta tradisi-tradisinya.

Alföldy Géza dalam bukunya berjudul A Building Inscription from the Colosseum menyebut pada tahun 66 Masehi banyak penduduk Yahudi memberontak terhadap Kekaisaran Romawi yang telah lama menduduki mereka, bahkan di era Herodes yang dianggap sebagai boneka Kekaisaran Romawi.

Empat tahun kemudian, legiun Romawi di bawah Kaisar Titus merebut kota Yerusalem dan banyak menghancurkan bangunan kota tersebut, termasuk Bait Suci Kedua. Gerbang Titus bahkan dibangun di Yudea untuk memperingati kemenangan Roma dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Beberapa artefak bersejarah dalam Bait Suci Kedua juga turut dijarah tentara Roma, termasuk Menorah yang kemudian digunakan untuk mendanai pembangunan Koloseum. Saat ini, yang tersisa dari kehancuran Bait Suci Kedua adalah bangunan dari Tembok Barat yang juga disebut sebagai Tembok Ratapan juga beberapa bagian lainnya.

Tahun 691 M, Masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah didirikan di bagian dalam dari Tembok Barat. Dalam narasi kepercayaan Yahudi, Bait Suci Ketiga masih diyakini untuk dibangun di tempat yang sama menggantikan Bait Suci Pertama dan Kedua yang telah hancur seperti merujuk kembali pada kitab suci mereka.

Moses Maimonides, filsuf Yahudi yang eksis di Andalusia adalah salah satu yang membenarkan tentang pembangunan Bait Suci Ketiga. Meski begitu, kalangan kelompok-kelompok Yahudi masih memiliki perdebatan tentang kapan dan perlunya pembangunan kembali Bait Suci Ketiga sebagai wadah puncak tempat peribadatan.

Status menang perang

Connie mengatakan, melihat negara Israel, dalam kondisi sekarang, terutama, saat muncul konflik dengan teroris Hizbullah di Lebanon, serta teroris Hamas dan teroris Jihad Islam Palestina di Gaza, Palestina, harus dilihat dari status Israel, pemenang perang, sebagai segala konsekuensi hukum internasional.

Akar konflik Israel dengan negara tetangganya, dalam perkembangan terakhir selalu bermuara dari kondisi yang terjadi di Yerusalem timur, dimana ada Tembok Rapatan dan Masjid Al Aqsa.

Kemerdekaan Israel tahun 1947, mengundang kemarahan kolektif negara-negara Arab, karena menginvasi wilayah negara tetangganya. Pada 1956, Israel menginvasi Semenanjung Sinai, dengan salah satu tujuan untuk membuka kembali Selat Tiran yang ditutup bagi industri pelayaran Israel oleh Mesir sejak tahun 1950.

Langkah Israel, menyebabkan pecah Perang Enam Hari, 5 – 10 Juni 1967. Perang Enam Hari, adalah perang antara Israel dan tiga negara Arab tetangganya, yakni Mesir, Yordania, dan Suriah, yang berlangsung dari tanggal 5 - 10 Juni 1967. 

Perang dalam enam hari pertempuran, Israel menduduki Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai di Mesir, Dataran Tinggi Golan di Suriah, serta Tepi Barat  dan sektor Arab di Yerusalem Timur, keduanya sebelumnya di bawah kekuasaan Yordania.

Pada saat gencatan senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai berlaku pada 11 Juni, Israel telah menggandakan kekuatannya.

Buah kemenangan datang dengan mengklaim Kota Tua Yerusalem dari Yordania. Banyak yang berderai air mata ketika membungkuk dalam doa di Tembok Barat Kuil Kedua.  

Dewan Keamanan PBB pun menyerukan penarikan dari semua wilayah yang diduduki, tetapi Israel menolak, secara permanen menganeksasi Yerusalem Timur dan mendirikan administrasi militer di wilayah yang diduduki. 

Israel memberi tahu bahwa Gaza, Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, dan Sinai akan dikembalikan dengan imbalan pengakuan Arab akan hak Israel untuk ada dan jaminan terhadap serangan di masa depan.    

Para pemimpin Arab kecewa  karena kekalahan mereka sehingga bertemu pada Agustus 1967, untuk membahas masa depan Timur Tengah. Mereka memutuskan kebijakan tidak ada perdamaian, tidak ada negosiasi, dan tidak ada pengakuan Israel, serta membuat rencana untuk membela dengan penuh semangat hak-hak orang Arab Palestina di wilayah yang diduduki.  

Mesir pada akhirnya akan bernegosiasi dan berdamai dengan Israel, dan pada tahun 1982 Semenanjung Sinai dikembalikan ke Mesir dengan imbalan pengakuan diplomatik penuh Israel. 

Mesir dan Yordania kemudian menyerahkan klaim mereka masing-masing ke Jalur Gaza dan Tepi Barat kepada Palestina. Dari situ semua pihak membuka pembicaraan "tanah untuk perdamaian" dengan Israel mulai tahun 1990-an.

Namun hingga kini setelah beberapa dekade, perjanjian damai permanen Israel-Palestina tetap sulit menjadi nyata.

Serangkaian pertikaian perbatasan jadi pemicu utama Perang Enam Hari. Pada pertengahan 1960-an, gerilyawan Palestina yang didukung Suriah mulai melakukan serangan di perbatasan Israel. Mereka memprovokasi gerilyawan Palestina untuk melakukan serangan balasan terhadap Angkatan Pertahanan Israel.

Pada April 1967, pertempuran kecil semakin memburuk setelah Israel dan Suriah bertempur dalam pertempuran udara dan artileri, di mana enam jet tempur Suriah dihancurkan.

Setelah pertempuran udara pada April 1967, United of Socialist Soviet Republic (USSR)  memberi tahu intelijen Mesir bahwa Israel memindahkan pasukan ke perbatasan utara dengan Suriah dalam persiapan untuk invasi skala penuh.

Informasi itu tidak akurat, tetapi tetap saja membuat Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser beraksi. Dalam menunjukkan dukungan untuk sekutu Suriahnya, Presiden Nasser memerintahkan pasukan Mesir untuk maju ke Semenanjung Sinai.

Pasukan Mesir lalu mengusir pasukan penjaga perdamaian PBB yang telah menjaga perbatasan dengan Israel selama lebih dari satu dekade.

Ketegangan di Selat Tiran

Ketegangan semakin meningkat. Pada hari-hari berikutnya, Presiden Gamal Abdu Nasser terus menggetarkan pedang. Namun, pada 22 Mei 1967, Gamal Abdul Nasser menghalangi proses pengiriman keperluan Israel dari Selat Tiran, jalur laut yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aqaba. Seminggu kemudian, Nasser menyegel pakta pertahanan dengan Raja Hussein dari Yordania.

Ketika situasi di Timur Tengah memburuk, Presiden AS saat itu, Lyndon B. Johnson, memperingatkan kedua belah pihak agar tidak melepaskan tembakan pertama. Ia juga berusaha mengumpulkan dukungan untuk operasi maritim internasional untuk membuka kembali Selat Tiran.

Namun, rencana itu tidak pernah terwujud. Pada awal Juni 1967, para pemimpin Israel melawan militer Arab dengan meluncurkan serangan pendahuluan. Pada 5 Juni 1967, Pasukan Pertahanan Israel memprakarsai Operasi Fokus, serangan udara terkoordinasi terhadap Mesir.

Pagi itu, sekitar 200 pesawat lepas landas dari Israel dan menukik ke barat di atas Mediterania sebelum menyerbu Mesir dari utara.

Setelah secara mengejutkan menangkap orang-orang Mesir, pasukan Israel menyerang 18 lapangan udara yang berbeda dan melenyapkan sekitar 90 persen angkatan udara Mesir.

Israel kemudian memperluas jangkauan serangannya dan menghancurkan pasukan udara Yordania, Suriah dan Irak. Pada akhir hari di 5 Juni 1967, pilot Israel memenangi kendali penuh atas langit Timur Tengah.

Tak tinggal diam. Israel mengamankan kemenangan dengan membangun keunggulan udara. Tetapi pertempuran sengit berlanjut selama beberapa hari. Perang darat di Mesir juga dimulai pada 5 Juni, bersamaan dengan serangan udara, tank-tank dan infanteri Israel yang menyerbu, melintasi perbatasan dan masuk ke Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza.

Pasukan Mesir melakukan perlawanan, meski kemudian hancur berantakan, setelah Panglima Tertinggi Abdel Hakim Amer memerintahkan pasukan untuk mundur. Selama beberapa hari ke depan, pasukan Israel mengejar orang-orang Mesir yang dialihkan ke Sinai. Korban berjatuhan.

Front kedua dalam Perang Enam Hari terjadi pada 5 Juni 1967. Yordania saat itu bereaksi terhadap laporan palsu soal kemenangan Mesir. Pasukan Yordania mulai menembaki posisi Israel di Yerusalem.

Israel merespons dengan serangan balasan yang menghancurkan Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Pada 7 Juni 1967, pasukan Israel merebut Yerusalem dan merayakannya dengan berdoa di Tembok Barat.

Fase terakhir pertempuran terjadi di sepanjang perbatasan timur laut Israel dengan Suriah. Pada 9 Juni 1967, setelah pemboman udara yang intens, tank-tank dan infanteri Israel bergerak maju di wilayah Suriah yang dijaga sangat ketat yang disebut Dataran Tinggi Golan. Mereka berhasil menangkap Golan pada hari berikutnya.

Pada 10 Juni 1967, gencatan senjata yang ditengahi PBB diberlakukan dan Perang Enam Hari berakhir. Kemudian diperkirakan bahwa sekitar 20 ribu orang Arab dan delapan ratus orang Israel tewas hanya dalam 132 jam pertempuran.

Para pemimpin negara-negara Arab sangat terkejut dengan kekalahan mereka. Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser bahkan mengundurkan diri. Gamal Abdul Nasser kembali ke jabatannya setelah warga Mesir menunjukkan dukungan mereka dengan menggelar demonstrasi besar-besaran.

Di Israel, suasananya sangat gembira. Dalam waktu kurang dari seminggu, negara itu telah merebut Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir, Tepi Barat dan Yerusalem Timur dari Yordania, dan Dataran Tinggi Golan dari Suriah.

Perang Enam Hari, memiliki konsekuensi geopolitik penting di Timur Tengah. Kemenangan dalam perang menyebabkan gelombang kebanggaan nasional di Israel, tetapi juga mengipasi kobaran api konflik Arab-Israel.

Masih terluka oleh kekalahan mereka dalam Perang Enam Hari, para pemimpin Arab bertemu di Khartoum, Sudan, pada Agustus 1967. Dalam pertemuan, mereka menandatangani sebuah resolusi yang menjanjikan "tidak ada perdamaian, tidak ada pengakuan dan tidak ada negosiasi" dengan Israel.

Dengan mengklaim Tepi Barat dan Jalur Gaza, Israel menyerap lebih dari satu juta orang Arab Palestina. Beberapa ratus ribu warga Palestina kemudian melarikan diri dari pemerintahan Israel. Hal itu memperburuk krisis pengungsi yang sudah terjadi selama Perang Arab-Israel I pada 1948. 

Israel mengembalikan Semenanjung Sinai ke Mesir pada 1982 sebagai bagian dari perjanjian damai dan kemudian menarik diri dari Jalur Gaza pada 2005.

Abraham Accords

Dikatakan Connie, geostrategi negara-negara di Timur Tengah, dalam menjalankan geopolitik, berubah secara signifikan. Diplomasi politik Israel, mulai direspons positif negara tetangga, karena setiap negara  sekarang lebih menekankan peningkatan kerjasama bidang ekonomi dan teknologi inovasi, demi kesejahteraan.

Dimulai dari hubungan Israel dengan Mesir adalah hubungan luar negeri antara Mesir dan Israel. Perang antar kedua negara tersebut dimulai pada Perang Arab Saudi 1948 dan selesai saat Perang Yom Kippur pada 1973, dan disusul dengan Perjanjian Perdamaian Mesir – Isral 1979 setahun setelah Perjanjian Perdamaian Camp David, yang ditengahi oleh Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter.

Hubungan diplomatik penuh-nya dibentuk pada 26 Februari 1980. Mesir memiliki sebuah kedutaan besar di Tel Aviv dan sebuah konsulat di Eilat. Israel memiliki sebuah Kedutaan Besar di Kairo dan sebuah Konsulat di Iskandriyah.

Kedua negara berbagi batas di dua perbatasan resmi, yang satu di Taba dan yang satu di Nitzana. Perlintasan di Nitzana hanya untuk lalu lintas wisatawan dan komersial.

Normalisasi hubungan dengan negara Arab yang lain, diperkuat dengan dokumen Abraham

Accords, pernyataan bersama antara Israel, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat, yang dicapai pada 13 Agustus 2020. Selanjutnya, istilah tersebut digunakan untuk merujuk secara kolektif ke perjanjian antara Israel dan Uni Emirat Arab (perjanjian normalisasi Israel-Uni Emirat Arab) dan Bahrain, masing-masing (perjanjian normalisasi Bahrain-Israel).

Abraham Acoords menandai normalisasi publik pertama dari hubungan antara negara Arab dan Israel sejak Mesir pada 1979 dan Yordania pada 1994. Persetujuan Abraham yang asli ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Abdullah bin Zayed Al Nahyan, Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada tanggal 15 September 2020, di Halaman Selatan Gedung Putih di Washington, DC Perjanjian tersebut dinegosiasikan oleh Jared Kushner dan Avi Berkowitz.

Perjanjian dengan UEA secara resmi diberi judul Perjanjian Perdamaian Kesepakatan Abraham: Perjanjian Perdamaian, Hubungan Diplomatik, dan Normalisasi Penuh Antara Uni Emirat Arab dan Negara Israel.

Perjanjian antara Bahrain dan Israel secara resmi diberi judul Abraham Accords: Declaration of Peace, Cooperation, dan Constructive Diplomatic and Friendly Relations, dan diumumkan oleh Amerika Serikat pada 11 September 2020

Perjanjian tersebut dinamai untuk menekankan keyakinan bersama pada Nabi Ibrahim dalam Yudaisme dan Islam.

Perjanjian dinegosiasikan Jared Kushner dan Avi Berkowitz. Pada tanggal 1 Maret 2021, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, memuji Konferensi Warsawa 2019 yang memberikan terobosan yang membuka jalan.

Tujuan dari konferensi dua hari itu adalah untuk fokus melawan Iran, meskipun negara tuan rumah mencoba untuk mengecilkan tema itu dan pernyataan penutup Polandia – Amerika Serikat, tidak menyebutkan Iran.

Di antara perwakilan dari 70 negara yang hadir adalah sejumlah pejabat Arab, menciptakan situasi pertama sejak Konferensi Perdamaian Madrid pada tahun 1991 di mana seorang pemimpin Israel dan pejabat senior Arab semuanya hadir pada konferensi internasional yang sama yang berfokus pada Timur Tengah.

Konferensi Madrid pada saat itu mengatur panggung untuk Kesepakatan Oslo. Di antara mereka yang ditemui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu adalah Menteri Luar Negeri Oman Yusuf bin Alawi bin Abdullah — yang negaranya telah dia kunjungi pada Oktober 2018.

Secara umum, normalisasi hubungan Israel dengan negara Arab, sebagai berikut, pembukaan hubungan diplomatic Mesir – Israel (1970), Turki – Israel (1950), Yordania – Israel (26 Oktober 1994), Uni Emirat Arab – Israel (15 September 2020), Bahrain - Israel (15 September 2020), Sudan - Israel (26 September 2020), Oman - Israel (3 November 2020), Maroco - Israel (10 Desember 2020), Bahrain  - Israel (21 Maret 2021), Arab Saudi - Israel (31 April 2021).

Posisi Indonesia

Dikatakan Connie, pada dasar Indonesia bisa memiliki posisi strategis di dalam menengahi konflik antara teroris Hamas dan teroris Jihad Islam Palestina di Gaza.

Tapi posisi strategis yang diharapkan, belum maksimal diperankan Indonesia, karena belum memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Setiap kali muncul konflik, Indonesia, hanya bisa berkomunikasi dengan faksi Fatah, pimpinan Presiden Palestina, Mahmud Abbas.

Dijelaskan Connie, secara umum Israel tidak mempermasalahkan dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina. Cuma permasalahannya, di Palestina, hanya faksi Fatah yang mendukung kebijakan politik Presiden Mahmud Abbas.

Menurut Connie, apabila Indonesia bisa membuka hubungan diplomatik dengan Israel, maka permalahaan okupasi Israel di Yerusalem timur mencakup Tembok Rapatan dan Masjid Al Aqsa, bisa dipahami pada dua sisi, sehingga langkah yang akan ditempuh Indonesia, bisa diterima kedua pihak.

“Kita sudah tidak bisa lagi melihat situasi Israel berdasarkan sudut pandang Pemerintah Indonesia tahun 1962. Geopolitik di Timur Tengah, sekarang, sudah berubah sedemikian rupa, secara signifikan,” kata Connie Rahakundini Bakrie.

Israel dikenal cerdik, memainkan kebijakan politik luar negerinya, terutama dalam kaitannya dengan kelembagaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ada lima Anggota Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memiliki hak veto, yaitu Amerika Serikat, China, Federasi Rusia, Inggris, dan Perancis.

Kendati dalam banyak hal, Federasi Rusia dan China, selalu berseberangan dengan Amerika Serikat, Inggris dan Perancis, tapi Israel bisa masuk ke dalam ranah psikologis pada semua dari lima Anggota Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Israel mampu menikmati keuntungan dari emosi para bandar (perseteruan antara China, Federasi Rusia lawan Amerika Serikat, Perancis dan Inggris), demi kepentingan ekonomi dan kebijakan politik luar negerinya. *

Sumber: jpost.com/aljazeera.com/reuters./kompas.com/sindonews.com/tass.com

 

 

Redaktur: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda