Nasional post authorAju 19 September 2021

Waspadai Tafsir Sesat Pernyataan Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman

Photo of Waspadai Tafsir Sesat Pernyataan Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman Letnan jenderal TNI Dudung Abdrucahman, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat

JAKARTA, SP – Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus SH, mengingatkan semua pihak, untuk mewaspadai tafsir sesat terhadap pernyataan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal TNI Dudung Abdurachman.

“Pernyataan Dudung Abdurachman, harus diletakkan pada proporsi yang sebenarnya,” kata Petrus Selestinus, Minggu malam, 19 September 2021.

Dikatakan Petrus Selestinus, pernyataan Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman, soal himbauaun agar prajuritnya tidak perlu fanatisme berlebihan terhadap agama karena semua agama sama di mata Tuhan, telah diplintir oleh sejumlah pihak.

Mereka antara lain:  Rizal Ramli, Anwar Abas, Fadli Zon, Refly Harun, dan lain-lain, dengan tafsir bebas demi menyenangkan kelompok tertentu. 

Bahkan tafsir bebas yang dilontarkan itu cenderung meremehkan peran Letjen TNI Dudung Abdurachman, Pangkostrad sebagai tidak berprestasi atau hanya berani menurunkan baliho Mohammad Rizieq Shihab (MRS).

“Mereka justru telah menempatkan Tuhan sebagai pihak untuk mereka hakimi dalam menilai benar tidaknya pernyataan Dudung Abdurachman dimaksud,” kata Petrus Selestinus.

Padahal pernyataan Dudung Abdurachman, ujar Petrus Selestinus, merupakan wujud komitmennya untuk mengawal amanat konstitusi.

Sekaligus suatu gambaran sikap mengagungkan betapa besarnya Kemahakuasaan Tuhan yaitu bahwa semua manusia meskipun berbeda keyakinan dan agama yang dianut, namun sama di mata Tuhan. 

Logika Letjen TNI Dudung Abdurachman tentang semua agama sama di mata Tuhan sangat tepat karena sesuai dengan prinsip dan keyakinan semua umat beragama bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Adil bagi semua umatnya.

“Yang membeda-bedakan satu dengan yang lain itu adalah perilaku umat itu sendiri sesuai agama yang diimaninya,” ujar Petrus Selestinus.

Dalam ajaran agama manapun pengakuan terhadap kebenaran bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Adil dan maha maha lainnya yang kita semua yakini dan percaya, telah dipersonifikasikan dalam sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, di dalam dasar negara Pancasila.

Sebagai Umat beragama di tengah keberagaman, pernyataan Dudung Abdurachman agar prajuritnya tidak membangun fanatisme agama secara berlebihan.

Karena semua agama sama di mata Tuhan, merupakan pernyataan yang sangat tepat dan konstitusional.

Agar para prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi prajurit yang setia kepada Sapta Marga dan kepada Pancasila dalam konteks Keindonesiaan.

Karena itu, hanya orang dengan tingkat fanatisme agama yang berlebihan dan hilang akal sehatnya akan terjerumus dalam cara pandang yang salah bahkan sesat.

Yaitu menilai pernyataan Dudung Abdurachman, sebagai sesuatu yang hanya untuk menyenangkan Istana, dan merugikan kepentingan kelompoknya. 

Padahal himbauan Dudung Abdurachman, datang pada saat yang tepat, karena pada saat bersamaan munculnya upaya dari sekelompok orang yang oleh karena fanatisme agama yang berlebihan.

Merasa diri dan keyakinan agamanya sebagai yang paling benar, sembari membangun basis kekuatan demi menegasikan keberagaman sebagai pilar negara dalam mendirikan negara khilafah.

Diungkapkan Petrus Selestinus, bagi Rizal Ramli, Abas Anwar, Fadli Zon, Refly Harun dan lain-lain, mereka tergolong berada di balik kelompok yang memiliki sikap fanatisme agama yang berlebihan, yang saat ini mencari teman.

Mambangun sikap congkak sebagai penganut agama yang paling benar di mata Tuhan, yang pada gilirannya ingin mengubah dasar negara Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhineka Tunggal Ika dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dengan Ideologi Khilafah. 

“Hentikanlah cara pandang picik, murahan dan tidak bertanggung jawab dari Rizal Ramli, Anwar Abas, Fadli Zon dan Refly Harun, karena meremehkan peran Dudung Abdurachman, ketika menjamin rasa aman seluruh warga Kota Jakarta dari aksi-aksi premanisme Front Pembela Islam (FPI) yang meresahkan seluruh warga Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan seluruh Indonesia,” ungkap Petrus Selestinus.

Sikap Dudung Abdurachman sebagai Pangdam Jaya membersihkan simbol-simbol FPI, sebagai wujud komitmen setia kepada Saptamarga dan Tanggung Jawab menjaga keutuhan NKRI dan kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia. 

"Kami mendukung pernyataan Dudung Abdurachman, karena pernyataan itu menunjukan bahwa negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, cinta tanah air Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Pualu Rote,” ungkap Petrus Selestinus.*

Wartawan: Aju

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda