Nasional post authorAju 13 September 2021

Jalur Udara Dikuasai Singapura, National Interest Pejabat Indonesia Rendah

Photo of Jalur Udara Dikuasai Singapura, National Interest Pejabat Indonesia Rendah Flight Information Region

JAKARTA, SP – Pegiat mesia sosial, pelaku bisnis, pengamat intelijen dan politik Erizely Bandaro, mengatakan, jalur udara sebagian wilayah Indonesia dikuasai Singapura, membukti national interest rendah.

“Jadi harus menjadi perhatian serius, karena sudah ditegaskan Presiden Indonesia, Joko Widodo, agar Flight Information Region atau FIR, segera diambil-alih dari Singapura,” kata Erizely Bandaro, Senin malam, 13 September 2021.

Dikatakan Erizely Bandaro, sudah 76 tahun Indonesia merdeka (1945 – 2021), tetapi belum sepenuhnya merdeka di udara.

Padahal dalam hal geostrategis dan geopolitik ada istilah whoever controls of the air, generally control the surface. Siapa yang mengendalikan udara, dia juga mengendalikan permukaan? 

Misal,Pesawat dari Jakarta mau terbang ke luar negeri. Tanpa izin dari Singapore tidak bisa terbang. Ketinggian pesawat ditentukan oleh Singapore. Akibatnya pesawat kita kadang dipaksa terbang tinggi yang jelas tidak ekonomis.

Bahkan penerbangan domestik dari Batam ke Jakarta, harus dapat clearance dari Singapore. Tidak ada istilah misi khusus atau tidak, tanpa izin Singapore, pesawat Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak bisa terbang.

Sebenarnya itu berawal tahun 1946, karena alasan kita belum mampu mengotrol wilayah udara kita yang membutuhkan sistem Flight Information Region (FIR) untuk sekitar 100 nautical miles (1.825 kilometer) yang melingkupi Kepulauan Riau, Tanjungpinang, dan Natuna.

Namun dari tahun ketahun bahkan sampai sekarang, FIR  tetap saja di bawah Singapore.

“Apakah itu merugikan negara? Secara politik ya dan apalagi secara ekonomi. Apakah kita tidak mampu kelola sendiri? Jelas mampu. Kita punya banyak ahli penerbangan untuk fasilitas Air Traffic Controller (ATC), dan  belum lagi untuk buatnya kita juga mampu,” kata Erizely Bandaro.

Banyak insinyur kita bisa buat alat itu. Lantas mengapa tetap dikelola Singapore?

Setiap tahun Singapore memberi pemerintah uang sekitar 5 juta dollar Amerika Serikat yang bersumber dari sektor A, sementara untuk sektor B dan sektor C masih perlu dipertanyakan.

Melihat luasnya sektor A, B dan C serta jumlah trafik yang melewati daerah tersebut, seharusnya pendapatan Indonesia jauh lebih besar dari angka yang tertera di atas.

Nah kalau ditanyakan kepada pemerintah, mengapa tidak bisa diambil alih FIR itu? jawabnya panjang banget. Sebetulnya mental korup dan  tidak paham apa yang disebut national interest,” kata Erizely Bandaro.

Erizely Bandaro masih berharap tahun 2024 FIR sudah kita kuasai. Ini amanah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009, tentang” Penerbangan.

Dimana ditegaskan, pengelolaan FIR tersebut harus dapat dikelola oleh pihak perhubungan udara Indonesia selambat-lambatnya 15 tahun sejak undang-undang tersebut disahkan.

“Saya menduga undang-undangitu dibuat dengan tanpa dasar national interest,” ujar Erilzely Bandaro.

Ngapain tunggu 15 tahun? Padahal tahun 2015, Presiden Indonesia, Joko Widodo, sudah perintahkan agar FIR segara diambil alih dari Singapore. Sampai sekarang masih aja sibuk dengan negosiasi. Semoga FIR bisa segera dikuasai Indonesia tahun 2021, atau setidaknya paling lambat tahun 2024,” tutur Erizely Bandaro. *

Sumber: fb erizely bandaro

 

Redaktur: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda