Internasional post authorPatrick Sorongan 23 November 2022

Anti-China di Indonesia Gegara COVID-19: Beijing Genjot Diplomasi Kesehatan untuk Perbaiki Citranya

Photo of Anti-China di Indonesia Gegara COVID-19: Beijing Genjot Diplomasi Kesehatan untuk Perbaiki Citranya Perwira dan tentara angkatan laut Tiongkok melihat kapal rumah sakit Angkatan Laut PLA Peace Ark (Hull 866) di pelabuhan militer di Zhoushan, Tiongkok, 28 Juni 2018. (Foto oleh Jiang Shan)

PEMERINTAH Tiongkok harus semakin intensif menggenjot diplomasinya di Indonesia terutama di bidang kesehatan. Sebab, sebuah survei menyebutkan, 49 persen orang Indonesia tak menyukai kehadiran China di Indonesia.

Selain itu, survei yang digelar oleh lembaga survei Australia yakni Lowy Institute pada Desember 2021, menyimpulkan bahwa 60 persen masyarakat Indonesia sangat setuju dengan pernyataan bahwa 'Indonesia harus bergabung dengan negara lain untuk membatasi pengaruh China'.

Adapun 49 persen responden tersebut juga menilai bahwa China adalah ancaman, dan memang, di masa awal pandemi COVID-19 pada 2020, banyak orang di Indonesia percaya, penyebaran virus di Indonesia disebabkan oleh kehadiran China di Indonesia.

Karena itu, jika ditangani dengan oleh baik oleh China, dilansir Suara Pemred dari The Diplomat, Rabu, 16 November 2022, maka memperluas diplomasi kesehatannya lebih jauh, dapat membantu China memperbaiki citranya di antara orang Indonesia.

Hal ini pada gilirannya dapat membantu mengamankan kepentingannya di bagian Indo-Pasifik yang vital secara strategis.

Setelah ekonomi dan perdagangan, sektor kesehatan telah menjadi fokus prioritas keterlibatan Beijing dengan Indonesia, negara terpadat di Asia Tenggara.

Kunjungan Kapal Rumah Sakit Militer China

Sebuah acara pada awal November 2022, menandai tonggak penting dalam perluasan diplomasi kesehatan China di Indonesia, yang telah meningkat pesat sejak awal pandemi COVID-19.

Acara yang dimaksud adalah kunjungan yang direncanakan ke rumah sakit kapal Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) dari Zhoushan di Provinsi Zhejiang, China, yang memulai perjalanannya sejak Rabu, 2 November 2022.

Menurut Kolonel Senior Tan Kefei, Juru Bicara Kementerian Pertahanan China, tujuan dari kunjungan tersebut, yang jadwal pastinya tidak jelas, adalah untuk menyediakan layanan rawat jalan dan medis bagi penduduk setempat.  

Kapal yang oleh Pemerintah China disebut Peace Ark itu,  juga akan memberikan layanan rawat inap tertentu kepada warga Indonesia selama berada di negara tersebut.

Misi kemanusiaan kedua Peace Ark di  Indonesia dan misi luar negeri ke-10 ini, secara keseluruhan, bukanlah pertama kalinya Jakarta dan Beijing bekerja sama di bidang kesehatan.

Memang, diplomasi kesehatan China di Indonesia telah semakin dalam dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar disebabkan oleh pandemi COVID-19.

Pasca merebaknya pandemi pada 2020, Pemerintah Indonesia, seperti banyak negara lainnya, mengadopsi strategi diplomasi vaksin, yang bertujuan mengamankan pasokan vaksin yang cukup bagi masyarakatnya.  

Ini telah melibatkan penjangkauan ke berbagai negara, termasuk Jepang, Australia, dan AS, meskipun kerja sama yang paling luas terjadi dengan China.

Diplomasi ini dimulai pada Maret 2020, bulan yang sama ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa COVID-19 sebagai pandemi,.

Ketika itu, Kementerian Badan Usaha Milik Negara dan Kementerian Kesehatan Indonesia mulai mencari peluang untuk bekerja sama dengan perusahaan asing untuk mendapatkan akses ke vaksin COVID-19,  yang saat itu sedang dikembangkan.  

Dalam diplomasi tersebut, Indonesia berhasil menggaet perusahaan farmasi China,  Sinovac Biotech Ltd, untuk menjalin kerjasama dengan BUMN PT Biofarma.  Melalui kerja sama ini, Biofarma mendapatkan akses prioritas 40 juta dosis vaksin COVID-19 Sinovac pada 2021.

Indonesia juga memasuki skema kerja sama vaksin trilateral dengan China dan Uni Emirat Arab, untuk pengadaan 20-30 juta dosis vaksin pada 2020.

Kepentingan China semakin meningkat seiring dengan berlanjutnya pandemi.  

Pemerintah Indonesia menargetkan untuk memvaksinasi 181,5 juta dari 270 juta penduduk negara itu, namun karena beberapa penundaan pengiriman vaksin AstraZeneca yang diproduksi oleh Universitas Oxford, terpaksa dicari vaksin di negara lain.  

China adalah satu-satunya negara yang bersedia dan mampu memasok jumlah vaksin yang dibutuhkan Indonesia.  

Memang, vaksin yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Sinovac produksi China, di mana 281.790.960 dosis telah diberikan per Januari 2022, atau sekitar 59,7 persen dari total vaksin COVID-19 di Indonesia.

Dukungan China juga mengambil bentuk lain.  Kurang dari sebulan setelah pihak berwenang Indonesia mengidentifikasi kasus pertama COVID-19 di negara itu.

Beijing mengirimkan sekitar 40 ton bantuan peralatan medis ke negara tersebut, termasuk masker, sarung tangan, alat pelindung diri, dan alat tes.  

Dilanjutkan pada Juni 2020 dengan pengiriman 50 ventilator portabel, 150.000 alat uji PCR, 80.000 masker medis, 1,4 juta masker bedah, dan 80.000 lembar alat pelindung diri (APD).

Kemudian, Oktober 2022, Indonesia meresmikan pabrik biofarmasi untuk memproduksi vaksin COVID-19 Awcorna,  yang didukung teknologi dari perusahaan China,  Suzhou Abogen Biosciences Co, Ltd.

Tentu saja, kerja sama China dan Indonesia di bidang kesehatan telah terjalin jauh sebelum pandemi.  

Pada 2017, kedua negara menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang kerja sama dalam Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Pengembangan Sumber Daya Manusia Kesehatan, dan Layanan Kesehatan. 

Kemudian, Februari 2019, kedua negara mulai menjajaki kerjasama terkait Medical Device Clinical Trials.  

Indonesia mengadakan pertemuan langsung dengan National Medical Product Administration (NMPA) untuk membahas kerjasama ini,  dan mengunjungi tiga lokasi,  antara lain Rumah Sakit Fuwai, Rumah Sakit Shijitan Beijing, dan Universitas Peking.  

Kolaborasi ini menghasilkan enam poin kesepakatan,  termasuk satu untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan profesional,  melalui sarana seperti beasiswa dari Universitas Tsinghua dan sesi pelatihan di Universitas Beijing. 

Inisiatif ini juga melibatkan pembentukan hubungan saudara dan kerjasama lainnya antara rumah sakit dan institusi di kedua negara. 

Dalam perkembangan yang lebih baru, pada medio 2022, Indonesia dan China menandatangani perjanjian kerangka kerja sama strategis antara Komite Pertukaran dan Kerjasama Kesehatan CAEDA (China-Asia Economic Development Association) China dan perusahaan milik negara PT Makmur Berkah Sehat untuk produksi perangkat medis.  

Pada November 2022 ini, Silk Road Fund, unit investasi Pemerintah China, menandatangani perjanjian dengan Otoritas Investasi Indonesia,  untuk menjadi investor di perusahaan farmasi milik negara,  PT Kimia Farma.

Setelah perdagangan dan ekonomi, sektor kesehatan perlahan menjadi area prioritas hubungan China-Indonesia, terutama sejak pandemi COVID-19.  

Kunjungan persahabatan kapal rumah sakit PLAN ke Indonesia pada November 2022, juga menjadi pertanda bahwa kerjasama kedua negara diharapkan terus berlanjut,  dan semakin dalam di tahun-tahun mendatang.***

 

Sumber: The Diplomat

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda