Nasional post authorAju 30 Maret 2021 21,656

Bom Makassar: Bahrun Naim, Chairman of ISIS Indonesia, Malaysia and the Philippines

Photo of Bom Makassar: Bahrun Naim, Chairman of ISIS Indonesia, Malaysia and the Philippines Bahrun Naim yang tewas ditembak militer Amerika Serikat di Suriah, 8 Juni 2018.

JAKARTA, SP – Kepala Polisi Republik Indonesia, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, menyebut jaringan Jamaah Ansharut Daullah (JAD) Philipina (Philipines) Selatan, berada di balik pengeboman halaman depan pintu Gerbang Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Minggu siang, 28 Maret 2021.

Menurut Listyo Sigit Prabowo, JAD Makassar, terlibat aksi teror bom Gereja Katedral Our Lady of Mount Carmel di Jolo di wilayah Mindanao, Philipina Selatan, menewaskan 22 jemaah dan melukai setidaknya 100 selama Misa Minggu, 27 Januari 2019.

The Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan itu tetapi pihak berwenang di Indonesia dan Filipina, yakin serangan itu dilakukan pasangan warga negara Indonesia, Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh, keduanya adalah anggota JAD Makassar.

JAD Makassar berada di balik serangkaian pemboman bunuh diri di Pasar Sarinah, Jakarta, Selasa, 14 Januari 2016, di gereja-gereja di Surabaya dan Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, 13 – 14 Mei 2018, menewaskan 13 orang jemaah.

JAD Makassar, di samping terkait terorisme di Philipina Selatan, terlibat pula di Malaysia, melalui seorang figur bernama Bahrun Naim.

Bahrun Naim mengakar

Praktis, Bahrun Naim, sempat menjadi tokoh penting ISIS di tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Philipina Selatan, sebelum tewas ditembak mati militer Amerika Serikat di Suriah, 8 Juni 2018.

Kendati sudah ditembak mati tahun 2018, jaringan JAD yang sempat dimotori Bahun Naim, masih mengakar di Indonesia, Malaysia dan Philipina. JAD Makassar dengan menempatkan bentukan Bahrun Naim sebagai salah satu tokoh penting, selalu dikaitkan dengan sejumlah aksi teror bom di Phlilipina Selatan.

Bahrun Naim lahir di Pekalongan,  6 September 1983 dan besar di Pasar Kliwon. Ia adalah lulusan program D-3 Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret. Naim juga diketahui membuka bisnis warung internet atau warnet. Dan bisnis online pernak-pernik Islam.

Naim sering dikaitkan dengan kelompok jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso alias Abu Wardah yang diketahui telah berbaiat ke The Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Bahrun Naim  merupakan orang yang menggugah video kelompok jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) melalui akun facebook yang bernama Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo.

Pemerintah Indonesia, Malaysia dan Philipina mengetahuui sepak terjang Bahrun Naim setidaknya sejak 2010. Pada saat itu, tanggal 9 November 2010, Bahrun Naim ditangkap Detasemen Khusus Anti Teror 88 karena menyimpan 533 butir peluru laras panjang kaliber 7.62 mm, dan 31 butir peluru kaliber 9 mm.

Bahrun Naim mengaku, ratusan butir peluru tersebut merupakan titipan Purnama Putra alias Ipung alias Usamah alias Tikus alias Rizky. Ipung diketahui memiliki jaringan dengan Jamaah Islamiyah (JI) dan Noordin M Top (Malaysia).

Atas perbuatannya tersebut, Bahrun Naim diputuskan bersalah oleh Pengadilan Negeri Surakarta dan dijatuhi hukuman penjara selama 2 tahun.

Ipung diketahui saat ini menjadi staff pengajar di salah satu Universitas di bilangan Jakarta Selatan. Ipung bekerja sebagai staff Detasemen Khusus (Densus), semenjak Suryadarma menjabat menjadi kepala Densus.

Polisi Republik Indonesia (Polri) menyebut,  Bahrun Naim merupakan orang yang mentransfer dana yang digunakan dalam pengembangan dan aksi pada serangan di Pasar Sarinah, Jakarta, 14 Januari 2016.

Hal ini terungkap setelah Polisi Republik Indonesia menangkap sosok yang menerima dana transfer dari Bahrun Naim. Penangkapan ini dilakukan Kepolisian dalam aksi perburuan teroris sesaat setelah aksi teror di Jakarta dilakukan.

Dilaporkan, Bahrun Naim pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS pada tahun 2014 dan hingga saat ini dianggap masih di Suriah dan tinggal di Ragga.

Bahrun Naim diketahui memiliki blog dan rajin menuliskan pemikiran dan pengalamannya di blog tersebut. Salah satu blog yang dimiliki Bahrun Naim, adalah www.bahrunnaim.site dan www.bahrunnaim.co yang saat ini sudah tidak aktif.

Namun diketahui, terdapat web lain www.bahrunnaim.website yang menyerupai web-web sebelumnya. Pada salah satu bagian, Bahrun Naim, menceritakan perjuangannya sampai ke tanah Suriah.

Pada tulisannya yang lain, Bahrun Naim, membuat analisis dari serangan di Paris, Perancis yang menewaskan 130 orang pada 13 November 2015.

Tulisan itu berjudul “Pelajaran dari Serangan Paris” yang dipublikasikan pada 15 November 2015, hanya terpaut dua hari dari serangan bom di Paris, 13 November 2015.

Di blognya Bahrun Naim, menyebut serangan itu menakjubkan, juga inspiratif. Saat pergi ke Suriah, Bahrun Naim membawa satu anak dan dua orang istrinya. Saat itu, istri mudanya pergi dalam kondisi hamil.

Bahrun Naim terbunuh dalam serangan udara militer Amerika Serikat pada 8 Juni 2018, ketika mengendarai sepeda motor di Ash Shafa, Suriah, sekitar dua tahun setelah pasukan kontra-teror mulai melacaknya.

Islamisme global

Khusus di Indonesia, pegiat media sosial, pelaku bisnis dan pengamat politik, Erizeli Bandaro, dalam Erizeli.literalisme.com, Senin, 10 Februari 2020, berjudul: “Islamisme dan Kolonialisme”, kehidupan masyarakat Islam di Indonesia, memiliki cerita panjang.

“Banyak orang menilai saya membenci Islam karena tulisan saya. Sebetulnya itu salah pengertian. Mereka yang menganggap saya membenci Islam karena saya tidak terpengaruh dengan narasi Islam dari golongan mereka.”

“Saya tetap focus kepada nilai-nilai Islam yang saya yakini. Bahwa Islam itu mengajarkan cinta dan kasih sayang. Memang banyak Literatur Islam yang mendidik orang untuk berjuang menegakkan Syiar Islam.”

“Namun saya menilai perjuangan menegakan syariah islam bukan pada politisasi agama untuk lahirnya sistem politik Islam. Mengapa?”

Karena bagi saya , Sistem Islam itu ada dalam diri pribadi orang Islam yang beriman dan melaksanakan rukun Islam. Selebihnya adalah akhlak,” kata Erizeli Bandaro. 

Soal akhlak adalah yang utama daripada fikih dan syariah. Artinya siapapun boleh saja menafsirkan Al Quran dan Hadith, untuk menjadi referensi bersikap.

Namun kalau tafsir dan pengetahuan syariah itu tidak mendidik orang meningkatkan nilai-nilai Islam, bahkan menjadikannya pembenci terhadap yang berbeda, sebaiknya utamakan akhklak saja.

Abdurahman bin Qasim, seorang pelayan Imam Malik bin Anas, menuturkan kesaksiannya selama menjadi pelayan beliau. Kata Abdurrahman, “Tidak kurang dua puluh tahun aku menjadi pelayan Imam Malik. Selama 20 tahun tersebut, aku perhatikan beliau menghabiskan 2 tahun untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari akhlak.”

Imam malik dan para ulama yang baik lainnya, selalu menjaga kualitas akhlaknya. Akhlak kepada Allah, Rasul, dan sesamanya. Ketinggian derajat, pencapaian ilmu yang mendalam, dan kebesaran wibawa, tidak membuat mereka merasa lebih mulia dan lebih baik baik dari orang lain.

Meletakkan akhlak di atas ilmu menjadi tanggungjawab umat Islam. Karena Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; yang lemah lembut tidak pernah menyakiti orang. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum dia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri dan sebelum tetangganya aman dari gangguannya.”

Wahabi gerakan sektarian

Di sisi lain, ujar Erizeli Bandaro, akhlak yang buruk dapat melenyapkan amal. Banyak hadits yang menerangkan terhapusnya amal karena akhlak yang buruk.

Mengapa banyak gerakan pembaruan Islam dengan niat meninggikan syiar Islam justru menjauhkan merek dari akhlak yang baik?

Justru karena akhlak buruk membuat umat islam jadi puritan, tertinggal dalam bidang sains dan tekhnologi. Tertinggal dalam pemikiran kemajuan peradaban yang terus berubah.

“Ini karena pemahaman Islam dilembagakan dalam bentuk organisasi gerakan, yang melahirkan ekslusifitas dalam segala hal, dan memandang sinis terhadap orang lain yang berbeda walau dia Islam sekalipun.”

“Inilah yang disebut politisasi agama. Beragama dengan nafsu, bukan ikhlas. Apapun motif nya tetap saja itu akhlak yang buruk. Walau katanya ilmu luas tetapi menggenggam bara di tangan, yang berpotensi melakukan pelanggaran terhadap nilai Islam,” tulis Erizeli Bandaro.

Sejarah lahirnya radikalisme dalam islamisme tidak bisa dilepaskan dari peran kolonialisme, baik penyebabnya maupun yang memanfaatkanya. Ia menjadi produk politik dan korban politik.  Di antaranya wahabi.

Wahabi berasal dari pemikiran Muhammad bin Abdul-Wahhab (1703-1792), yang melahirkan gerakan Wahabi.  

Pendukung aliran ini percaya bahwa gerakan mereka adalah "gerakan reformasi" Islam untuk kembali kepada "ajaran monoteisme murni", kembali kepada ajaran Islam sesungguhnya, yang hanya berdasarkan kepada Qur'an dan Hadis, bersih dari segala "ketidakmurnian" seperti praktik-praktik yang mereka anggap bid'ahsyirik dan khurafat.

Wahhabi adalah gerakan sectarian. Karena dalam perkembangannya ternyata Wahhabi dimanfaatkan Inggris untuk tujuan merebut pengaruh dan kolonisasi Dinasti Islam Turki Utsmaniyyah di Timur Tengah.

Hal tersebut tidak lepas dari perjalanan hidup Ibnu Abdul-Wahhab . Ketika ia berada di Basra, Irak, maka Ibnu Abdul Wahhab jatuh dalam pengaruh dan kendali seorang mata-mata Inggris, Hempher, yang sedang menyamar.

Hempher punya missi menghancurkan pengaruh Kekhalifaan Utsmaniyyah di Timur Tengah dan menciptakan konflik di antara kaum Muslim.

Hempher, berhasil mencuci otak Ibnu Abdul-Wahhab dengan meyakinkannya bahwa orang-orang Islam mesti dibunuh, karena mereka telah keluar dari prinsip-prinsip Islam yang mendasar.

“Mereka semua telah melakukan perbuatan-perbuatan bidaah dan syirik,” tulis Erizeli Bandaro.

Hempher dan Ibnu Abdul Wahhab

Hempher juga menciptakan mimpi liar dan mengatakan bahwa dia bermimpi Nabi Muhammad SAW mencium kening (di antara kedua mata) Ibnu Abdul-Wahhab.

Hempher sebut Ibnu Abdul Wahhab akan jadi orang besar, dan meminta kepadanya untuk menjadi orang yang dapat menyelamatkan Islam dari berbagai bidah dan takhayul.

Akhirnya, setelah kembali ke Najd, Ibnu Abdul-Wahhab mulai berdakwah dengan gagasan liarnya di Uyayna.

Karena itu, akhirnya Ibnu Abdul Wahhab disusir dari tempat kelahirannya. Kemudian Ibnu Wahhab pergi berdakwah di dekat Dir’iyyah, di mana sahabat karibnya, Hempher dan beberapa mata-mata Inggris lainnya yang ada dalam penyamaran, ikut bergabung dengannya.

Sebetulnya banyak pihak yang menentang ajaran Ibnu Abdul-Wahhab yang keras dan kaku itu, termasuk ayah kandungnya sendiri dan saudaranya, Sulaiman Ibnu Abdul-Wahhab.

Namun dengan uang, mata-mata Inggris telah berhasil membujuk Syekh Dir’iyyah, Muhammad Saud, untuk mendukung Ibnu Abdul-Wahhab.

Akhirnya, pada tahun 1744, Saud  dan Ibnu Abdul-Wahhab membangun sebuah aliansi politik, agama, dan perkawinan.

Wahabi sampai ke Sumatera Barat

Ketika itu paham Wahabi sampai masuk ke Sumatera Barat, yang memang sengaja dibiarkan berkembang oleh Belanda dengan tujuan mengadu domba antara umat Islam, khususnya Islam dari kaum adat. Maksudnya, agar gerakan Islam melemah

Di Arab Saudi sendiri aliansi Wahhab - Saud melahirkan aksi kekerasan terhadap paham Islam lainnya, yang  tentu menimbulkan kemarahan kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk Kekhalifaah Utsmaniyyah di Istanbul.

Sebagai penguasa yang bertanggung jawab atas keamanan Jazirah Arab, Khalifah Mahmud II memerintah sebuah angkatan perang Mesir dikirim ke Jazirah Arab untuk menghukum klan Saudi-Wahabi.

Akhirnya Sulaiman Ibnu Abdul-Wahhab dan Muhammad Saud ditangkap. Tapi Wahabi tidak runtuh.

Ternyata beberapa anggota Arab Saudi-Wahabi sudah mengatur untuk melarikan diri; di antara mereka adalah Imam Abdul-Rahman al-Saud dan putranya yang masih remaja, Abdul-Aziz.

Dengan cepat keduanya melarikan diri ke Kuwait yang dikontrol kolonial Inggris. Ketika di Kuwait, Abdul-Rahman dan putranya, Abdul-Aziz memohon uang, persenjataan dan bantuan kepada Inggris untuk merebut kembali Riyadh.

Pada 1902, akhirnya Abdul-Aziz, si Imam Wahabi berhasil merebut Riyadh. Salah satu tindakan biadab Imam baru Wahabi, ini, menteror penduduk dengan memaku kepala al-Rasyid pada pintu gerbang kota. Abdul-Aziz dan para pengikut fanatik Wahabijuga membakar hidup-hidup 1.200 orang sampai mati.

Dihancurkan Inggris
Begitulah sejarah, melalui strategi licin, kolonial Inggris dengan cepat menghancurkan Kekhalifaan Islam Utsmaniyyah dan sekutunya klan al-Rasyid secara menyeluruh. Kolonial Inggris pun memberi dukungan kepada Imam baru Wahabi, Abdul-Aziz.

Imam Wahabi, Abdul-Aziz, yang dikenal di Barat sebagai Ibnu Saud ini, juga adalah loyalis Inggris. Itu karena Inggris mendukungnya dengan uang, senjata, dan para penasihat.

Berangsur-angsur Imam Abdul-Aziz dengan bengis dapat menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab di bawah panji-panji Wahabisme untuk mendirikan Kerajaan Saudi-Wahabi ke-3, kini disebut “Kerajaan Saudi Arabia”.

Pengaruh dan ajaran wahabi salafi ini berkembang terus sampai sekarang, menyebar keseluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Amerika Serikat melalui Central Inteligence Agency (CIA) pertama kali bersekutu dengan Islam ekstremis selama era Perang Dingin. Saat itu, Amerika melihat dunia dalam istilah yang agak sederhana: di satu sisi, Union of Soviet Socialist Republic (USSR) dan nasionalisme dunia ketiga, yang Amerika anggap sebagai alat Soviet.

Di sisi lain, negara-negara Barat dan Islam politik militan, yang dianggap Amerika sebagai sekutu dalam perjuangan melawan Uni Soviet.  Direktur Badan Keamanan Nasional di bawah Ronald Reagan, Jenderal William Odom mengatakan, "Dengan ukuran apa pun Amerika Serikat, telah lama menggunakan terorisme untuk mencapai tujuan geopolitik dan geostrategisnya.” 

IM dan Central Inteligence Agency

Selama tahun 1970-an, CIA menggunakan Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir sebagai penghalang, baik untuk menghalangi ekspansi USSR dan mencegah penyebaran ideologi Marxis di kalangan massa Arab.

Ikhwanul Muslimin sampai dimanfaatkan Amerika Serikat, karena mudah menunggangi gerakan Islam dengan memanfaatkan radikalisme ini.

Karena muncul paham radikal atau tepatnya islamisme, karena penolakan ideologi sekular yang dibawa oleh Barat melalui kolonialisme. Memang setelah jatuhnya Khilafah Ustmani, semua wilayah Timur Tengah yang tadinya dibawah khilafah Ustmani diambil oleh kolonial Barat.

Masing masing wilayah dibagi bagi diantara sekutu yang menjatuhkan Ustmani. Pihak Barat sebagai kolonial memperlakukan penduduk lokal secara tidak adil. Tetapi bukan hanya soal ketidak adilan.

Karena waktu di bawah Ustmani ketidak adilan tetap ada. Yang jadi masalah adalah mereka tidak ingin diperlakukan tidak adil oleh penguasa yang bukan islam, dan dipimpin dengan sistem yang tidak sesuai dengan syariat islam. Solusi keadilan bagi umat islam, hanya satu, yaitu khilafah. 

Dari sinilah lahir gagasan untuk membangun kekuatan umat islam , dan sekaligus melawan penguasa dengan narasi yang sama. Apapun paham tentu lahir dari pemikiran manusia.

Kapitalisme karena Adam Smith. Komunisme dan sosialisme karena pemikiran Karl Marx, Paham nasionalisme lahir dari Joseph Ernest Renan.

Radikalisme Islam ini lahir dari dua tokoh pada awal abad 19. Yaitu Hasan Al Banna dan Sayyid Qutb. Namun sebetulnya Banna tidak pernah mengajarkan radikalisme. Dia lebih cenderung moderat.

Cara berjuangnya lebih kepada pendekatan sosial dan ekonomi. Hasan al Banna menggunakan motedologi pencerahan. Agar menjangkau masyarakat luas, tahun 1928 dia mendirikan Ikhwan Al Muslimin (IM). 

Awal kebangkitan IM memang tidak ada riak yang sehingga menimbulkan kecurigaan oleh penguasa. Namun setelah IM berkembang besar sebagai Ormas, maka timbulah niat untuk mendirikan partai.

Alasannya, ingin merebut kekuasaan untuk menjalankan sistem Islam. Tujuannya untuk sistem partai dan mengarahkan komunitas politik pada satu arah yaitu interpretasi teologis teks-teks Islam.

Dalam pandangan Al Banna, sebuah sistem partai politik berbahaya, penyebab perselisihan dan kejahatan dalam masyarakat, dan mengancam jalinan masyarakat Islam. Karenanya perlu kekuasan Islam, untuk  menghacurkan sistem sekular, yang bertumpu kepada partai.

Tujuan akhirnya adalah menghidupkan kembali sistem khilafah yang  pernah berjaya di Era Dinasti Ustmani. Namun cara cara Banna tidak bisa instan. Butuh waktu dan proses, perubahan slow motion. 

Sayyid Quth muncul

Kemudian muncullah Sayyid Qutb. Pemikirannya tertuangkan dalam bukunya Ma’aalim al-tariq. Buku ini menjadi rujukan semua ulama IM.

Dalam buku ini Sayyid Quth menyerang nasionalisme Mesir dan Arab, sosialisme, dan rezim Naser yang menurutnya menggabungkan semua ide yang sesat itu.

Jelas IM menentang semua paham di luar Islam. Tentu ada dasar pemikiran ini, tetapi sebetulnya lebih karena  pengalamannya waktu kuliah di Amerika Serikat selema 2,5 tahun.

Sayyid Quth melihat fakta kehidupan keseharian masyarakat Amerika Serikat, seperti tingginya konsumerisme, diskriminasi seksual, dan pergaulan bebas, yang menurutnya mengikuti budaya Jahiliyah.

Sayyid Qutb bergabung di IM setelah dia pulang dari AS tahun 1951. Setiba di Mesir, tidak butuh lama dia sudah menjadi tokoh penting dalam struktur IM.

Dalam periode 1951-1954, Sayyid Qutb menjadi salah satu anggota dewan pimpinan IM dan ia menyebarkan pemikiran radikal di tengah aktivis IM.

Sayyid Quth memandang bahwa pemerintah Mesir tidak Islami, jahiliyah, sehingga harus dilawan agar mau menerapkan sistem Islam dalam pemerintahan.

Kritikan-kritikan terbuka yang dilakukan Qutb membuatnya ditahan pada tahun 1954 dan divonis 25 tahun penjara atas tuduhan makar. 

Hukuman itu hanya dilaluinya selama 10 tahun. Tahun 1964 dia dibebaskan. Namun setahun kemudian dia ditangkap lagi oleh Rezim Naser. Tahun 1966 dia dihukum mati.

Meskipun Sayyid Qutb sudah tiada, pemikirannya terus diduplikasi berbagai kelompok radikal di Mesir. Pada tahun 1970-an muncullah beberapa kelompok militan Islam yang terinspirasi dari pemikiran radikal Sayyid Qutb tentang takfirisme. Kelompok yang paling menonjol itu adalah Saleh Sirriyya, seorang Palestina.

Paham takfirisme

Erizeli Bandaro, menulis, paham takfirisme ini adalah menganggap siapapun kafir kalau dia mendukung rezim yang tidak sesuai dengan Syariat Islam menurut versi mereka. Tentu tidak semua pengikut IM setuju dengan paham Takfirisme ini.

Tahun-tahun  inilah Amerika Serikat memanfaatkan mereka menggulingkan rezim yang pro USSR. Tentu sebelumnya Amerika Serikat, belajar dari Inggris yang memanfaatkan Wahabi untuk menjatuhkan kekuasaan Turki Ustmanni di Arab. 

IM secara tidak langsung dimanfaatkan oleh Agen Barat (Inggris) guna menekan pendudukan wilayah Palestina yang diinisiasi Amerika Serikat. 

Karena bagaimanapun pihak Barat tidak ingin keberadaan Israel bisa menjadi proxy Amerika Serikat untuk menguasai Timur Tengah.

Sebagaimana diketahui, Israel dideklarasikan tahun 1948 dengan berlandaskan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1947 yang memberikan sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara khusus Yahudi.

Menurut IM, Israel adalah entitas yang didukung oleh semua kekuatan anti-Islam. Di saat yang sama, pandangan ini juga didukung oleh para ulama mainstream.

 Misalnya ulama Al Azhar, ‘Ali Jadd al Haqq, menyatakan bahwa kekuatan kolonial yang pernah menjajah negara-negara Arab masih ingin meneruskan penjajahan mereka dan melalui tangan Zionisme internasional, negara- negara Arab terus dipecah-belah. 

Pembelaan terhadap Palestina dan perlawanan terhadap Amerika Serikat yang mendukung Israel pun menjadi salah satu isu utama yang berperan penting dalam rekrutmen IM. Adanya issue soal Palestina.

Di sini IM mendapatkan narasi baru dan lebih luas memperjuangkan konsep islamisme. Pada tahun 1948, IM menggalang dana, membeli senjata, mendirikan kamp militer, dan mengirimkan petempur untuk berperang melawan Israel.

Dan di saat yang sama, anggota IM membesar hingga lebih dari setengah juta orang. Isu Palestina pula yang akhirnya membuat Pemerintah Mesir memutuskan untuk membubarkan IM. Khawatir ini akan menjatuhkan pemerintah Mesir.

Sebagai respon, militan IM menembak Perdana Menteri Mahmoud Fahmi Nuqrashi. Rezim Mesir pro USSR membalasnya dengan memerintahkan pembunuhan terhadap pemimpin IM, Hasan Al Banna pada Februari 1949. 

Peristiwa ini disusul berbagai aksi kekerasan lainnya dan ribuan aktivis IM kemudian dipenjarakan.

Presiden Mesir Anwar Sadat dibunuh

Namun tidak membuat IM melemah. Malah semakin militan mereka. Bahkan di rezim Presiden Mesir, Anwar Sadat, IM semakin solid. Kehebatan militansi IM, melahirkan inspirasi lahirnya banyak kelompok radikal.

Presiden Anwar Sadat kemudian tewas dibunuh anggota militer Mesir yang menjadi anggota kelompok radikal ‘Al Jihad’, 6 Oktober 1981. Itu salah satu buah dari ispirasi dari IM.  

Dalam gelombang Arab Spring, kekuatan IM berhasil naik ke puncak pemerintahan Mesir, dengan terpilihnya Mohammad Morsi sebagai presiden pada 30 Juni 2012. Namun, hanya selang setahun, ia digulingkan dalam aksi-aksi demo anti IM yang didukung militer.

Pada 3 Juli 2013, Mohammad Morsi dipaksa mundur dan pemerintahan Mesir kini berada di tangan Jenderal Al Sisi yang kemudian melakukan berbagai aksi represif terhadap aktivis IM.  Menghukum mati Morsi dan jajaran petinggi IM. 

Sebagaimana di ketahui rezim Al Sisi didukung oleh Amerika Serikat. Amerika Serikat di balik kejatuhan Mohammad Morsi, karena ketika berkuasa tidak mau menerima agenda Amerika Serikat.

Namun begitu pemikiran IM terus tersebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia, seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Al Qaeda dan Osama bin Laden

Setelah Hasan Al Banna dan Sayyid Qutb meninggal dunia pemikiran IM terus hidup di tengah pengikutnya. Justru kondisi ini semakin meradikalisasi aktivis IM.

Banyak di antara mereka yang kemudian bergabung dengan kelompok- kelompok ekstrimis Islam, tentu juga membawa pemikiran IM untuk melahirkan gerakan radikalisme. Seperti halnya al-Qaida yang didirikan oleh Osama bin Laden. Osama bin Laden juga terinspirasi oleh IM. 

Saat kuliah di King Abdul Aziz university di Jeddah, Arab Saudi, Osama bin Laden, selalu menghadiri ceramah Muhammad Qutb, saudara laki-laki Sayyid Qutb, yang menyebarkan pemikiran radikal Qutb, yaitu melakukan perlawanan revolusioner atau jihad untuk menegakkan Islam.

Osama bin Laden juga mendapatkan inspirasi dari Abdullah Azzam, aktivis IM Yordania,  yang diidentikasikan oleh beberapa ahli sebagai arsitek intelektual jihad melawan pendudukan Soviet 1979-1989 di Afghanistan.

Central Inteligence Agency Amerika Serikat, melahirkan Osama Bin Laden dan menyusui organisasinya selama tahun 1980-an. Mantan Menteri Luar Negeri Inggris, Robin Cook, mengatakan kepada House of Commons bahwa Al Qaeda tidak diragukan lagi adalah produk dari agen intelijen Barat.

Robin Cook menjelaskan bahwa Al Qaeda, yang secara harfiah berarti singkatan dari "basis data" dalam bahasa Arab, pada awalnya merupakan basis data komputer dari ribuan ekstrimis Islam, yang dilatih oleh CIA dan didanai oleh Saudi, untuk mengalahkan Rusia di Afghanistan.

Hal ini terkonfirmasi pada oktober 2012, pemimpin Al Qaeda pasca tewasnya Osama bin Laden, Ayman Al Zawahiri, menyebarluaskan pesan video yang berisi pernyataan bahwa Bin Laden adalah anggota IM cabang Arab Saudi.

Makanya anggota IM Saudi-lah yang terbanyak bergabung saat Abdullah Azzam menyerukan jihad di Afghanistan.

Hubungan Amerika dengan Al Qaeda selalu menjadi hubungan cinta-benci. Bergantung pada apakah kelompok teroris Al Qaeda tertentu di wilayah tertentu lebih jauh dari kepentingan Amerika atau tidak, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mendanai atau secara agresif menargetkan kelompok teroris itu.

Bahkan ketika para pembuat kebijakan luar negeri Amerika mengklaim menentang ekstremisme Muslim, mereka secara sadar menjadikannya sebagai senjata kebijakan luar negeri.

ISIS mesin teror Amerika Serikat

Contoh ISIS adalah mesin teror Amerika Serikat, seperti halnya Al Qaeda, tentu saja akhirnya menjadi bumerang. ISIS bagian rankaian cara CIA memanfaatkan radikalisme Islam.

Maklum, Invasi Amerika dan pendudukan Irak tahun 2003 menciptakan prasyarat bagi kelompok-kelompok Sunni radikal, seperti ISIS, untuk berakar. Amerika Serikat, agak tidak bijaksana, menghancurkan mesin negara sekuler Saddam Hussein dan menggantinya dengan pemerintahan mayoritas Syiah.

Pendudukan Amerika Seerikat menyebabkan pengangguran besar di wilayah Sunni, dengan menolak sosialisme dan menutup pabrik dengan harapan naif bahwa tangan ajaib pasar bebas akan menciptakan lapangan kerja. 

Di bawah rezim Syiah baru yang didukung Amerika Serikat, kelas pekerja Sunni kehilangan ratusan ribu pekerjaan.

Tidak seperti Afrikaner kulit putih di Afrika Selatan, yang diizinkan untuk menjaga kekayaan mereka setelah perubahan rezim, kelas atas Sunni secara sistematis kehilangan aset mereka dan kehilangan pengaruh politik mereka.

Alih-alih mempromosikan integrasi dan persatuan agama, kebijakan Amerika di Irak memperburuk perpecahan sektarian dan menciptakan lahan subur subur bagi ketidakpuasan Sunni, dari mana Al Qaeda di Iraq berakar dan melahirkan ISIS.

Dulu sebelum 2010, ISIS adalah al-Qaida di Iraq. Setelah 2010 kelompok itu mengubah citra dan memfokuskan kembali upayanya pada Suriah.

Pada dasarnya ada tiga perang yang dilakukan di Suriah: satu antara pemerintah dan pemberontak, satu lagi antara Iran dan Arab Saudi, dan satu lagi antara Amerika dan Rusia.

Ini adalah pertempuran ketiga, Perang neo - Perang Dingin yang membuat pembuat Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat memutuskan untuk mengambil risiko mempersenjatai pemberontak Islam di Suriah, karena Presiden Suriah, Bashar al-Assad, adalah sekutu penting USSR yang sejak 25 Desember 1991 berubah menjadi Federasi Rusia.

Agak memalukan, banyak dari pemberontak Suriah, sekarang ternyata adalah penjahat ISIS, yang secara terbuka mengacungkan senapan serbu M16 buatan Amerika Serikat. Kebijakan Timur Tengah Amerika Serikat, berputar di sekitar minyak dan Israel.

Invasi ke Iraq telah memuaskan sebagian kehausan Washington akan minyak, tetapi serangan udara yang berkelanjutan di Suriah dan sanksi ekonomi terhadap Iran ada hubungannya dengan Israel.

Tujuannya adalah untuk menghilangkan musuh-musuh tetangga Israel, Hizbullah Libanon dan Hamas Palestina, dari dukungan penting Suriah dan Iran.

ISIS bukan sekadar alat teror yang digunakan Amerika untuk menggulingkan pemerintah Suriah; itu juga digunakan untuk menekan Iran. 

Iran bukan ancaman Amerika Serikat

Terakhir kali Iran menginvasi negara lain adalah pada tahun 1738. Sejak kemerdekaan pada tahun 1776, Amerika Serikat, telah terlibat dalam lebih dari 53 invasi dan ekspedisi militer.

Terlepas dari apa yang diteriakkan oleh perang media Barat yang diyakini. Iran jelas bukan ancaman bagi keamanan kawasan, Washington tetap melakukannya.

Sebuah Laporan Intelijen diterbitkan pada 2012, yang didukung oleh enam belas badan intelijen Amerika Serikat, menegaskan bahwa Iran mengakhiri program senjata nuklirnya pada tahun 2003.

Kebenarannya adalah, ambisi nuklir Iran mana pun, nyata atau yang dibayangkan, adalah akibat dari permusuhan Amerika terhadap Iran, dan tidak sebaliknya.

Amerika Serikat, menggunakan ISIS dalam tiga cara: untuk menyerang musuh-musuhnya di Timur Tengah, untuk bertindak sebagai dalih bagi intervensi militer Amerika Serikat di luar negeri, dan di rumah untuk menimbulkan ancaman domestik yang dibuat, digunakan untuk membenarkan perluasan pengawasan domestik invasif yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dengan secara cepat meningkatkan kerahasiaan dan pengawasan pemerintah, pemerintahan Obama meningkatkan kekuatannya untuk mengawasi warganya, sementara mengurangi kekuatan warganya untuk mengawasi pemerintah mereka. Terorisme adalah alasan untuk membenarkan pengawasan massa, dalam persiapan untuk pemberontakan massal. 

Apa yang disebut "perang melawan teror" harus dilihat apa adanya: dalih untuk mempertahankan militer Amerika Serikat yang terlalu besar dan berbahaya.

Dua kelompok paling kuat dalam pembentukan kebijakan luar negeri Amerika Serikat adalah lobi Israel, yang mengarahkan kebijakan Timur Tengah Amerika Serikat, dan Kompleks Industri-Militer, yang diuntungkan dari tindakan-tindakan kelompok sebelumnya.

Sejak George W. Bush mendeklarasikan "perang melawan teror" pada Oktober 2001, pembayar pajak Amerika harus membayar sekitar 6,6 triliun dolar dan ribuan putra dan putri yang jatuh; tetapi, perang juga telah menghasilkan miliaran dolar bagi elit militer Washington. 

Faktanya, lebih dari tujuh puluh perusahaan dan individu Amerika telah memenangkan hingga $27 miliar dalam kontrak untuk bekerja di Irak dan Afghanistan pascaperang selama tiga tahun terakhir, menurut sebuah studi baru-baru ini oleh Pusat Integritas Publik.

Menurut penelitian, ujar Erizeli Bandaro, hampir 75 persen dari perusahaan swasta ini memiliki karyawan atau anggota dewan, yang baik melayani, atau memiliki hubungan dekat dengan, cabang eksekutif pemerintahan Republik dan Demokrat, anggota Kongres, atau tingkat tertinggi dari militer.

Semua aktifis IM sudah bermetamorfosa menjadi berbagai gerakan dan kelompok. Itu karena CIA menjadikan mereka proxy dengan memberikan dana dan senjata, termasuk ISIS.

Namun Amerika Serikat, tidak segan segan menghabisi mereka bila terjadi pembelotan terhadap agenda Amerika Serikat di Timur Tengah. ISIS kini sudah musnah, namun kapanpun Amerika Serikat bisa kembali menghidupkan ISIS, bila kepentingannya terancam di Iraq atau Suriah.

IM jadi Partai Keadilan Sejahtera   

Secara umum, islamisme di Indonesia dalam bentuk PKS.

Bukti PKS sangat dekat dengan kampanye terorisme internasional sudah terdengar sejak lama. Politisi semacam Anis Matta, misalnya, tidak sungkan memuji gerakan terorisme Osama bin Laden dalam bentuk puisi tahun 2001.

Anis Matta yang pernah menjabat Presiden PKS, tidak punya rasa kasih (rahmah) kepada korban teror bom al-Qaida, pimpinan Osama bin Laden, menewaskan 3 ribu orang di World Trade Center, New York, Amerika Serikat, 11 September 2001.

Anies Matta menulis puisi berjudul "Surat untuk Osama" dan "Jawaban Osama" karena  percaya kalau Osama bin Laden, adalah teroris yang benar. Naudzubillah min dzalik.

Anis Matta menyusun puisi pujian ke Osama bin Laden, jauh sebelum tokoh teroris paling top se-jagad mati ditembak militer Amerikat di persembunyian di Abbottabad, Pakistan,  2 Mei 2011.

Osama bin Laden disebut sebagai mujahid yang dianggap membuka suara yang selama ini diam. Innalillah. 

Anies Matta, petinggi PKS di Plenary Hall JHCC (Jakarta Hilton Convention Center (JHCC), Jakarta, Jumat, 12 Oktober 2001, membaca puisi berisi kekagumannya terhadap Osama Bin Laden.

Padahal Osama Bin Laden adalah Al Qaeda, yang berbeda dengan PKS terafiliasi dengan ikwanul muslimin (IM).

Anies Matta memuji Osama Bin Laden, karena memang idiologi Al Qaeda khsusunya Osama Bin Laden itu berakar dari ikhwanul muslimin. Ikhwanul Muslimin di Indonesia bermetamorfosa jadi PKS.

Tokoh PKS sangat terinspirasi dengan ulama IM, termasuk Anies baswedan. Bahkan tokoh otak lahirnya ISIS, Abu Ali al-Anbari juga pengikut pemikiran dari ulama IM. 

Pendiri Hizbut Tahrir (HT),  syaikh Taqiyudin an-Nabhan, termasuk yang terinspirasi dengan pemikiran dari Hassan Al Banna. Yang ingin mengembangkan pemikiran Islam untuk berdirinya khilafah.

Namun an-Nabhan menolak pemikiran dari Sayyid Qutb untuk melakukan penyebaran pemikiran itu lewat aksi kekerasaan.

Sayyid Quth ingin berjuang dengan cara damai. Walau HT mengharamkan Partai, namun demi bersiasat berjuang merebut kekuasaan, mereka juga bisa saja mendirikan partai atau beraliansi dengan Partai islam yang mau menjalankan agendanya. 

Tetapi di Indonesia HT tidak bisa seratus persen beraliansi dengan PKS. Namun dengan organisasi radikal yang tergabung dalam Forum Ulama Indonesia, FPI, Mujahideen Indonesia Barat, Mujahideen Indonesia Timur, Jamaah Tawhid Wal Jihad, Forum Aktivis Syariah Islam, Pendukung dan Pembela Daulah, Gerakan Reformasi Islam, Asybal Tawhid Indonesia, Kongres Umat Islam Bekasi, Umat Islam Nusantara, Ikhwan Muwahid Indunisy Fie, Jazirah Al-Muluk Ambon.

Kemudian,  Ansharul Kilafah Jawa Timur, Gerakan Tawhid Lamongan, Khilafatul Muslimin, Laskar Jundullah, DKM Masjid Al Fataa, RING Banten Jamaah Ansharut Tauhid, Halawi Makmun Group, HTI sangat besar pengaruh pemikirannya. Terus menjadi ancaman paham nasionalisme berdasarkan Pancasila. 

Hebatnya pemikiran dari Ulama IM adalah mereka sangat moderat dalam satu sisi dan sangat radikal di sisi lain. Itu perpaduan Al Banna dan Qutb. Contoh dia menghalalkan minuman keras asalkan alkoholnya rendah.

Dari teman aktifis Islam, saya dapat pemahaman tentang dalil membolehkan melakukan apa saja untuk bersiasat dalam berjihad.

Termasuk kerjasama dengan orang Kafir dan atau syiah sekalipun. Bahkan para kader yang punya posisi sebagai pejabat pemerintah boleh korup asalkan uang korupsi dipakai untuk berjihad, demi tegaknya syariah Islam.

Pengikut boleh merampok orang kafir asalkan untuk tujuan berjuang. Karenanya tidak sulit bagi CIA membeli mereka untuk tujuan politik Amerika Serikat. 

Yang aktif langsung dalam aksi teror adalah pertama adalah kelompok Jemaah Anshorut Daulah (JAD) dengan pemimpin ideologisnya yakni Aman Abdul Rahman. Kelompok ini memiliki tokoh di Suriah yakni Abu Jandal.

Kelompok kedua adalah kelompok Bahrun Naim. Kelompok ini berbeda dengan JAD, memiliki jaringan sendiri. Hisbah di Solo serta kelompok HTI yang bergerak dengan Bahrun Naim.

Kelompok ketiga ada nama Bahrun Syah. Bahrun Syah, tokoh penting ISIS Indonesia pada 2017. Namun di Indonesia kelompok ini tidak banyak pengikutnya. Kelompok Bahrun Syah di Indonesia banyak beroperasi di Poso dan Mindanau, Filipina.

Posisi Fadli Zon
Dewan Perwakilan Rakyat periode sebelumnya, era Fadli Zon, pada Mei 2015 pernah menyerahkan bantuan sebesar 20.000 USD kepada Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS)  dan diterima oleh Angga Dimas dari Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI).

Angga Dimas tercatat sebagai daftar anggota Al Qaida. Angga Dimas bersama Bachtiar Natsir masuk dalam dafter teroris international. FIPS merupakan forum yang menggabungkan beberapa “lembaga yang peduli pada Palestina dan Suriah”.

Di antaranya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), KISPA, HASI, Sahabat Al Aqsha, Sahabat Suriah, Spirit of Aqsha hingga organisasi wartawan Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Tahun jayanya ISIS 2015, FIPS membuat situs bernama bumisyam.com dan bila kita membaca artikel-artikel di situs itu terlihat jelas keberpihakan mereka kepada “mujahidin”, antara lain Ahrar Syam, Jabhah An-Nusrah, dan Jundul Aqsa.

Namun situs itu sekarang sudah tidak bisa diakses. Tahun 2016 mereka ada di balik demonstrasi akbar di Jakarta, 4 Nopember 2016 (411) dan 2 Desember 2016 (212) menyerang Istana Negara, Jakarta, dengan alasan penodaan agama dari Gubernur Daerah Khsus Ibu Kota Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Bukan rahasia bila Amerika Serikat juga secara terbuka mendukung Sarekat Islam melawan Presiden Soekarno Soekarno di Indonesia (17 Agustus 1945 – 22 Juni 1966).

Soeharto proxy Amerika Serikat

Di era Presiden Soeharto (1 Juli 1967 – 21 Mei 1998), memang tidak ada riak berarti gerakan Islam karena Soeharto adalah proxy Amerika Serikat.

Namun di era demokratisasi pasca kejatuhan Presiden Soehato, 21 Mei 1998, gerakan Islam tidak bisa dilepaskan dari proyek kepentingan geopolitik dan geostrategis Amerika Serikat, yang ingin mengontrol pemeritahan demokratis.

Itu sebab politisasi Islam mendapat lahan subur untuk berkembang, sebagai penyeimbang dari paham nasionalisme. Selagi konflik dan terror  terus terjadi, selama itu juga posisi tawar AS tetap besar di Indonesia, siapapun rezim yang berkuasa.

Setelah ISIS kalah

Sejak tahun 2017 kita mendengar istilah bendera Tauhid, dengan istilah bendera hitam. Dalam banyak kegiatan bendera hitam itu berkibar.

Pemerintah tidak bisa melarang karena itu kalimah tauhid. Walau sebetulnya itu tidak sesuai dengan semangat kebangsaan yang hanya mengakui bendera merah putih. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak mengatakan itu benderanya.

HTI berdalih itu bendera Rasulullah. Tetapi itu tidak punya argument yang kuat. Sebetulnya bendera Tauhid yang berwarna hitam itu adalah mitos tegaknya kejayaah Khilafah Islam.

Mitos yang dibahas secara luas, tentang ramalan “panji hitam akan keluar dari Khorasan" di akhir zaman.

Ramalan tersebut berasal dari revolusi Abbasiyah abad ke-8, sebuah revolusi yang dimulai di Khorasan dan melihat akhir dari keistimewaan orang Arab daripada orang non-Arab di kerajaan Islam.

Secara khusus, penyebutan hadis memberikan referensi kekuatan tambahan. Simbologi bendera hitam ini penting bagi jihadis sejak kali pertama di kibarkan di Afghanistan, yang merupakan bagian dari Khorasan, di tahun 80-an melawan USSR (Federasi Rusia) sampai sekarang.

Literatur apokaliptik Islam telah menjadi tema sentral bagi beberapa kelompok jihadis di seluruh dunia.

Kalau istilah khilafah versi HT tidak punya dalil kuat dalam Islam, dan masih banyak perbedaan pendapat di kalangan umat islam, namun panji hitam Tauhid punya landasan sejarah untuk Narasi bangkitnya khilafah islam yang pernah berjaya.

Istilah Khorasan digunakan oleh kelompok-kelompok Jihad modern, terutama yang berbasis di luar negara-negara Arab. Sebagian besar anggota Al Qaeda berasal dari khorasan ini.

Kelompok jihadis di Pakistan menggunakan label Khorasan, bendera Tauhid, bendera hitam. Tapi di Suriah istilah khorasan tidak begitu populer karena kelompok jihadis lebih banyak orang Arab. Istilah ISIS lebih dominan.

Sejak tahun 2017, sejak ISIS kehilangan sebagian besar wilayahnya, istilah bendera hitam, bendera tauhid ini mulai tampil kepermukaan dalam narasi pejuang syariah islam. ISIS bisa saja hilang dari daftar teroris.

Teroris Khorasan

Tetapi akan berganti nama lain dengan tujuan sama, yaitu menciptakan kekacauan dengan dalih perjuangan menegakan panji Islam namun sebetulnya bagian dari operasi intelijen Amerika Serikat.

“Hanya beberapa minggu setelah iSIS tumbang, pejabat Amerika Serikat menyebut nama baru sebagai ancaman: Khorasan. Kelompok khorasan bagian dari kelompok jihadis asing di bawah Al Qaeda yang bergabung dengan kelompok Jabhat al-Nusra. Toh Jabhat al-Nusra juga bagian dari Al Qaeda,” tulisa Erizeli Bandaro.

Mungkin bagi sebagian besar orang tidak mengenal kelompok khorasan. Khorasan sebetulnya nama wilayah.

Wilayah bersejarah yang meliputi Iran timur laut, Turkmenistan selatan dan Afghanistan utara.

Itu sebagai bagian dari wilayah Dinasti Sasan, kekaisaran Iran terakhir sebelum kebangkitan Islam. Namanya secara harfiah berarti "Negeri Matahari”.

Di zaman Khilafah Umar bin Khatap, di bawah panglima Islam, Saad bin Abi-Waqqas dan khalid bin Walid, wilayah ini bisa ditaklukan.

Ini menandai berakhirnya dinasti Sasan. Setelah wilayah diambil alih, Khorasan menjadi bagian dari Kekhalifahan Umayyah, dan dengan itu, bagian dari budaya Islam awal, dan penaklukan.

“Makanya kalau Anda sering melihat orang menggunakan label Tauhid hitam dalam berbagai aksesoris, itu bagian dari kampanye khorasan untuk mengembalikan khilafah islam di seluruh dunia,” tulis Erizeli Bandaro.

Tadinya mereka memuja ISIS, dan setelah ISIS kalah mereka bilang itu buatan Amerika Serikat, kini berbalik kepada bendera hitam bendera Tauhid.

Sebetulnya bendera Tauhid itu juga creator-nya adalah AS sebagai bagian dari reorganisasi besar besaran pada tubuh Al Qaeda, setelah ISIS tumbang. Itu berlaku bukan hanya di Timur Tengan, tetapi di seluruh dunia dimana jaringan al Qaeda, ada.

Selanjutnya nama Al Qaeda mungkin akan hilang, memori publik tentang buruk laku Amerika Serikat mendukung Al Qaeda dan kelompok teroris akan hilang. Kelak akan ada musuh baru: Khorasan, bendera Tauhid, bendera Hitam.

Proyek baru CIA dan kekacauan baru, dengan narasi baru tentunya. Cover nya tetap sama. Islam! Makanya wacana pemulangan ex ISIS itu hanya politik.

“Pihak intelijen di Indonesia sudah sangat paham akan virus radikalisme ini, yang akan bermutasi jadi bendera hitam. Tidak bisa dibohongi dengan ISIS sudah bubar. Mereka tobat. Itu sebabnya kita menolak eks ISIS, dan kalaupun ada warga negara Indonesia dari Suriah pulang dengan passport Indonesia tetap akan ditolak imigrasi,” ungkap Erizeli Bandaro.

Geostragi Indonesia

Pemerintah Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, sudah sangat paham menyusun konsep geostrategi yang baik di dalam menjalankan geopolitik.

Karena aksi radikalisme dan ekstrimisme yang selalu berakhir dengan terorisme, tidak berdiri sendiri.

Sudah diketahui publik, Amerika Serikat dan negar Barat lainnya, selalu berada di balik kelompok radikal di Indonesia.

Berkaca dari gaya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden Indonesia periode 20 Oktober 2004 – 20 Oktober 20144, Din Syamsudin  (tokoh Muhammadyah) dan Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden) yang cukup familiar dengan kelompok Islam garis keras di Indonesia, Presiden Joko Widodo, membutuhkan strategi politik yang tepat di dalam menentukan langkah.

Pertama, keluar Undang-Undang Nomor: 5 Tahun 2017, tentang: Pemujuan Kebudayaan. Dimana digariskan, setiap warga negara Indonesia, harus kembali kepada karakter dan jadiri bangsa, dengan menjadikan kebudayaan asli bangsa Indonesia sebagai filosofi ketika berperilaku.

Digariskan pula, pembangunan di Indonesia di masa mendatang, harus didasarkan akselerasi kapitalisasi modernisasi kebudayaan asli Indonesia, karena arah kebijakan politik luar negeri global abad ke-21 adalah diplomasi kebudayaan, dimotori China, mengalahkan hegemonimi Amerika Serikat yang menampilkan budaya kekerasan sepanjang abad ke-20.

Kedua, diterbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor: 2 Tahun 2017, tanggal 10 Juli 2017, tentang: Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Ketiga, diterbitkan Undang-Undang Nomor: 5 Tahun 2018, tentang: Tindak Pidana Terorisme. Undang-undang terbaru, ini, ruang gerak para teroris dipersempit, karena langsung ditangkap jika ada petunjuk akan melakukan aksi, melalui barang bukti bom dan atau materi tulisan yang mendukung aksi terorisme.

Keempat, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia, Hasona Laoly, Menteri Komunikasi dan Informasi, Johny G Plate, Kepala Polisi Republik Indonesia, Jenderal Polisi Idham Aziz, Jaksa Agung Dr T Burhanuddin, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Komisaris Jenderal Polisi Boy Raflii Amar, menerbitkan Surat Keputusan Bersama, Rabu, 30 Desember 2020, berupa larangan berbagai bentuk aktifitas Front Pembela Islam (FPI).

Publik jadi paham ketika Jenderal (Purn) Moeldoko, Kepala Staf Presiden (KSP) mengambil alih Partai Demokrat dari Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai anak kandung SBY melalui Kongres Luar Biasa di Sibolangit, Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, 5 Maret 2021, untuk memutus mata rantai jaringan politik kelompok garis keras yang diindikasikan mulai berlindung di balik Keluarga SBY.

"Ketika organisasi-organisasi radikal itu dibubarkan oleh Pemerintahan Presiden Joko Widodo, kami mendeteksi bahwa mereka mencari tempat berlindung di antaranya ke dalam Partai Demokrat. Setidaknya, kelompok radikal itu merasa nyaman dengan Partai Demokrat. Apalagi jika dikasih ruang untuk masuk ke dalam legislatif, maka itu akan membahayakan masa depan Indonesia," ujar Muhammad Rahmad, jurubicara Moeldoko kepada wartawan, Jakarta, Senin, 29 Maret 2021.

Persepsinya, SBY selama aktif di militer, mengenyam pendidikan di Amerika Serikat.

Partai Demokrat dan AHY sebagai salah satu patut diduga di balik kampanye sectarian dalam pemilihan Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta tahun 2017, dengan memperalat massa HTI dan FPI di bawah Mohammad Rizieq Shihab (MRS) yang sudah ditangkap Polisi sejak Sabtu, 13 Desember 2020. *

Sumber: erizeli.literalisme.com/tass.com/abc.net.au/ aljazeera.com/independensi.com/antaranews.com/reuters.com. Redaktur: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda