Mempawah post authorKiwi 17 November 2021

Harga Istri Muda Dewan Dibayar Rp100 Juta Tunai!

Photo of Harga Istri Muda Dewan Dibayar Rp100 Juta Tunai!

MEMPAWAH, SP - Kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kabupaten Mempawah, terhadap istri sirinya, berakhir damai setelah melalui mediasi dengan ganti rugi Rp100 juta. Informasi ini didapat dari beberapa sumber Suara Pemred yang namanya enggan disebutkan.

Perdamaian ini, katanya terjadi setelah ada mediasi di Polres Mempawah, walau sebelumnya Kasat Reskrim Polres Mempawah, IPTU Wendi Sulistio, membantah adanya upaya damai, bahkan pihalnya telah memerika sejumlah saksi, terkait laporan SJ terhadap ZL yang merupakan oknum anggota DPRD Mempawah.

ZL diduga melakukan penganiayaan, di Kawasan Paoh, Kecamatan Anjongan Kabupaten Mempawah, beberapa waktu lalu.

"Kita sudah melakukan pemeriksaan sejumlah saksi termaktub terlapor ZL, yang masih berstatus sebagai saksi," tegasnya saat dihubungi Suara Pemred, Rabu (17/11) pagi.

Menurut Kasat, terkait laporan SJ tersebut, pihaknya masih terus melakukan upaya penyelidikan. Dan belum adanya informasi terkait Damai antara kedua belah pihak. "Jadi, belum ada informasi damai, antara ZL maupun SJ,"ujarnya

Saat ditanya awak media, terkait adanya informasi antara ZL dan SJ melakukan mediasi upaya damai dengan biaya ganti rugi sebesar Rp100 Juta terhadap SJ, Kasat juga tidak bisa menjelaskan informasi tersebut.

"Sampai saat ini belum ada perdamaian dari kedua pihak," tegasnya

Ia menambahkan, apabila ada pernyataan damai antara kedua belah pihak,  bisa saja proses yang dilakukan berhenti dengan restorative justice, namun, ada tahapan-tahapannya yang harus dilewati.

"Ada tahapan yang harus dilewati sesuai dengan aturan terkait restorative justice," kata Kasat.

SJ (23), istri siri Anggota DPRD Mempawah, ZL,  membenarkan telah melakukan mediasi di Mapolres Mempawah Rabu (17/11) sore. Dirinya bersama ZL,dinyatakan telah berdamai.

"Saat ini sudah damai, karena sudah musyawarah keluarga secara bersama dengan ikhlas berdamai. Saya juga ikhlas untuk mencabut laporan ke Polres" papar SJ.

Menurutnya, dalam proses damai dengan sang suami siri, ZL, yang merupakan Anggota DPRD Mempawah dari Partai Nasdem ini, diakuinya tidak ada syarat apapun. Bahkan, ia membantah proses damai dengan syarat ganti rugi Rp100 juta.

"Kita berakhir dengan damai ikhlas musyawarah keluarga tanpa ada ganti rugi atau lainya," tuturnya.

Godaan Istri Muda

Sebelumnya, baru- baru ini, masyarakat Kalbar di hebohkan dengan berita pengeroyokan oleh satu keluarga kepada istri muda atau istri siri, anggota dewan dari fraksi Nasdem DPRD Kabupaten Mempawah.

Ceritanya begini, Menikah di rumah makan, dipukul di tengah jalan, habis manis, istri siri disingkirkan, tinggal tunggu di pengadilan. Demikian lah nasib yang menimpa SJ (23), perempuan cantik yang merupakan staf Fraksi Partai Hanura di DPRD Kabupaten Mempawah.

SJ ini, merupakan istri siri anggota DPRD Kabupaten Mempawah berinisal ZL, yang bersama istri sah dan anaknya, diduga melakukan penganiayaan berupa pengeroyokan terhadap SJ.Peristiwa ini terjadi di Desa Paoh, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah, Sabtu (6/11) malam.

Tak terima dikeroyok oleh suami sirinya, SJ lantas melaporkan hal tersebut di Mapolres Mempawah pada Minggu (7/11) dini hari untuk mendapatkan keadilan.SJ mengungkapkan, pemukulan terhadap dirinya berawal dari rasa cemburu. Dia menduga bahwa suami sirinya tersebut memiliki wanita lain. Dugaan itu diperkuat karena saat dihubungi, handphone suaminya tidak aktif.

"Makanya saya mencarinya dan mencegatnya di kawasan Jalan Raya Paoh Anjongan dan langsung menggedor mobilnya dengan menggunakan botol air minuman. Saat kaca pintu mobil dibuka, ternyata dia sedang bersama istri sahnya," ujarnya.

ZL yang saat itu kaget, mengira SJ akan memukulnya setelah kaca mobil dibuka, padahal menurut SJ, dia tak memiliki niat untuk memukul suami sirinya.

"Melihat itu, tangan saya dipegang dan langsung dipukulnya. Rambut dijambak dan leher dicekik. Istrinya yang berada di mobil juga ikut memukul. Saya hampir jatuh di jalan raya, di mana saat itu banyak mobil sedang melaju," ungkapnya.Tak hanya itu, ZL juga menyuruh istrinya menelpon anaknya. Di mana saat anaknya datang, juga ikut memukulnya.

"Makanya saya melaporkan hal ini ke pihak kepolisian untuk mendapatkan keadilan," ujarnya.

Pasca pemukulan, SJ mengaku merasakan sakit di sekujur tubuhnya, muntah-muntah dan tak memiliki nafsu makan. Dia pun harus dibawa ke IGD RSUD Rubini Mempawah untuk mendapatkan perawatan.

“Saya sempat sesak nafas, lemah dan badan saya lebam. Kepala saya juga pusing, bukan kayak pusing biasanya,” akunya.

Berawal Cinta LokasiKisah cinta hingga nikah siri antara ZL dan SJ, berawal dari Cinta Lokasi, yang kemudian bersemi di Kantor DPRD Kabupaten Mempawah.

ZL menikahi SJ secara siri di Rumah Makan Pontianak. Dengan berjalannya waktu, ternyata ZL dan SJ terlibat masalah penganiayaan, hingga harus berurusan dengan pihak kepolisian.Sebelum menjadi istri siri ZL, SJ sempat diiming-imingi satu unit mobil, namun harus melangsungkan pernikahan siri di rumah makan yang ada di Pontianak dengan mahar sekitar Rp10 juta. Sedangkan iming-iming mobil, hingga saat ini tak kunjung terealisasi.

SJ adalah warga Antibar. Ia mengungkapkan kejadian pemukulan terhadap dirinya berawal dari kecemburuannya, karena handphone ZL tidak aktif, sehingga ia mencurigai ZL, memiliki  wanita lainnya.

"Makanya saya mencarinya dan mendatangi rumahnya di kawasan Jalan Raya Paoh, Anjongan. Dan langsung menggedor mobilnya dengan menggunakan botol air minuman,"ujarnya.

Saat ZL membuka kaca jendela pintu mobil, ia bersama istrinya. Di mana ZL tersebut terlihat kaget seolah-olah dirinya mau memukulnya. Padahal dirinya tak memiliki niat untuk memukul dirinya.

"Melihat itu, tangan saya dipegang ZL dan langsung dipukul. Saya juga dijambak dan mendapatkan cekikan leher. Ditambah dengan Istri ZL yang keluar dari dalam mobil untuk turut serta memukul saya, makanya baju ST, istri ZL saya pegang, karena saya hampir jatuh di jalan raya yang saat itu mobil banyak sedang dalam keadaan laju," tegasnya.

Tak hanya itu, ZL juga menyuruh istrinya menelpon anaknya. Di mana saat anaknya datang dirinya juga mendapatkan pukulan dari anaknya sekali.

"Melihat itu, saya langsung pulang dan melaporkan ke pihak kepolisian untuk mendapatkan keadilan," ujarnya.

Pasca terjadi pemukulan, dirinya selalu merasakan kesakitan di sekujur tubuh nya, muntah muntah dan tak memiliki Nafsu Makan. Makanya dirinya saat ini dibawa oleh pihak keluarga untuk ditangani  di  IGD RSUD Rubini Mempawah untuk mendapatkan perawatan.

Kenal Sejak 2019

SJ mencerirakan, awal bertemu dengan ZL sekitar Tahun 2019, usai beberapa bulan dilantik menjadi Anggota DPRD Kabupaten Mempawah. Di mana ZL yang meminta nomor kontaknya.

"Awalnya, dia minta nomor kontak saya, terkait masalah pekerjaan. Karena saya bekerja di staff fraksi partai," tegasnya.

Menurutnya, ZL terus mendekati dirinya meskipun sudah seringkali ditolak. Namun, dirinya terus melakukan chatting dengan dirinya dan mengajak untuk pergi karokean.

"Saya kira, karoke boleh ajak teman. Ternyata dia mengajak berdua saja. Hingga dirinya timbul rasa," papar SJ.

Sekitar tahun 2021, ZL mengajak SJ menikah di Bogor. Namun karena ada kendala, sehingga saat pulang baru  melangsungkan pernikahan. "Jadi, kemarin saya menikah siri di rumah makan," ujarnya.

Tidak Dikeroyok

Saat dikonfirmasi awak media, ZL menjelaskan terkait adanya dugaan pengeroyokan terhadap SJ di Jalan Raya Paoh, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah, tidak ada sama sekali.

"Terkait pemukulan, itu salah persepsi. Dan ada SMS di handphone istri saya. Karena SJ yang datang menyerang  ke rumah, langsung memukul saya saat dirinya membuka kaca mobil," tuturnya.

Menurutnya, terkait pemukulan tersebut dirinya langsung melaporkannya ke Polsek terdekat, karena nantinya tinggal ketemu di pengadilan saja.

Proses Laporan

Satreskrim Polres Mempawah, sempat melakukan pendalaman atas laporan penganiayaan terhadap SJ, istri siri anggota DPRD Kabupaten Mempawah bernisial ZL. Dalam laporan itu, ZL dan istri sahnya menjadi terlapor yang melakukan penganiayaan terhadap SJ. Saksi-saksi dalam kasus ini pun segera diperiksa.

“Intinya, laporan sudah kami terima. Kami masih melakukan pendalaman atas dugaan kasus penganiayaan ini,” kata Kasat Reskrim Polres Mempawah, IPTU Wendy Sulistiono.

Menurutnya, untuk saat ini, pihaknya sedang melakukan pemeriksaan saksi saksi. Dan mengejar bukti bukti terkait penganiayaannya.

Badan Kehormatan DPRD Kabupaten Mempawah, Febriady enggan berkometar terkait insiden anggota DPRD Mempawah yang diduga melakukan pemukulan terhadap istri sirinya.

"Saya no comment terkait itu," tegasnyaMenurutnya, dirinya belum ada mendapatkan laporan secara resmi terkait hal tersebut. Dimana bartu mendengar dari pemberitaan yang beredar. Pasalnya ini urusan pribadi," papar Febriady.

Sebab Harta, Tahta, dan Wanita

ENTAH berapa banyak persoalan Wanita Idama Lain (WIL) yang dimiliki anggota dewan di negeri ini. Sebutan, harta, tahta, dan wanita, sepertinya selalu berada dan melingkari di sekitar kehidupan para anggota dewan yang terhormat tersebut.

"Kalau bisa dibuat survei, khusus berapa banyak anggota dewan punya istri muda atau istri simpanan lain. Mungkin salah satu lembaga yang tertinggi," kata seorang mantan anggota dewan senior kepada Suara Pemred di Pontianak.

"Di kota dan kabupaten banyak kok dewan kawin lebih dari satu, ada yang terus terang dan ada juga yang sembunyi-sembunyi, " paparnya.

Menurut pria berusia 60 tahun dan pernah menjabat unsur pimpinan di DPRD tingkat II ini, godaan wanita sangat mudah terjadi, dikarenakan fasilitas jabatan dan pendapatan yang diperoleh anggota dewan serta banyaknya kunjungan dinas ke luar kota, dapat menggoda dewan yang imannya tidak kuat.

"Bayangkan, kunjungan seperti Bimtek, studi banding ke Jakarta, Bandung, Bali, atau kota lainnya yang sebenarnya lebih banyak jalan-jalan atau pergi ke tempat-tempat hiburan malam," katanya.

"Nah ini, yang membuat salah pergaulan, di samping banyak wanita-wanita yang ingin hidup mudah mendapatkan sesuatu lebih suka jika kawin, atau jadi wanita simpanan dengan anggota dewan walaupun mereka tahu sudah beristri," kata mantan dewan ini sambil tersenyum.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (Waketum MUI), Zainut Tauhid Saadi, menjelaskan bahwa MUI tidak menganjurkan dilakukannya nikah secara diam-diam (siri).

Pasalnya, pernikahan ini tidak memiliki landasan hukum atau pengakuan negara, sehingga rentan terjadi sengketa tidak berkesudahan.

MUI mengimbau masyarakat agar menikah secara resmi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Meskipun nikah siri sah secara agama, tapi pernikahan itu tidak memiliki kekuatan hukum. Dengan tidak adanya kekuatan hukum, baik istri maupun anaknya berpotensi menderita kerugian akibat pernikahan tersebut. Perkawinan itu kata dia seringkali menimbulkan dampak negatif terhadap istri dan anak yang dilahirkan, terkait dengan hak-hak mereka seperti nafkah atau pun hak kewarisannya.

Tuntutan pemenuhan hak-hak tersebut, kata dia, sering kali menimbulkan sengketa. Sebab tuntutan akan sulit dipenuhi karena tidak adanya bukti catatan resmi perkawinan yang sah.

Namun untuk menghindari kemudaratan, ulama sepakat bahwa pernikahan harus dicatatkan secara resmi pada instansi yang berwenang. Menurut dia, pernikahan di bawah tangan atau nikah siri hukumnya sah kalau telah terpenuhi syarat dan rukun nikah.

Rukun pernikahan dalam Islam antara lain ada pengantin laki-laki, pengantin perempuan, wali, dua orang saksi laki-laki, mahar serta ijab dan kabul. Lanjut dia, pernikahan itu bisa menjadi haram jika menimbulkan mudarat atau dampak negatif.

MUI juga telah mengeluarkan fatwa terkait pernikahan tersebut sesuai hasil keputusan Ijtima' Ulama se-Indonesia ke-2 di Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur tahun 2006.

Dia melanjutkan, MUI berpandangan tujuan pernikahan itu sangat luhur dan mulia untuk mengangkat harkat dan martabat manusia yang tidak sekadar memenuhi kebutuhan nafsu dasariah manusia saja yaitu hanya pemenuhan kebutuhan seks semata.

Pernikahan merupakan institusi sakral yang harus dijaga dan dipelihara. Tidak boleh direndahkan dan dijadikan sebagai komoditas perdagangan semata. Jika hal tersebut terjadi maka sama halnya merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk suatu keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan harmonis.

Menikah harus didasari atas hukum agama dan Undang-Undang. Meskipun demikian, terdapat pula pernikahan yang hanya didasari atas dasar agama, yakni nikah siri. Mengutip buku Nikah Siri: Menjawab Semua Pertanyaan tentang Nikah Siri oleh Yani C. Lesar, kata nikah siri berasal dari Bahasa Arab, yakni az-zawaj as-siri yang artinya pernikahan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau rahasia.

Nikah siri diakui secara agama karena telah memenuhi rukun dan syaratnya. Namun, pernikahan tersebut tidak diakui oleh negara karena tidak dilakukan di hadapan Pegawai Pencatat Nikah dan tidak tercatat di Kantor Urusan Agama atau Kantor Catatan Sipil.

Akibat dari nikah siri ialah tak adanya Akta Nikah yang dikeluarkan oleh pemerintah. Maka, pernikahan tersebut tidak dianggap sah secara hukum negara.

Anak yang lahir dari pernikahan siri pun akan kesulitan dalam mengurus dokumen-dokumen administratif seperti akta kelahiran.

Dalam Islam, ada berbagai macam pendapat ulama mengenai hukum nikah siri. Lantas, sebenarnya bagaimanakah hukum nikah siri? Simak penjelasan berikut.

Sebelum mengetahui hukum nikah siri menurut Islam, sebaiknya dipahami dulu pengertian nikah siri itu sendiri menurut beberapa ulama.

Istilah nikah siri sendiri berawal dari ucapan Umar bin Khattab ketika mengetahui terdapat pernikahan tanpa dihadiri saksi, melainkan hanya seorang pria dan wanita.

Dalam suatu riwayat masyhur, pada saat itu, Umar berkata, "Ini nikah siri, saya tidak membolehkannya, dan sekiranya saya tahu lebih dahulu, maka pasti akan saya rajam."

Sejak saat itu, ulama-ulama besar seperti Abu Hanifah, Malik, dan Syafi'i mendefinisikan nikah siri sebagai pernikahan tanpa saksi dan tidak boleh dilakukan.

Lalu, dalam perkembangannya, meskipun menghadirkan saksi di mana saksi tersebut diminta agar merahasiakan pernikahan itu, Imam Malik berpendapat bahwa hukumnya tetap tidak boleh. Hal ini karena syarat mutlak sahnya pernikahan menurut Islam adalah adanya pengumuman (i'lan).

Akan tetapi, Abu Hanifah, Syafi'i, dan Ibnu Mundzir berbeda pendapat dengan Imam Malik. Menurut mereka, jika telah ada saksi, maka syarat pernikahan telah terpenuhi. Sebab, fungsi saksi ialah i'lan itu sendiri.

Jadi, meskipun dirahasiakan, pernikahan tetap sah karena telah disaksikan oleh wali/saksi.

Dikatakan pula bahwa nikah siri dalam Islam berkaitan dengan fungsi saksi, yakni untuk mengumumkan kepada masyarakat bahwa telah terjadi pernikahan. Jumlah saksi minimal adalah satu atau dua orang laki-laki dan dua orang perempuan.

Dalam hal ini, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, "Pelacur adalah wanita yang mengawinkan dirinya tanpa (ada) bukti." (HR. Tirmidzi)

Dalam masyarakat Indonesia, nikah siri lebih dikenal dengan definisi pernikahan yang sah menurut agama, namun tidak sah menurut Undang-undang. Kesimpulannya, nikah siri dengan definisi tersebut hukumnya boleh, karena sah secara agama dengan adanya saksi dan diumumkan.

Namun, jika nikah siri yang dimaksud adalah definisi yang berawal dari Umar bin Khattab, yakni tidak terdapat saksi dan tidak diumumkan, maka hukumnya sama seperti zinah, tidak diperbolehkan.

Meskipun demikian, nikah siri adalah sesuatu yang seharusnya dihindari. Mengutip buku Kepastian Hukum Perkawinan Siri dan Permasalahannya Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 oleh Zainuddin dan Afwan Zainuddin, nikah siri akan berdampak buruk bagi kedua pasangan, khususnya perempuan.

Jika terjadi perceraian, akan timbul masalah terkait hak asuh anak dan hak warisan atau harta gono-gini. Sebagai seorang yang tidak hanya beragama, namun juga bernegara, sudah sepatutnya mengikuti peraturan Undang-undang agar tak mendapat masalah di kemudian hari. (cnn/rol/hd/ben)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda