Ketapang post authorKiwi 29 Juli 2021

Kolaborasi Masyarakat, Swasta, dan Pemkab Ketapang Peringatan Hari Mangrove Sedunia di Kuala Satong

Photo of Kolaborasi Masyarakat, Swasta, dan Pemkab Ketapang Peringatan Hari Mangrove Sedunia di Kuala Satong Kegiatan Penanaman Bibit Mangrove di Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang memperingati Hari Mangrove Sedunia, Sabtu-Minggu (24-25/7). 

 

KETAPANG, SP - Lomba Foto dan Penanaman Bibit Mangrove di Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang digelar memperingati Hari Mangrove Sedunia pada 26 Juli 2021. Kegiatan ini sebagai salah satu upaya mengedukasi masyarakat mengenai ekosistem mangrove dan keanekaragaman hayati di dalamnya, serta mempromosikan wisata mangrove yang ada di Desa Kuala Satong.

Kegiatan ini, papar Asisten Manager Program Pemberdayaan Masyarakat IAR Indonesia, Maria, merupakan kolaborasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kuala Satong, IAR Indonesia, Dinas Pariwisata Kabupaten Ketapang, Politeknik Negeri Ketapang, PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (MPK), dan Aliansi Pemuda Pecinta Alam.

“Diadakan di wisata mangrove yang ada di Desa Kuala Satong. Tempat wisata alam seluas 6 hektare ini dikelola Pokdarwis Kuala Satong,” ungkap Maria.

Wisata Mangrove Kuala Satong mempunyai jalur tracking sepanjang 1,5 kilometer. Selain itu, tempat wisata ini juga mempunyai jungle track yang terbuat dari kayu sepanjang 300 meter, sehingga pengunjung dapat berjalan di tengah hutan mangrove dan dilengkapi dengan enam buah saung yang dapat dipakai pengunjung untuk beristirahat.

Melihat potensi keindahan alam dan sebagai upaya promosi, maka diadakan lomba fotografi dengan tema “Atraksi Wisata di Areal Mangrove” yang dilaksanakan selama empat hari tanggal 24-27 Juli. Lomba diikuti oleh 23 tim terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum. “Setiap tim terdiri dari tiga orang, dan setiap tim secara bergantian melakukan pengambilan gambar di lokasi Wisata Mangrove Kuala Satong, menyesuaikan daya tampung lokasi dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” terangnya.

Sementara itu, kegiatan penanaman mangrove pada Sabtu-Minggu (24-25/7) diikuti 69 peserta yang berasal dari mahasiswa, komunitas pecinta reptil, komunitas fotografi dan masyarakat umum. Mereka melakukan penanaman sejumlah bibit pada areal terbuka sekitar track di dalam Kawasan Wisata Mangrove Kuala Satong.

“Penanaman ini bertujuan untuk menambah vegetasi mangrove pada areal yang terbuka, akibat pembangunan dan normalisasi sungai,” ucapnya.

Ekosistem mangrove, terang Maria, merupakan ekosistem peralihan antara darat dan laut yang dikenal memiliki peran dan fungsi yang sangat besar. Secara fisik, hutan mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung kawasan pesisir dari empasan angin, arus, dan ombak dari laut, serta berperan juga sebagai benteng dari pengaruh banjir dari daratan. Sebagai salah satu ekosistem pantai, hutan mangrove memainkan peranan yang sangat penting dalam menunjang kehidupan berbagai biota laut, terutama beberapa jenis ikan, udang, dan kepiting. “Hutan mangrove yang terjaga dengan baik akan mampu memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, khususnya kelompok nelayan,” ujarnya.

Masyarakat Kuala Satong sendiri sudah sejak lama mengetahui pentingnya ekosistem mangrove yang ada di desa mereka. Sejak tahun 2008, salah satu tokoh masyarakat Desa Kuala Satong, Syakrani, sudah mulai melestarikan ekosistem mangrove. Awalnya Syakrani masih berjuang sendirian. Bahkan, banyak warga yang melakukan aktivitas yang merusak ekosistem bakau. Namun kerja keras Syakrani berbuah manis. Selain mendapat dukungan dari masyarakat, dia juga mendapat dukungan dari pihak pemerintah dan swasta, sehingga akhirnya bisa membentuk Pokdarwis, dan mewujudkan Wisata Hutan Mangrove di Kuala Satong.

“Kami berterimakasih kepada segenap instansi yang terlibat, serta para peserta lomba fotografi dan penanaman, karena telah melakukan kegiatan di area Wisata Hutan Mangrove Kuala Satong. Kami berharap, kegiatan penanaman ini dapat dilaksanakan lagi di masa yang akan datang, dan berdampak positif bagi lingkungan untuk menanggulangi abrasi di pantai Kuala Satong,” ujar Syakrani.

Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ketapang, Drs Yulianus MAP berharap, kegiatan ini bisa memunculkan inisiasi-inisiasi yang merawat alam. Dia mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam memperingati Hari Mangrove Sedunia melalui lomba fotografi dan kegiatan penanaman, meskipun secara sederhana karena situasi pandemi saat ini.

“Semoga kesadaran masyarakat, pantai-pantai kita di Ketapang, bisa diperindah kembali dengan mangrove, terutama di wilayah Matan Hilir Utara. Kami mengapresiasi Kelompok Sadar Wisata yang sudah mulai bergerak untuk melakukan penanaman mangrove di wilayah Matan Hilir Utara,” ujar Yulianus.

Sebagai salah satu lembaga yang menginisiasi kegiatan ini, IAR Indonesia juga menyatakan komitmennya untuk ikut menyertai upaya-upaya masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. “Kerusakan mangrove sangat berdampak buruk bagi kehidupan, baik secara ekologi, ekonomi dan sosial. Untuk itu, mari kita mulai berbuat sesuatu untuk menyelamatkan mangrove yang masih tersisa dengan penanaman mangrove kembali, dan menjaga yang masih tersisa,” ujar Manager Social Impact IAR Indonesia, Wasis Iswadaru.

Begitu pula dengan PT MPK yang bertekad untuk turut serta membangun kerja sama dengan masyarakat setempat. PT MPK mempunyai cita-cita besar untuk penyelamatan dan pengelolaan ekosistem gambut, melindungi habitat satwa, dan berkontribusi terhadap mitigasi dari perubahan iklim, serta membangun kerja sama yang harmonis dengan masyarakat sekitar kawasan hutan. “Letak dan lokasi wilayah kerja PT MPK yang cukup dekat dari pantai di bagian selatan Pulau Kalimantan, termasuk Matan Hilir Utara, maka PT MPK juga sangat konsen untuk berkontribusi dalam mempertahankan pesisir pantai, terutama menjaga ekosistem mangrove,” ujar Direktur Utama PT MPK, Syamsul Budiman.(teo)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda