Internasional post authorPatrick Waraney 26 Februari 2021 31,373

Teganya, Dunia Lupakan Tragedi Pemerkosaan Massal Wanita Muslim Kashmir oleh Tentara India

Photo of Teganya, Dunia Lupakan Tragedi Pemerkosaan Massal Wanita Muslim Kashmir oleh Tentara India Wanita dari etnis Kashmir ini membersihkan sepatu seorang aparat India sambil menangis. Kashmir adalah etnis minoritas Muslim di India yang tak pernah berhenti menjadi korban penyiksaan, pelecehan seksual dan pembunuhan.(Foto: Muslim Mirror)

PADA 23 Februari 1991 di Negara Bagian Kashmir, India. Ratusan perempuan Muslim Kashmir meratap. Perempuan remaja, janda, wanita beristri, diperkosa beramai-ramai oleh oknum-oknum Brigade Senapan Rajputana IV Brigade ke-68 dari Angkatan Darat (AD) India.

Setelah masyarakat internasional bungkam, Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Pakistan lewat rilis  dari Islamabad, Ibu Kota Pakistan, Selasa, 23 Februari 2021, mendesak kekompakan komunitas internasional untuk mengajukan India ke pengadilan hak azasi manusia (HAM) internasional.

"Kejahatan keji yang direstui negara ini, semakin meningkat, sejak tindakan ilegal dan sepihak India, 5 Agustus 2019 di mana India mencabut otonomi khusus atas Kashmir dan juga daerah otonomi Muslim Jammu" demikian pernyataan.

Sebagaimana diberitakan  koran Pemerintah Pakistan Associated Press of Pakistan (APP), Selasa itu, Kemenlu Pakistan menambahkan, India telah melakukan tindakan terorisme terhadap kaum wanita di wilayah pendudukan etnis Muslim Kashmir. Kekejaman ini dilakukan lewat pemerkosaan, penyiksaan, perlakuan merendahkan martabat, dan pembunuhan.

"Kejahatan keji yang direstui negara ini semakin meningkat, sejak tindakan ilegal dan sepihak India pada 5 Agustus 2019," demikian pernyatan resmi.

Pemerkosaan massal oleh AD India ini terjadi di dua desa etnis Muslim Kashmir dan Jammu di Distrik Kupwara yakni Kunan dan Poshpora, suatu wilayah otonomi khusus India  yang disingkat IIOJK. Tanggal 23 Februari sudah menjadi peringatan khusus ata stragedi biadab tersebut.

"Hari yang menentukan itu, telah menjadi bekas luka yang mendalam di ingatan komunitas internasional. Kurangnya akuntabilitas terhadap para pelaku, dan tidak adanya keadilan bagi para korban, telah mendefinisikan, bahwa terjadi pengabaian yang disengaja oleh India terhadap supremasi hukum dan hak asasi manusia," tegas Kemenlu India, negara tetangga yang pernah menjadi bagian dari India.

"Insiden kekerasan sistematis dan pemerkosaan massal di IIOJK, telah didokumentasikan oleh sejumlah komisi independen, organisasi hak asasi manusia, media global, dan organisasi masyarakat sipil, termasuk Kantor Komisioner Tinggi HAM PBB (UNCHR)," lanjut  pernyataan resmi Kemenlu Pakistan.

Pihak Kemenlu Pakistan menekankan, hari itu harus mengingatkan komunitas internasional tentang perlunya menangani kekerasan sistematis terhadap perempuan di IIOJK. Meskipun tahun demi tahun telah berlalu, para korban masih menunggu keadilan, karena bungkamnya sistem peradilan di India.

Menurut kalangan HAM, tragedi tersebut adalah pengingat akan budaya impunitas India untuk menekan perlawanan atas kekejaman semacam itu. Pada malam yang tak terlupakan, 23 Februari 1991, satu batalion dari Senapan Rajputana IV Brigade India ke-68, melakukan operasi penjagaan dan pencarian di desa Kunan-Poshpora yang berdekatan di Kupwara.

Setelah mengepung desa dan memisahkan laki-laki dari perempuan, tentara membawa laki-laki ke ladang terdekat, dan mengunci perempuan.  Para wanita kemudian diperkosa beramai-ramai di rumah-rumah mereka, tanpa memperhatikan usia dan status perkawinan mereka.

Masih menurut APP, stasiun televisi Aljazeera dalam tayangan investigasi pada 26 Desember 2016, menceritakan tragedi itu, berdasarkan kesaksian 50 wanita termasuk dua korban, yakni Ifrah Butt dan Natasha.

Dua wanita korban perkosaan ini telah mengajukan petisi ke Mahkamah Agung India untuk membuka kembali penyelidikan.  Sejak itu, penyelidikan ulang diperintahkan, dan Pengadilan Tinggi Kashmir memerintahkan para korban supaya dibayar atau diberi kompensasi oleh Pemerintah Negara Bagian Kashmir.

Ironisnya, pihak militer India  malah semakin meningkatkan upaya untuk menghentikan perintah ini. 

Masih dilansir APP, wanita di Kashmir selama ini terlihat lembut: menutupi wajah dan mengenakan burqa. Gerakan mereka dibatasi. Tetapi setelah suami atau kepala keluarga dibunuh atau dipenjarakan, mereka harus menjadi 'laki-laki': bekerja keras untuk bisa bertahan hidup. 

Sejak 2000, ratusan janda di Kashmir mulai mulai bekerja. Sekarang, banyak di antara mereka yang sukses: memiliki bisnis besar, butik, salon kecantikan, atau berada dalam birokrasi.

Komisi HAM Negara Bagian Kashmir pada 2012, merekomendasikan kompensasi sebesar Rs dua lakh kepada masing-masing 34 pemohon wanita, dan tindakan terhadap pejabat yang menutup kasus tersebut pada 1991. Saking emosionalya, Wakil Komisaris Kupwara, SM Yasin dalam laporannya menyebut,  para pelaku pemerkosaan itu adalah 'tentara-tentra  berperilaku binatang'.*** 

 

Sumber: Associated Press of India

Redaktur: Patrick Waraney Gobel Sorongan 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda