Internasional post authorPatrick Sorongan 23 September 2021

SCO jadi Aliansi Militer Shanghai: Bentukan Rusia-China Lawan Hegemoni AS

Photo of SCO jadi Aliansi Militer Shanghai: Bentukan Rusia-China Lawan Hegemoni AS KTT SCO - Presiden Rusia Vladimir Putin mendengarkan Presiden China Xi Jinping selama KTT Organisasi Kerjasama Shanghai 2018 (SCO 2018).(Foto: AFP)

HEGEMONI AS sebagai kekuatan utama dunia terancam memudar. Kabar tentang suatu aliansi baru bentukan Rusia dan China untuk melawan hegemoni AS,  bukanlah  suatu wadah baru.

Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organisation/SCO), yang didirikan Rusia dan China pada 1996 kemudian dideklarasikan pada 15 Juni 2001, diklaim sedang diberdayakan untuk menjadi suatu aliansi militer baru.

AS diklaim menyadari bahwa SCO pada masa mendatang bakal berkembang menjadi suatu aliansi militer, sehingga AS pada 2005 sempat mengajukan permohonan untuk menjadi penganat, tapi ditolak oleh SCO.  

Alasan SCO, AS berada di wilayah yang jauh, dan SCO merupakan sebuah 'organisasi' antarabangsa-bangsa bertetangga di kawasan Asia,  yang dianggotai oleh Republik Rakyat Tiongkok, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan dan Uzbekistan.  Sebelumnya negara-negara ini disebut anggota Shanghai Five.

Mengelakkan Intervensi AS

Organisasi ini memupuk kerja sama antarnegara di bidang perbatasan, ekonomi, energi,  dan kebudayaan.  Melalui kerjasama perbatasan dan militer antarnegara aggota, SCO disebut-sebut berupaya mengelakkan campur tangan AS, termasuk di Asia Tengah. 

Usai mendepak AS, SCO menerima India, Iran, Mongolia, dan Pakistan sebagai negara pengamat pada 2005. Pada 2017, dua anggota baru secara resmi bergabung, yakni  India dan Pakistan, disusul Iran pada September 2021. 

Seiiring terus menguatnya politik global AS,  maka SCO pun merapatkan barisan.

Diterimanya Iran pada 2021 sebagai anggota, sebagamana dilansir Suara Pemred dari kantor berita Pemerintah Iran, IRNA, Rabu, 22 September 2021, akan semakin memperkuat front tersebut melawan hegemoni AS. 

Direktur Eksekutif Jaringan Komunikasi Pembangunan (DEVCOM-Pakistan) menyatakan  bahwa dengan diterimanya Iran maka akan pula semakin memperkuat SCO dalam melawan pengaruh Barat di dunia terutama di Timur Tengah. 

Dalam wawancara eksklusif   di Islamabad,  Ibukota Pakistan, Munir Ahmad menyatakan bahwa memperkuat posisi Teheran di SCO adalah kesepakatan yang saling menguntungkan bagi semua pihak.

Menurutnya,  pengaruh Barat di kawasan, terutama pendekatan hegemonik AS, adalah masalah umum yang dihadapi Iran dan anggota SCO lainnya, terutama China dan Rusia sebagai pendiri utama organisasi ini.

Mewaspadai Infiltrasi Kekuatan  ekstra-regional

Peneliti Pakistan ini percaya bahwa infiltrasi kekuatan ekstra-regional, termasuk AS dan Israel terhadap stabilitas kawasan, adalah sinyal peringatan yang harus diwaspadai oleh negara-negara anggota SCO.

Ahmad menegaskan,  keanggotaan Iran di SCO juga akan membantu para pihak untuk memainkan peran yang efektif dalam mencapai tujuan bersama di kawasan.

Sebagai imbalannya, Republik Islam Iran dapat mempercepat proses peningkatan mata pencaharian domestik,  dan hubungan ekonomi dengan negara-negara lain dari kekuatan ini.

Ahmad mengakui,  walaupun teori isolasi Iran telah gagal, namun dengan bergabung sebagai anggota SCO maka Iran  bersama Beijing dan Moskow, secara efektif membantu mengubah SCO menjadi kekuatan regional yang kuat.

"Diplomasi Republik Islam Iran adalah untuk mengurangi pengaruh AS,  dan melawan sanksi sepihak," katanya.

Mengenai Afghanistan, menurut Direktur Eksekutif DEVCOM ini,  visi bersama para pemimpin SCO adalah untuk membantu membawa perdamaian di Afghanistan.

Pengaruh Pakistan ke Taliban akan digunakan sebagai kesempatan yang ideal bagi Iran dan mitra regional lainnya untuk membawa perdamaian dan stabilitas di Afghanistan.

Masih dari IRNA, Jumat, 17 September  2021,  Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mengucapkan selamat kepada Presiden Ayatollah Ebrahim Raisi karena Republik Islam Iran telah diterima sebagai anggota tetap SCO di Dushanbe.

 "Saya mengambil kesempatan untuk mengucapkan selamat kepada saudara saya Presiden Raisi ketika Iran memulai proses penerimaan ke SCO sebagai anggota. SCO telah melakukannya dengan baik dalam menghadapi tantangan lama dan baru, tetapi kompleksitas lingkungan global dan ketegangan geopolitik yang semakin meningkat,  akan menjadi ujian tekad kami di masa depan," katanya.

PM Pakistan: Harus Damai, Bukan Konfrontasi

Menurut Imran Khan,  segala penyimpangan ke arah politik blok harus dilawan. Ditekankan, koeksistensi dan kerja sama yang damai, bukan konfrontasi , harus menjadi pendorong utama politik global.

Dicontohkan, pandemi Covid-19  menimpa dunia dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Kami, di Pakistan, mengadopsi strategi 'penguncian pintar' yang dikalibrasi , dengan fokus simultan pada menyelamatkan nyawa,  mengamankan mata pencaharian, dan merangsang ekonomi," katanya.

“Saya juga meluncurkan Global Initiative for Debt Relief’ untuk membantu menciptakan ruang fiskal bagi negara-negara berkembang,  untuk mengurangi dampak negatif dari pandemi,  dan mencapai pembangunan berkelanjutan,” lanjut Imran Khan.

Masih terkait keanggotaan tetap Iran di SCO, menurut laporan IRNA,  posisi regional Iran akan semakin diperkuat setelah menjadi anggota penuh organissai itu. Sebab,  perkembangannya dinilai telah mengisi mata rantai yang hilang untuk melawan unilateralisme.

Keanggotaan  Iran di SCO  dinilai sebagai kemenangan diplomatik  Teheran untuk mengembangkan hubungan regional dengan Beijing dan Moskow terkait menghadapi tantangan keamanan.

Dengan bergabungnya Iran  di blok pimpinan  China dan Rusia maka Iran akan mendapatkan akses ke pasar global utama,  meskipun ada sanksi barat.

Analis melihat SCO sebagai salah satu simbol utama kerjasama antara kekuatan non-Barat yang membuka jalan bagi era pasca-AS. 

Penguatan posisi Iran di SCO juga dinilai membuka jalan bagi kerja sama dengan anggota lain, terutama tetangga seperti Pakistan, yang hubungan ekonomi kedua negara tidak pada tingkat yang dapat diterima karena sanksi AS. 

Menurut Dr Farooq Hasnat, seorang profesor terkenal hubungan internasional dan ilmu politik di Universitas Pakistan,  yang saat ini berbasis di Kolombia, Iran menjadi anggota penuh SCO pada 17 September 2021, tetapi sebelum itu adalah anggota pengamat untuk waktu yantg cukup lama.

“SCO terbentuk pada tahun 2001,  sebagian besar terdiri dari Republik Asia Tengah, China dan Rusia serta Pakistan juga India,” katanya.

Populasi Besar SCO secara Geohrafis

Ditanbahkan,  SCO  adalah organisasi dengan populasi besar secara geografis, yang memiliki berbagai masyarakat dan negara yang dapat mencakup pengaturan ini.

“Iran adalah mata rantai yang hilang (missing link) dalam organisasi, karena Iran ditempatkan di lokasi geografis, dan merupakan negara yang begitu penting. Sebelum Iran bergabung dengan organisasi ini, memang  ada sesuatu yang kurang,” katanya.  

Ditekankan, saat ini missing link telah terpenuhi dengan mausknya Iran, dan kemungkinan negara lain segera akan bergabung dengan SCO di masa depan, seperti Turki dan Sri Lanka.

Hasnan menegaskan,  tujuan dasar dari SCO  adalah untuk memiliki lebih banyak kerja sama antara negara-negara anggota,  dan itu adalah organisasi yang sepenuhnya terkait dengan keamanan ekonomi, di mana masalah keamanan negara-negara anggota,  ditangani,  dan juga prospek kerja sama ekonomi diperhitungkan.

“Ini memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada NATO dan NATO telah menjadi organisasi yang berlebihan,” tambah Hasnat. 

Menurutnya,  China adalah anggota utama SCO sebagai negara adidaya masa depan, bukan negara imperialis,  dan menikmati hubungan kesetaraan.

"Iran akan memainkan peran yang sangat penting dalam SCO. Tantangan pertama bagi SCO adalah perubahan yang terjadi di Afghanistan," ujarnya. 

Ditarik Masuk SCO karena Masalah Nuklir

Senada itu, Qandil Abbas, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Quaid-e-Azam di Islamabad, menyatakan bahwa peran yang dimainkan oleh Iran dalam perjanjian nukir Rencana Aksi Komprehensif Bersama JCPOA, yang ditarik secara sepihak oleh AS,  telah meyakinkan anggota SCO untuk menerima Iran sebagai negara permanen.

“Akhirnya,  setelah penantian panjang selama 13 tahun, SCO menerima Iran sebagai anggota penuh organisasi tersebut. Republik Islam adalah negara Timur Tengah pertama yang mendapatkan anggota tetap SCO," ujarnya.

Menurut Abbas, tujuan dasar SCO  adalah untuk melawan pengaruh kekuatan Barat dalam politik internasional.

Setelah Peristiwa  9/11 (istilah untuk serangan dari gerombolan teroris Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden di AS pada 11 Septembe 2001, dari basis perlindungannya di Afghanistan, Red),  China menjadi sasaran sehingga negara dukungan Rusia ini membentuk SCO, dan menjadikannya sebagai satu-satunya organisasi di dunia yang tidak memiliki kekuatan Barat.  

Ditegaskan, semua konspirasi AS dan Barat sejak kemenangan Revolusi Islam Iran untuk mengisolasi Iran,  telah gagal total. “Iran selalu berdiri teguh dan membuktikan pentingnya melalui diplomasi yang bijaksana,” kata Abbas. 

Ditambahkan,  setelah runtuhnya Uni Soviet, AS berusaha mendorong sistem internasional ke arah unilateralisme untuk menjadi negara adidaya.

Belakangan, banyak insiden, terutama di Irak dan Afghanistan, yang membuktikan bahwa AS tidak mampu mencapai posisi penting seperti itu.  

Analis menambahkan bahwa kemudian banyak blok muncul di dunia,  dan menantang pendekatan AS terhadap unilateralisme.

Hal  ini dinilainya telah menunjukkan bahwa dunia bergerak ke arah multipolarisme.

SCO sendiri telah menjadi alat untuk melawan pengaruh Barat,  dan setelah menjadi anggota SCO, Iran akan dapat mencapai tujuannya dengan mudah. 

Secara keseluruhan, SCO dengan masing-masing 20 dan 50 persen reservoir minyak dan gas, dapat berubah menjadi salah satu pusat ekonomi dan energi terpenting di dunia.

Dengan demikian, Iran sebagai pengekspor migas, dapat memperlancar hubungan ekonomi dan perdagangannya dengan negara-negara anggota SCO lainnya.*** 

 

Sumber: IRNA, Wikipedia, berbagai sumber 

 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda