Internasional post authorPatrick Waraney 26 Januari 2021 9,349

Leila Khaled, Pembajak Pesawat dan 'Teroris' Arab yang Ditakuti Amerika

Photo of Leila Khaled, Pembajak Pesawat dan 'Teroris'  Arab yang Ditakuti Amerika Penampilan Leila Khaled sebelum kemerdekaan Palestina pada 1960-an. Leila menyimpan dendam ke Israel. Leila lewat webinar di salah satu universitas di AS belum lama ini menyerukan perjuangan bersenjata melawan Israel.(Foto: Eddie Adams/Associated Press)

CANTIK, berbahaya, dan berkomitmen secara politis untuk melakukan apa saja, demi perjuangan Palestina, Leila Khaled (76) pernah masuk daftar sebagai teroris nomor satu yang paling diburu agen rahasia Israel dan Amerika Serikat. Pada dekade 1960-an, ketika bergabung dalam Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), Leila disegani kawan dan ditakuti lawan. Selain pintar melakukan lobi, wanita cantik bermata tajam ini  mahir menggunakan senjata api baik laras panjang maupun pendek, belati, dan beragam bahan peledak.

Poster-posternya yang disebar oleh lawan-lawan Palestina sebagai orang yang dicari, menampilkan pose Leila yang ikonik: berkemeja militer, bermata tajam-mematikan, dan menyandang senjata api AK-47 dengan mengenakan keffiyeh. Jari manisnya dihiasi cincin yang dibuat dari peluru dan peniti granat.

Kaul berbakti demi agama dan negara selalu menyulut semangatnya jika sudah bertugas atau berlaga di medan tempur. Diawali teriakan 'Allahu Akbar', lemparan granat atau tembakannya, nyaris tak pernah meleset menghantam bunker atau tubuh musuh. "Saya punya banyak jenis senjata di balik baju, granat atau apa saja," kata Leila.

Nama Leila juga santer hingga ke Amerika Latin, tepatnya di kalangan Front Pembebasan Nasional Sandinista (Frente Sandinista de Liberación Nacional/FSLN), suatu partai politik di Nikaragua yang didirikan atas prinsip-prinsip sosialisme. Partai ini memimpin suatu revolusi populer pada 1979 yang menumbangkan dinasti politik Somoza di Nikaragua. Sandinista memegang kekuasaan selama kurang lebih 12 tahun pada 1979-1990. Mereka mewujudkan pemilu demokratis dan konstitusi nasional selain melakukan berbagai reformasi populis lainnnya

Pada Agustus 1969, Leila bersama rekannya, Patrick Arguello, anggota Nikaragua-Amerika dari gerakan Sandinista, membajak pesawat  El Al rute Roma, Italia,  ke Tel Aviv, Israel. Di Selat Inggris, keduanya memaksa masuk ke dalam kokpit. Tetapi, pilot menukikkan pesawat sehingga mereka kehilangan keseimbangan. Saat itulah pilot dan co-pilot melawan. Arguello ditembak mati, dan Leila harus menghabiskan beberapa bulan di tahanan Inggris sebelum diekstradisi ke Suriah, dan tidak pernah menghadapi tuntutan apa pun sampai hari ini.

Lahir sebagai pengungsi Palestina di Haifa, Lebanon, 9 April 1944, keluarganya eksodus lagi ke Lebanon pada 13 April 1948 pada 1948 . Dalam usia 15 tahun, Leila   mengikuti jejak saudara laki-lakinya, bergabung dengan Gerakan Nasionalis Arab (Pan-Arab), yang awalnya didirikan pada akhir 1940-an oleh George Habash yang saat itu masih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Amerika di Beirut. Belakangan, cabang Palestina dari gerakan ini menjadi  PFLP.

Ayahnya, Ali Khaled dan ibunya Jamila Lattuf memiliki tujuh perempuan dan lima laki-laki. Keluarganya terpaksa meninggalkan Haifa setelah kota itu jatuh ke tangan Israel pada April 1948, ketika Leila masih berusia empat tahun. Keluarganya menetap di kota Tirus, Lebanon. Di sana, Leila belajar di Evangelical Union Schools di Tyre, dan menyelesaikan pendidikan menengahnya di Sidon Girls School. Pada 1959, Leila bergabung dengan Gerakan Nasionalis Arab, dan pada 1963 mendaftar di Universitas Amerika di Beirut. kemudian terpilih sebagai anggota Komite Administrasi Persatuan Umum Mahasiswa Palestina di Beirut.

 

Putus Kuliah dan Ikut Operasi Militer

Leila harus meninggalkan universitas setelah kuliah selama setahun karena keluarganya tidak mampu lagi untuk membiayainya. Pada 1963 dan 1969, Leila bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah negeri di Kuwait. Dia bergabung dengan PFLP  begitu didirikan pada Desember 1967.

Pada 1969-1972, Leila mengambil bagian dalam operasi militer asing PFLP yang diorganisir oleh Dr Wadi Haddad. Operasi-operasi militer membuatnya tangguh luar-dalam. Itu sebabnya pada 29 Agustus 1969, Leila dan rekannya, Salim Isawi ditunjuk untuk membajak sebuah pesawat milik Maskapai TWA milik Amerika Serikat yang terbang dari Yunani menuju Roma. Pembajakan itu sebagai bagian dari pertukaran tawanan Palestina yang dipenjarakan puhak lawan. Belakangan, mereka dipenjarakan di Suriah selama satu setengah bulan.  

Leila kemudian ditugaskan oleh frontnya antara tahun 1973 dan 1977 sebagai pejabat PFLP atau sebagai anggota Sekretariat Persatuan Umum Wanita Palestina. Leila juga aktif membantu para pengungsi dan yang terluka menyusul serangan Israel di kamp pengungsi Palestina. Pada 1974, dia terpilih sebagai anggota Sekretariat Serikat Wanita pada konferensi kedua serikat tersebut. 

Sebagai aktivis serikat, Leila mengambil bagian dalam beberapa konferensi internasional, regional, dan lokal. Pada 1978 di Kamp Pengungsi Tal al-Za'atar di utara Beirut, Leila membantu mendirikan Rumah Anak Yatim dari pejuang yang gugur di medan perang. Kamp itu masih berdiri hingga sekarang.

Pada 1978 dan 1980, Leila belajar di Universitas Moskow dan Rostov tetapi menghentikan studinya ketika PLO memanggil semua mahasiswa yang belajar di luar negeri untuk membantu mempertahankan revolusi Palestina. Selama invasi Israel ke Lebanon pada musim panas 1982, Leila bekerja (melalui Persatuan Umum Wanita Palestina) untuk mencari perlindungan bagi para pengungsi dan merawat yang terluka di rumah sakit.

Pada 1979, Leila menjadi anggota Dewan Nasional Palestina dan terus menjadi anggota dewan tersebut. Dalam kapasitas itu, Leila telah menjadi bagian dari banyak delegasi parlemen Palestina,  dan menjadi anggota Komite Wanita Arab dari Uni Parlemen Arab.

Setelah eksodus dari Lebanon pada 1982, PFLP direorganisasi. Leila pun menduduki berbagai posisi administratif dan kepemimpinan. Pada 1986, Organisasi Wanita Palestina didirikan sebagai kerangka umum untuk PFLP, dan Leila terpilih sebagai sekretaris pertama. Organisasi tersebut bekerja untuk memobilisasi perempuan, membela hak-hak mereka, dan hak-hak rakyat Palestina melalui program dan rencana yang disiapkan secara khusus, dan memiliki cabang di sejumlah negara Arab dan luar negeri. Organisasi tersebut menerbitkan majalah, Suara Wanita yang dieditnya.

Pada 1993, Leila terpilih sebagai anggota Komite Sentral PFLP selama konferensi nasional kelima. Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada 2005, Leila  terpilih sebagai anggota Biro Politik PFLP, suatu pos yang dipertahankan hingga sekarang.

Pada 1992, Leila bersama keluarganya pindah ke Amman hingga kini. Terinspirasi oleh pengalaman pribadi selama diasingkan secara paksa dari kampung halaman dan penderitaan kerabat dan bangsanya, Leila membawa semangat perjuangan bagi kaum perempuan Palestina ke arah yang baru, dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Leila telah memberikan kontribusi penting di bidang sosial, kemanusiaan, dan politik dalam melayani tujuan, serta membela hak asasi manusia. Sepak terjang Leila pun diadaptasi dalam buku karya penulis Inggris, Sarah Irving berjudul Laila Khaled, Icon of Palestinian Liberation (Laila Khaled: Simbol dari Kemerdekaan Palestina). Buku terbitan Pluto Press pada Mei 2012 ini, menceritakan tentang luka batin Leila serta umumnya orang Palestina atas stereotip Barat bahwa mereka identik dengan teroris, pembom bunuh diri, orang tidak rasional atau tidak dapat diandalkan.

Generalisasi ini tak berpijak pada realitas yang sebenarnya tentang Palestina. Buku Sarah Irving ini menokohkan Leila yang ditulis sebagai teroris wanita Palestina pertama. Selain dari wawancara di rumahnya di Amman, buku iniditulis dari otobiografi Leila dan beberapa artikel terbitan media Barat, The Guardian.

Dalam buku itu diceritakan ketika Leila dan Issawi dipilih oleh Komite Sentral PFLP untuk membajak pesawat TWA rute Roma, Italia-Athena, Yunani. Mereka memerintahkan pilot untuk terbang ke Haifa, tempat kelahiran Leila, sebelum pesawat mendarat di Damaskus. Selama di pesawat, wajah cantik Leila yang mirip aktris Hollywood tenar kala itu, Audrey Hepburn, membuat para penumpang terkagum-kagum, tepatnya 'asyik-asyik nikmat' melihat Leila.

"Dengan pembajak yang wajahnya mirip Audrey Hepburn, banyak penumpang yang menganggapnya tidak berbahaya. Sesangar apapun Leila Khaled menyetel wajahnya, toh tak membuat takut sebagian penumpang. Leila Khaled selalu menghindari mereka, tetapi ramah terhadap penumpang yang mengikuti dan  mencoba mengobrol dengannya. Bagi Leila Khaled, melukai siapa pun adalah di luar batas," tulis Irving.

Selepas dari tahanan karena aksi pembajakan tersebut, Leila mengoperasi plastik wajahnya karena tak nyaman dengan julukan 'teroris selebriti'. Operasi plastik ini dilakukannya di Beirut sebelum Leila kembali melakukan pembajakan pesawat berikutnya.

 

Dikontrak Bos Zoom

Kini Leila  kerap diminta tampil menjadi pembicara bertema perdamaian di berbagai negara termasuk di AS, negara yang sekarang ini sudah melupakan masa lalunya sebagai teroris. Hanya saja, sejumlah negara Barat lainnya, enggan meloloskan visa Leila dengan anggapan bahwa 'seorang teroris tetaplah teroris'.

Pada 23 September 2020, perusahaan Zoom Video Communications milik  Eric S Yuan, seorang pengusaha miliuner keturunan AS-China mensponsori Leila untuk berbicara lewat perangkat Zoom untuk Webinar Universitas Negeri San Fransisko, AS. Laman media Israel Time Soft Israel menulis Leila sebagai seorang teroris.

"Pidato yang direncanakan oleh seorang teroris Palestina di acara virtual Universitas Negeri San Francisco mengalami kemunduran setelah pihak Zoom menarik steker listrik internet di tengah protes publik," tulis laman media dari suatu negara yang pada masa lalu begitu dibenci oleh Leila.

Leila ketika itu dijadwalkan memberikan pidato sebagai bagian dari acara yang diselenggarakan oleh Departemen Arab dan Etnis Muslim dan Studi Diaspora bertajuk Mengajar Palestina. Media ini menulis, Leila Khaled adalah bagian dari tim yang membajak TWA Flight 840 dalam perjalanan dari Roma ke Tel Aviv, Israel, Agustus 1969. Setahun kemudian, Leila Khaled  membajak penerbangan El Al dari Amsterdam ke New York City, sebagai bagian dari aksi pembajakan berjulukan Dawson's Field yang secara serentak dilakukan oleh agen-agen rahasia pilihan PFLP.

Eksistensi Leila sebagai 'teroris' yang tak pernah dihukum membuat namanya melegenda. Leila bahkan diundang menjadi keynote speaker di Parlemen Eropa pada 2017 untuk acara bertajuk Peran Wanita dalam Perlawanan Rakyat Palestina. Kehadiran Laila di acara ini sempat dikecam oleh Pemerintah AS dan Israel. Mereka menyatakan,  tidak pantas seorang terpidana teroris berbicara di Parlemen Eropa.

Pemerintah Israel tetap menuding Leila sebagai seorang mantan teroris yang sekarang 'berganti pakaian' sebagai progresif di Eropa dan AS. Tujuannya, menurut pihak Israel, Leila menarik pendukung baru yang mudah tertipu (dan uang mereka) untuk melawan Israel melalui 'perang dengan cara lain'.(001/Berbagai Sumber)

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda