Nasional post authorPatrick Waraney 10 Januari 2021 40,444

In Memoriam Tragedi Adam Air: Ratapan di Makam Tanpa Jazad

Photo of In Memoriam Tragedi Adam Air: Ratapan di Makam Tanpa Jazad Marthen Kaurouw dan istrinya Glen Pangkey serta anak balitanya rutin mendatangi makam Vira.(Foto:Amanda/Metro Tv Manado)

SABAN malam Natal, keluarga meratap di atas makam tanpa jazad, Mereka menangisi sanak-saudara tercinta yang tak pernah kembali, dan tak pernah ditemukan. Airmata mereka tumpah di atas makam kosong di sejumlah kawasan Provinsi Sulawesi Utara.  

Inilah ratap tangis yang selalu terdengar saban ziarah malam Natal di kalangan keluarga korban jatuhnya pesawat Adam Air QZ8501 rute Jakarta-Surabaya-Manado, tepat 1 Januari 2007. Bangkai pesawat ini baru ditemukan empat tahun kemudian,  tepatnya pada 7 Mei 2011 di perairan Siompu, Kepulauan Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kala itu, tercatat 102 orang (96 penumpang dan enam awak), meninggal dunia. Keluarga korban di mana sebagian besar berasal dari kabupaten dan kota di kawasan suku Minahasa ini, banyak yang  mendirikan makam-makam kosong.  

Karena penumpang pesawat nahas ini umumnya kelompok keluarga, maka tak heran jika di kampung halaman mereka dibangun kompleks-kompleks pemakaman mini. Beberapa meter lepas dari kawasan Kecamatan Kawangkoan memasuki Kecamatan Langowan di Kabupaten Minahasa misalnya, di salah satu ruas jalan sebelah kiri, terdapat sebuah kompleks pemakaman mini.

Di depan makam dibangun sebuah miniatur pesawat Adam Air. Di bawah patung terukir nama-nama keluarga besar yang tewas dalam musibah ini. Layaknya tradisi umat Nasrani, saban menjelang malam Natal keluarga besar korban pun berziarah ke situ.

Dari tahun ke tahun, seiiring terus bergulirnya roda waktu, mereka berdoa, kadang menangisi orang-orang tercinta yang sudah duluan meninggalkan alam fana ini. "Dorang samua so sampe di rumah Bapa (bahasa Manado, baca: mereka semua sudah sampai di rumah Allah)," kata seorang kerabat yang pernah ditemui Suara Pemred di Langowan belum lama ini.

Pemakaman yang sama dibangun pula oleh keluarga Marthen Kaurouw dan Gley Pangkey, warga Kabupaten Minahasa Utara. Pasangan ini kehilangan anak keduanya, Vira Kaurouw, dalam tragedi itu.

Awalnya keberangkatan bocah berusia sembilan tahun itu ke Jakarta pun untuk berlibur sebagai hadiah atas prestasinya di sekolah. Tepat pada 1 Januari 2007, Vira pulang ke Manado menaiki Adam Air.

Namun siapa sangka, Vira berpisah selama-lamanya dari orangtuanya: Adam Air mengalami kecelakaan, dan...Vira menjadi korban.
 
Bayangan itu kembali muncul di benak Gley saban membaca ulang di internet tentang berita AirAsia yang hilang kontak pada 28 Desember 2007. Namun, Gley menilai, keluarga penumpang AirAsia masih terhibur. Sebab, satu per satu jasad penumpang ditemukan, sedangkan Gley tak bisa melihat jenazah putrinya untuk yang terakhir kali. Ia juga tak bisa memakamkan putrinya. Gley dan keluarga hanya bisa membangun monumen sebagai bentuk peringatan pengganti makam.  

 

Kilas Balik

Adam Air penerbangan 574  hilang dalam penerbangan setelah transit di Surabaya.  Kotak hitam ditemukan di kedalaman dua ribu meter pada 28 Agustus 2007. Kecelakaan ini menewaskan seluruh orang di dalamnya yang berjumlah 102 orang (96 penumpang dan 6 awak), yang merupakan angka kematian tertinggi dari setiap kecelakaan penerbangan yang melibatkan pesawat Boeing 737-400.

Jasad seluruh penumpang dan bangkai pesawat tetap terkubur di dasar laut.. Pada 25 Maret 2008, penyebab kecelakaan seperti yang diumumkan oleh Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) adalah cuaca buruk, kerusakan pada alat bantu sistem navigasi inersia (IRS), dan kegagalan kinerja pilot dalam menghadapi situasi darurat.

Tragedi ini menjadi tema komersial untuk sebuah film berjudul Tragedi Penerbangan 574 dengan menggunakan nomor penerbangan 574  judul serta menggunakan alur cerita penerbangan Surabaya - Manado.

Film tersebut sempat menimbulkan kontroversi di masyarakat. Karena film tersebut mengakibatkan seluruh keluarga korban seakan mengingat kembali sebuah tragedi yang memilukan. Selain itu, film ini juga dianggap melukai keluarga korban, dengan menambahkan unsur mistis pada alur ceritanya.  Padahal sebenarnya, dalam penerbangan itu tidak ada unsur mistis sama sekali.

Pesawat terbang yang nahas tersebut, jenis Boeing 737-4Q8 buatan tahun 1989 bernomor registrasi PK-KKW, sebenarnya telah mendapat evaluasi terakhir pada t25 Desember 2005: memiliki waktu terbang 45.371 jam dan telah digunakan oleh delapan maskapai penerbangan yang berbeda, termasuk Dan-Air (Inggris), British Airways (Inggris), GB Airways (Inggris), National Jets Italy (Italia), WFBN (Amerika Serikat), Air One (Italia) dan Jat Airways (Serbia dan Montenegro).(patrick waraney gs/001)

 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda