Nasional post authorAju 29 April 2021 31,848

Penembakan 6 Laskar FPI, Komnas HAM Diperalat Munarman

Photo of Penembakan 6 Laskar FPI, Komnas HAM Diperalat Munarman Erizely Bandaro

JAKARTA, SP – Pegiat media sosial, pelaku bisnis dan pengamat politik, Erizely Bandaro, menilai, penangkapan Munarman, Rabu, 27 April 2021, membuktikan Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) diperalat dalam kaitan penembakan hingga tewas 6 laskar Front Pembela Islam (FPI) di kilometer 50 Tol Jakarta – Cikampek, Jakarta, Senin dinihari, 7 Desember 2020.

“Enam laskar FPI, itu, terkait aksi terorisme. Komnas HAM dipengaruhi Munarman, sehingga akhirnya Munarman ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror Polisi Republik Indonesia,” kata Erizely Bandaro, Kamis, 29 April 2021.

Menurut Erizely Bandaro, enam laskar FPI pengawal Mohammad Rizieq Shihab (MRS), berhubungan langsung dengan aksi terorisme, sehingga penangkapan Munarman, mantan Sekretaris FPI, di Perumahan Modern Hills, Cinangka, Kabupaten Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pukul 15.00 WIB, Selasa, 27 April 2021, dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polisi Republik Indonesia (Polri).

Munarman, kemudian MRS yang sudah ditangkap sejak Sabtu, 13 Desember 2020, dan 6 laskar FPI, dalam proses hukum, salah satu aspek dilihat adalah terkait aksi terorisme.

Dalam pemahaman publik, sekarang, Munarman dan MRS ditangkap, salah aspek yang harus dilihat adalah indikasi terlibat jaringan terorisme. Di sini jelas, publik paham Komnas HAM diperalat Munarman di dalam melakukan investigasi. Ini membuat kesimpulan Komnas HAM, memojokkan Polri sebelumnya.

Erizely Bandaro mengatakan, Polri melakukan penyelidikan menyeluruh. Ada tiga aspek yang mesti dilihat dari dalam penembakan 6 laskar FPI, Senin dihinari, 7 Desember 2020. Penembakan 6 laskar FPI, membuat moral MRS jatuh, sehingga ditangkap Sabtu, 13 Desember 2020.

Pertama, siapa yang memerintahkan pengawalan MRS. Kedua, siapa yang mempersenjantai laskar itu? Ketiga, bagaimana proses sebenarnya baku tembak terjadi.

Namun karena provokasi dari Munarman, Komnas HAM datang merecoki, sehingga semua penyidikan hanya berfokus kepada proses baku tembak. 

Rekomendasi Komnas HAM menyimpulkan telah terjadi pelanggaran HAM dalam insiden tewasnya 6 laskar FPI.

Komnas HAM menyatakan bahwa ada dua konteks berbeda terkait tewasnya 6 laskar FPI. Dengan itu, kemudian inisiatif Amiens Rais, dan kawan-kawan, membentuk Tim Pencari Fakta. Amien Rais ditunjuk menjadi Ketua Tim Pencari Fakta.

“Lagi-lagi Tim Pencari Fakta dikomandani Amies Rais, fokus kepada proses baku tembak. Tanpa melihat hal pertama dan kedua,  sebagai pemicu terjadinya baku tembak. Media massa, hanya fokus memberitakan baku tembak itu saja,” kata Erizely Bandaro.

Tapi setelah proses investigasi Komnas HAM dan Tim Pencari Fakta, menyimpulkan agar mengusut aparat yang melakukan pelanggaran prosedur, Polri  bergerak cepat.

“Masalah pertama dan kedua, mulai diselidiki,” ujar Erizely Bandaro. 

Dikatakan Erizely Bandaro, semua bukti didapat Polri untuk memastikan pertama dan kedua ada pihak yang terlibat, yaitu Munarman.

“Ternyata kasus kematian 6 laskar FPI memang design aksi terorisme. Kasus  terorisme tidak masuk ranah Komnas HAM. Atas dasar bukti itu, Densus 88 Antiteror Polri, bergerak, menangkap Munarman,” ungkap Erizely Bandaro.

“Dengan tertangkapnya Munarman, Selasa, 27 April 2021, maka siapa yang dipermalukan? Ya, Komnas HAM, ya Tim Pencari Fakta dari Kelompok Amien Rais. Secara tidak langsung, terutama Komnas HAM, tidak melakukan tugasnya dengan benar dan bersikap tidak objektif atas tugas yang diemban. Padahal itu tugas undang-undang,” tambah Erizely Bandaro.*

Sumber: fb erizely bandaro

 

Wartawan: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda