Nasional post authorAju 12 Oktober 2021

Atlet Peraih Emas PON Papua Dijemput Pick Up Terbuka, NTT Defisit Kapasitas Pemimpin

Photo of Atlet Peraih Emas PON Papua Dijemput Pick Up Terbuka, NTT Defisit Kapasitas Pemimpin Potret kesederhanaan atlit Susanti Ndapataka di depan rumah orang tuanya di Kupang.

JAKARTA, SP – Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus SH, menilai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami defisit kapasitas pemimpin, karena atlet peraih emas dalam Pekan Olah Raya Nasional (PON) Papua 2021, tidak diberlakukan secara baik.

Viktor Bungtilu Lasikodat dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dicatat sebagai Gubernur NTT.

“Berita tentang perlakukan tak biasa atau tidak selayaknya terhadap Susanti Ndapataka, atlet Muaythai asal NTT yang meraih Medali Emas pertama bagi Atlet NTT di PON Papua, karena tidak disambut,  layaknya seorang Atlet yang mengukir prestasi ketika tiba di BandarUdara  El Tari Kupang, NTT, 6 Oktober 2021,” kata Petrus Selestinus, Selasa, 12 Oktober 2021.

Tidak adanya penyambutan dari Pemprov NTT atau Panitia di Bandara El Tari Kupang ketika Susanti Ndapataka, tiba pada Rabu, 6 Oktober 2021 pagi, membuat peristiwa ini menjadi viral menutupi berita tentang perolehan Medali Emas Atlet Muaythai, sebagai prestasi yang membanggakan bagi NTT itu.

Padahal prestasi yang diraih Susanti Ndapataka, kata Petrus Selestinus, tidak hanya membanggakan bagi Susanti Ndapataka dan Keluarga, tetapi juga bagi Pemerintah dan semua warga di Provinsi NTT dimanapun, karena telah mengharumkan nama Provinsi NTT.

“Tetapi, peraih emas di PON Papua  2021, hanya dijemput dengan sebuah mobil pick up reot tanpa acara seremonial sambutan layaknya seorang Atlit peraih Medali Emas,” kata Petrus Selestinus. 

Susanti Ndapataka, tidak menuntut untuk disambut dengan sebuah seremonial layaknya seorang peraih Medali Emas pada event bergengsi di PON Papua.

Tetapi sebagai Provinsi yang berbudaya dan gemar membuat acara seremonial yang glamour, mestinya acara seremonial untuk penjemputan Atlet yang berprestasi ditangani oleh sebuah Panitia yang profesional, sehingga tidak ada satu Atlitpun tercecer di luar Standar Operasi Prosedur (SOP) acara keberangkatan, penyambutan dan penjemputan di saat Atlet tiba.

Sebagian pihak merasa tidak aneh dengan peristiwa salah urus ini, karena sebagian pemimpin Provinsi ini sedang mengalami apa yang disebut "defisit kapasitas" pada beberapa hal (moral, kejujuran, integritas dan lain-lain), termasuk defisit pada sikap untuk sekedar memberi nilai pada sebuah prestasi yang diraih seorang Atlit. 

Ini merupakan potret buram kepemimpinan NTT ke depan, NTT harus tinggalkan pemimpin yang mengalami defisit kapasitas terutama pada perilaku yang bersifat adab (beradab) dan salah urus dalam tatakelola pemerintahan yang baik.

Karena hanya sekedar memberi nilai atau harga pada sebuah prestasi yang diraih putra putri NTT-pun Pemerintah Daerah abai dan tidak bisa dilakukan.

Di balik defisit kapasitas sebagian pemimpin di NTT, masyarakat NTT sudah bosan melihat pemimpinnya yang lebih banyak omong tetapi sedikit bekerja dan tidak ada hasil yang cukup untuk masyarakatnya.

Dari Pilkada ke Pilkada NTT hanya melahirkan para Pemimpin yang hanya banyak omong besar di awal tetapi bingung di saat kekuasaan diraih, karena akibat defisit kapasitas tadi.

Kasus perlakuan tidak layak terhadap Susanti Ndapataka, menurut Petrus Selestinus, cerminan Pemimpin Daerah Provinsi NTT yang kurang paham dalam menata kelola pemerintahan.

Kurang paham dalam menerapkan asas asas umum pemerintahan yang baik yang harua dijunjung tingggi oleh siapapun juga.

Perjuangan dan prestasi yang diraih Susanti Ndapataka, tidak hanya untuk diri dan  keluarganya tapi lebih dari pada itu untuk mengangkat martabat dan keharuman nama Provinsi NTT.

“Sehingga tidak sepatutnya Panitia Penjemput Pemerintah Daerah Provinsi NTT tidak memberikan penghormatan kepada Atlet yang mengharumkan nama Provinsi NTT,” kata Petrus Selestinus.*

Wartawan: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda