Kayong Utara post authorelgiants 09 Juni 2026

DIB Mengajar Bangun Percaya Diri Anak Pesisir, Tak Sekadar Belajar Bahasa Inggris

Photo of DIB Mengajar Bangun Percaya Diri Anak Pesisir, Tak Sekadar Belajar Bahasa Inggris

Laut bagi masyarakat Desa Pelapis bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga bagian dari perjalanan sehari-hari menuju pendidikan. Setiap pagi, anak-anak di desa pesisir yang berada di gugusan Kepulauan Karimata itu berangkat sekolah dengan kondisi yang tidak selalu mudah. Sebagian harus menyeberang menggunakan kapal, sementara cuaca laut kerap menentukan apakah mereka bisa mengikuti pelajaran di kelas atau tidak.

Desa Pelapis berada jauh dari pusat kota Kabupaten Kayong Utara. Wilayah itu dikelilingi laut dan membutuhkan perjalanan panjang untuk mencapainya. Di tengah keterisolasian tersebut, fasilitas pendidikan tambahan yang lazim ditemukan di perkotaan hampir tidak tersedia. Tidak ada tempat kursus bahasa Inggris, bimbingan belajar, maupun ruang pengembangan keterampilan lain bagi siswa.

Dalam situasi seperti itu, sekolah menjadi satu-satunya tempat belajar formal yang dimiliki sebagian besar anak-anak di desa tersebut.

Kondisi itu terlihat di SMP Negeri 3 Kepulauan Karimata. Jumlah siswa dari kelas 1 hingga kelas 3 hanya sekitar 37 orang. Mata pelajaran Bahasa Inggris memang sudah masuk dalam kurikulum sekolah, tetapi proses pembelajarannya masih menghadapi berbagai tantangan.

“Kalau menurut saya, kemampuan bahasa asing siswa di sini memang agak kurang,” ujar Doni, guru SMPN 3 Kepulauan Karimata.

“Kami berharap dengan adanya program dari perusahaan ini bisa membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa asing.”

Bagi siswa di wilayah kepulauan, Bahasa Inggris perlahan menjadi keterampilan yang semakin penting. Aktivitas industri yang mulai berkembang di sekitar kawasan membuat kemampuan bahasa asing tidak lagi dipandang sekadar pelajaran sekolah, tetapi juga bekal menghadapi perubahan zaman.

Namun keterbatasan akses belajar membuat banyak siswa kesulitan memahami materi. Menurut Doni, pelajaran Bahasa Inggris di tingkat SMP sudah menuntut pemahaman kalimat dan bacaan secara utuh, sementara sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam percakapan dasar maupun pelafalan.

Meski demikian, para guru melihat potensi besar dalam diri anak-anak Pelapis. Mereka cepat memahami pelajaran dan memiliki rasa ingin tahu tinggi. Tantangan utamanya justru terletak pada rasa percaya diri untuk mencoba berbicara.

DIB Mengajar

Berangkat dari kondisi tersebut, PT Dharma Inti Bersama (DIB) dan Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) menjalankan program “DIB Mengajar”, sebuah kelas tambahan Bahasa Inggris sebagai bagian dari program CSR perusahaan di wilayah operasional.

Kawasan Industri Pulau Penebang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikelola PT Dharma Inti Bersama (DIB). Kawasan industri tersebut diproyeksikan sebagai pusat hilirisasi dan industrialisasi bauksit terintegrasi.

Program DIB Mengajar dilaksanakan langsung di SMPN 3 Kepulauan Karimata dengan melibatkan relawan dari internal perusahaan. Tidak hanya tim CSR, sejumlah karyawan lintas departemen juga ikut terlibat untuk mengajar dan mendampingi siswa.

Berbeda dengan suasana belajar formal sehari-hari, kelas dirancang lebih santai dan interaktif. Para siswa diajak belajar melalui permainan kosakata, percakapan sederhana, hingga latihan memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Inggris. Pada tahap awal, materi difokuskan pada greetings dan introductions agar siswa terbiasa membangun komunikasi dasar.

Ketika para relawan melemparkan pertanyaan, beberapa siswa mau mengangkat tangan tapi kemudian menjawab dengan suara pelan. Para siswa takut untuk menjawab, takut jawabannya salah.

Namun perlahan suasana mulai berubah. Anak-anak yang sebelumnya cenderung malu mulai mencoba berbicara. Ada yang mulai menjawab pertanyaan dari bangkunya, ada pula yang memberanikan diri maju ke depan kelas untuk mempraktikkan percakapan sederhana bersama teman-temannya.

Bagi perusahaan, pendidikan dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang untuk membangun kualitas sumber daya manusia di sekitar wilayah operasional. Karena itu, dukungan yang diberikan tidak berhenti pada program mengajar.

External Relations Manager Kawasan Industri Pulau Penebang Sugeng Sulistiyo menjelaskan perusahaan juga menjalankan berbagai program pendidikan lainnya di Desa Pelapis, mulai dari pemberian beasiswa penuh bagi siswa SMA dan mahasiswa asal Desa Pelapis hingga dukungan insentif untuk guru Taman Pendidikan Alquran (TPA).

“Melalui program-program CSR ini, perusahaan berharap dapat berkontribusi dalam menciptakan sumber daya manusia Kayong Utara yang lebih kompetitif sekaligus membuka peluang pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda di wilayah kepulauan,” katanya.

Di tengah berkembangnya kawasan industri di Pulau Penebang, pendidikan menjadi salah satu jalan agar masyarakat lokal dapat tumbuh bersama perubahan. Dari ruang kelas sederhana di Desa Pelapis, keberanian kecil yang mulai tumbuh hari ini perlahan menjadi harapan baru bagi masa depan generasi muda kepulauan. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda