KETAPANG,SP - Suasana di Jalan Ahmad Sood, Pontianak, Jumat 16 Mei itu terasa berbeda. Di halaman sebuah bangunan sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggal mahasiswa asal Ketapang, bendera merah putih berkibar tenang, seakan menyambut seorang tamu penting yang datang bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai seorang “abang” bagi anak-anak rantau dari tanah Kayong.
Alexander Wilyo, Bupati Ketapang, melangkah masuk ke lingkungan Asrama Mahasiswa Ketapang dengan senyum dan sapaan hangat. Kunjungan itu bukan sekadar seremoni. Ada ketulusan dalam langkahnya, ada pesan kuat dalam setiap kata yang ia ucapkan.
“Asrama ini bukan sekadar tempat tinggal,” ujar Alexander saat berbincang dengan para penghuni asrama.
“Ini adalah rumah pembinaan, tempat kalian dibentuk untuk menjadi pemimpin masa depan Ketapang,” tambahnya.
Antara Atap Sederhana dan Harapan Besar
Di tengah hiruk-pikuk Kota Pontianak, dua bangunan yang bernama Asrama Putra Kayong dan Asrama Putri Junjung Buih berdiri sebagai saksi perjuangan anak-anak muda dari pedalaman Kalimantan Barat. Mereka datang dengan satu tekad: belajar dan kembali membangun tanah kelahiran.
Alexander Wilyo meninjau setiap sudut bangunan—menyapa mahasiswa, menanyakan kebutuhan mereka, hingga mendengarkan keluhan soal fasilitas. Namun lebih dari itu, ia hadir membawa komitmen.
“Ke depan, kita akan tata dan kelola asrama ini dengan lebih baik dan berkelanjutan. Bukan hanya soal bangunannya, tetapi bagaimana tempat ini bisa menjadi ekosistem yang mendukung kemajuan akademik dan karakter kalian,” tegasnya.
Pendidikan: Investasi Terbaik Daerah
Kunjungan ini menjadi bagian dari visi besar Alexander Wilyo: membangun Ketapang dari manusianya. Di tengah limpahan sumber daya alam yang dimiliki, ia paham benar bahwa kekayaan sejati suatu daerah ada pada sumber daya manusianya.
“Kita ingin SDM Ketapang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga tangguh, berkarakter, dan siap bersaing. Itulah sebabnya perhatian terhadap pendidikan tidak boleh setengah-setengah,” ungkapnya.
Respons mahasiswa? Antusiasme. Kehadiran langsung seorang bupati di asrama mereka menjadi penyuntik semangat tersendiri. Beberapa dari mereka bahkan tak ragu menyampaikan aspirasi secara langsung—sesuatu yang jarang terjadi dalam konteks birokrasi yang kerap berjarak.
Lebih dari Sekadar Kunjungan
Di akhir kunjungan, Alexander tak langsung pergi. Ia bersama mahasiswa, berbagi cerita, motivasi, dan harapan. Di matanya, mereka bukan sekadar angka dalam daftar penerima beasiswa, tapi anak-anak muda yang suatu saat nanti akan menggantikannya memimpin daerah. (Teo/*)