Internasional post authorPatrick Sorongan 20 September 2021

Kapal USS Barry Meledek, Armada PLA 'Kepung' Selat Taiwan

Photo of Kapal USS Barry Meledek, Armada PLA  'Kepung'  Selat Taiwan USS BARRY - Foto arsip kapal perusak berpeluru kendali USS Barry milik AS yang berlayar melalui Selat Taiwan.(Photo: AFP/US Navy)

KONDISI di seputar Selat Taiwan kian memanas antara militer China dan AS. Gesekan militer sekecil apa pun dipastikan akan menjadikan selat itu menjadi titik panas tersulutnya perang antara kedua negara berikut masing-masing aliansinya.

Menyusul terus terjadinya transit kapal-kapal perang AS di Selatan Taiwan, terakhir kapal perusak USS Barry, Angkatan Laut Tentara Pembebasan China (PLA) membalas dengan menggenjot latihan kewaspadaan tempurnya di perairan barat daya Taiwan, negara yang diklaim China sebagai pulau  separatis.

Bahkan dalam simulasi tempur, PLA menggunakan AS, Taiwan dan negara-negara sekutunya sebagai objek serangan.

Situs web resmi armada ke-7 AS merilis pernyataan pada Jumat,  10 September  2021, bahwa USS Barry, sebuah kapal perang peusaknya dari kelas Arleigh Burke telah berlayar melalui Selat Taiwan.

Dilansir Suara Pemred dari koran China Global Times, Senin, 20 September 2021, Song Zhongping, seorang pakar militer China dan komentator televisi setempat, menyatakan bahwa transit kapal-kapal perang AS itu merupakan provokasi yang disengaja oleh militer negeri Paman Sam.

Dianggap Upaya Provokasi dari AS

Manuver-manuver itu dinilai mengirim pesan provokatif untuk mendorong pemisahan diri Taiwan, tetapi militer AS tidak siap untuk berperang dengan PLA.

 "Jadi, tindakan PLA di kawasan ini tidak hanya menargetkan setiap langkah spesifik yang dibuat oleh AS, karena niat AS jelas, dan apa yang dilakukan PLA juga jelas: mempersiapkan skenario terburuk jika terjadi intervensi militer habis-habisan oleh AS dan sekutunya," ujarnya.

Song Zhongping menekankan,  hanya dengan menyiapkan skenario terburuk itu maka PLA akan mampu mengalahkan semua jenis musuh, terutama pasukan intervensi asing, ketika China meluncurkan operasi untuk menyatukan kembali Taiwan dengan daratan,"  katanya.

Menurut Song Zhongpin, bukan rahasia lagi bahwa latihan militer PLA di sekitar Taiwan menargetkan pasukan separatis di pulau itu serta pasukan asing yang mendukungnya.  

"Kami dapat secara terbuka memberi tahu mereka bahwa kami memperlakukan mereka sebagai musuh simulasi selama latihan militer yang relevan itu,” kecamnya.  

Secara terpisah, Komando Laut Timur PLA lewat jurubicaranya Kolonel Senior Shi Yi menegaskan bahwa pihaknya telah mengirim angkatan laut dan udara untuk melakukan patroli bersama dan latihan tempur di perairan dan wilayah udara barat daya Taiwan setelah provokasi dari sebuah kapal perang AS di Selat Taiwan. 

PLA Klaim Siap Tempur

Menurutnya,  PLA telah mengorganisir pasukan untuk mengikuti, mengawasi,  dan memantau kapal AS sepanjang perjalanann di Selat Taiwan. Provokasi yang sering terjadi ini dinilai sepenuhnya membuktikan bahwa AS merusak perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, dan menciptakan risiko peperangan di kawasan itu.

"Pasukan  komando tetap siaga tinggi sepanjang waktu, dan akan dengan tegas menjaga keamanan kedaulatan nasional, perdamaian, dan stabilitas kawasan," katanya  dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Komando Laut Timur PLA.

Juga pada Jumat lalu, Komando LautTimur PLA mengirim angkatan laut dan udara, termasuk kapal tempur, pesawat peringatan dini dan pembom, untuk melakukan patroli bersama dan latihan tempur di perairan dan wilayah udara barat daya Pulau Taiwan.

Tindakan ini  dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan tempur gabungan terpadu pasukan di bawah Komando Laut  Timur PLA, dan tindakan tersebut akan dinormalisasi sesuai dengan situasi Selat Taiwan, dan persyaratan untuk menjaga kedaulatan nasional.

Adu Jelajah hingga Alaska

Sementara tu, kapal perang PLA dilaporkan berlayar di dekat Alaska, dan 'menampilkan kemampuan laut jauh,  atau tindakan balasan terhadap provokasi AS'.

Pada Minggu, 19 September 2021, sebuah situs web yang berafiliasi dengan Departemen Pertahanan AS, melaporkan bahwa armada angkatan laut PLA telah menampilkan salah satu kapal perang paling kuatnya.

Kapal ini terpantau berlayar di perairan internasional dekat Alaska. Namun, laporan itu dihapus karena alasan yang tidak diketahui pada Senin ini.

Jika laporan itu benar, kegiatan kapal perang China kemungkinan merupakan pelatihan laut jauh yang normal di tengah perkembangan pesat kemampuan Angkatan Laut PLA, menurut kalangan analis China.

Ditekankan, pelayaran ini juga dapat dilihat sebagai tindakan balasan terhadap provokasi militer AS di China.yang notabene dilakukan 'di depan pintu' China dengan alih-alih  atas nama kebebasan bernavigasi.

Satuan tugas Angkatan Laut PLA yang terdiri dari empat kapal, termasuk kapal penjelajah peluru kendali, kapal perusak peluru kendali, kapal intelijen umum dan kapal tambahan,  berlayar di perairan internasional di dalam Zona Ekonomi Eksklusif AS, di lepas pantai Kepulauan Aleutian, Alaska, 29 dan 30 Agustus 2021.

Pelayaran ini berdasarkan  laporan dari Departemen Pertahanan AS pada Minggu lalu di situs web Defense Visual Information Distribution Service (DVIDS), mengutip rilis dari US Coast Guard District 17.

Karena  laporan DVIDS tidak menyebutkan nama keempat kapal perang PLA itu, kalangan pengamat militer menilai bahwa kapal-kapal itu kemungkinan dari armada sama,  yang berlayar ke timur melalui Selat Soya ke Samudra Pasifik pada 24 Agustus 2021.

Laporan Pasukan Bela Diri Jepang

Pasukan Bela Diri Maritim Jepang pada 24 Agustus 2021 juga melihat armada Angkatan Laut PLA yang terdiri dari empat kapal perang, yakni kapal perusak Tipe 055 Nanchang, kapal perusak Tipe 052D Guiyang, kapal suplai Tipe 903A dengan nomor lambung 903. 

Armada ini juga melibatkan kapal pengintai dengan nomor lambung 799, yang melewati Selat Kedelai dari Laut Jepang, kemudian berlayar ke timur, demikian pernyataan Staf Gabungan Kementerian Pertahanan Jepang dalam siaran pers pada 25 Agustus 2021.

China dan banyak negara mengklasifikasikan Type 055 sebagai kapal perusak,  tetapi AS melihatnya sebagai kapal penjelajah.

Selama kegiatan kapal perang PLA di dekat Alaska, kapal Penjaga Pantai AS yakni USS Bertholf dan USS Kimball juga beroperasi di daerah tersebut, menurut laporan DVIDS, yang menegaskan bahwa interaksi antara kapal AS dan China aman dan profesional.

Pun dijalin  komunikasi verbal sesuai dengan standar internasional yang ditetapkan dalam Kode Simposium Angkatan Laut Pasifik Barat untuk Pertemuan yang Tidak Direncanakan di Laut dan Konvensi tentang Peraturan Internasional untuk Mencegah Tabrakan di Laut. 

Laporan DVIDS menjadi tidak tersedia karena alasan yang tidak diketahui pada Senin. China belum mengumumkan informasi terkait pada Senin malam. 

"Dengan asumsi laporan AS benar, armada angkatan laut PLA beroperasi di perairan internasional, yang berarti ini bisa menjadi pelatihan laut jauh yang normal dan kapal-kapal China tidak menunjukkan tanda-tanda agresi atau provokasi, " kata Wei Dongxu, seorang militer yang berbasis di Beijing. Ibu Kota China.  

Dipimpin oleh kapal perusak Tipe 055 kelas 10.000 ton, armada tersebut menunjukkan perkembangan pesat Angkatan Laut PLA dalam kemampuan laut jauh.  

"Masalahnya, kapal perang China diperkirakan akan berlatih di perairan yang lebih jauh dan asing di masa depan," ungkap Wei, mencatat bahwa AS mengirim kapal penjaga pantai karena mewaspadai keberadaan kapal perang China di dekat negara itu, terutama kapal perusak canggih seperti Type 055.

"Kapal perang dari AS telah sering melakukan provokasi di dekat China atas nama kebebasan bernavigasi,  dan sekarang mungkin merasa sedikit tidak nyaman melihat kapal perang China di depan pintunya, " kata Wei, menekankan bahwa 'ini adalah tindakan balasan dan sinyal terhadap AS terkait tindakan hegemoni," tambahnya. 

Adapun mengapa AS menghapus laporan itu, seorang pakar militer China,  yang meminta untuk tetap anonim, menyatakan pada Senin ini bahwa ada kemungkinan terjadi kesalahan faktual.

Jika laporan itu benar, maka AS bisa merasa kehilangan muka dengan membiarkan kapal perang China berlayar di dekatnya, 'meminum obat' kebebasan navigasinya sendiri. 

Ini bukan pertama kalinya Angkatan Laut PLA mengirim kapal perang ke wilayah tersebut. Pada 2015, lima kapal Angkatan Laut PLA transit dengan cepat,  dan terus menerus melalui rantai Pulau Aleutian, dengan cara yang konsisten dengan hukum internasional, sebagaimana dilaporkan US Naval Institute News. 

Pelayaran  tersebut diklaim berada di 'lintasan yang tidak bersalah' dalam jarak 12 mil laut dari Kepulauan Aleut, demikian laporan.*** 

 

Sumber: Global Times

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda