Internasional post authorAju 26 Februari 2021 232

Aspek Geopolitik, Kabupaten Kapuas Hulu Penyangga Ibu Kota Negara

Photo of Aspek Geopolitik, Kabupaten Kapuas Hulu Penyangga Ibu Kota Negara Dr Yulius Yohanes, M.Si, Sekretaris Jenderal Dayak International Organization.

PONTIANAK, SP – Sekretaris Program Pascasarjana Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unvirsitas Tanjungpura, Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Dr Yulius Yohanes, M.Si, menilai, wilayah Kabupaten Kapuas Hulu dari aspek geopolitik, merupakan kawasan penyangga Ibu Kota Negara Indonesia.

“Geopolitik berasal dari kata geo berarti bumi dan politik yang berarti kekuasaan dan kebijaksanaan. Geopolitik adalah penggunaan unsur bumi untuk memperoleh kekuasaan, atau pemanfaatan letak geografi dalam menentukan kebijaksanaan. Cara yang digunakan untuk mencapai tujuan geopolitik disebut geostrategi.”

“Karena berhadapan langsung dengan Provinsi Kalimantan Timur, dan sebagian lagi dengan Provinsi Kalimantan Tengah. Provinsi Kalimantan Timur, sudah ditetapkan sebagai lokasi Ibu Kota Negara Indonesia, sebagaimana diumumkan Presiden Indonesia, Joko Widodo di Jakarta, Selasa, 28 Agustus 2019,” kata Yulius Yohanes, Jumat, 26 Februari 2021.

Yulius Yohanes, mengatakan hal itu, menanggapi pelantikan Fransiskus Diaan – Wahyu Hidayat sebagai Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Kapuas Hulu oleh Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji di Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Pontianak, Jumat, 26 Februari 2021.

Selain Fransiskus Diaan – Wahyu Hidayat, Gubernur Sutarmidji, saat bersamaan, melantik Darwis – Syamsurizal sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bengkayang, Dadi Sunarya – Kluisen sebagai Bupati dan Wakil Bupati Melawi, Djarot Winarno – Sudiyanto sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sintang, Sartono - Fahrur Rofi sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sambas, Martin Rantan – Farhan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Ketapang.

“Tiga tahun enam bulan atau tiga setengah tahun kepemimpinan Fransiskus Dian – Wahyu Hidayat, sebelum pemilihan Kepala Daerah serentak seluruh Indonesia, Nopember 2024, diharapkan bisa menyusun konsep dan aplikasi pembangunan yang matang menjadi wilayah Kabupaten Kapuas Hulu sebagai kawasan penyangga itu kota negara,” ujar Yulius Yohanes.

Menurut Yulius Yohanes, dari aspek geostrategi dan geopolitik, paling mendasar adalah pemantapan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur, dikaitkan dengan karakteristik wilayah Kabupaten Kapuas Hulu sebagai wilayah konservasi.

Karena sebagian besar daerahnya wilayah Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Betung Kerihun, dan sejumlah hutan lindung.

Diungkapkan Yulius Yohanes, konsep geostrategi di dalam menjalankan geopolitik di Kabupaten Kapuas Hulu diharapkan pula berbasiskan kepada kebudayaan, seiring dengan arah diplomasi kebudayaan dalam percaturan global pada abad ke-21 yang dimotori China, melalui Konfucius Institute.

Konfucius Institute, pada intinya adalah konsep berketuhanan sesuai kebudayaan China. Jadi Kabupaten Kapuas Hulu, mesti dibangun berdasarkan kebudayaan asli masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu.

“Ada seminar nasional di Jakarta, Selasa, 4 April 2017, ditegaskan pelaksanaan pembangunan di masa mendatang harus didasarkan akselerasi kapitalisasi dan modernisasi budaya dalam pembangunan nasional,” ujar Yulius Yohanes.

Dijelaskan Yulius Yohanes, diplomasi kebudayaan pada abad ke-21, memiliki aspek lebih luas. Diplomasi kebudayaan dari aspek pertahanan negara adalah mempelajari bagaimana pengelolaan sumber daya dan kekuatan nasional baik pada saat masa damai, perang, dan sesudah perang, dalam menghadapi segala bentuk ancaman dari dalam negeri maupun luar negeri.

Ancaman yang dimaksud pun sifatnya luas, tidak hanya ancaman bersifat militer, maupun bersifat nonmiliter yang mampu mengancam keutuhan wilayah, kedaulatan negara, serta keselamatan bangsa.

Diplomasi pertahanan kini mengalami perluasan makna, dan tidak lagi dapat disamakan dengan diplomasi militer.

Diplomasi pertahanan merupakan segala metode serta strategi yang diterapkan oleh suatu negara dengan mengerahkan segala upaya di bidang ekonomi, budaya, kerjasama politik serta kerjasama pertahanan.

Melalui dimensi­dimensi diplomasi pertahanan, merekatkan hubungan antar negara serta membangun kepercayaan (mutual trust) dan Confidence Building Measures (CBM).

Kemajemukan struktur sosial Bangsa Indonesia dapat membawa dampak positif serta negatif. Karena dapat memicu rawannya perpecahan apabila terjadi gangguan baik dari luar maupun dari dalam negeri.

Oleh karena itu untuk menjaga keutuhan dari kemajemukan bangsa, maka diperlukan pendekatan diplomasi budaya setempat.

Bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang memiliki struktur sosial masyarakat yang majemuk pun terkadang masih kesulitan dalam menjaga keutuhan bangsa meskipun telah digagas sebuah ideologi pemersatu bangsa, yaitu Pancasila.

“Kebudayaan-kebudayaan masyarakat Indonesia, termasuk kebudayaan masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu menjadi salah satu faktor adanya etnosentrisme sehingga antar kebudayaan tidak mudah untuk dibenturkan,” ujar Yulius Yohanes.

Strategi-strategi dalam mempersatukan bangsa dari ancaman, baik dari luar maupun dalam, tidak terlepas dari doktrin-doktrin (kearifan lokal) yang ada, termasuk di Kabupaten Kapuas Hulu, dalam masyarakat Indonesia itu sendiri.

Untuk itulah, dibutuhkan keberadaan kebudayaan salah satu suku bangsa di Indonesia, termasuk Kebudayaan Suku Dayak, sebagai budaya strategis bangsa Indonesia, tidak hanya merupakan sebuah runtutan kebiasaan yang dilakukan dalam keseharian. 

Diungkapkann Yulius Yohanes, dalam implementasi diplomasi kebudayaan, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, telah meluncurkan Program Indonesia Arts and Culture Scholarship (IACS).

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, melalui Wonderful Indonesia, mesti mengelaborasi Kebudayaan Dayak di dalam melakukan strategi diplomasi kebudayaan, karena diplomasi kebudayaan menjadi tren sebagai alat berdiplomasi antar negara pada abad ke-21.

Kebudayaan berbagai suku di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, termasuk Kebudayaan Suku Dayak, mesti dijadikan salah satu akar dari kebijakan-kebijakan yang dibuat Pemerintah Republik Indonesia, dalam menentukan masa depan bangsa.

“Kaitan Ibu Kota Negara dipindahkan dari Jakarta ke Provinsi Kalimantan Timur, maka trilogi peradaban kebudayaan masyarakat di Benua Asia, yaitu hormat dan patuh kepada leluhur, hormat dan patuh kepada orangtua, serta hormat dan patuh kepada negara, dapat dijadikan nafas di dalam menyusun konsep geostrategi.”

“Karena trilogi peradaban kebudayaan masyarakat di Benua Asia dimaksud, membentuk karakter dan jatidiri manusia Suku Dayak beradat, yaitu berdamai dan serasi dengan leluhur, berdamai dan serasi dengan alam semesta, berdamai dan serasi dengan sesama, serta berdamai dan serasi dengan negara untuk membangun peradaban dunia.”

“Faktor pembentuk karakter dan jatidiri manusia Suku Dayak beradat dimaksud, lahir dari sistem religi Suku Dayak, bersumber doktrin legenda suci Dayak, mitos suci Dayak, adat istiadat Dayak dan hukum adat Dayak, dengan menempatkan hutan sebagai sumber dan simbol peradaban.”

“Itulah sebabnya, di dalam religi Dayak, gunung, bukit, sumber resapan air, situs pemukiman dan situs pemujaan, merupakan kawasan paling dihormati dan disakralkan, karena diyakini tempat bersemadi arwah para leluhur,” tambah Tobias Ranggie (Panglima Jambul), praktisi religi Suku Dayak Kantuk di Kabupaten Kapuas Hulu.

Dalam implementasinya, menurut Tobias Ranggie, dapat melalui akselerasi, kapitalisasi dan modernisasi di dalam diplomasi kebudayaan Indonesia, tapi tidak mengabaikan prinsip-prisip dasar di dalam sistem religi Dayak yang lahir dari Kebudayaan Dayak.

Dikatakan Tobias Ranggie, peradaban kebudayaan sebagai jantung kehidupan, dimana di dalamnya adalah salah satu Suku Dayak, dengan sistem religi bersumber doktrin legenda suci, mitos suci, adat istiadat dan hukum adat, di mana dalam aplikasinya, kaya akan substansi keharmonisan, perdamaian, cinta kasih, menghargai kemanusiaan, keberagaman, keseimbangan hidup dengan alam, mengutamakan kearifan, kebijaksanaan, toleransi dan sejenisnya.

Makna terkandung di dalam legenda suci Suku Dayak Kenyah, bernama Busan Manyun dengan menampilkan tokoh suci Lai Bara, menggambarkan keteladanan hidup manusia  Dayak di Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Kalimanta Utara; kesetaraan dan kebersamaan di dalam falsafah huma betang (rumah panjang tiang panggung) di kalangan Suku Dayak Ngaju di Provinsi Kalimanan Tengah.

Falsah adil ka’ talino, barucamin ka’ saruga, basengat ka’ jutaba (adil terhadap sesama dengan bercermin kepada Tuhan) di kalangan Suku Dayak Kananyatn di Provinsi Kalimantan Barat; kisah penciptaan di kalangan Suku Dayak Bakatik dan Suku Dayak Uud Danum di Provinsi Kalimantan Barat, misalnya, dapat dielaborasi di dalam mewujudkan diplomasi kebudayaan Republik Indonesia.

“Geopolitik Indonesia dituangkan dalam salah satu doktrin nasional yang disebut Wawasan Nusantara dan politik luar negeri bebas aktif. Geostrategi Indonesia diwujudkan melalui konsep Ketahanan Nasional yang bertumbuh pada perwujudan kesatuan Kebudayaan Indonesia yang diintegrasikan ke dalam ideologi Pancasila: sosial, ekonomi dan politik,” kata Tobias Ranggie.*

Wartawan: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda