Ketapang post authorelgiants 12 Juli 2020 685

1.302 Rumah Warga Jelai Hulu Terendam Banjir

Photo of 1.302 Rumah Warga Jelai Hulu Terendam Banjir

KETAPANG, SP - Ribuan masyarakat di Kecamatan Jelai Hulu saat ini terpaksa harus mengungsi lantatan banjir yang terjadi semakin parah, bahkan hingga Minggu (12/7) sore ketinggian air terus bertambah naik, hal ini disebabkan hujan yang masih terjadi.

Camat Jelai Hulu, Markus, mengatakan kalau banjir hingga saat ini belum juga surut, bahkan saat ini banjir kian parah yang membuat masyarakat dipaksa mengungsi ke tempat lebih aman.

“Sampai hari ini pukul 13.00 WIB air semakin naik,” katanya, Minggu (12/7).

Markus menerangkan, khusus di Kecamatan Jelai Hulu ad 12 desa yang terendam banjir yang mana sedikitnya merendam 1.302 rumah dan memaksa ribuan jiwa mengungsi ke tempat yang lebih aman. 

“Warga yang rumahnya bertingkat ada yang masih bertahan, yang tidak bertingkat kebanyakan mengungsi kerumah sanak keluarga mereka,” tuturnya.

Markus mengungkapkan, desa yang terendam banjir di antaranya Periangan, Penyarang, Asam Jelai, Deranuk, Biku Sarana, Pangkalan Suka, Kusuma Jaya, Riam Danau Kanan, Tebing Berseri, Pasir Mayang, Kusik Batu Lapu dan Desa Semantun. Daerah tersebut rata-rata berada di bantaran Sungai Jelai dan dataran rendah.

Selain itu, Markus menambahkan daerah yang paling parah terdampak banjir adalah Desa Riam Danau Kanan dengan jumlah rumah yang terendam banjir mencapai 300 rumah. Kemudian Desa Kusuma Jaya sebanyak 215 rumah, Desa Periangan 213 rumah dan 210 rumah di Desa Asam Jelai terendam banjir. 

“Jumlahnya bisa saja bertambah, karena sore ini hujan lagi di Jelai Hulu,” tuturnya.

Markus mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih melakukan pendataan terhadap korban banjir serta bantuan untuk korban banjir juga mulai disalurkan, khususnya di daerah yang terdampak banjir cukup parah. Bantuan yang diberikan berupa sembako dan air minum. 

“Hari ini kita menyalurkan bantuan dari perusahaan kepada warga,” paparnya.

Banjir yang terjadi di Jelai Hulu kali ini terbilang sangat parah, bahkan lebih parah jika dibandingkan dengan banjir yang terjadi beberapa pekan lalu. Selain merendam permukiman warga dan fasilitas umum, banjir juga memutus akses jalan, sehingga akrivitas lumpuh total. Penyaluran bantuan juga agak tersendat karena akses menuju daerah terdampak banjir sulit dijangkau.

Hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari terakhir tidak hanya merendam Jelai Hulu, namun sejumlah kecamatan juga terdampak banjir. Di antaranya Kecamatan Sungai Melayu Rayak, Tumbang Titi, Pemahan dan Manis Mata.

Banjir dan tanah longsor, juga terjadi di Kapuas Hulu. Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas Hulu, Gunawan menyampaikan, pihaknya terus memonitor banjir yang terjadi di Kapuas Hulu, salah satunya seperti yang terjadidi Kecamatan Bunut Hulu.

"Banjir yang meluap di beberapa desa Kecamatan Bunut Hulu tersebut diakibatkan dari tingginya curah hujan beberapa hari lalu,"sampainya

"Di Bunut Hulu itu ada 6 desa yang terendam banjir diantaranya Desa Nanga Semangut. Sedikitnya 20 rumah yang terendam dengan ketinggian air 40 - 60 Cm,"terangnya.

Lanjutnya, Kemudian Desa Kelibang ada 25 rumah yang terendam banjir dengan ketinggian air 25 - 40 Cm. Selanjutnya, Desa Teemuyuk hanya ruas jalan yang terdampak banjir dengan debet air 20 Cm.

"Kemudian Desa Sebilit kurang lebih 10 buah rumah yang terdampak banjir dengan debet air 40 Cm. Selanjutnya Desa Nanga Suruk Dusun Suka Makmur kurang lebih 60 buah rumah yg terdampak banjir dengan debet air 1,5 - 2 Meter kondisi air bertahan,"sampainya

Kemudian Desa Beringin kurang lebih 70 buah rumah yang terdampak banjir dengan debet air 3-4 Meter dan kondisi air masih bertahan. Namun saat ini airnya sudah mulai surut,"sampainya.

Gunawan mengimbau kepada masyarakat tetap waspadai dan menghindari daerah daerah rawan bencana terutama tanah longsor tetap waspada terhadap curah hujan yang cukup tinggi yang bisa menyebabkan banjir.

Banjir juga melanda seluruh kecamatan di Melawi dalam tiga hari terakhir. Walau beberapa kecamatan di perhuluan Sungai Pinoh mulai surut, debit air terus meninggi utamanya di wilayah Kecamatan Nanga Pinoh, termasuk pusat perekonomian di ibukota Melawi, Minggu (12/7).

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) serta Polres Melawi, banjir tahun ini merata di hampir seluruh kecamatan. Bila pada Kamis dan Jumat, banjir melanda wilayah Kecamatan Sokan, Tanah Pinoh hingga Sayan, maka sejak akhir pekan ini, banjir meluas dari wilayah Kecamatan Menukung, Ella Hilir, Pinoh Utara hingga pusat ibukota Melawi, Nanga Pinoh.

Kepala BPBD Melawi, Syafarudin, Minggu (12/7) mengungkapkan banjir di sepanjang jalur Sungai Pinoh saja melanda 33 desa di lima kecamatan. Rinciannya Sokan 10 desa, Tanah Pinoh 7 desa, Sayan 8 Desa, Tanah Pinoh Barat 5 Desa serta Pinoh Selatan 3 desa.

"Sedangkan untuk Nanga Pinoh yang terendam banjir hampir semua desa. 12 desa yang terdampak banjir akibat meluapnya sungai Pinoh dan Sungai Melawi," katanya.

Laporan banjir pun sudah merendam ribuan rumah di sepanjang Sungai Melawi, membentang dari Kecamatan Menukung hingga Nanga Pinoh. Ketinggian air bahkan mencapai lebih dari tiga meter, merendam rumah hingga setinggi atap. Pemkab Melawi pun baru menetapkan status tanggap darurat banjir hingga 14 hari kedepan setelah digelar rapat bersama Bupati Panji, Minggu (12/7) siang.

"Bupati juga sudah memerintahkan untuk dibentuk posko darurat, termasuk di kecamatan. Penyaluran bantuan nantinya diharapkan melalui posko sehingga lebih terkoordinir," katanya.

Salah seorang warga Nanga Pinoh, Agus mengungkapkan air naik begitu cepat. Agus yang tinggal di sekitar kampung Paal pantai mengatakan saat ini rumahnya sudah terendam banjir hingga lantai satu.

"Kami tak tidur semalaman karena takut air pasang mendadak. Semua barang dah dipindahkan ke loteng. Air dah masuk ke rumah hari ini," katanya.

Agus pun menilai banjir tahun ini menjadi banjir terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Banjir paling tinggi terjadi pada 2008 lalu dimana ketinggian air sampai merendam tugu juang.

"Yang ditakutkan saat ini air masih terus naik. Di hulu juga masih banjir seperti di Ella Hilir. Apalagi intensitas hujan juga masih tinggi," katanya.

Kondisi Pasar Nanga Pinoh pun sudah terbenam banjir hingga lantai satu. Seluruh toko pun tutup untuk sementara waktu. Banjir juga merendam beberapa pemukiman hingga akses jalan. Pedagang pasar tradisional di Pasar Markasan pun pindah ke tepi jalan protokol dekat persimpangan tugu juang setelah lapak tempat mereka berjualan terendam banjir.

"Mau tak mau kami pindah ke jalan karena lapak sudah terendam. Karena kebutuhan hidup harus terus dipenuhi. Untungnya tidak dilarang pemerintah kami berjualan disini," kata salah seorang pedagang, Mardiah.

Kapolsek Ella Hilir, Iptu Widaya mengungkapkan banjir terjadi akibat meningkatnya volume air Sungai Melawi. Dampaknya  desa-desa yang berada di wilayah Kecamatan Ella Hilir terutama desa yang berada di  tepian sungai Melawi terendam air.

"Yang terdampak mulai dari Desa Nanga Nuak, Desa Domet Permai, Desa Popai, Desa Lengkong Nyadom serta Desa Nanga Ella Hilir," katanya.

Selain desa yang berada ditepian sungai melawi desa-desa lain yang berpotensi mengalami banjir bandang ataupun tanah longsor adalah desa yang dilalui oleh aliran Sungai Kalan yaitu di Dusun Senggalang dan Dusun Rembayan Desa Pelempai Jaya Kecamatan Ella Hilir.

"Saat ini ketinggian air  naik sekira 2 meter dan sudah ada beberapa rumah warga maupun sarana transportasi seperti jalan yg tergenang air. Ada lima titik yang tergenang aehingga menyebabkan terputusnya transportasi dari Kecamatan Nanga Pinoh menuju ke Kecamatan Ella Hilir," paparnya.

Banjir juga membuat aliran listrik sementara di pasamkan. Kasi Pelayanan Umum, Pemerintah Kecamatan Ella Hilir, Matsari, mengatakan setelah pihak PLN Ella Hilir meninjau kondisi banjir dari luapan Sungai Melawi yang terus meningkat, PLN terpaksa melakukan  pemadaman listrik di daerah yg terkena banjir untuk menghindari bahaya tersenyum listrik.

"Pemadaman ini terpaksa dilakukan PLN demi keselamatan warga, dan nantinya akan kembali dinyalakan ketika kondisi benar-benar dalam keadaan aman bagi warga," katanya.

Warga Ella, Erinto memaparkan air masih terus naik hingga Minggu siang. Hampir seluruh rumah terendam banjir, utamanya desa di tepi sungai.

"Kedalaman banjir rata-rata dua meter. Banjir tahun ini lebih besar dari beberapa tahun sebelumnya," katanya.

Terpisah, kepala Puskesmas Kotabaru, Ahmad Darmawan mengungkapkan saat ini banjir sudah berangsur surut di Kotabaru, Kecamatan Tanah Pinoh. Banjir sempat merendam pemukiman hingga pasar pada Kamis dan Jumat lalu.

"Air baru surut pada Sabtu subuh. Hanya ditakutkan kalau hujan turun lagi, air Sungai Pinoh bisa naik lagi," katanya.

Ribuan rumah di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, terendam banjir dengan ketinggian mencapai 1-5 meter, Sabtu(12/07/2020) ukul.13.00 WIB. Akibatnya ribuan warga terpaksa mengungsi ke wilayah lebih aman.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun kerugian material diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Kepala Desa Empakan, Irwan mengatakan, bencana banjir disebabkan curahan hujan yang sangat tinggi, sehingga membuat sungai meluap ke rumah warga. Bahkan, senjumlah fasilitas umum dan perkantoran juga ikut terendam.

Bencana banjir terparah terdapat di dua wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Kayan Hulu, dan Kecamatan Serawai. Luapan air sudah mencapai atap rumah warga. Sehingga warga di lima desa, terpaksa mengungsi, yakni Desa Nanga Yebidah, Desa Landau Bara, Desa Entogong, dan Desa Empakan, dengan jumlah keluarga terdampar sebanyak 825 kepala keluarga.

Sebagian warga terpaksa mengunsi ke rumah-rumah warga yang belum terdampak banjir. Ada pula warga yang terpaksa mengungsi di perkebunan karet milik warga setempat.

Kapolsek Serawai, Iptu. Rasyid mengatakan, sementara untuk wilayah Kecamatan Serawai, hingga pusat ibu kota ikut teredam banjir. "Di Kecamatan Serawai sekarang ini saja, terdapat sekitar 2. 180 kepala keluarga terdampak banjir," tuturnya.

Hingga saat ini ribuan warga terdampak banjir tersebut belum mendapatkan bantuan kebutuhan bahan pokok dari pemerintah. Aparat gabungan masih sibuk membantu mengevakuasi barang-barang milik warga yang terkena musibah banjir tersebut. (teo/sap/eko/sin)

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda