Nasional post authorAju 04 September 2021

Petrus Selestinus: Lecehkan Budaya Orang Flores, Pecat Kapolres Manggarai Barat

Photo of Petrus Selestinus: Lecehkan Budaya Orang Flores, Pecat Kapolres Manggarai Barat Ajun Komisaris Besar Polisi Bambang Hari Wibowo, Kepala Polisi Resort Manggarai Barat, Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur.

JAKARTA,SP – Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus SH, mendesak Kepala Polisi Resort Manggarai Barat, Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), Ajun Komisaris Besar Polisi Bambang Hari Wibowo, dipecat dari jabatannya.

Bambang Hari Wibowo, melakukan pelecehan terhadap budaya orang Flores, karena menangkap dan menahan 21 orang warga, hanya lantaran membawa parang di tempat umum di sekitar Desa Golo Muri, Kecamatan Komodo, Kabupaten Menggarai Barat.

“Bambang Hari Wibowo telah melakukan tindakan sewenang-wenang yang menginjak-injak kultur orang Flores di Provinsi NTT,” kata Petrus Selestinus, Sabtu petang, 4 September 2021.

Diungkapkan Petrus Selestinus, Program Nawacita Presiden Indonesia, Joko Widodo adalah berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkarakter secara budaya.

Program Nawacita Presiden Joko Widodo, dijabarkan di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017, tentang: Pemajuan Kebudayaan.

Dimana ditegaskan, warga negara Indonesia, harus berkakter dan berperilaku sesuai kebudayaan asli Bangsa Indonesia.

Warga Flores bawa parang setiap melakukan aktifitas keseharian di sekitar desa, bagian yang tidak terpisahkan dari kultur setempat, tapi kemudian sebanyak 21 orang justru ditangkap Polisi, dengan dalih mengganggu ketertiban umum.

Warga Flores membawa parang di tempat umum, dilindungi pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945, dan pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1951, yaitu, tidak termasuk barang yang nyata-nyata untuk dipergunakan dalam pertanian, atau pekerjaan rumah tangga atau nyata-nyata sebagai barang-barang pusaka tradisonal, sebagai bagian dari tradisi budaya.

Padahal perbuatan mambawa parang dan pisau bagi laki-laki Flores atau NNT pada umumnya adalah bagian dari tradisi budaya warisan leluhur yang melekat dalam kesatuan-satuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya yang masih hidup.

Dimana negara mengakui karenanya wajib hukumnya untuk dihormati oleh siapapun juga, termasuk Ajun Komisaris Besar Polisi Bambang Hari Wibowo, sebagai Kapolres yang adalah alat negara Penegak Hukum.

Tindakan Bambang Hari Wibowo, Kapolres Manggarai Barat, menurut Petrus Selestinus, justru telah menciptakan potensi mengganggu ketertiban umum, karena melarang dan menindak laki-laki Flores membawa parang di dalam lingkungan kerja dan rumah tinggal sehari-hari, bisa menyulut amarah laki-laki se Kabupaten Manggarai Barat, karena dinilai sebagai telah menginjak-injak budaya orang Flores.

Bagi orang Flores atau NTT pada umumnya, perbuatan laki-laki membawa parang atau pisau dalam kesehariannya di kampung, desa, kecamatan bahkan hingga antar kabupaten di Flores/NTT, itu simbol kebijakan dan kenyamanan yang melekat sebagai tradisi dalam sikap untuk menjaga ketertiban umum. 

Dengan membawa parang atau pisau, akan memastikan bahwa laki-laki Flores memenuhi kewajibannya untuk menjaga dan siaga melindungi keluarganya, kampung halamannya dan kepentingan umum di wilayahnya dari gangguan kemanan yang datang dari pihak lain yang berkehendak tidak baik. 

Oleh karena itu jika tindakan menindak 21 laki-laki di Desa Golo Mori, didasarkan pada kehendak tidak baik dengan menyalahgunakan jabatannya, maka cepat atau lambat Bambang Hari Wibowo, akan berhadapan dengan laki-laki Manggarai Barat secara adat dan budaya dalam soal ini.

Kapolres Mangarai Barat, Bambang  Hari Wibowo, nyata-nyata tidak tahu adat, tidak menjunjung tinggi tradisi budaya orang Manggarai Barat, melanggar konstitusi dan pasal 2 ayat (2) Undang-Unadang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Kaena itu, Kepala Polisi Daerah NTT, mesti segera memecat Bambang Hari Wibowo selaku Kapolres Manggarai, tarik kembali dan pulangkan ke kampung halamannya untuk belajar bagaimana menghargai budaya orang lain.

Tindakan Bambang Hari Wibowo, jelas merusak program dan visi Kepala Polisi Republik Indonesia, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, yaitu melalui penegakan hukum, merawat kebhinekaan menghormati dan mengayomi masyarakat, tentu saja berikut tradisi budaya dan hak-hak tradisonal yang melekat dalam setiap individu orang-orang Manggarai Barat. 

“Ini Kapolres Manggarai Barat, sebagai orang kurang kerjaan bahkan memiliki motif tertentu di balik tindakannya yang destruktif, karena budaya adalah senjata untuk melawan radikalisme, jika merongrong budaya Manggarai Barat, akan memberi karpet merah buat radikalisme tumbuh subur di Manggarai Barat,” ujar Petrus Selestinus.

Karena itu, segera lepasakan dan hentikan penyidikan atas 21 laki-laki di tahanan Rutan Polres Manggarai Barat, dan kepada Kapolda NTT dimohon supaya "copot dan tarik kembali dan/atau pulangkan saja ke kampung halamnnya Bambang Hari Wibowo.

Bambang Hari Wibowo, diberi lagi untuk belajar kembali tentang bagaimana cara untuk menghargai, menghormati dan mengayomi masyarakat dan budaya setempat dimana dia berada". 

Ingat kata pepatah, "dimana bumi diinjak, di situ langit dijunjung tinggi".

Wartawan: Aju

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda