Kapuas Hulu post authorKiwi 05 Juli 2022

Korupsi Pembangunan MTs Ma'arif Putussibau Tahun 2018, Dedeng Divonis Penjara 5 Tahun 6 Bulan

Photo of Korupsi Pembangunan MTs Ma'arif Putussibau Tahun 2018, Dedeng Divonis Penjara 5 Tahun 6 Bulan SIDANG - Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Pontianak menggelar sidang perkara korupsi Pembangunan Gedung Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma'arif Putussibau Tahun 2018, Senin (27/7). 

PUTUSSIBAU, SP –Terbukti membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) palsu dalam Pembangunan Gedung Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma'arif Putussibau Tahun 2018, terdakwa Dedeng dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi (Tipikor). Majelis HakimTipikor Pengadilan Negeri(PN) Pontianak menjatuhkan vonis pidana penjara 5 tahun 6 bulan, dan uang pengganti yang mesti disetorkan ke negara sebesar Rp2.640.000.000.

Pembacaan putusan Majelis Hakim Tipikor PN Pontianak itu digelar secara virtual pada Senin (27/6). Selain vonis bagi Dedeng, Majelis Hakim juga memvonis dua terdakwa lain dalam perkara Tipikor Pembangunan Gedung Sekolah MTs Ma'arif Putussibau Tahun 2018 yaitu Arif Budiman dan Indra Dharma Putra.

Arif dan Indra dijatuhi pidana penjara 1 tahun 6 bulan, serta masing-masing didenda Rp50.000.000 karena terbukti membantu terdakwa Dedeng membuat RAB palsu.

"Majelis Hakim  Tipikor PN Pontianak sependapat dengan Tim Jaksa Penuntut Umum Kejari Kapuas Hulu, yakni perbuatan terdakwa Dedeng yang menggunakan RAB palsu dalam mempertanggungjawabkan hasil pembangunan gedung sekolah,terbukti menyalahgunakan kewenangannya selaku Ketua LP Maarif Putussibau dengan bantuan dari terdakwa Indra dan Arif,”ungkap Kasi Intelijen Kejari Kapuas Hulu, Adi Rahmanto kepada awak media, Senin (4/7).

Para terdakwa, lanjut Adi, melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHPidana.

“Sehingga para terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang menyebabkan kerugian negara," ucapnya.

Sebelumnya pada Senin 6 Juni lalu, lanjut Adi, dalam sidang pembacaan tuntutan perkara pembangunan Gedung Sekolah MTs Maarif Putussibau yang digelar secara virtual dari Pengadilan Tipikor pada PN Pontianak, Jaksa Penuntut Umum Kejari Kapuas Hulu Erik Adiarto SH telah membacakan tuntutan terhadap terdakwa Dedeng, yakni selama 7 tahun penjara dan denda sebesar Rp200.000.000 subsidair 6 (enam) bulan kurungan, dan membayar uang pengganti kerugian keuangan negara sebesar Rp2.700.000.000.

Kemudian untuk terdakwa Arif dan Indra, pidana penjara selama 2 tahun dan denda sebesar Rp50.000.000 subsidair 6 bulan kurungan.

"Atas putusan yang telah dibacakan, pihak Kejaksaan Negeri Kapuas Hulu memiliki waktu 7 hari untuk menentukan sikap apakah menerima atau mengajukan upaya hukum, sebelum putusan tersebut berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsdee)," papar Adi.

Tuntutan untuk Kasus Terminal Bunut Hilir

Kasi Intelijen Kejari Kapuas Hulu, Adi Rahmanto juga mengungkapkan perkara tipikor lainnya di Kabupaten Kapuas Hulu. Yakni,perkara korupsi pembangunan Terminal Bunut Hilir Tahun 2018 dengan terdakwa Lili Silvia dan Satriadi.

Pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum(JPU)terhadap dua terdakwa tersebut dilakukan pada Kamis (30/6) lalu. Terdakwa Lili Silvia dituntut oleh JPU, karena bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan dengan pidana penjara 2 tahun 2 bulan dan denda sebesar Rp50.000.000, serta mengembalikan uang  yang dinikmati dirinya sebesar Rp28.000.000.

“Untuk terdakwa Satriadidituntut pidana penjara 2 tahun 6 bulan, serta uang pengganti yang mesti disetorkan ke negara sebesar Rp111.000.000,” katanya.

Terhadap tuntutan yang dibacakan, penasehat hukum masing-masing terdakwa diberikan kesempatan untuk menyampaikan nota pembelaan atas tuntutan yang diberikan kepada kliennya.

"Terhadap dua terdakwa lain, yakni Gemiti dan Dendi Irawan masih dalam tahap persidangan, yakni mendengarkan keterangan ahli yang diajukan oleh Penuntut Umum," tuntas Adi.(sap)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda