Nasional post authorKiwi 21 November 2020 117

Pembelajaran Tatap Muka 2021, Pemerintah Berikan Keleluasaan Pemda

Photo of Pembelajaran Tatap Muka 2021, Pemerintah Berikan Keleluasaan Pemda Mendikbud, Nadiem Anwar Makarim

JAKARTA, SP - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, mengatakan pemerintah memberikan keleluasaan kepada pemerintah daerah (pemda) untuk melakukan pembelajaran tatap muka mulai semester genap 2020/2021 atau Januari 2021.

“Pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan untuk memberikan penguatan peran pemerintah daerah/kanwil/kantor Kemenag. Pemberian kewenangan penuh pada pemda tersebut dalam penentuan pemberian izin pembelajaran tatap muka,” ujar Nadiem dalam pengumuman penyelenggaraan pembelajaran semester genap TA 2020/2021 di masa pandemi covid-19, di Jakarta, Jumat (20/11) lalu.

Menurut Nadiem, pemberian izin dapat dilakukan secara serentak atau bertahap per wilayah kecamatan dan atau desa atau kelurahan. Hal itu berlaku mulai semester genap tahun ajaran 2020/2021 atau bulan Januari 2021.

“Pemerintah daerah dan sekolah diharapkan meningkatkan kesiapan untuk penyesuaian ini dari sekarang hingga akhir tahun,” tututrnya.

Ia menjelaskan bahwa pembelajaran tatap muka harus dilakukan dengan izin berjenjang, mulai dari pemerintah daerah/kanwil/kantor Kemenag, dan tetap dilanjutkan dengan izin berjenjang dari satuan pendidikan dan orang tua.

“Jadi, harus ada persetujuan orang tua melalui komite sekolah dan juga kepala sekolah dan kepala daerah,” tegasnya.

Nadiem menuturkan, pembelajaran tatap muka diperbolehkan, namun tidak diwajibkan. Peta zona risiko dan satuan tugas penanganan covid-19 nasional tidak lagi menentukan pemberian izin pembelajaran tatap muka.

Untuk itu, Nadiem menyatakan terdapat dua prinsip kebijakan pendidikan pada masa pandemi covid-19, yakni kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat yang menjadi prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran dan tumbuh kembang peserta didik. Kondisi psikososial juga menjadi pertimbangan dalam pemenuhan layanan pendidikan selama masa pandemi covid-19.

Selain satuan pendidikan, Nadiem turut menegaskan bhawa perguruan tinggi pun diperbolehkan melakukan perkuliahan tatap muka mulai Januari 2021, dengan syarat menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Untuk perguruan tinggi juga diperbolehkan perkuliahan tatap muka, dengan syarat menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan mengisi daftar periksanya yang ditentukan oleh Ditjen Pendidikan Tinggi,” ungkap Nadiem, dalam konferensi pers di Jakarta.

Untuk diketahui, saat ini, aturan perkuliahan tatap muka pada perguruan tinggi, saat ini sedang disusun oleh Ditjen Dikti. Oleh karena itu, Mendikbud menegaskan bahwa pembelajaran tatap muka tidak hanya untuk jenjang PAUD hingga SMA/SMK, tetapi juga perguruan tinggi.

Sementara itu, pada Oktober lalu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat (Kalbar), Sugeng Hariadi, mengatakan dengan meningkatnya kasus konfirmasi Covid-19 di Kalbar belakangan ini, maka pembelajaran tatap muka di seluruh SMA dan SMK di Kalbar dihentikan sementara.

Disdikbud Kalbar sendiri telah mengeluarkan surat edaran agar Kepala Sekolah SMA dan SMK se-Kalbar untuk kembali menerapkan Belajar Dari Rumah (BRD) melalui daring atau luring.

"Supaya tidak masuk dalam klaster sekolah. Jadi untuk SMA/SMK yang ada di Kalbar sesuai arahkan Pak Gubernur kepada Disdikbud Kalbar agar menutup sementara pembelajaran tatap muka di sekolah. Nanti kalau sudah kondisinya landai, penularan tidak banyak, baru kita mulai pembelajaran lagi, karena memang bulan Oktober 2020 penambahan (kasus covid-19) cukup banyak," jelas Sugeng, Selasa (13/10) lalu.

Meski demikian, tegasnya, aktivitas pembelajaran bagi siswa/siswi SMA dan SMA di Kalbar tetap dilaksanakan, namun dilakukan secara daring.

"Jadi pindah tatap muka ke daring (belajarnya), bukan libur," katanya.

Sebenarnya sejak Senin (12/10), pembelajaran tatap muka di sekolah sudah diberhentikan. Namun pihaknya baru mengirimkan surat edaran mengarahkan seluruh SMA/SMK di Kalbar untuk menghentikan aktivitas belajar di sekolah.

Sedangkan untuk SMP dan SD pihaknya menyerahkan kepada pemerintah kabupaten/kota yang mempunyai wewenang.

"Untuk SD dan SMP seyogyanya tidak tatap muka, tapi itu kewenangan dari pemerintah kabupaten/kota," terangnya.

Sugeng mengimbau kepada peserta didik, pendidik, dan orang tua murid untuk selalu waspada dan bersabar, mengingatkan kepada covid-19 tidak kelihatan. Saat ini, penularan cenderung meningkat di Kalbar.

Ia juga meminta kepada guru dan wali murid untuk mengawasi putra/putri selama belajar dari rumah.

"Mohon untuk bapak ibu guru, wali murid dan orang tua untuk bisa mengawasi putra/putri dan memotivasi mereka agar tetap semangat belajar, walaupun melalui daring. Serta menjadi contoh menerapkan protokol kesehatan dan selalu menjaga kesehatan," tutupnya.

Meningkatnya kasus konfirmasi covid-19 di Kalbar belakangan ini juga membuat 10 kabupaten/kota di Kalbar masuk zona oranye atau zona sedang risiko kenaikan kasus. Adapun 10 daerah tersebut adalah Kota Pontianak dan Singkawang, kemudian Kabupaten Bengkayang, Sekadau, Melawi, Kayong Utara, Sintang, Kubu Raya, Landak, dan Mempawah.

Menurut Data Risiko Kenaikan Kasus Kabupaten/Kota Provinsi Kalbar di beberapa daerah terjadi perubahan zona. Data per 5 Oktober 2020, Sanggau, Kayong Utara dan Sekadau masuk zona hijau, namun data per 12 Oktober Kabupaten Sekadau dan Kayong Utara masuk zona oranye, sedangkan Sanggau zona kuning atau rendah.

"Ada 10 kabupaten/kota yang masuk zona orangnye atau sedang risiko penularan kasus. Sedangkan 4 daerah lainya, yaitu Sanggau, Kapuas Hulu, Ketapang, dan Sambas masuk zona kuning atau ringan," tutur Harisson.

Penuhi Daftar Periksa

Sebelumnya, Mendikbud Nadiem mengungkapkan bahwa pembelajaran tatap muka hanya diperbolehkan dilakukan oleh sekolah yang telah memenuhi daftar periksa.

“Pembelajaran tatap muka hanya dapat dilakukan di sekolah yang memenuhi daftar isian ini. Ada enam daftar ini, sama seperti SKB sebelumnya,” ucapnya.

Enam ceklis yang harus dipenuhi, yakni ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan (toilet bersih dan layak serta sarana cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau penyanitasi tangan), mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan, dan kesiapan menerapkan masker.

Selanjutnya, memiliki thermogun, memiliki pemetaan warga satuan pendidikan (yang memiliki komorbid tidak terkontrol, tidak memiliki akses transportasi yang aman, dan riwayat perjalanan dari daerah dengan tingkat risiko yang tinggi), dan mendapatkan persetujuan komite sekolah atau perwakilan orang tua/wali.

“Pembelajaran tatap muka tetap dilakukan dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat,” imbuhnya.

Kondisi kelas dengan jarak antarsiswa minimal 1,5 meter, jumlah maksimal peserta didik per ruang kelas PAUD sebanyak lima siswa, pendidikan dasar dan menengah sebanyak 18 siswa, dan SLB sebanyak lima siswa.

Jadwal pembelajaran juga dilakukan dengan sistem bergiliran yang ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan. Selain itu, peserta didik dan tenaga pendidik wajib menggunakan masker kain tiga lapis atau masker bedah, cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, menjaga jarak minimal 1,5 meter dan tidak melakukan kontak fisik, dan menerapkan etika batuk atau bersin.

“Kita pastikan bahwa kondisi medis warga satuan pendidikan yang punya komorbiditas tidak boleh melakukan tatap muka, tidak boleh datang ke sekolah kalau mereka punya komorbiditas krn risiko mereka jauh lebih tinggi,” tegas Nadiem.

Kemudian, tidak diperkenankan kegiatan-kegiatan yang berkerumun, artinya kantin diperbolehkan beroperasi, kegiatan olahraga dan ekstrakurikuler tidak diperbolehkan untuk dilakukan.

“Anak-anak hanya boleh masuk belajar, lalu pulang. Ini juga harus ditekankan,” terangnya.

Selain pembelajaran, tidak ada lagi kegiatan selain kegiatan belajar-mengajar, misalnya orang tua tidak boleh menunggu siswa di sekolah, istirahat di luar kelas, pertemuan orang tua dan murid itu tidak diperbolehkan.

“Jadi, maksud pesan yang terpenting di sini adalah pembelajaran tatap muka, bukan kembali ke sekolah seperti normal. Ini sangat di luar normal karena kapasitasnya hanya setengah yang diperbolehkan tanpa aktivitas berkerumun apa pun.”

Oleh karena itu, pemantauan dari Pemda, dinas, gugus tugas daerah penting untuk memastikan protokol terjaga. Pemangku kepentingan harus mendukung hal itu dapat terlaksana.

“Jadinya, dinas pendidikan-kesehatan yang berhubungan harap semuanya berkoordinasi untuk memastikan bahwa anak kita bisa kembali ke sekolah dengan keamanan terbaik,” pungkasnya.

Mengaku Rindu

Ester, satu di antara mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak, mengungkapkan bahwa dirinya ingin merasakan kuliah tatap muka. Pasalnya, mahasiswa semester pertama itu, belum pernah merasakan kuliah langsung seperti para kakak tingkat di kampusnya, sejak masuk perguruan tinggi.

“Pengen sih (kuliah tatap muka). Kalau dibilang bosan, via online sih nggak terlalu gimana bosan. Soalnya mapelnya sendiri cocok sama aku,” terangnya via WhatsApp, Sabtu (21/11).

Ester pun mengatakan, pembelajaran daring ada sisi positif dan negatifnya. Untuk sementara waktu, kata dia, pembelajaran daring tidak ada masalah, asalnya tidak berlangsung selamanya.

“Positifnya, belajar online lebih santai, Kak. Nggak terlalu formal. Misal ada dosen yang izinin mahasiswanya pake baju bebas dan lain-lain di rumah sendiri. Lebih santai aja gitu,” ujarnya.

Sisi negatif pembelajaran dari, lanjut Ester, kesulitan jika ada yang tidak paham. Susah menyampaikan kepada dosen yang bersangkutan. Belum lagi masalah jaringan yang sering hidup-mati karena gangguan atau pengaruh cuaca.

Soal rencana kuliah tatap muka pada awal 2021, Ester menyatakan dirinya siap jika harus menerapkan protokol kesehatan.

“Iya Kak, siap. Malah lebih mengharapkan tahun depan udah kondusif dan bisa tatap muka lagi,” harapnya.

Sementara itu, Wilson Amos, siswa salah satu sekolah swasta di Kota Pontianak, mengaku rindu terhadap pembelajaran tatap muka.

“Bosan belajar online terus. Pengen sekolah kayak dulu, ketemu sama kawan-kawan,” singkatnya. (ant/iat/lha)

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda