Internasional post authorPatrick Waraney 25 Januari 2021 5,027

Sukses Beraksi di Venezuela, Tanker Iran Ditangkap di Perairan Kalbar

Photo of Sukses Beraksi di Venezuela, Tanker Iran Ditangkap di Perairan  Kalbar Kapal tanker Iran MT Horse difoto dari udara ketika berlabuh di perairan Provinsi Kalimantan Barat menjelang penangkapan bersama MT Freya milik China oleh kapal Bakamla RI.(Foto: Bakamla RI)

PEMERINTAH Iran ibarat terkena hukum karma. Setelah belum lama ini menyandera kapal tanker Korea Selatan di Perairan Hormuz, kini gantian kapal tanker MT Horse miliknya disita Pemerintah Indonesia.

Pada Minggu (24/1), MT Horse oleh kapal patroli Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI berhasil ditangkap ketika melakukan transfer minyak ilegal ke kapal berbedera Panama, MT Freya di perairan Provinsi Kalimantan Barat. Penangkapan yang juga dilakukan terhadap kapal supertanker MT Freya ini, membuat Teheran meminta klarifikasi dari Pemerintah Indonesia.

Dilaporkan laman aljazeera.com, Pemerintah Iran pada Senin (25/1) meminta lebih banyak informasi terkait penyitaan kapalnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Saeed Khatibzadeh menyatakan, Iran telah mendengar rincian penyitaan MT Horse yang disebut sebagai kontradiktif. Permintaan ini disampaikan lewat keterangan pers mingguan pada Senin kemarin yang juga disiarkan televisi pemerintah, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia masih menunggu konfirmasi akurat terkait penangkapan itu dari pihak Bakamla. "Kami masih belum mendapat informasi dari Bakamla," ujar Juru bicara Kemenlu, Teuku Faizasyah, dalam pesan tertulis kepada BBC News.

Menurut Khatibzadeh, penyitaan itu disebutnya sebagai 'masalah teknis'. Kedua kata ini mengisyaratkan bahwa insiden ini biasa terjadi di sektor pengiriman oleh kapal. "Otoritas pelabuhan kami dan perusahaan pemilik kapal sedang mencari penyebab masalah, dan menyelesaikannya," katanya.

Juru Bicara Bakamla Wisnu Pramandita menyatakan, dua kapal tanker yang disita di perairan Kalbar ini akan dikawal (Senin, 25/1) untuk penyelidikan lebih lanjut ke Pulau Batam, Provinsi Kepulauan Riau. "Kapal tanker ini pertama kali terdeteksi pada pukul 5:30 waktu setempat, hari Minggu kemarin," jelasnya.

"Mereka menyembunyikan identitas dengan tidak menunjukkan bendera nasional, mematikan sistem identifikasi otomatis, dan tidak menanggapi panggilan radio," lanjut Wisnu kepada Reuters.

Transfer minyak ini terlihat pula dari tumpahan minyak di sekitar lokasi. Pihak Bakamla sudah menahan 61 awak kapal tersebut yang berkebangsaan Iran dan China. Sikap kapten kedua kapal yang mematikan sistem identifikasi otomatis itu juga dianggap sebagai pelanggaran atas regulasi Organisasi Maritim Internasional. Ketentuan tersebut  mengharuskan kapal menggunakan transponder untuk keselamatan dan transparansi.

Dilansir VOA, kru bisa mematikan perangkat tersebut jika terjadi bahaya pembajakan atau bahaya serupa.Tetapi transponder sering kali dimatikan untuk menyembunyikan lokasi kapal selama dilakukan aktivitas terlarang.

Adapun kedua supertanker yang ditangkap itu masing-masing mampu membawa dua juta barel minyak, dan terakhir terlihat awal Januari di lepas pantai Singapura. Sebagaimana data Refinitiv Eikon, kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) MT Horse, milik National Iranian Tanker Company (NITC), hampir terisi penuh dengan minyak sementara VLCC MT Freya yang dikelola oleh Shanghai Future Ship Management Co, kosong.

Pihak BUMN perminyakan Iran ini belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar. Pencarian oleh Reuters pada direktori perusahaan China menunjukkan, alamat kantor MT Freya terdaftar di Shanghai Future Ship Management Co yang berada di bawah perusahaan lain bernama Shanghai Chengda Ship Management. Perusahaan itu juga belum memberikan keterangan terkait insiden ini.

Iran dituduh menyembunyikan destinasi penjualan minyaknya dengan cara menonaktifkan sistem pelacakan pada kapal tankernya, sehingga sulit untuk menilai berapa banyak ekspor minyak mentah yang dilakukan Teheran, sementara negara itu berusaha untuk melawan sanksi AS.

Pada 2018, Presiden Donald Trump menarik Washington dari kesepakatan nuklir Iran 2015 dan menerapkan kembali sanksi yang bertujuan untuk mengurangi ekspor minyak Teheran menjadi nol. Namun, Iran berhasil mengirim kapal MT Horse ke Venezuela pada 2020 untuk mengirimkan 2,1 juta barel kondensat. 

Stasiun televisi dan radio Prancis France24 melaporkan pada pada Senin  kemarin, kasus serupa terjadi di perairan Iran pada 5 Januari 2021. Angkatan Laut Pengawal Revolusi Iran menangkap kapal tanker berbendera Korsel, Hankuk Chemi berikut 20 awak multinasionalnya, di dekat Selat Hormuz dengan tuduhan pencemaran di perairannya. Penangkapan itu terjadi ketika Teheran sedang mendesak Seoul untuk melepaskan tujuh miliar dolar AS asetnya yang dibekukan di Korea Selatan sebagai bagian dari sanksi AS.

Insiden atas tanker Korsel itu adalah penyitaan kapal besar pertama oleh AL Iran selama lebih setahun. Pada Oktober 2020, pemerintahan Trump memberikan sanksi baru untuk penjualan minyak Iran. Sanksi ini lebih ringan dibandingkan sanksi pada 2018 setelah Iran meninggalkan perjanjian nuklir.

Karena diduga kesal, Iran pada Juli 2019 menyita kapal tanker minyak berbendera Inggris, Stena Impero di Selat Hormuz karena dianggap menabrak sebuah kapal nelayan dan melepaskannya dua bulan kemudian. Tindakan ini dianggap sebagai balas dendam setelah pihak berwenang di wilayah luar negeri Inggris di Gibraltar, menahan sebuah kapal tanker Iran kemudian melepaskannya atas protes AS.

Namun, Teheran membantah bahwa penyitaan kapal Korsel dan Inggris itu terkait balas dendam atas permasalahan itu. Iran sedang berada di bawah sanksi keras AS, terutama di bidang ekspor minyaknya ke wilayah AS dan sekutu-sekutunya.

Tapi, Iran terus melakukan penjualan minyak di bawah radar dengan menonaktifkan sistem pelacakan sebagaimana yang dilakukan di perairan Kalbar. Pada 2020, MT Horse berhasil menembus blokade Angkatan Laut AS dengan mengirimkan  2,1 juta barel kondensat ke Venezuela yang dikenai sanksi AS. Sayangnya, aksi MT Horse yang sukses di Venezuela, gagal ketika beraksi di Indonesia.

Awal pekan ini, Menteri Perminyakan Bijan Zanganeh menyatakan, ekspor minyak Iran berikut omzetnya telah meningkat secara signifikan. Pernyataan singkat tanpa penjelasan lebih lanjut ini, dikemukakan hanya beberapa hari setelah Joe Biden dilantik sebagai Presiden AS. Iran lewat statement itu diduga meledek AS lewat pernyataan tersebut.(001)

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda