Nasional post authorPatrick Waraney 10 April 2021 174

Bahaya, Kerjasama Teroris Lintas Ideologi Filipina-Indonesia-Malaysia!

Photo of Bahaya, Kerjasama Teroris Lintas Ideologi Filipina-Indonesia-Malaysia! Penampakkan seorang jihadis di Filipina. Tak tertutup kemungkinan kelompok-kelompok teror di Filipina, Indonesia dan Filipina, menjalin kerjasama lintas ideologi. (Foto: Site Intelligence Group Enterprise)

PENGUASAAN ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge) teroris komunis di Filipina semakin membahayakan. Hal ini  harus diwaspadai oleh Indonesia menyusul sangat dekatnya posisi geografis kedua negara.

Wilayah  di Indonesia yang rawan sebagai pintu masuk gerombolan teror ini adalah Provinsi Sulawesi Utara dan provinsi-provinsi di Pulau Kalimantan. Pasalnya, di Kalimantan terdapat pula Negara Bagian Sabah, Malaysia, yang berdekatan dengan perairan teritorial Filipina.

Berdasarkan data  Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT sebagaimana dilansir BBC News, 9 Juni 2017, Jamaah Ansharut Daulah (JAD) adalah kelompok yang memberangkatkan WNI dari Sabah untuk berperang di Marawi, Filipina selatan.

Keterlibatan kelompok sayap ISIS dalam pengiriman ini WNI ke Marawi, Filipina, tak lepas dari sosok Bahrun Naim, yang disebut otak bom Sarinah, dan merupakan bagian dari kelompok Katibah Nusantara. Mantan penjaga warnet di Indonesia ini juga  pendiri JAT.

Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara, merupakan jalur utama penyelundupan senjata api berikut logistik dari wilayah Mindanao, Filipina selatan. Pulau terluar milik Indonesia yang berhadapan langsung dengan Mindanao adalah Miangas, kawasan Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara.

Dari Miangas, senjata api berikut logistiknya diselundupan ke sejumlah wilayah Indonesia melalui Kota Manado, Ibu kota Sulawesi Utara. 

Kerjasama Teroris Lintas Ideologi

Pasukan sipil bersenjata dari Komunis Mao, Tentara Rakyat baru (New People Army/NPA) terindikasi memproduksi granat anti-personel dan bom canggih. Kehadiran  peledak-peledak  ini ditengarai telah menandai  penguasaan teknologi persenjataannya.

Penguasaan teknologi perang mereka,  diprediksi  lebih maju ketimbang kelompok-kelompok radikal Islam dari sayap ISIS dan al-Qaeda.  Namun, karena tujuan gerombolan-gerombolan ini tak lain untuk bikin kacau lewat aksi-aksi teror, maka diyakini tak tertutup kemungkinan kelompok-kelompok ini menjalin kerjasama dengan 'kameradnya' di Indonesia, apa pun latar belakang ideologinya.

Dari catatan Suara Pemred, jajaran Polri berulangkali mengungkap penyelundupan senjata dari Filipina ke kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), sayap ISIS di Poso, Sulawesi tengah, dan Kelompok kriminal Bersenjata di Papua. Pada 28 Mei 2015 malam misalnya, W alias F alias U alias Iron, ditangkap jajaran Polda Sulut di Kompleks Taman Kesatuan Bangsa, di kawasan jantung Kota Manado.

W ternyata mempasok persenjataan berikut logistik untuk jaringan MIT lewat komandannya, Abu Wardah alias Santoso, yang belakangan  tewas diterjang peluru aparat. Terungkap,  Santoso selama ini mendapatkan pasokan tersebut dari Filipina lewat Manado yang dibawa dengan mobil melewati jalan Trans Sulawesi. Pesanan terakhir  bernilai total  Rp 130 juta.

Persenjataan ini, antara lain, sepucuk M16 baby berikut empat magasin, 200 butir peluru senjata M16, sepucuk senjata Barret 50 Sniper SN Nomor 241586, 20 butir peluru M50, satu granat nanas, satu buah roket mini Bukttap dengan kode Ava 0069-89,  serta 16 butir amunisi berukuran lebih kecil dari amunisi FN 45.

Pada 3 November 2020, tiga penyelundup senjata api diringkus oleh jajaran  Ditkrimum Polda Papua Barat di Manokwari, ibu kota provinsi tersebut. Polda menyita pula enam pucuk senjata api, 43 butir peluru kaliber 45, dan  tiga magazin. 

Terungkap, persenjataan ini, yang juga sudha masuk ke Nabire, diselundupkan melalui Kota Manado, Ibu Kota Provinsi Sulut. Manado, Sulawesi Utara.   

Aliran persenjataan berikut logistiknya juga rawan dipasok ke Negara Bagian Sabah, Malaysia, yang berada di Pulau Kalimantan, lewat kerjasama antarteroris sekalipun dengan latar belakang ideologi yang berbeda.

Sabah sendiri berdekatan dengan provinsi-provinsi Indonesia di pulau tersebut.

Bikin Kaget Militer Filipina

Sebagaimana dikutip   dari media Pemerintah Filipina, Philippine News Agency, Jumat, 9 April 2021,  indikasi ini setidaknya terlihat lewat temuan 53 ranjau anti-personel  buatan NPA di Barangay Del Carmen,Kotamadya  Lagonoy,  Provinsi Camarines Sur.

Kapten John Paul Belleza, Juru Bicara Divisi Infanteri 9 Angkatan Bersenjata Filipina menegaskan, bahan-bahan peledak ini ditemukan di lokasi pertempuran melawan NPA.  Dari laporan  warga setempat tentang kemunculan NPA, Batalyon Infanteri 96  menggelar operasi keamanan kemudian terlibat pertempuran pada Senin,  5 April 2021.

Belleza tidak dapat merinci jumlah personel NPA. Hanya disebutkan, jumlah mereka tak bisa ditentukan. "Setelah baku tembak selama 20 menit, musuh mundur, meninggalkan tumpukan ranjau anti-personel," katanya ketika diwawancarai pada Jumat kemarin.

"Sebanyak 33 unit ranjau ini masing-masing berbobot tujuh hingga 10 kilogram,  sementara 20 lainnya masing-masing berbobot empat hingga lima kilogram,"  lanjut Belleza.

Temuan  ini pun mengagetkan Mayor Jenderal Henry Robinson Jr, Komandan  Satgas Gabungan Bicolandia. Robinson  di bawah pimpinan Mayor Jenderal Henry Robinson sangat mengutuk pihak NPA atas produksi dan penggunaan ranjau anti-personel berkelanjutan yang merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan domestik.

Selain Hukum Humaniter Internasional, penggunaan ranjau anti-personil merupakan pelanggaran terhadap Undang-undang Republik  9851, atau Undang-undang Filipina tentang Kejahatan Terhadap Hukum Humaniter Internasional, Genosida, dan Kejahatan lain terhadap Kemanusiaan. UU ini juga melarang penggunaan senjata, proyektil. dan material, dan metode peperangan yang dapat menyebabkan cedera berlebihan atau penderitaan yang tidak perlu.

Robinson juga mengecam sepak terjang kelompok teroris komunis ini karena memeras uang, bahkan dari orang miskin untuk mendanai produksi bahan peledak yang membahayakan nyawa pasukan pemerintah dan warga sipil yang tidak bersalah.

“Tindakan ini murni kejahatan,  dan kami berterima kasih kepada penduduk lokal,  yang karena kebencian mereka terhadap pelanggaran hukum CTG,  telah bekerja sama dengan kami dalam kampanye untuk memburu teroris ini. Alih-alih menyerah pada ancaman dari kelompok ini, penduduk telah melaporkannya kepada kami atau polisi, sehingga mendahului tindakan CTG yang melanggar hukum dan berbahaya, ” kecam Robinson.

Sementara itu, Kolonel Jaime Abawag Jr, Komandan Brigade Infantri 902 menyatakan, penyitaan bahan peledak menyelamatkan nyawa banyak orang.

"Saya berterima kasih kepada warga Del Carmen yang melaporkan kehadiran CTG,  yang mencegah teroris komunis melancarkan serangan teror seperti yang mereka lakukan di Ligao City, Albay,  pekan lalu,” ujarnya.

Pada Sabtu,  3 April 2021, seorang anak di bawah umur, dan seorang pengendara sepeda motor, menderita luka pecahan peluru setelah anggota CTG meledakkan alat peledak rakitan di Purok 5, Barangay Allang.

Sejak Juli 2020, pasukan pemerintah telah menyita ratusan bahan peledak di Masbate, Sorsogon, Camarines Sur, dan Camarines Norte.

Huwag n'yong isyarat mapabilang sa mga biktima ng inyong terorismo dan inyong mga mahal sa buhay. Kapag nagbalik-loob na kayo sa pamahalaan ngayon, hindi mga bombang nakakasira ng buhay di ari-arian ang hahawakan ninyo kundi ang kamay ng inyong mga mahal sa buhay," tegas Mayjen Robinson Jr dalam bahasa Tagalog. 

"Benipisyo mula sa gobyerno para sa in asa pagbabagong para buhay di higit sa asa sa lahat sa mas mapayapa di magandang kinabukasan. Nasa inyong mga kamay ang desisyon," lanjut Mayjen Robinson Jr. 

(Artinya: Jangan menunggu sampai orang yang Anda cintai menjadi korban terorisme. Begitu Anda bergabung kembali dengan pemerintah, Anda tidak lagi memegang bom yang menghancurkan kehidupan dan harta benda, tetapi tangan orang yang Anda cintai. Manfaatnya adalah memulai yang baru, dan yang terpenting, perdamaian dan masa depan yang lebih baik. Keputusan ada di tangan Anda).

Kampanye Internasional

Kampanye internasional untuk melarang ranjau  ini telah berpuncak pada Perjanjian Ottawa 1997, meskipun perjanjian ini belum diterima oleh sejumlah negara termasuk AS, Israel, Rusia, Tiongkok,Pakistan dan India.

Ranjau anti-personel digunakan dengan cara yang mirip dengan ranjau anti-tank, ditanam di 'ladang ranjau' yang sifatnya statis. Beda ranjau ini dengan ranjau anti-tank adalah ukurannya yang lebih kecil sehingga memungkinkan  disebarkan dalam jumlah besar secara bersamaan di area yang luas.  

Proses ini bisa dilakukan secara manual melalui kendaraan darat atau, helikopter atau pesawat terbang. Kegunaan lain dari ranjau anti-personel adalah bisa ditempatkan dalam situasi darurat.

Misalnya, saat melakukan penyergapan, melindungi markas sementara sehingga memaksa penyerang melakukan perjalanan melalui jalur yang sempit, menghindari pengejaran, melindungi peralatan dengan menggunakannya  sebagai jebakan.***

 

Sumber: Philippine News Agency, BBC, Wikipedia & berbagai sumber 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda