PONTIANAK, SP - Wapres ke-6 RI Try Sutrisno meninggal dunia, Senin (2/3) di RSPAD Gatot Soebroto. Sejumlah tokoh datang ke rumah duka di Jalan Purwakarta, Menteng, Jakarta Pusat.
Berbagai tokoh nasional hadir melayat di rumah duka seperti Kepala BPIP, Yudian Wahyudi; Gubernur Jakarta, Pramono Anung; Menko Perekonomian, Airlangga Hartanto; Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto, hingga politisi Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO).
OSO yang juga menjabat Ketua Umum Partai Hanura kepada menyampaikan
kehilangan sosok tokoh bangsa yang baginya, begitu cinta pada tanah air. Ia juga menyampaikan dukacita mendalam atas wafatnya Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia Try Sutrisno.
OSO menilai Try sebagai sosok wakil presiden terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
“Wakil presiden yang menurut saya terbaik, tersantun, dan terberani dalam mengungkapkan sesuatu perjuangan demi Republik Indonesia,” ujar Oso di rumah duka Try Sutrisno.
Menurut dia, Indonesia kehilangan figur negarawan yang konsisten memperjuangkan kepentingan bangsa.
OSO mengatakan, dalam kondisi bangsa yang sulit sekalipun, Try tetap menyampaikan pandangannya sebagai anak bangsa yang mencintai Tanah Air.
“Saya melihat kita sangat kehilangan. Dalam kondisi yang separah apa pun, beliau masih mengutarakan sesuatu tentang keinginan dirinya sebagai anak bangsa yang tidak pernah melukai bangsa ini,” kata dia.
Mantan ketua Dewan Perwakilan Daerah ini juga mengenang komunikasi terakhirnya dengan Try, yakni saat membesuk almarhum Hamzah Haz. Dalam kesempatan tersebut, Oso dan Try duduk berdampingan dan berbincang.
“Komunikasi terakhir, saya bersama-sama beliau membesuk almarhum Hamzah Haz. Saya bersama beliau duduk bersebelahan dan saling bercerita,” ucap Oso.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, merasa kehilangan dengan wafatnya Try Sutrisno hari ini. Ia menilai Try merupakan sosok yang dapat merangkul semua orang.
"Tentunya merasa kehilangan, karena beliau ini adalah sosok bapak bangsa yang merangkul semua orang. Saya mengenal beliau dari sekitar tahun 95. Dan kita kehilangan orang yang sampai akhir hayatnya mendedikasikan hidupnya untuk bangsa dan negara," kata Pramono.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, mengenang Try Sutrisno sebagai sosok yang memiliki kontribusi besar bagi perjalanan bangsa Indonesia.
"Kita berduka atas berpulangnya ke rahmatullah Bapak Jenderal Purn Try Sutrisno. Beliau orang yang sangat baik, tentu sangat mempunyai sumbangsih yang besar kepada bangsa ini, dan juga mempunyai suatu cita-cita yang besar buat kita semuanya," ujar JK.
JK juga menambahkan sikap konsisten Try Sutrisno dalam memberikan nasihat hingga akhir hayatnya patut menjadi teladan.
"Ya tentu sebagai bangsa tentu mempunyai upaya-upaya yang baik sampai akhir hayatnya, setiap acara beliau hadir untuk memberikan nasihat-nasihat yang baik kepada kita semua," lanjutnya.
Mantan Kepala BIN, Sutiyoso juga merasa sangat kehilangan. Ia menceritakan kedekatannya dengan almarhum sejak masih berpangkat Letnan Kolonel hingga menjabat sebagai Gubernur.
Bagi Bang Yos, sapaan akrabnya, Try Sutrisno adalah sosok senior yang sangat mengayomi.
"Pak Tri itu ibaratnya seperti penjuru gitu ya. Di situ kita menjadi teladan kita semua. Beliau kebetulan yang paling tua di Akademi Militer angkatan yang pertama, meski beliau ATKAT ya. Tapi beliaulah yang lulus pertama kemudian baru Pak Edi Sudrajat," kenang Sutiyoso.
Sutiyoso menyoroti kerendahan hati almarhum yang tidak pernah menjaga jarak dengan junior maupun prajurit.
"Nggak ada ketegangan situasi seperti apa pun saat ketemu beliau itu, santai gitu. Bahkan dengan saya itu ngomongnya ngomong Jawa terus kalau ketemu gitu kan. Beliaulah yang mendorong saya untuk jadi Ketua Partai besutan para senior ya, PKPI," tuturnya.
Bahkan, Sutiyoso mengaku sempat diminta almarhum untuk maju sebagai capres pada 2009. "Beliau benar-benar sebagai seorang bapak sebagai komandan ya artinya mencintai semua anak buahnya. Dia juga sebagai guru tempat kita bertanya," tambahnya.
Sementara itu di kesempatan yang sama, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, memastikan pemerintah memberikan perhatian penuh sejak almarhum dirawat hingga prosesi pemakaman.
"Beliau selalu beberapa hal prinsip yang selalu beliau tekankan adalah untuk kita menjaga UUD 1945, menjaga Pancasila kepada kita generasi muda untuk terus bersatu mengisi kemerdekaan," ungkapnya.
Adapun, Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, menyebut Try Sutrisno sebagai pejuang sejati. Muzani mengungkap sebuah pesan mendalam yang disampaikan almarhum kepadanya saat Lebaran tahun lalu mengenai masa depan konstitusi Indonesia.
"Beliau ingin sebelum meninggal ada amandemen Undang-Undang Dasar '45 yang kelima dan beliau ingin itu dilakukan sebelum beliau wafat. Itu saya camkan betul, amanat, pesan dari beliau kepada kami sebagai pimpinan MPR," kata Muzani.
Muzani menambahkan bahwa tujuan amandemen yang diinginkan almarhum adalah untuk menjaga persatuan dan menjamin kelangsungan Indonesia yang lebih baik.
Almarhum Try Sutrisno dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.
Biodata dan Karir
Almarhum Try Sutrisno merupakan sosok militer berprestasi dan menjabat sebagai Wapres RI periode 1993-1998 mendampingi Presiden Soeharto.
Try Sutrisno lahir di Surabaya, 15 November 1935. Almarhum berasal dari keluarga sederhana dan sejak muda menunjukkan minat yang besar pada dunia militer.
Kariernya yang gemilang di TNI dan politik menjadikan Try Sutrisno salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia.
Try Sutrisno meninggalkan istri, Tuti Sutiawati, dan tujuh anak yang beberapa mengikuti jejak kariernya di dunia militer. (kom/kmp/akt)