Nasional post authorAju 09 November 2021

Petrus Selestinus: Novel Baswedan Duri dalam Daging di Bareskrim Polri

Photo of Petrus Selestinus: Novel Baswedan Duri dalam Daging di Bareskrim Polri Petrus Selestinus

JAKARTA, SP – Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus SH, menilai, komplotan Novel Baswedan punya hidden agenda atau agenda tersembunyi jika menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Reserse dan Kriminal Polisi Republik Indonesia (Bareskrim Polri).

“Hanya menjadi duri dalam daging bagi Bareskrim Polri,” kata Petrus Selestinus, Selasa malam, 9 Nopember 2021.

Padahal komplotan Novel Baswedan berjumlah 57 orang, diberhentikan sebagai penyidik dan karyawan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) Badan Kepegawaian Negera, Badan Intelijen Negara, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Badan Analisa Intelijen Strategis Tentara Nasional Indonesia, serta Dinas Psikologi dan Dinas Intelijen Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, 18 Maret – 9 April 2021.

Tidak lulus TWK, otomatis tidak bisa menjadi ASN di KPK, tapi kemudian ditawari Kepala Polisi Republik Indonesia, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo agar menjadi ASN di Badan Reserse dan Kriminal Polisi Republik Indonesia.

“Sikap bermurah hati Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menerima Novel Baswedan dan kawan-kawan menjadi ASN pada Bareskrim Polri, harus dibaca sebagai bagian dari upaya transit agar kelak bisa kembali menjadi ASN pada KPK, bahkan menguasai KPK,” kata Petrus Selestinus.

Merekrut Novel Baswedan dan kawan-kawan menjadi ASN, bisa saja tidak memberi solusi bagi penciptaan ASN yang berwawasan kebangsaan di Bareskrim Polri.

“Karena selain Novel Baswedan, sudah tidak lolos TWK, juga karena sudah terbentuk karakter ‘pembangkang’ yang selama ini membangkang Pimpinan KPK secara terbuka,” kata Petrus Selestinus.

Dengan demikian jika Novel Baswedan dan kawan-kawan, menerima tawaran Kapolri, maka ini harus diwaspadai karena manajemen di Kepolisian bersifat hirarki.

Sehingga  Bareskrim sesungguhnya bukanlah habitat yang cocok bagi Novel Baswedan, namun ini adalah strategi politik jangka panjang, karena mundur selangkah untuk gapai sukses yang lebih besar.

Meng-ASN-kan Novel Baswedan dan kawan-kawan, dimanapun menjadi kontraproduktif, karena soal TWK adalah soal ideologi, sehingga tidak mungkin seseorang yang sudah terbentuk karakter oposisi terhadap "wawasan kebangsaan" lantas secara instan berubah menjadi "berwawasan kebangsaan" yang loyal tentu ada apa-apanya dan patut dipertanyakan.

Dikatakan Petrus Selestinus, jika Novel Baswedan menjadi ASN pada Bareskrim Polri, hal ini bisa melahirkan kecemburuan sosial dari ribuan tenaga honorer di Institusi Polri yang belum pasti diangkat menjadi ASN. 

Bahanya, Novel Baswedan bisa saja mengkoordinir para honorer menjadi sebuah "kekuatan perlawanan" dengan membentuk "Wadah Pegawai" sebagai alat perjuangan untuk mengoreksi segala kebijakan Pimpinan Polri, sepertihalnya perlawanan yang dilakukan Novel dkk. di KPK hingga hari ini.

Menjadikan Novel dkk. sebagai ASN pada Bareskrim Polri, bisa jadi ini hanya sekedar batu loncatan dan ada hidden agenda Novel dkk. untuk kembali menguasai KPK dan ancaman bagi Ketua KPK Firli Bahuri melalui kasus penyewaan Helikopter yang pernah dilaporkan ke Bareskrim. 

Dikatakan Petrus Selestinus, bagi Novel Baswedan, menjadi ASN di Bareskrim Polri saat ini, tidaklah penting.

“Karena yang penting adalah status ASN sebagai Surat Izin Mengemudi atau SIM. SIM itu bisa diperpanjang bahkan bisa dimutasi untuk kembali menguasai KPK dalam masa 3 atau 5 tahun ke depan melalui kekuatan politik presure group yang selama ini memback-up komplotan Novel Baswedan,” ujar Petrus Selestinus.*

Wartawan: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda