Nasional post authorKiwi 07 Januari 2021 32,873

Abubakar Baasyir Tolak Setia kepada NKRI

Photo of Abubakar Baasyir Tolak Setia kepada NKRI Abubakar Baasyir

JAKARTA, SP – Abubakar Baasyir (82 tahun), terpidana terorisme mestinya sudah mengikuti proses bebas bersyarat tahun 2019, namun kenyataannya baru bebas murni terhitung Jumat, 8 Januari 2021.

Rencana bebas bersyarat tahun 2019, sehubungan tingkat kesehatan Abubakar Baasyir yang terus menurun, karena faktor usia. Rencana bebas bersyarat tahun 2019, atas permintaan pihak keluarga.

Abubakar Baasyir, baru dibebaskan awal tahun 2021, karena menolak memenuhi ketentuan sebagaimana diatur di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012, yang di dalamnya disebutkan terpidana kasus terorisme yang mendapatkan bebas bersyarat salah satunya harus menyatakan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal itu dikemukakan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia, Hasona Laoly di Jakarta, Kamis, 7 Januari 2021. Bebas murni, tanpa melalui bebas bersyarat sudah merupakan hak azasi Abubakar Baasyir.

Abubakar Baasyir, anggota jaringan teroris Jammah Ansharut Tauhid (JAT), dipenjara 15 tahun dan penjadi penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Gunung Sindur, Cibinong, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Abu Bakar Ba'asyir ditangkap di Ciamis, Provinsi Jawa Barat, pada 9 Agustus 2010 dan divonis 15 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2011.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, itu, terbukti menggerakkan orang lain dalam penggunaan dana untuk melakukan tindak pidana terorisme.

Selain itu, Abu Bakar Ba'asyir ditangkap atas sejumlah dakwaan berbeda. Pada tahun 1983, Abubakar Baasyir bersama Abdullah Sungkar ditangkap dengan tuduhan menghasut orang untuk menolak asas tunggal Pancasila.

Abubakar Baasyir melarang santrinya hormat kepada Bendera Merah Putih dengan menyebutnya sebagai perbuatan syirik. Pengadilan memvonis keduanya selama 9 tahun penjara.

Pada Maret 2005, Abubakar Baasyir divonis 2,6 tahun penjara lantaran terbukti terlibat dalam peledakan bom di Hotel JW Marriot dan bom Bali.

Abubakar Baasyir divonis 2,6 tahun penjara dan dibebaskan pada 2006, menyusul tahun 2010 divonis penjara selama 15 tahun lantaran terbukti terlibat dalam menggalang dana untuk melakukan tindak pidana terorisme.

Pada 2014, Abubakar Baasyir dituduh terlibat dalam pemufakatan jahat dengan pelaku bom Bali yaitu Amrozi dan Mubarok. Dari tuntutan delapan tahun penjara, hakim memvonis Abu Bakar Ba'asyir bersalah dan mengganjarnya 2,5 tahun penjara serta membayar biaya perkara Rp5.000.

The Yerusalem Post dan Channelnewsasia.com, Kamis, 7 Januari 2021, meminta jaminan Indonesia, agar memastikan ulama radikal dan tersangka dalang pemboman Bali 2002, Abubakar Baasyir, tidak memicu lebih banyak aksi terorisme, sebagaimana harapan Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne, Selasa, 5 Januari 2021.

Abu Bakar Bashir dipenjara pada tahun 2011 karena terkait dengan kamp pelatihan militan di provinsi Aceh, Indonesia. Abubakar Baasyir dianggap sebagai pemimpin spiritual jaringan JAT yang terkait dengan al Qaeda, yang dituduh mengatur pemboman klub malam di pulau liburan Bali.

"Kedutaan kami di Jakarta telah menjelaskan keprihatinan kami bahwa orang-orang seperti itu dicegah untuk menghasut orang lain untuk melakukan serangan di masa depan terhadap warga sipil yang tidak bersalah," kata Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne dalam sebuah pernyataan.

Abubakar Baasyir membantah terlibat dalam bom Bali. Seorang pengacara untuk Abubakar Baasyir tidak segera menanggapi permintaan komentar tentang pembebasannya, yang dijadwalkan pada hari Jumat, 8 Januari 2021.

Bom Bali menewaskan lebih dari 200 orang, di antaranya puluhan warga Australia. Operator JAT dituduh mengatur serangan terhadap Hotel JW Marriott di Jakarta yang menewaskan 12 orang pada tahun 2003.

Menurut The Yerusalem Post dan Channelnewsasia.com, pembebasan Abubakar Baasyir mengundang kekhawatiran dunia internasional, akan memicu aksi terorisme baru, mengingat Polisi Republik Indonesia, menemukan lokasi pelatihan terorisme di Indonesia.

Polisi Republik Indonesia, menemukan 12 lokasi pelatihan terorisme di lokasi berbeda di wilayah Provinsi Jawa Tengah, Selasa, 29 Desember 2020. Lokasi pelatihan teroris telah digunakan sejak tahun 2011.(Aju)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda