Kubu Raya post authorBob 22 Oktober 2020 66

Hadirkan SPBN di Sungai KakapPertamina Mudahkan Nelayan Penuhi Bahan Bakar

Photo of Hadirkan SPBN di Sungai KakapPertamina Mudahkan Nelayan Penuhi Bahan Bakar MEMBERESKAN - Anak Buah Kapal (ABK) Berkat Illahie tengah membereskan tali kapal. SUARA PEMRED/DINO

Pagi hari di dermaga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Sungai Kakap, aktivitas masih belum terlihat ramai. Beberapa kapal nelayan merapat untuk mengisi bahan bakar.

Tak lama setelah itu, dari kejauhan suara kapal mulai terdengar. Satu per satu kapal nelayan merapat ke dermaga SPBN Sungai Kakap untuk mengisi bahan bahan bakar. Salah satunya, kapal Berkat Illahie milik Agus Fedi (31).

Dua Anak Buah Kapal (ABK) Berkat Illahie terlihat cekatan. Satu orang melempar tali dan satunya menyambut untuk mengikat kapal ke dermaga. Tanpa dikomandoi, petugas SPBN langsung mengisi solar sesuai kuota yang diberikan.

"Sekarang sudah nyaman, dengan surat-surat lengkap kapan saja kita bisa ngisi," Pemilik Kapal Berkat Illahie, Agus Fedi (31) saat diwawancarai, belum lama ini.

Keberadaan SPBN milik Pertamina, sangat membantu bagi para nelayan untuk mendapatkan bahan bakar. Sebab, ketersediaan bahan bakar menjadi faktor utama dalam aktivitas melaut. Dengan adanya kepastian bahan bakar nelayan, sangat dimudahkan.

Dalam satu kali melaut, kapal milik Fedi membutuhkan bahan bakar sebanyak 2.500 liter. Dengan estimasi sekali melaut, menghabiskan waktu lebih dari satu bulan. Selama ini, pihaknya tidak pernah mengalami kelangkaan dan kesulitan dalam mendapatkan bahan bakar.

"Tidak ada masalah sih selama ada Pertamina ini. Kita mudah untuk mendapatkan bahan bakar," ungkap Fedi.

Nelayan lainnya, Efendi (41) juga sependapat. Keberadaan stasiun pengisian bahan bakar nelayan dirasa cukup membantu. Karena sebelum adanya stasiun pengisian bahan bakar, para nelayan harus membeli dari pengecer. Jika nelayan membeli dari pengecer, harus merogoh kantong yang lebih besar.

"Dulu sebelum ada ini (stasiun pengisian bahan bakar nelayan), kita ngambil bakar dari pengecer," ucap Efendi.

Ia menambahkan, harga dari pengecer otomatis lebih besar ketimbang dari stasiun pengisian bahan bakar nelayan. Dalam satu kali melaut, dirinya memerlukan 750 liter. Dengan estimasi waktu satu kali melaut, selama lima hari.

Ia mengungkapkan, jika stok bahan bakar tidak ada, maka terpaksa tidak melaut. Ketersediaan bahan bakar, menurutnya menjadi faktor utama dalam melaut. Semenjak adanya stasiun pengisian bahan bakar nelayan, dirinya tidak pernah lagi membeli dari pengecer.

"Semenjak ada ini (stasiun pengisian bahan bakar nelayan), kita tidaklah ngambil dari pengecer. Tapi kalau tidak ada, kita ngambillah," tuturnya.

Efendi menyebutkan, dirinya menjadi nelayan sudah lebih dari 20 tahun. Pandemi covid-19 ini, kata dia, tidak terlalu berpengaruh terhadap nelayan. Karena aktivitas nelayan sebagian besar dihabiskan di laut.

"Untuk penjualan hasil laut, agak sedikit menurun. Karena hasil laut yang didapatkan tidak bisa diekspor," pungkasnya. (dino/shella)

 

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda