Lainnya post authorelgiants 09 Oktober 2019 199

Indonesia Tunggu Penyelidikan Polisi Hong Kong

Photo of Indonesia Tunggu Penyelidikan Polisi Hong Kong DIRAWAT - Veby Mega Indah, wartawan Indonesia di Hong Kong, kemungkinan kehilangan salah satu alat penglihatannya setelah tertembak oleh polisi di sana akhir September lalu.

Pemerintah Hong Kong sampai saat ini belum juga memberikan penjelasan terkait insiden penembakan yang melukai seorang jurnalis Indonesia, Veby Mega Indah, pada akhir September lalu. Saat itu Mega menyatakan anggota kepolisian Hong Kong melepaskan tembakan ke arah jurnalis yang sedang meliput aksi unjuk rasa, dan sebuah proyektil peluru karet mengenai pelipis kanannya.

"Belum ada respons dari otoritas Hong Kong jadi mungkin masih dalam penyelidikan kepolisian Hong Kong, kami masih tunggu," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, Selasa (8/10).

Judha menuturkan Indonesia melalui kantornya juga telah mengirimkan nota resmi kepada otoritas Hong Kong untuk meminta penjelasan dan permohonan penyelidikan atas insiden yang menimpa Veby. Namun, Judha menuturkan hingga saat ini Hong Kong belum merespons permintaan itu.

Judha mengatakan Veby sudah menunjuk pengacara untuk menggugat kepolisian Hong Kong.

"Ibu Veby sudah menunjuk pengacara untuk lakukan gugatan terhadap otoritas Hong Kong," kata Judha.

Veby tertembak peluru karet di dekat matanya saat meliput aksi unjuk rasa di kawasan Wan Chai, Hong Kong, pada 29 September lalu.

Menurut informasi yang disampaikan jurnalis AFP, Jerome Taylor, Veby dilaporkan mengalami buta permanen pada mata kanannya sebagai dampak dari benturan peluru karet. Informasi itu didapat Taylor dari pengacara Veby, Michael Vidler, melalui pesan singkat.

Judha menuturkan sampai saat ini dokter masih mengobservasi kondisi mata kanan Veby. Dia mengatakan dokter juga belum memberi kesimpulan terkait kondisi mata Veby tersebut.

"KJRI mengunjungi Veby terakhir pada 7 Oktober kemarin. Kondisi yang bersangkutan sudah stabil dan semakin membaik. Mata kanan Veby masih diobservasi dokter jadi kami terus pantau kondisinya," kata Judha.

Terpisah, pengacara Veyby, Michael Vidler, mengatakan bagian pupil mata Veby pecah karena adanya tekanan yang masuk ke matanya.

"Berapa persen pastinya kerusakan permanen hanya bisa ditentukan setelah dioperasi," ujarnya kepada wartawan di Hong Kong.

Veby diketahui bekerja sebagai 'associate editor' untuk 'Suara', sebuah koran berbahasa Indonesia di Hong Kong dan meliput demonstrasi anti pemerintah China. Kejadiannya berawal saat Veby sedang melakukan laporan langsung di Facebook dari kawasan Wan Chai, hari Minggu (29/9) lalu.

"Peluru karet dari pihak kepolisian mengenai kacamata pelindung yang dipakainya dan menyebabkan luka dan robek serius," tulis koran Suara dalam pernyataan.

Koran Suara mengatakan sangat mengutuk keras kejadian tersebut, karena saat meliput Veby sedang bersama wartawan lainnya dan menggunakan rompi, helm bertuliskan wartawan, sehingga seharusnya dia dapat dibedakan dengan para demonstran.

Asosiasi Jurnalis Hong Kong (HKJA) menyatakan akan melakukan penyelidikan insiden yang menimpa Veby dan mengambil langkah tegas untuk melindungi hak dan keselamatan para wartawan yang meliput.

"Kepolisian memiliki tugas untuk membantu pers dan memfasilitasi peliputan yang dilakukan anggota pers," tulis HKJA.

"Menjadi bukti bahwa artinya polisi seharusnya tidak menyebabkan luka kepada anggota pers."

Aksi turun ke jalan di Hong Kong diawali dengan kemarahan warga soal perubahan undang-undang ekstradisi ke China sejak Juni lalu. Tapi belakangan warga juga menyampaikan kekecewaannya kepada pemerintah China lewat protes yang mendapat sorotan internasional. (abc/ccn/bls)

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda