Nasional post authorPatrick Waraney 01 Maret 2021 85

Cap Tikus di Manado makin 'Gila', Penikaman Terjadi Hampir Tiap Hari

Photo of  Cap Tikus di Manado makin 'Gila', Penikaman Terjadi Hampir Tiap Hari Miras Minahasa, Cap Tikus diminum secukupnya oleh para penari umumnya pria, sebelum membawakan tarian perang adat Suku Minahasa, yakni Kabasaran, agar badan hangat dan lebih bersemangat.(JPNN)

MAKIN berbahaya.  Panglima Laskar Manguni Indonesia, Adlie Lumingkewas mendesak Polda Sulawesi Utara dan aparat terkait untuk lebih kencang menangani kian maraknya peredaran minuman keras (miras) tradisional Suku Minahasa, cap tikus (CT).  

"Penyalahgunaan CT mengakibatkan kriminalitas di Sulut termasuk tertinggi di Indonesia, terutama untuk kasus penganiayaan dan pembunuhan. Minuman tradisional, ini seharusnya dibijaksanai untuk kesehatan, minum secukupnya, umpamanya sebelum membawakan tari perang Kabasaran," tegasnya ketika dihubungi  Suara Pemred di Kota Manado, Ibu Kota Sulut, Senin, 1 Maret 2021.

Hal itu ditegaskan  menyusul maraknya kasus penikaman di banyak wilayah Sulut terutama di kawasan-kawasan Suku Minahasa, antara lain Manado dan kabupaten-kabupaten yangdimerkarkan dari induknya, Kabupaten Minahasa.

"Covid-19 membuat banyak yang percaya, tidak mempan jika badan hangat karena miras ini. Ini salah, malah tambah bikin masalah," lanjut Lumingkewas yang juga Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulut.

CT, lanjut mantan preman yang pernah dekat dengan sindikat Triad Hongkong ini, sejak zaman para leluhur Minahasa, merupakan minuman kesehatan. Juga menghangatkan badan supaya pula menambah semangat selama membawakan tarian perang adat Minahasa, Kabasaran.

Di masa lampau,  CT diminum secukupnya oleh petani sebelum dan sesudah berkebun, mengingat iklim wilayah Suku Minahasa, yang umumnya di pegunungan kerap mencapai di bawah 15 derajat selsius.

Laskar Manguni sendiri, sebagai salah satu ormas adat Minahasa yang resmi, selama ini terjun langsung bersama aparat terkait untuk melakukan sosialisai terkait bahaya penggunaan CT secara berlebihan.  "Susah dilarang, karena minuman ini sudah mentradisi. Cuma, memang, pemakaiannya harus terukur," lanjutnya.

Sementara itu, sebagaimana dilaporkan Manado News, Minggu, 28 Februari 2021, Polres Manado hingga Senin ini masih  mendalami kasus penikaman terhadap seorang dokter, yakni Ibrahim Tombeng oleh seorang pengemudi mikrolet.

Pelakunya, Doni (44),  warga asal Desa Warembungan, Kota Tomohon, diduga mabuk miras dan tersinggung ketika ditegur oleh korban lantaran mobil angkutan umumnya diparkir begitu saja di depan Apotek Sehat Farma,  tepatnya di Lingkungan IV,  Kelurahan Karombasan Utara, Manado.

Korban terluka berat dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara milik Polri, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari TKP. Polres Mnaado masih mengusut kasus ini.(pat)

 

 

 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda