Opini post authorBob 02 Agustus 2025

Obituari Didarul Islam-Sang Perisai Terakhir di Lobi Kematian

Photo of Obituari Didarul Islam-Sang Perisai Terakhir di Lobi Kematian

Oleh: Dedy Ari Asfar 

Peneliti dengan kepakaran dalam bidang Linguistik Interdisipliner di Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 

 

PADA pukul 08.13 pagi, tanggal 28 Juli 2025, langit Manhattan belum sempat berubah warna saat dunia kehilangan satu cahaya yang menyala paling terang.

Di dalam lobi gedung 345 Park Avenue, peluru memekakkan udara. Jerit panik menembus kaca-kaca. Di tengah kekacauan itu, seorang pria berdiri—bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menahan badai.

Didarul Islam tidak sempat memilih jalannya pagi itu. Ia tidak sempat mengucapkan salam perpisahan kepada dua putranya atau mengusap perut istrinya yang tengah mengandung anak ketiga mereka. Ketika pintu kaca terbuka dan maut datang dengan wajah dingin dan senapan di tangan, dia hanya tahu satu hal: tubuhnya akan menjadi tembok terakhir antara peluru dan para nyawa tak bersalah. Ia tidak berteriak. Ia tidak mundur. Ia berdiri. Walhasil, ia gugur.

Didarul Islam, 36 tahun. Imigran dari Bangladesh. Polisi NYPD yang bekerja paruh waktu sebagai penjaga keamanan. Ayah, suami, teladan. Hari itu, ia menjadi legenda.

Menurut saksi mata, Islam adalah korban pertama. Tetapi, dalam kematiannya, ia menyelamatkan banyak nyawa.

Ia tidak hanya mengenakan seragam; ia mewujudkan makna dari warna biru tua itu: pengorbanan, keberanian, pengabdian. Komisaris Polisi Jessica Tisch menyebutnya sebagai “Puncak dari nilai-nilai NYPD.”

Walikota Eric Adams menyebutnya, "Roh kota ini." Akan tetapi, di luar podium dan karangan bunga, di balik pita kuning dan upacara pemakaman yang megah, ada seorang anak kecil yang bertanya kapan ayahnya pulang.

Ada seorang istri yang kehilangan rumahnya, bukan karena bangunan runtuh, melainkan karena tiangnya telah tiada.

Islam tidak hanya pahlawan dalam kematian, tetapi juga dalam hidup. Di Bronx, ia dikenal sebagai pelindung komunitasnya, seorang Muslim taat yang menyumbangkan waktu dan uang untuk membantu yang tak bersuara—di New York dan di Bangladesh.

Ia membimbing remaja dari jalanan ke jalan masjid. Ia menyemai nilai kasih sayang, bukan kebencian. Islam tidak sekadar memeluk agamanya; ia menjadikannya aksi.

Ironisnya, ia meninggal karena keberanian yang berakar dari keyakinan itu, di negara yang masih memandang Islam dengan kecurigaan.

Di Amerika, kata “Muslim” masih dipelintir dalam lensa politik dan prasangka, Didarul Islam menjungkirbalikkan stereotipe itu dengan satu tindakan heroik—ia menjadi perisai.

Secara harfiah, ia bukan hanya melindungi orang-orang dari peluru, melainkan juga dari kegelapan persepsi.

Ia menunjukkan bahwa keberanian tidak mengenal agama. Bahwa iman tidak harus ditakuti, tetapi dihormati.

Pemakamannya dihadiri ribuan orang—petugas dari seluruh penjuru negeri, warga Muslim yang datang dengan air mata, tetangga, pendeta, dan imam. Di sana, ia dipromosikan secara anumerta menjadi detektif kelas satu—gelar yang tak akan pernah ia sandang saat hidup, tetapi kini terukir abadi di batu nisan.

Namun pertanyaannya menggantung: Mengapa orang seperti Islam harus mati agar dunia mulai mendengar?

Mengapa, dalam sistem yang masih mencurigai namanya, warna kulitnya, keyakinannya—ia harus menjadi martir dulu untuk dianggap manusia?

Ada data yang harus kita hadapi. Menurut laporan Pew Research Center dan berbagai survei, Muslim di Amerika terus menghadapi diskriminasi sistemik, dari pekerjaan hingga keamanan.

Sekitar 60%--74% Muslim Amerika mengatakan mereka pernah mengalami prasangka karena keyakinan mereka.

Bahkan, dalam sistem hukum sekali pun, mereka lebih sering dilihat sebagai ancaman ketimbang pelindung. Namun, Didarul Islam membalik narasi itu—bukan dengan pidato, melainkan dengan nyawanya.

Ia tidak hidup untuk menjadi simbol. Alhasil kini, ia adalah simbol. Simbol bahwa kemanusiaan bisa berdiri melawan ketakutan. Bahwa keberanian sejati tidak memilih agama, ras, atau asal-usul.

Di akhir hari itu, peluru merobek tubuhnya. Tetapi, ia bukan korban. Ia adalah saksi. Bahwa satu orang, satu tindakan, satu detik keberanian—cukup untuk menyelamatkan dunia yang hampir kehilangan harapan.

Kini, di tengah kota yang tidak pernah tidur, seorang anak akan tumbuh mendengar nama ayahnya disandingkan dengan kata “pahlawan.”

Seorang janda akan membesarkan tiga anaknya tidak dalam bayang-bayang tragedi, tetapi dalam cahaya pengorbanan.

Kita semua—jika cukup berani untuk melihat—akan mengingat: Di lobi kematian itu, Islam berdiri. Karena dia berdiri, banyak yang masih hidup.

In Memoriam, Detektif Didarul Islam. “Dia tidak mati karena peluru. Dia hidup karena keberanian.” (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda