Nasional post authorAju 18 Juli 2021

RSPAD Gatot Subroto Persiapkan Produksi Vaksin Immunoteraphy Nusantara

Photo of RSPAD Gatot Subroto Persiapkan Produksi Vaksin Immunoteraphy Nusantara Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehtan Indonesia periode 2004 – 2009 (kiri) dan Terawan Agus Putranto (tengah).

JAKARTA, SP – Mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia periode 2019 – 2020, Letnan Jenderal TNI Dr dr Terawan Agus Putranto, menegaskan, Vaksin Immunoteraphy Nusantara, sudah diakui kalangan dunia internasional.

Hal itu dikemukakan Terawan Agus Putranto dalam kanal youtube @jordanliono, Minggu, 18 Juli 2021.

Proses pengembangan produksi tengah dipersiapkan tim peneliti dan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

Di New York, Amerika Serikat, kata Terawan, bahkan telah terbit sebuah jurnal yang isinya mengatakan bahwa vaksin Nusantara merupakan akhir dari kanker dan Corona Virus Disease-19 (Covid-19).

Terawan mengatakan bahwa dendritic cell vaccine ini nantinya akan mengakhiri Covid-19 di Indonesia dan dunia.

Vaksin Immunoteraphy Nusantara di kembangkan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, sebagai Rumah Sakit Kepresidenan Republik Indonesia, sangat aman karena dalam proses penelitianya, mendapatkan berbagai pengembangan di luar tubuh manusia.

Vaksin Immunoteraphy Nusantara sebenarnya telah diteliti sejak jauh hari sekitar 2015, karena pada awalnya diperuntukkan dalam penanggulangan penyakit kanker. Dalam pengembanganya hanya merubah antigen dalam vaksin tersebut.

"Antigen yang ada menjadi antigen artificial atau antigen recombinant Covid-19, dimana kita dapat menyesuaikan berdasarkan kebutuhan, sehingga kesehatan nasional dapat kita jaga dengan membuat imunitas bagi semua masyarakat," jelas Terawan.

Menyinggung tentang pembuatan secara masal, Terawan mengatakan bahwa hal tersebut sangat mudah, karena Vaksin Immunoteraphy Nusantara dapat diproduksi dan penyimpananya juga sangat mudah.

"Saat ini kita telah memiliki teknologi untuk terus mengembangkan serta memproduksi Vaksin Immunoteraphy Nusantara bersama tim RSPAD," ungkapnya.

Menurut Terawan proses pembuatan Vaksin Immunoteraphy Nusantara sangat mudah dan dapat mengajarkan cara pembuatan Vaksin Immunoteraphy Nusantara pada negara serta pihak lain.

Namun yang paling penting, lanjut Terawan, bagaimana Vaksin Immunoteraphy Nusantara menjadi eviden. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi negara pertama yang mengembangkan dendritic cell vaccine immunotherapy.

"Efektivitas Vaksin Immunoteraphy Nusantara juga sangat efektif, karena saya sendiri beserta beberapa teman lainya telah menjadi relawan dan telah merasakan efek imun dari Vaksin Immunoteraphy Nusantara," kata Terawan.

Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Letnan Jenderal TNI dr. Albertus Budi Sulistya, menyebutkan para anggota DPR itu menjadi sampel penelitian Vaksin Nusantara.

"Mereka menjalani penelitian sesuai dengan protokol penelitian," kata Albertus Budi Sulistya.

Dijelaskan Albertus Budi Sulistya, bila hasil penelitian membuktikan ada perolehan imunitas terhadap Covid-19, baik seluler maupun humoral dengan pemberian vaksin Nusantara, akan menjadi penemuan baru.

"Ini menjadi penemuan yang luar biasa dan aman," kata Albertus Budi Sulistya.

“Jika bangsa Indonesia memiliki vaksin nasional, apa pun mereknya, baik vaksin Nusantara, Merah Putih, maupun lainnya, Indonesia akan sejajar dengan negara besar,” ujar Albertus Budi Sulistya.

"Indonesia akan sejajar dengan negara-negara besar dan memiliki harga diri bangsa sekaligus akan membantu perekonomian nasional," turut Albertus Budi Sulistya.

Saat ini, tambah Albertus Budi Sulistya, Indonesia masih bergantung pada vaksin negara lain.

Direktur Pelayanan Kesehatan RSPAD Gatot Subroto, Nyoto Widyo Astoro mengatakan, gejala-gejala yang muncul terkait Vaksin Immunoteraphy Nusantara tidak hanya terjadi di penelitian vaksin itu. Pada dasarnya semua vaksin memiliki gejala seperti demam hingga mual-mual.

"Vaksin-vaksin yang lain pun ada pegel-pegel badannya, kadang-kadang sakit di tempat suntikan, jadi lemas dan sebagainya, itu semua gejala tersebut barang kali juga muncul pada vaksin-vaksin yang lain," kata Nyoto Widyo Astoro.

Hal ini dijelaskan Nyoto Widyo Astoro terkait temuan BPOM yang menyatakan 71 persen relawan uji klinis vaksin Nusantara mengalami Kejadian Tak Diinginkan (KTD) seperti mual, demam, gatal, hingga nyeri otot.

Menurut Nyoto Widyo Astoro, gejala yang muncul ini sebenarnya wajar lantaran secara ilmiah protein asing yang dimasukkan ke tubuh seseorang, tentu akan memunculkan gejala-gejala tertentu di tubuh.

"Untuk gejala-gejala berkaitan Vaksin Nusantara, tentu saja semua vaksin, karena dia protein asing, pasti kalau disuntikkan akan ada gejala. Kemudian dari suntikan sendiri akan berakibat, misalnya sakit dan lain-lain," kata Nyoto Widyo Astoro.

Meski demikian, Nyoto Widyo Astoro mengatakan gejala itu wajar dan masih bisa diatasi secara medis. Selain itu, setiap gejala yang muncul baik normal atau tidak dipastikan akan selalu dicatat dan dilaporkan. Begitu pun gejala yang muncul akibat sel denditrik untuk vaksinasi Covid-19.

Peneliti Utama Vaksin Immunoteraphy Nusantara, Kolonel Corp Kesehatan Militer (CKM) dr Jonny menuturkan, vaksin buatannya diambil dari sel tubuh orang yang akan divaksinasi.

“Jadi diambil dari sel tubuh kita sendiri, kemudian sel darah putih kita biarkan selama 5 hari. Kemudian setelah 5 hari kita kenalkan kepada protein seperti yang dipunyai oleh protein virus,” tutur Jonny.

“Jadi di situ ada yang disebut dengan protein S atau Spike, dan ini yang menentukan bagaimana virus itu bisa menyerang tubuh kita, jadi protein ini yang kita kenalkan ke sel darah putih,” tambah Jonny.

Setelah dikenalkan selama 2 hari, sambung Kolonel Jonny, maka sel darah putih akan mempunyai memori terhadap virus Covid-19.

Sehingga, pada saat tubuh kita masuk virus Covid-19, tubuh kita sudah lebih siap untuk menghadapi Covid-19 ini.

“Karena dia sudah tahu dan sudah kenal tidak perlu memproses lagi, mengenali lagi virus itu dulu, kemudian membentuk imunitas seluler tetapi vaksin ini menyediakan imunitas seluler untuk tubuh kita. Itulah kelebihan dari vaksin ini kenapa karena berasal dari tubuh kita sendiri,” ujar Jonny.

Dendritic Immunotherapy Nusantara, menjadi alternatif di tengah situasi global terus berjuang melawan pandemic Covid-19.

Setelah mutasi virus B117 dari Inggris menghebohkan masyarakat, kini muncul mutasi virus E484K varian Eek. Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF), Prof Dr dr Chairul Anwar Nidom menyebut virus ini mutasi dari B117. Bahkan, virus baru ini lebih ganas dari mutasi virus sebelumnya.

"Jadi istilahnya disebut escape mutation berasal dari B117. Jadi B117 ada mutasi lagi di dalamnya yaitu varian Eek. Para ahli sepakat bahwa itu escape mutan, yaitu cara virus menghindari antibodi yang ada dalam tubuh, sehingga tidak mau mati," kata Prof Chairul Anwar Nidom.

Chairul Anwar Nidom menjelaskan, mutasi virus tersebut pertama kali ditemukan di Afrika Selatan dengan kode B1351 dan di situ terdapat E484K. Namun B117 sudah terkenal lebih cepat. Kemudian berdasarkan informasi E484K lebih ganas.

"Virus E484K selain lebih cepat juga mengkhawatirkan penularannya, sifat keganasannya lebih muncul dan disebut escape mutan. Itu proses virus dalam rangka menghindari antibodi dalam tubuh. Setelah diselediki di Brazil ada, Inggris juga ada. Kalau di Inggris informasinya termutan 20 virus dari sekitar 200 ribu pengujian," ujar Prof Chairul Anwar Nidom.

Sedangkan mutasi virus corona B117 dinilai lebih cepat dari mutasi D614G. Prof Chairul Anwar Nidom, khawatir, mutasi virus ini lebih ganas, karena virus ini akan meningkat setelah terpapar dan bertemu dengan antibodi.

"Di Indonesia ditemukan satu kasus E848K, tapi tidak disertai gejala klinisnya. Secara data harusnya satu itu ditelisik ke pasien siapa yang menerima itu, lalu dicocokkan dengan medical klinik.”

“Ini diumumkan saja bahwa di Indonesia ditemukan virus. Seharusnya ditelusuri, ditemukan di pasien mana, di rumah sakit itu kan ada medical record kan, dan dicocokkan dan bisa disampaikan hati-hati dengan gejala klinisnya," jelas Prof Chairul Anwar Nidom.

Menurut Prof Chairul Anwar Nidom, virus ini harusnya dicocokkan dengan gejala klinis pada kasus yang ditemukan di Indonesia. Sebab, sifat dasar dari virus Covid-19 jinak, namun mutasinya kini disebut lebih ganas.

"Saya melihat virus Covid-19 ini sebetulnya jinak, tapi kalau ketemu komorbid dan mempengaruhi komorbid lebih rusak," kata Prof Chairul Anwar Nidom.

 Prof DR drh Chairul Anwar Nidom, Dendritic Immunotherapy Nusantara mampu mengantisipasi mutasi Covid-19.

“Kalau menggunakan vaksin konvensional, seperti vaksin impor dari 6 perusahaan asing, itu, maka harus menunggu lebih dari 1 tahun. Keburu virusnya mutasi lagi. Ini yang menyebabkan vaksin konvensional gagal mengahadapi Covid-19,” ungkap Prof Nidom.

Untuk menghadapi mutasi virus Covid-19, maka harus segera bisa diikuti dengan penggantian antigen-nya dalam pembuatan vaksin. Mutasi virus Covid-19 saat ini telah mencapai 200 mutasi.

“Tidak mungkin menggunakan vaksin dengan antigen lama untuk menghadapi mutasi virus yang terus menerus,” ujar Prof Nidom.

“Oleh karena itu,” menurut Prof Nidom, “Metode denditrik pada Dendritic Immunotherapy Nusantara yang dikembangkan Dr dr Terawan Agus Putranto dari RSPAD Gatot Subroto, sangat signifikan.”

Vaksin Immunotherapy Nusantara yang menggunakan medote denditrik akan menjawab sesuai perkembangan mutasi virus yang bisa berbeda-beda di dalam tubuh. Ini jadi jalan keluar, atas kegagalan vaksin konvensional.

Kandungan vaksin dendritik adalah sel dendritik yang setiap saat bisa diambil dari plasma.

Protein antigen-nya setiap saat bisa diganti menyesuaikan perkembangan virus. Bahan penumbuh sel dendritik, setiap saat bisa dibeli.

Keuntungan penggunaan Vaksin Immunotherapy Nusantara adalah untuk penderita komorbit karena dendritik sel masing-masing orang.

Komorbiditas dan komorbid artinya penyakit penyerta; sebuah istilah dalam dunia kedokteran yang menggambarkan kondisi bahwa ada penyakit lain yang dialami selain dari penyakit utamanya.

Pasien yang sedang gawat di rumah sakit, karena pembentukan antibodi spesifik bisa langsung setelah disuntikkan, tidak menunggu 14 hari dulu.

“Dengan jumlah penduduk Indonesia terbesar ke-4 di dunia, berarti Indonesia menghadapi resiko terbesar dalam pandemi ini. Seyogyanya semua potensi anak bangsa khususnya aspek-aspek kesehatan, obat dan vaksin, diberi tempat untuk berkembang,” kata Prof Nidom.

Prof Nidom, menegaskan, “Saya sebagai Guru Besar Biologi Molekuler mempunyai otoritas keilmuan. Tidak harus seragam dan tergantung kepada guru besar lain."

Prof Nidom kurang yakin pada vaksin konvensional (termasuk Vaksin Merah Putih) bisa mengendalikan virus Covid-19. “Sebab, virus Covid-19 sangat cerdik. Sangat mudah mutasi.”

"Sekali melakukan meliuk yang bisa membuat tercengang semua peneliti. Juga pembuatan vaksin konvensional yang sangat sulit mengimbangi perubahan virus Covid-19. Coba kita lihat sampai satu tahun lebih apa ada obat dan vaksin yang betul-betul sukses? Karena virus ini sangat cerdik bisa mengenali bahan yang akan membunuh dia," tegas Prof Nidom. *

Sumber: youtube jordanliono/bergelora.com channel/antara.com/merdeka.com

 

Redaktur: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda