Nasional post authorAju 01 Oktober 2021

Panglima Jambul: Masuk Perangkap, Komplotan Novel Baswedan ASN di Bareskrim Polri

Photo of Panglima Jambul: Masuk Perangkap, Komplotan Novel Baswedan ASN di Bareskrim Polri Tobias Ranggie SH (Panglima Jambul)

JAKARTA, SP – Pengamat hukum dan politik di Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Tobias Ranggie SH (Panglima Jambul), menilai, wacana komplotan Novel Baswedan menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Reserse dan Kriminal Polisi Republik Indonesia (Bareksrim Polri), justru masuk perangkap.

“Apalagi sudah ditegaskan di Bareskrim Polri, banyak 57 orang penyidik dan karyawan Komisi Pemberantasan Korupsi dari komplotan Novel Baswedan yang tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan, 18 Maret – 9 April 2021, bukan sebagai penyidik, melainkan hanya sebagai ASN biasa,” kata Panglima Jambul, Jumat pagi, 1 Oktober 2021.

Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) karyawan dan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang digelar Badan Kepegawai Negara, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Badan Intelijen Negara, Badan Analisa Intelijen Strategis Tentara Nasional Indonesia, Dinas Intelijen dan Dinas Psikologi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, 18 Maret – 9 April 2021, sebanyak 57 orang tidak lulus dari komplotan Novel Baswedan.

Kepala Polisi Republik Indonesia, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, mewacanakan komplotan Novel Baswedan dapat menjadi ASN di Bareskrim Polri, tapi bukan sebagai penyidik, melainkan sebagai ASN biasa.

“Bareskrim Polri sangat ketat dengan aturan internal, sehingga menutup peluang kelompok Novel Baswedan mencari panggung melalui berbagai manuver sebagai wujud ketidaksukaan terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo,” kata Panglima Jambul.

Dikatakan Panglima Jambul, dari pemahaman sederhana saja, bagi setiap ASN, setia kepada Pimpinan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia berideologi Pancasila, merupakan prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar.

Sedangkan komplotan Novel Baswedan, selama ini selalu menjadikan Wadah Pegawai KPK sebagai panggung sandirawa di dalam pemberantasan korupsi.

Sudah menjadi rahasia umum, komplotan Novel Baswedan selama ini semenjak dinyatakan tidak lulus TWK, selalu diperalat kalangan oposisi dan kelompok barisan sakit hati dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Komplotan Novel Baswedan merasa dirinya bisa dengan bebas mengkritik Pemerintah, melawan pimpinan KPK, dengan dalih pemberantasan korupsi.

“Di Bareskrim Polri, komplotan Novel Baswedan bagaikan masuk kandang macan. Pertanyaan kemudian, apakah orang seperti Novel Baswedan yang angkuh, sombong, dan arogan, mau jadi ASN non penyidik di Bareskrim Polri yang dulunya memilih mundur dari anggota Polisi Republik Indonesia, setelah bergabung sebagai penyidik KPK?” tanya Panglima Jambul.

Diungkapkan Panglima Jambul, kalaupun komplotan Novel Baswedan menerima tawaran sebagai ASN non penyidik di Bareskrim Polri, itu berarti harga diri mereka jatuh, karena berbagai manuver yang mereka lakukan  semenjak tidak lulus TWK, ternyata tidak lebih dari ingin mempertahankan kelangsungan isi perut.

Panglima Jambul memberikan contoh betapa arogan, sombong dan angkuhnya seseroang bernama Inspektur Jenderal Polisi Napoleon Bonaparte, tersangka kasus suap pengusaha Joko Tjandra.

Setelah terungkap melakukan penganiayaan terhadap tersangka penista agama, Mohammad Kece, Napoleon Bonaparte, kemudian masuk penjara isolasi sangat ketat di Bareskrim Polri, dan ditambahkan lagi penyidikan atas kasus Tindak Pidana Pencurian Uang (TPPU) yang ancaman hukumannya sangat berat. *

 

Wartawan: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda