Ketapang post authorKiwi 18 September 2020 5,191

Dituding Ilegal dan Dibekingi Oknum Aparat, PT SRM Ketapang Diserang

Photo of Dituding Ilegal dan Dibekingi Oknum Aparat, PT SRM Ketapang Diserang

KETAPANG, SP - PT. Sultan Rafli Mandiri (SRM) terus dirundung masalah. Usai didemo masyarakat oleh warga dari empat Desa, yaitu Kelampai, Jungkal, Pemuatan Jaya, dan Segar Wangi, terbaru pada Kamis (18/9), perusahaan tambang di Dusun Muatan Batu, Desa Kelampai, Kecamatan Tumbang Titi, ini diserbu oleh masyarakat dari empat desa tadi.

Kedatangan ratusan, bahkan ribuan masyarakat dari empat desa tersebut, karena mereka tidak terima adanya spanduk yang dipasang oleh oknum perusahaan di lingkungan perusahaan, yang berbunyikan dukungan warga empat desa atas pengoperasian kembali perusahaan yang sempat berhenti usai didemo pada akhir bulan agustus lalu.

PT SRM yang merupakan perusahaan tambang emas milik asing di Dusun Muatan Batu, Desa Kelampai, Kecamatan Tumbang Titi. Setelah didemo warga dan pemilik lahan menghentikan segala aktivitasnya.

Mereka beroperasi kembali setelah merasa mendapat dukungan warga empat desa yang dituliskan dalam spanduk bertuliskan “Kami Warga Masyarakat Desa Kelampai, Jungkal, Pemuatan Jaya, an Segar Wangi, mendukung Penuh PT. SRM Untuk Segera Aktif Beroperasi Lagi”.

48 TKA Tak Pernah Dilaporkan

Spontan, warga yang tidak pernah merasa mendukung pun melakukan aksi, untuk menutup aktivitas PT SRM tersebut, pada Kamis (18/9). keributan yang terjadi di PT. SRM, yang mana ribuan masyarakat dari beberapa desa melakukan unjuk rasa yang berakhir pengrusakan sejumlah fasilitas perusahaan hingga pemukulan terhadap beberapa TKA.

Kini 128 TKA telah dievakuasi, di mana 48 diantaranya tak pernah dilaporkan ke Imigrasi. Mereka yang telah dievakuasi ke Kota Ketapang, ditempatkan di dua hotel.

Saat dikonfirmasi, Kepala Imigrasi Klas III Ketapang, Rudi Adriadni membenarkan adanya ratusan TKA asal Tiongkok yang dievakuasi ke sejumlah hotel di Ketapang pasca adanya keributan di lokasi perusahaan.

“Saya baru dapat informasinya tadi malam, adanya 128 TKA yang diinapkan di Hotel Grand Zuri dan Aston. Saat ini, kami sedang melakukan pendataan terhadap para TKA tersebut,” kata Rudi, saat dihubungi Suara Pemred, Jumat (18/9).

Rudi melanjutkan, kalau dari hasil sementara, dari 128 TKA yang dievakuasi hanya 80 TKA yang pernah dilaporkan perusahaan sehingga sudah terdata di pihaknya.

“Hanya 80 orang yang datanya ada di kita sebagai TKA, selebihnya kita belum tau statusnya makanya kita lakukan pendataan dulu,” tuturnya.

Menurutnya, jika nanti hasil dari pendataan diketahui sebagian TKA Ilegal atau melakukan pelanggaran, maka pihaknya memastikan akan memberi sanksi tegas kepada mereka. Terkait, adanya TKA yang sempat dipukuli oleh masyarakat, diakuinya kalau dirinya tidak mengetahui persoalan tersebut.

“Sanksinya bisa berupa deportasi atau bahkan disidangkan, tapi kita pastikan dulu dari hasil pendataan dan nanti kita akan melakukan juga pemeriksaan kepada perusahaan yang mensponsori dan bertanggung jawab sebab secara aturan ketika ada TKA masuk maka pihak perusahaan berkewajiban melapor ke Imigrasi,” papar Rudi.

Sementara itu, Pj Sekda Ketapang, Heronimus Tanam mengaku sangat menyayangkan adanya keributan yang terjadi dilokasi perusahaan, ia berharap agar perusahaan dapat memperhatikan hak-hak masyarakat.

“Disamping bekerja dengan memenuhi perundang-undangan juga harus bekerja sesuai tata cara berkehidupan dan tatanan masyarakat Indonesia,” mintanya.

Tanam menilai, investasi yang masuk harusnya membuat masyarakat sekitar lebih baik kehidupannya ada dampak yang baik bukan sebaliknya.

Enggan Komentar

Sementara itu, perwakilan PT. SRM, Lubis, saat dikonfirmasi enggan memberikan komentar terkait kerusuhan yang terjadi di lokasi PT. SRM. Dia hanya menyarankan untuk mengonfirmasi ke kuasa hukumnya. "Bapak, kontak lawyer saja," singkat Lubis melalui pesan WA.

Sementara itu, kuasa hukum PT. SRM, Restanto, saat dihubungi melalui sambungan telfon juga enggan memberikan komentar. Dia mengaku belum bisa memberikan komentar karena sedang sibuk. "Nanti saya kabari ya bang. Saya masih agak repot," ujarnya melalui pesan WA.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak perusahaan terkait kerusuhan yang terjadi di PT. SRM.

Demikian pula, saat dikonfirmasi, Kapolres Ketapang, AKBP Wuryantono belum dapat memberikan keterangan lantaran masih ada kegiatan, sedangkan Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP Primas enggan memberikan komentar, pesan singkat whatsaap awak media juga tidak direspon.

Tidak Ada Penyelesaian

Sementara itu, saat dikonfirmasi ahli waris lahan yang digunakan oleh PT. SRM, Imran Kurniawan mengaku kalau hingga saat ini tidak ada penyelesaian mengenai lahan mereka.

“Sampai hari ini tidak ada penyelesaian, makanya kemarin sudah ada kesepakatan agar tidak beroperasi sebelum penyelesaian tapi nyatakan perusahaan mengingkari itu,” katanya.

Imran menerangkan, kalau persoalan lahan sudah cukup lama terjadi bahkan ironisnya ada sejumlah lahan milik pihaknya yang berlegalitaskan SKT terbitan tahun 1962 yang kemudian dibeli perusahaan melalui oknun warga desa dengan membuat kembali SKT baru.

“Permintaan kami ke perusahaan termasuk ke Direktur SRM tidak pernah digubris, namun untuk lahan kami yang kami persoalkan sesuai pengukuran sendiri ada sekitar 85 persen wilayah perusahaan masuk ke dalam lahan ahli waris,” akunya.

Ironisnya sejak mulai beroperasi pada Oktober 2018 lalu pihak perusahaan sama sekali tidak memperkenankan pemilih lahan untuk masuk dalam areal pabrik bahkan akses masuk sama sekali tidak diberikan, padahal didalam managemen perusahaan ada pembagian saham sebesar 25 persen milik ahli waris yang sampai saat ini tidak pernah diberikan.

Untuk itu, Imran berharap agar persoalan ini dapat secepat mungkin diselesaikan dengan perusahaan melakukan kewajiban-kewajiban kepada pihaknya dan tidak lagi mengadu domba masyarakat dengan membuat spanduk yang mengatasnamakan masyarakat.

“Karena akibat perbuatan perusahaan masyarakat menjadi marah, ke depan kita minta agar perdayakan masyarakat sebagai pekerja sebab sejauh ini informasi mayoritas pekerja adalah TKA yang pekerjaannya bisa dilakukan oleh masyarakat lokal,” paparnya.

Imran menduga, ratusan TKA ilegal asal Tiongkong yang ditemukan di PT SRM saat warga melakukan sweping, bekerja secara ilegal di perusahaan tersebut. “Kami menduga TKA yang disembunyikan itu masuk dan bekerja secara ilegal,” kata Imran.

Selain itu, Imran juga menyesalkan sikap perusahaan yang tidak memberikan izin kepada pihaknya untuk masuk ke lokasi tambang.

“Kami sebagai pihak keluarga tidak diizinkan masuk ke lokasi, alasan Brimob yang menjaga perintah dari direktur. Selain itu permintaan laporan aktivitas perusahaan juga tidak pernah diberikan kepada kami yang memiliki saham di perusahaan tersebut,” kata dia.

Imran mengaku pihaknya turut diundang dalam rapat yang difasilitasi Polres Ketapang menanggapi persoalan yang terjadi di PT. SRM, yang mana kesimpulan rapat mediasi tersebut bahwa pihaknya selaku ahli waris masih menunggu itikad baik dari managemen PT. SRM untuk menyelesaikan persoalan ini.

“Dari hasil rapat mediasi diketahui bahwa IUP OP PT. SRM sudah mati sejak Juni 2020 dan belum selesai proses perpanjangannya sampai sekarang. Selain itu hasil rapat dari pihak Direskrimum Polda Kalbar menegaskan agar perusahaan dilarang keras melakukan aktivitas sampai proses hukum selesai,” tuturnya.

Ahli waris dan juga pemegang saham di PT SRM, Muwardi juga menyesalkan sikap perusahanan yang  tidak pernah memberikan laporan kinerja perusahaan kepadanya. Sebagai salah satu pemegang saham perusahaan, Muwadi mengaku memiliki hak untuk tahu aktivitas perusahaan.

“Hak kami tidak pernah dikasih, secara lisan sudah kami minta dokumennya namun tidak dikasih,” ungkapnya.

Muwardi juga mengatakan tidak pernah dilibatkan dalam perubahan status perusahaan yang sebelumnya CV menjadi PT. “Perubahan status perusahaan juga tidak dilibatkan jika ada tanda tangan saya, itu palsu, dan ini sudah saya laporkan ke Polda Kalbar pada Juni 2020 lalu,” katanya.

Halaman Selanjutnya

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda