Nasional post authorAju 16 Mei 2021

Pendeta: Presiden, Jangan Tunggu Jenderal Gugur Dulu, Baru Datang ke Poso

Photo of Pendeta: Presiden, Jangan Tunggu Jenderal Gugur Dulu, Baru Datang ke Poso Pendeta Rynaldy Damanik

JAKARTA, SP – Pendeta Rinaldy Damanik, mengingatkan Presiden Indonesia, Joko Widodo, jangan sampai menunggu ada jenderal yang gugur dulu, baru masalah terorisme di Poso.

“Presiden Joko Widodo, mesti hadir ke Poso. Berikan rasa aman bagi masyarakat,” kata Pendeta Rinaldy Damanik dalam Channel Rumah Kebudayaan Nusantara Media, Minggu, 16 Mei 2021.

Rinaldy Damanik menanggapi pukul 07. WITA, Selasa, 11 Mei 2021, kembali 4 warga tewas dengan leher digorok golok dengan inisial berinisial MS, S, P dan L yang beragama Katolik, di kawasan perkebunan warga di Desa Kalimango, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Satu hari sebelumnya, pukul 08.00 WITA, Senin, 10 Mei 2021, warga bernama Dewi dan Ubad, dibunuh di Desa Kalimago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

MIT pimpinan Ali Kalora membunuh empat orang yang merupakan satu keluarga di Desa Lemba Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi (tetanggar Poso), Provinsi Sulawesi Tengah, pukl 08.00 WITA, Jumat, 27 Nopember 2020.

Keempat korban teridentifikasi sebagai Yasa, menantunya bernama Pinu, dan dua anggota keluarga lain: Pedi dan Naka. Keempat korban dari Jemaat Pos Pelayanan Gereja Bala Keselamatan.

Periode Nopember 2020 – 11 Mei 2021, sudah ada 10 orang warga non Muslim dibunuh, dengan digorok lehernya pakai golok oleh teroris MT di Provinsi Sulawesi Tengah.

Basis MIT yang sekarang anggotanya berjumlah 10 orang, terkonsentasi pada tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Poso, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tangah.

Dikatakan Rinaldy Damanik, gugurnya Brigadir Jenderal TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha, Kepala Badan Intelijen Daerah (BINDA) Papua di Beoga, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Minggu, 25 April 2021, jangan sampai terulang di bekas wilayah konflik di Poso.

“Secara fisik, Presiden Joko Widodo, harus melihat kondisi yang nyata di lapangan, di tengah rasa ketakutan masyarakat, karena merasa sangat tidak aman,” kata Rinaldy Damanik.

Menurut Rinaldy Damanik, ada indikasi bertambahnya jumlah anggota teroris MIT di Provinsi Sulawesi Tengah.

Dalam kasus pemenggalan warga masyarakat terakhir, ternyata dari kelompok baru yang terpisah dari Ali Kalora.

Analis intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta, mengatakan, Mujahidin Indonesia (MIT) yang tersebar pada 3 kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah, terutama di wilayah Kabupaten Poso, merupakan jaringan teroris paling berbahaya di Indonesia.

“MIT beda dengan jaringan teroris lainnya di Indonesia yang menyatu dengan masyarakat. MIT sembunyi di pegunungan dan belantara pada tiga kabupaten, yaitui Kabupaten Poso, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tangah,” kata Stanislaus Riyanta.

Sama dengan Jamaah Ansharut Daullah), maka MIT merupakan perpanjangan tangan The Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Indonesia.

Menurut Stanilaus Riyanta, secara teknis, MIT sulit ditumpas, karena mereka menguasai medan. Kendati jumlah anggota MIT sekarang tinggal 7 orang setelah 2 orang sebelumnya ditembak mati, mereka masih tetap menakutkan.

Modus MIT sekarang, adalah menteror masyarakat ketika tidak ada aparat keamanan dari unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Republik Indonesia (Polri).

Malah tidak segan-segan, anggota MIT membunuh warga dengan cara menggorok leher, kemudian diunggah di media sosial, apabila dinilai korban sebagai mata-mata Polri dan TNI.

Diungkapkan Stanislaus Riyanta, dengan jumlah personil yang tinggal 7 orang di bawah kendali Ali Kalora, ruang geraknya semakin sempit.

“Tapi masyarakat menjadi tidak berdaya. Jika tidak memberikan berbagai jenis pangan, seperti beras dan lain sebagainya, warga jadi korban. Dalam posisi sekarang, harus dipastikan dulu keamanan warga terjamin hingga di desa-desa terpencil, untuk memutus mata rantai suplai logistik jaringan MIT,” kata Stanislaus Riyanta. *

 

Sumber: Channel Rumah Kebudayaan Indonesia Media

 

Redaktur: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda