Nasional post authorAju 28 Mei 2021

Siti Fadillah: Dunia Internasional Tunggu Vaksin Immunoteraphy Nusantara Letnan Jenderal TNI Dr dr Terawan Agus Putranto

Photo of Siti Fadillah: Dunia Internasional Tunggu Vaksin Immunoteraphy Nusantara Letnan Jenderal TNI Dr dr Terawan Agus Putranto Dr dr Siti Fadillah Supari

JAKARTA, SP – Mantan Menteri Kesehatan periode 2004 – 2009, Dr Siti Fadilah Supari, mengatakan, dunia internasional tengah menunggu Vaksin Immunoteraphy Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan periode 2019 – 2020 Letnan Jenderal Dr dr Terawan Agus Putranto.

“Vaksin Immunoteraphy Nusantara berbeda dengan vaksin konvensional. Hampir semua negara di dunia, termasuk negara maju, menunggu penggunaan Vaksin Immunoteraphy Nusantara,” kata Siti Fadilah, Jumat, 28 Mei 2021.

Dikatakan Siti Fadilah, di tengah keterbatasan kemampuan vaksin konvensional untuk menghadapi mutasi ratusan Corona Virus Disease-19 (Covid 19), Vaksin Immunoteraphy Nusantara sangat diharapkan menjadi alternatif.

Siti  Fadilah pada Jumat, 12 Mei 2021, barusan diambil darahnya kembali untuk pemeriksaan Laboratorium sesuai agenda penelitian yang ada.

"Sampai saat ini tidak ada efek samping pada saya. Malahan saya merasa lebih sehat dari sebelumnya. Sudah bisa turun naik anak tangga dirumah gak capek," jelas Siti Fadillah Supari.

Siti Fadillah Supari, berharap Terawan bisa segera menyelesaikan uji klinis Vaksin Immonoteraphy Nusantara, agar segera dapat menjadi jalan keluar dalam pandemi Covid- 19 belakangan ini.

Terawan Agus Putranto dalam webinar internasional bertajuk Perang Biologis Pandemi Covid-19: Lessons Learned and Efforts to Reinforce Health Security to Accelerate Covid-19 yang disiarkan kanal Youtube RSPAD Gatot Soebroto, Selasa, 25 Mei 2021, mengatakan, sangat senang.

Senang karena Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, sebagai rumah sakit kepresidenan mampu menunjukkan jati diri dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya membuat dendritic cell vaccine immunotherapy atau Vaksin Immunoteraphy Nusantara.

"Sekarang di seluruh dunia sedang membicarakannya, termasuk terakhir dari New York dan sebagainya, karena sudah terbit jurnal PubMed. Itu isinya adalah dendritic cell vaccine immunotherapy atau Vaksin Nusantara, the begining of the end cancer and Covid-19," ujar Terawan.

"Artinya apa? Dunia sepakat punya hipotesis bahwa yang menyelesaikan hal ini termasuk Covid-19 adalah dendritic cell vaccine immunotherapy atau Vaksin Nusantara," lanjut Terawan Agus Putranto.

Jurnal yang dimaksud Terawan berjudul "Dendritic Cell Vaccine Immunotherapy: the beginning of the end of cancer and COVID-19, A hypothesis". Jurnal sejumlah peneliti, salah satunya adalah Amal Kamal Abdel-Aziz dari Department of Experimental Oncology, European Institute of IRCCS, Milan, Italia.

"Itu sangat safety, karena kita sudah lama berkecimpung dalam pembuatan dendritic cell vaccine immunotherapy itu, dengan tim dokter Nyoto selaku moderator, bersama-sama dengan kita sudah mengembangkannya jauh-jauh hari untuk penanganan kanker," kata Terawan.

"Kita hanya mengubah antigennya menjadi antigen artifisial atau antigen rekombinan Covid-19. Artinya apa? Artinya kita bisa menyesuaikan kapan saja. Mau mutasi kayak apa bisa kita sesuaikan. Dampaknya apa? Ketahanan kesehatan nasional menghadapi pandemi ini bisa kita atasi dengan membuat imunitas yang baik buat setiap warga negara," lanjut Terawan Agus Putranto.

Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Airlangga, Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Prof DR Chairul Anwar Nidom, mengatakan, Vaksin Nusantara digagas Tim Letnan Jenderal TNI Dr dr Terawan Agus Putranto dari RSPAD Gatot Subtoro, Jakarta, mampu mengantisipasi mutasi Covid-19.

"Kalau menggunakan vaksin konvensional maka harus menunggu lebih dari 1 tahun.

Keburu virusnya mutasi lagi. Ini yang menyebabkan vaksin konvensional gagal mengahadapi Covid-19," ujar Prof Dr Chairiul Anwar Nidom, Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Profesor Nidom Foundation (PNF).

Menurut Chaerul Anwar Nidom, untuk menghadapi mutasi virus Covid-19, maka harus segera bisa diikuti dengan penggantian antigennya dalam pembuatan vaksin. Mutasi virus Covid-19 saat ini telah mencapai 200 mutasi.

Tidak mungkin menggunakan vaksin dengan antigen lama untuk menghadapi mutasi virus yang terus-menerus.

Oleh karena itu Nidom menegaskan metode denditrik pada Vaksin Nusantara yang dikembangkan Dr dr Terawan Agus Putranto dari RSPAD Gatot Subroto, sangat signifikan.

"Betul. Vaksin Nusantara yang menggunakan medote denditrik akan menjawab sesuai perkembangan mutasi virus yang bisa berbeda-beda di dalam tubuh. Ini jadi jalan keluar, atas kegagalan vaksin konvensional," ujar Chairul Anwar Nidom.

Chairul Anwar Nidom menjelaskan, kandungan vaksin dendritik adalah sel dendritik yang setiap saat bisa diambil dari plasma.

"Protein antigennya setiap saat bisa diganti menyesuaikan perkembangan virus. Bahan penumbuh sel dendritik, setiap saat bisa dibeli," jelas Chairul Anwar Nidom.

Chairul Anwar Nidom menjelaskan keuntungan penggunaan Vaksin Nusantara adalah untuk penderita komorbit karena dendritik sel masing-masing orang.

“Pasien yang sedang gawat di rumah sakit, karena pembentukan antibodi spesifik bisa langsung setelah disuntikan, tidak menunggu 14 hari dulu," jelas Chaerul Anwar Nidom.

Chairul Anwar Nidom menginngatkan, dengan jumlah penduduk Indonesia terbesar ke-4 di dunia, berarti Indonesia menghadapi resiko terbesar dalam pandemi ini. 

"Seyogyaanya semua potensi anak bangsa khususnya aspek-aspek kesehatan, obat & vaksin, diberi tempat untuk berkembang," tegas Chairul Anwar Nidom. *

Sumber: jawapos.com/antaranews.com/reuters.com

 

Redaktur: Aju

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda