Nasional post authorBob 26 Januari 2021 57

Jabat Kapolri, Ini Seumlah PR yang Harus Diselesaikan Komjen Listyo Sigit Prabowo

Photo of Jabat Kapolri, Ini Seumlah PR yang Harus Diselesaikan Komjen Listyo Sigit Prabowo Jabat Kapolri, Ini Seumlah PR yang Harus Diselesaikan Komjen Listyo Sigit Prabowo

JAKARTA, SP - Setelah disetujui DPR untuk menjadi Kapolri baru, menggantikan Jenderal Idham Azis, bukan berarti Komjen Listyo Sigit akan berpangku tangan. Ada pekerjaan rumah (PR) yang telah menunggu untuknya. Indonesia Corruption Watch (ICW) mengingatkan PR yang menunggu Komjen Listyo Sigit sebagai calon Kapolri baru.

"PR utamanya adalah memberantas tindakan korupsi di tubuh instansi Polri. Korupsi ini membuat Polri kehilangan kepercayaan publik," kata peneliti ICW Kurnia Ramadhan, seperti disiarkan Kompas TV, Kamis (21/1).

"Data Global Corruption Barometer tahun 2020, institusi kepolisian berada pada peringkat bawah. Salah satu lembaga yang paling tidak dipercaya publik terhadap komitmen pemberantasan korupsi di sana," paparnya.

Ada beberapa catatan ICW untuk Komjen Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri pengganti Jenderal Idham Azis, dalam kerangka pemberantasan korupsi. Pertama, Kapolri harus memastikan tindakan dan pencegahan dapat berjalan maksimal.

Dalam lingkup penindakan, Kapolri harus memastikan adanya peningkatan perkara di institusi kepolisian, yang dalam temuan ICW, penanganan perkara selalu menurun setiap tahun.

Kedua, ICW menantang Kapolri baru untuk berani membentuk satuan tugas khusus di instansi Polri yang berada di bawah Kapolri langsung, untuk bisa menyelidiki penyidik korupsi yang dilakukan oleh oknum kepolisian.

"Logika sederhananya, bagaimana kita bisa membersihkan instansi kepolisian dari praktik korupsi," kata Kurnia.

Ketiga, Kapolri terpilih harus memastikan kepatuhan dan kebenaran laporan harta seluruh jajaran anggota kepolisian. Keempat, soal praktik rangkap jabatan. UU Kepolisian sudah menyebut tegas bahwa anggota polisi aktif diperbolehkan menempati jabatan publik apabila berhenti terlebih dahulu.

"Saya rasa banyak catatan anggota kepolisian yang masih aktif, tetapi menduduki jabatan-jabatan di luar dari kepolisian," ucap Kurnia.

Kelima, penuntasan perkara yang berhubungan dengan korupsi. ICW mendorong Kaplri terpilih berani untuk membongkar penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus yang menimpa penyidik KPK Novel Baswedan.

"Dua Kapolri sebelumnya telah gagal mengungkap siapa aktor intelektualnya (dalam kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan)," ujar Kurnia.

Kapolri juga harus memastikan independensi tubuh penegakan hukum itu sendiri. Selain itu, PR lainnya adalah pencarian buronan Harun Masiku. "Kami berharap Kapolri terpilih dapat membantu kerja-kerja KPK, terutama dalam pencarian buronan, salah satunya Harun Masiku," ungkap Kurnia.

Sinergitas antara KPK dan Polri, menurut ICW, dapat membentuk koordinasi pemberantasan korupsi yang efektif dan lebih baik. Dalam lingkup penindakan, Kapolri harus memastikan adanya peningkatan perkara di institusi kepolisian, yang dalam temuan ICW, penanganan perkara selalu menurun setiap tahun.

DPR resmi menyerahkan persetujuan atas pemberhantian Jenderal Pol. Idham Azis dan pengangkatan Komjen Pol Listyo Sigit sebagai Kapolri. Penyerahan persetujuan DPR diserahkan langsung oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPR Indra Iskandar dan diterima oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno.

"Penyerahan surat persetujuan DPR RI terhadap pemberhentian dan pengangkatan Kapolri dari sekjen DPR RI  kepada Mensesneg 22 Januari 2021," tulis DPR dalam keterangannya.

Sebelumnya, Komisi III DPR telah secara bulat menyetujui pengangkatan Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo sebagai calon Kapolri. Semua fraksi sepakat Listyo Sigit adalah sosok yang tepat sebagai pengganti Kapolri Jenderal Pol. Idham Azis.

Persetujuan tersebut kemudian langsung disahkan dalam rapat paripurana pada keesokan harinya, Kamis (21/1).

Komjen Listyo Sigit Prabowo adalah calon tunggal yang disodorkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke DPR. Dia akan menggantikan posisi Jenderal Pol Idham Azis yang segera memasuki masa pensiun pada Februari mendatang.

Listyo adalah pria kelahiran Ambon, Maluku 1969. Sebelum dipilih sebagai calon Kapolri tunggal oleh Presiden Jokowi, alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 itu telah melewati banyak penugasan.

Jenderal bintang tiga itu banyak bertugas di wilayah hukum Polda Jawa Tengah. Pada tahun 2009, dia pernah menjabat sebagai Kapolres Pati dan kemudian menjadi Kapolres Sukoharjo. Listyo juga tercatat sebagai Wakapoltabes Semarang pada 2010 lalu.

Pada tahun 2011, Listyo mendapat promosi dan bertugas sebagai Kapolres Surakarta atau Solo. Kebetulan pada saat itu, Wali Kota Solo dijabat oleh Joko Widodo atau Jokowi, yang kemudian terpilih menjadi presiden saat ini.

Selama bertugas di Solo, Listyo tercatat pernah menangani satu kasus menonjol yakni bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Kepunton, Solo. Peristiwa tersebut, menewaskan pelaku dan melukai 9 orang yang berada di sekitar gereja.

Perjalanan karir Listyo Sigit usai peristiwa itu makin moncer. Dia ditarik ke Bareskrim dan kemudian menjabat Direskrimum Polda Sulawesi Tenggara.

Pada tahun 2014, kedekatan Jokowi dan Listyo berlanjut. Setelah memenangkan pemilu 2014, Jokowi menunjuk Listyo sebagai ajudannya. Listyo pernah menjadi Kapolda Baten dan selanjutnya menjabat Kadiv Propam Mabes Polri. Jabatan terakhirnya adalah Kepala Bareskrim Polri. (pas/cnn/mer)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda