Internasional post authorPatrick Sorongan 23 September 2021

Taliban Jangan Diisolasi, Menlu Afghanistan: Beri Kesempatan...

Photo of Taliban Jangan Diisolasi,  Menlu Afghanistan: Beri Kesempatan... MENLU PAKISTAN - Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi berbicara selama wawancara dengan The Associated Press, Rabu, 22 September 2021 di New York, AS. (Foto AP/Mary Altaffer)

BERSIKAPLAH  realistis. Tunjukkan kesabaran. Dan, yang terpenting: Jangan mengisolasi Taliban. Itulah pilar-pilar pendekatan yang muncul di Pakistan untuk menghadapi pemerintah baru di Afghanistan ini yang secara tiba-tiba mengendalikan negara itu.

Pemerintah Pakistan mengusulkan masyarakat internasional supaya mengembangkan peta jalan guna mengarahkan  pengakuan diplomatik kepada Taliban.

Tentunya, semua itu disertai insentif,  jika Taliban memenuhi persyaratannya, kemudian duduk berhadap-hadapan,  dan membicarakannya dengan para pemimpin milisi di Afghanistan.

Demikian Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi menguraikan gagasan itu dalam wawancara ekslusif dengan  Edith M Lederer, Kepala Koresponden The Associated Press (AP) untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di markas besarnya di New York, AS, Rabu, 23 September 2021 waktu setempat,  di sela-sela pertemuan para pemimpin dunia Majelis Umum PBB.

Jika Berubah, Dunia Internasional Akui Taliban

“Jika memenuhi harapan itu, Taliban akan membuat semua ini lebih mudah bagi diri mereka sendiri, dan mereka juga akan mendapatkan penerimaan, yang diperlukan untuk pengakuan,” kata Qureshi.

“Pada saat yang sama, komunitas internasional harus menyadari: Apa alternatifnya? Apa saja pilihannya? Ini adalah kenyataan, dan dapatkah mereka berpaling dari kenyataan ini?” lanjutnya.

Menurut  Qureshi, Afghanistan harus stabil,  tanpa diberi ruang bagi elemen teroris untuk meningkatkan pijakan mereka, dan juga Taliban harus memastikan 'bahwa tanah Afghanistan tidak pernah digunakan lagi untuk melawan negara mana pun' 

“Tapi," kata Qureshi, "harapan bagi kepemimpinan Taliban adalah harus mencakup pemerintahan yang inklusif,  dan jaminan hak asasi manusia, terutama bagi perempuan,  dan anak perempuan. Pada gilirannya,  Pemerintah Afghanistan mungkin termotivasi dengan menerima bantuan pembangunan, ekonomi dan rekonstruksi,  untuk membantu memulihkan diri dari perang puluhan tahun." 

Qureshi mendesak AS, Dana Moneter Internasional,  dan negara-negara lain,  yang telah membekukan dana pemerintah Afghanistan, supaya segera mengeluarkannya sehingga dapat digunakan 'untuk mempromosikan keadaan normal di Afghanistan'. 

Pakistan sendiri, menurutnya, siap memainkan peran 'konstruktif dan positif'  dalam membuka saluran komunikasi dengan Taliban, karena hasilnya juga dapat bermanfaat untuk perdamaian dan stabilitas. 

Menyoal Syariat Islam bagi Perempuan 

Sekarang ini adalah kali kedua Taliban, yang menganut Syariat versi Islam yang ketat, memerintah Afghanistan.

Pertama kali memerintah pada 1996- 2001, kekuasaan Taliban berakhir ketika digulingkan oleh pasukan koalisi pimpinan AS, setelah serangan gerombolan teroris al-Qaeda di AS pada 9 September 2001, dikenal sebagai Serangan 9/11, pimpinan Osama bin Laden dari basisnya di Afghanistan.

Adapun selama memberlakukan Syariat Islam, para pemimpin Taliban dan polisi melarang anak perempuan bersekolah,  dan melarang perempuan bekerja di luar rumah atau meninggalkannya, tanpa pendamping laki-laki.  

Namun,  setelah Taliban digulingkan, perempuan Afghanistan masih menghadapi tantangan dalam masyarakat yang didominasi laki-laki,  tetapi di sisi lain, mereka semakin melangkah ke posisi yang kuat di pemerintahan serta berbagai bidang.

Tetapi,  ketika AS menarik militernya dari Afghanistan sesuai tenggat waktu pada 31 Agustus 2021, sesuai janji Presiden Joe Biden ke Taliban, Pemerintah Afghanistan runtuh,  generasi baru Taliban pun bangkit kembali,  dan segera mengambil alih pemerintahan. 

Dalam pekan-pekan sejak itu, banyak negara telah menyatakan kekecewaannya bahwa pemerintah sementara Taliban adalah tidak inklusif, seperti yang dijanjikan juru bicaranya. 

Gadis Muda Muda mulai Bersekolah

Walaupun  pemerintah baru Taliban telah mengizinkan gadis-gadis muda untuk bersekolah, gadis-gadis yang lebih tua belum diizinkan untuk kembali ke sekolah menengah.  Sebagian besar wanita sudah dapat kembali bekerja.

Pun  ada janji dari Taliban bahwa sejak April 2021, wanita 'dapat melayani masyarakat di bidang pendidikan, bisnis, kesehatan dan sosial, dengan tetap menjaga hijab Islami yang benar. 

Pakistan, yang berbagi perbatasan panjang dengan Afghanistan, memiliki hubungan yang panjang,  dan terkadang bertentangan dengan Afghanistan. Hal ini mencakup upaya untuk mencegah terorisme di negara itu. 

Pemerintah Pakistan sendiri memiliki kepentingan mendasar terkait upaya untuk memastikan bahwa apa pun yang ditawarkan oleh pemerintahan baru di Afghanistan, bukanlah ancaman bagi Pakistan.

"Semua ini membutuhkan pendekatan yang mantap,  dan terkalibrasi, dan harus menjadi penilaian yang realistis, pandangan pragmatis di kedua sisi, dan akan menentukan untuk pengakuan," kata Qureshi.

Kabar baiknya, katanya: "Taliban mendengarkan, tapi mereka tidak peka terhadap apa yang dikatakan oleh tetangga dan komunitas internasional. Padahal, bagaimana mereka tahu, dan mendengarkan (anggapan internasional)."

Qureshi menambahkan, Taliban sebagai pemerintah sementara Afghanistan , yang sebagian besar berasal dari kelompok etnis Pashtun yang dominan di Afghanistan, membuat beberapa penambahan di jajaran pemerintahan sejak Selasa, 21 September 2021.

Pemerintahan telah diisi oleh perwakilan etnis minoritas,: Tajik, Uzbek dan Hazara yang merupakan Muslim Syiah di Afghanistan,  yang didominasi Muslim Sunni.

“Ya, belum ada wanita,” kata Qureshi. "Tapi,  mari kita biarkan situasinya berkembang. Taliban harus membuat keputusan dalam beberapa hari, dan minggu mendatang,  yang akan meningkatkan penerimaan mereka oleh dunia."

Harus Duduk Bersama

“Apa yang bisa dilakukan komunitas internasional, menurut saya, adalah duduk bersama,  dan menyusun peta jalan,” kata Qureshi.

“Dan,  jika Taliban memenuhi harapan itu, maka inilah yang dapat dilakukan oleh komunitas internasional untuk membantu Taliban menstabilkan ekonomi mereka. Demikian pula bantuan kemanusiaan dapat diberikan. Ini adalah bagaimana mereka dapat membantu membangun kembali Afghanistan, lewat rekonstruksi, seterusnya,  dan seterusnya," tambahnya.

Qureshi berkata lagi:  “Dengan peta jalan ini,  maka ke depan, saya pikir,  keterlibatan internasional bisa lebih produktif.”

Pada Rabu, 22 September 2021 malam,  Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan bahwa setelah pertemuan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, maka  kelima negara  itu (AS, China, Inggris, Rusia dan Prancis) menginginkan 'Afghanistan yang damai dan stabil, di mana bantuan kemanusiaan dapat didistribusikan tanpa masalah atau diskriminasi.

Jangan Jadi Tempat Perlindungan Teroris

Guterres juga menggambarkan harapan untuk Afghanistan,  di mana hak-hak perempuan dan anak perempuan,  dihormati.

Juga,  Taliban harus berjanji bahwa Afghanistan tidak akan menjadi tempat perlindungan bagi terorisme, dan Afghanistan memiliki pemerintahan inklusif yang mewakili berbagai sektor populasi. 

Sementara menurut Qureshi,  ada forum yang berbeda,  di mana komunitas internasional dapat mencari cara terbaik untuk mendekati situasi tersebut.  

Berbagai hal tampaknya mulai menjadi stabil. Kurang dari enam pekan setelah Taliban merebut kekuasaan di Afghanistan pada Minggu, 15 Agustus 2021, Pakistan telah menerima informasi bahwa situasi hukum. 

Ketertiban pun telah membaik, pertempuran telah berhenti,  dan banyak pengungsi internal Afghanistan akan pulang. “Itu pertanda positif,” kata Qureshi. 

Menurut Qureshi, Pakistan belum melihat gelombang baru pengungsi Afghanistan, suatu masalah sensitif bagi warga Pakistan, yang sangat termotivasi untuk mencegahnya.  

Krisis kemanusiaan, ekonomi yang merosot,  serta pekerja yang kembali ke pekerjaan dan sekolah,  tetapi tidak mendapatkan gaji dan tidak memiliki uang,  dapat menyebabkan warga Afghanistan melarikan diri melintasi perbatasan ke Pakistan. 

Warga disebutnya telah lama menderita secara ekonomi karena negaranya bergejolak selama beberapa dekade akibat konflik.

Qureshi mengharapkan masyarakat dunia bersabar dan bersikap realistis.

Bagaimanapun, setiap upaya sebelumnya untuk menstabilkan Afghanistan telah gagal.  

"Jadi,  jangan berharap upaya baru dapat secara langsung berhasil dari pihak Taliban.  AS dan sekutunya sekalipun tidak dapat meyakinkan Taiban,  atau melenyapkannya  selama dua dekade: Jadi, bagaimana Anda akan melakukannya (mengubah) dalam dua bulan,  atau dua tahun ke depan?”  tanya Qureshi.

Mengenai prediksi  masa depan Afghanistan dalam enam bulan ke depan, Qureshi menjawab: “Dapatkah Anda menjamin saya tentang perilaku AS sendiri selama enam bulan ke depan itu?”*** 

 

Sumber: The Associated Press 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda