Internasional post authorPatrick Sorongan 22 September 2021

AS Lobi Rusia untuk Pantau Al-Qaeda dan ISIS di Afghanistan

Photo of AS Lobi Rusia untuk Pantau Al-Qaeda dan ISIS di Afghanistan MENINJAU - Presiden Rusia Vladimir Putin (tengah), Menhan Sergei Shoigu (kanan) dan Staf Umum Valery Gerasimov (kiri) ke lokasi latihan militer Rusia-Belarus di Mulino, Rusia, 13 September 2021. (Sergei Savostyanov, Sputnik, Kremlin Pool Foto via AP)

DUA petinggi militer AS dan Rusia menggelar pembicaraan tertutup di Helsinki, Ibu Kota Finlandia, Rabu, 22 September 2021 petang ini. Pertemuan tertutup ini ditengarai membahas penempatan militer AS di negara-negara dekat Afghanistan yang selama ini ditentang Rusia.

Kendati pasukan AS sudah ditarik mundur dari Afghanistan, sesuai janji Presiden AS Joe Biden ke Taliban, tapi AS khawatir bahwa Afghanistan pasca berkuasanya Taliban sejak  Minggu, 15 Agustus 2021, bakal menjadi lahan subur berkembangbiaknya gerombolan teroris Islamic State (IS) dan Al-Qaeda.

Dalam catatan Suara Pemred, Osama bin Laden, pemimpin al-Qaeda, disembunyikan oleh di Afghanistan oleh Taliban pasca gerombolan teror itu menyerang AS pada 11 September 2001 atau dikenal sebagai Serangan 9/11.

Karena menolak menyerahkan bin Laden dan gerombolannya, maka AS  menyerbu Afghanistan pada Oktober 2001, kemudian  menumbangkan pemerintahan Taliban yang berkuasa sejak 1996, sekaligus menandai penempatan pasukan AS di Afghanistan selama 20 tahun hingga 31 Agustus 2021.

Sementara itu, dilansir dari The Associated Press,  Rabu ini, pembicaraan antara kedua pejabat tinggi militer AS-Rusia ini,  berlangsung ketika AS  sedang berjuang untuk mengamankan hak-hak atas pangkalan dan dukungan kontraterorisme lainnya di negara-negara yang berbatasan dengan Afghanistan.

Pembicaraan antara Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Mark Milley dan kepala Staf Umum Rusia Valery Gerasimov  ini terjadi pada saat yang genting setelah penarikan militer AS dari Afghanistan.

Tanpa pasukan di lapangan, AS perlu mencapai lebih banyak pangkalan, pembagian intelijen, dan perjanjian lain untuk membantu memantau militan al-Qaeda dan IS alias ISIS di Afghanistan.

 Rusia: AS bisa Ganggu Stabilitas Asia Tengah

Pada Juli 2021, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov memperingatkan AS bahwa penempatan pasukan AS di negara-negara tetangga Afghanistan, tidak dapat diterima.

Pernyataan itu diklaimnya sudah disampaikan secara langsung dan lugas kepada AS bahwa penemp-atan pasukan itu akan mengubah banyak hal.

"Artinya, tidak hanya dalam persepsi kita tentang apa yang terjadi di kawasan penting itu, tetapi juga dalam hubungan kita dengan Amerika Serikat sendiri. Rusia melakukan “pembicaraan jujur dengan negara-negara Asia Tengah,  untuk memperingatkan mereka agar tidak mengizinkan pasukan AS di dalam perbatasan mereka," tegasnya.

 Sementara itu, Milley menolak memberikan rincian tentang pertemuan itu kepada wartawan yang bepergian bersamanya ke Helsinki.

Juru bicaranya, Kolonel Dave Butler menyatakan, pertemuan itu akan berlangsung sepanjang hari, dan berfokus ke masalah militer.

“Kedua belah pihak mencari peningkatan transparansi, untuk mengurangi kesalahpahaman, dan meningkatkan stabilitas,” kata Butler. "Pertemuan itu serius. Kedua jenderal menunjukkan rasa saling menghormati satu sama lain,  meskipun keduanya telah mengambil kesempatan untuk menyindir atau bercanda." 

Dua Jenderal Tutup Mulut

Kedua belah pihak sepakat untuk tidak mengungkapkan rincian pembicaraan, seperti yang telah dilakukan dalam pertemuan dan panggilan telpon sebelumnya.

Tetapi, hanya beberapa hari yang lalu, Milley menjelaskan bahwa masalah mendasar adalah topik utama dalam perjalanannya ke Eropa.

Milley mengaku sudah mendiskusikannya dengan rekan-rekan di NATO, ketika mereka bertemu di Yunani selama akhir pekan. Milley, Menteri Pertahanan Lloyd Austin,  dan pejabat intelijen AS, telah memperingatkan bahwa al-Qaida dan ISIS dapat beregenerasi, dan menimbulkan ancaman bagi AS dalam satu- dua tahun ke depan.

Karena itu, para pemimpin militer AS menyatakan pihaknya dapat melakukan pengawasan kontraterorisme,  dan jika perlu, menyerang Afghanistan dari aset militernya  yang berbasis di negara lain.  

Hanya saja, para pemimpin militer ini  mengakui bahwa penerbangan pengawasan dari pangkalan di Teluk Persia membutuhkan waktu yang lama, dan memberikan waktu terbatas selama terbang di atas udara Afghanistan.  

Jadi,  AS dan sekutunya menginginkan kesepakatan mendasar, hak penerbangan, dan peningkatan pembagian intelijen dengan negara-negara yang lebih dekat ke Afghanistan, seperti Uzbekistan, Kirgistan, atau Tajikistan. 

Rusia tetap Cengkeram Asia Tengah

Sejauh ini,  belum ada indikasi kemajuan. Moskow tetap mempertahankan cengkeraman ketatnya  di negara-negara Asia Tengah,  dan menentang kehadiran Barat termasuk AS di wilayah tu. 

AS selama ini menggunakan Pusat Transit di Manas, Krygyzstan, untuk sebagian besar perang di Afghanistan, dan juga memindahkan pasukan masuk- keluar pasukan dari zona perang melalui pangkalan itu.

Namun, di bawah tekanan Rusia dan sekutunya, Krygyzstan bersikeras AS mengosongkan pangkalan itu pada 2014.

AS juga menyewa Karshi-Khanabad, yang dikenal sebagai K2, sebagai pangkalan di Uzbekistan selama beberapa tahun setelah dimulainya perang Afghanistan.  

Belakangan, Uzbekistan memerintahkan pangkalan itu ditutup pada 2005 di tengah ketegangan dengan Washington, dan Kementerian Pertahanan Uzbekistan  menegaskan kembali pada Mei 2021 bahwa konstitusi negara dan doktrin militer mengesampingkan kehadiran pasukan asing di wilayahnya. 

Tidak jelas apakah ada potensi negosiasi dengan Rusia untuk mendorongnya  mengurangi keberatan atas kehadiran AS atau sekutunya  di wilayah tersebut.

Tetapi,  para pejabat Rusia juga telah menyatakan keprihatinan bahwa pengambilalihan Taliban dapat mengacaukan Asia Tengah, dan mereka khawatir tentang ancaman yang berkembang dari ISIS. 

Pertemuan Milley dengan Gerasimov, dan diskusi yang lebih luas tentang kontraterorisme pekan ini, terjadi setelah serangan udara AS yang mematikan di Afghanistan pada hari-hari terakhir kecaunya evakuasi orang AS, Afghanistan, dan lainnya.  

AS awalnya mengklaim bahwa serangan pesawat tak berawaknya menewaskan seorang ekstremis ISIS, yang diketahui ingin menyerang Bandara Internasional Kabul. 

Belakangan.  AS berdalih bahwa serangan itu merupakan kesalahan yang menewaskan 10 warga sipil, termasuk tujuh anak-anak.

Insiden itu memicu pertanyaan tentang penggunaan serangan pesawat tak berawak di masa depan untuk menargetkan teroris di Afghanistan dari luar negeri.

Tetapi,  Jenderal Frank McKenzie, Kepala Komando Pusat AS menyatakan bahwa meskipun serangan udara itu adalah 'kesalahan tragis',  serangan itu tidak sebanding dengan serangan kontra-teror di masa depan.

Serangan di masa depan terhadap pemberontak yang dianggap menimbulkan ancaman bagi AS, lanjutnya, akan 'dilakukan di bawah aturan keterlibatan yang berbeda', dan akan ada lebih banyak waktu untuk mempelajari target.***

 

Sumber: The Associated Press

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda