Opini post authorBob 04 Mei 2021 52

Bederma dengan Plasma

Photo of Bederma dengan Plasma Wahyu Saefudin, Mahasiswa Program Master of Counselingand Islamic psychotherapy, UniSZA, Malaysia

RABU lalu saya melakukan donor plasma konvalesen. Donor plasma konvalesen memang banyak dibutuhkan oleh pasien Covid-19. Terutama mereka yang sudah lanjut usia.

Ini disebabkan imunitas mereka yang sudah menurun, sehingga membutuhkan antibodi dari penyintas Covid-19.

Sebab, setelah sembuh, penyintas Covid-19 akan membentuk antibodi di tubuhnya.

Terapi plasma darah konvalesen adalah metode terapi yang berpijak pada pemahaman bahwa seorang penyintas infeksi akan membentuk antibodi di tubuhnya setelah sembuh.

Plasma tersebut kemudian diberikan pada orang lain dengan harapan dapat membantu melawan infeksi yang sedang berjalan.

Sayangnya, jumlah pendonor plasma konvalesen terbilang sedikit. Sehingga kebutuhan di RSUD selalu kurang.

Bahkan, ketika saya berdonor, itu adalah stok plasma dengan golongan darah B pertama setelah beberapa hari kosong. Kondisi ini menurut petugas karena kurangnya kesadaran pendonor untuk berbagi plasma yang dimiliki.

Tantangan lainnya, alat yang dimiliki sangat terbatas dan hanya terpusat di RSUD saja untuk prosesnya. Sehingga apabila orang di daerah, tentu akan kesulitan dalam mobilitasnya.

Donor yang saya lakukan berawal ketika seorang teman membutuhkan pendonor plasma dengan Rhesus B+ untuk ibunya yang sedang berada di IGD RSUD Nusa Tenggara Barat karena terinfeksi Covid-19.

Saya yang memenuhi persyaratan, baru saja sembuh dari Covid-19 dan mempunyai golongan darah yang sesuai, mengajukan diri menjadi pendonor sukarela. Terlebih ini adalah bulan ramadan, bulan yang saya yakini penuh kemuliaan.

Saya kemudian diberikan nomor seorang dokter pengelola Unit Transfusi Daerah di RSUD tempat Ibu teman saya dirawat. Setelah memperkenalkan diri secara singkat dan menjelaskan maksud saya.

Dokter tersebut membalas dan menyebutkan persyaratan lain yang ternyata tidak sedikit.

Termasuk, fakta yang baru saya ketahui, bahwa tidak semua penyintas Covid-19 ternyata bisa menjadi pendonor. Sebab harus ada uji screening terlebih dahulu.

Beberapa persyaratan itu di antaranya, penyintas sudah dinyatakan negatif dan tidak mempunyai keluhan selama 14 hari. Usia pendonor juga dibatasi, rentangnya 18-60 tahun. Pun dengan berat badan yang tidak kurang dari 55 kilogram.

Screening

Saya kemudian mendatangi unit transfusi sesuai jadwal yang disepakati. Tepatnya, dua hari sebelum pelaksanaan pengambilan plasma konvalesen tersebut.

Petugas lalu mengambil sampel darah saya untuk dilakukan screening. Tempat pengambilannya sama persis dengan tempat donor darah pada umumnya: lengan.

Setelahnya, sampel darah tersebut, menurut penjelasan petugas, akan dilakukan screening untuk dilihat kelayakannya.

Apabila terdapat penyakit kronis, seperti gagal ginjal, penyakit jantung, kanker, kencing manis, maupun darah tinggi, maka tidak bisa.

Sebab, bagaimana mungkin mau menolong orang yang sedang kritis dengan darah yang tidak memenuhi standar.   

Sehari setelah pengambilan sampel darah, saya dihubungi petugas dan menyatakan bahwa kondisi antibodi saya layak untuk menjadi pendonor. “ADEKUAT DAN CUKUP, untuk menjadi pendonor plasma konvalesen,” begitu penjelasan dari petugas di RSUD melalui pesan WhatsApp.

Alhamdulillah, demikian pikir saya. Dengan donor plasma ini saya dapat berbagi pada orang lain yang membutuhkan, tanpa peduli apa latar belakang agama, ras, suku, dan lainnya.

Saya pikir, menjadi pendonor sukarela, baik itu pendonor darah maupun pendonor plasma merupakan usaha untuk mengedepankan kemanusiaan.

Tentu sekaligus berharap menjadi manusia yang akan mendapatkan keutamaan rasa kasih sayang dari penduduk langit. Sebagaimana hadits Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA,

''Orang-orang yang berbelas kasih akan mendapatkan belas kasih dari (Allah) Yang Maha Pengasih. Karena itu, berbelaskasihlah kepada setiap makhluk di bumi, niscaya ‘penduduk langit’ akan mengasihimu.''

Bederma Plasma

Setelah dinyatakan bisa menjadi pendonor, Rabu pagi dalam kondisi berpuasa, saya berangkat menuju Unit Transfusi Darah.

Petugas kemudian menjelaskan bahwa proses pengambilan darah dan pemisahan plasma berlangsung selama 1-1,5 jam melalui alat canggih yang bernama Apheresis. Termasuk jumlah plasma yang akan diambil, yaitu sebanyak 600 cc.

Plasma tersebut kemudian akan dibagi ke dalam 3 kantong yang masing-masing berukuran 200 cc untuk proses terapi. Petugas menjelaskan, bahwa setiap kali terapi setiap pasien membutuhkan 1 kantong plasma.

Sedangkan kebutuhan kantong setiap pasien juga berbeda, tergantung kondisi, rata-rata 1-3 kantong tiap pasien.

Jika pada pengambilan sampel darah melalui lengan sebelah kanan. Untuk proses donor plasma petugas menggunakan lengan kiri.

Jarum yang digunakan mempunyai ukuran yang sama dengan jarum untuk donor darah pada umumnya. Meskipun menurut saya terlihat lebih besar. Tapi, menurut penjelasan petugas karena memang ukurannya lebih pendek, sehingga terlihat lebih besar. Dia juga memperlihatkan angka yang tertera pada jarum tersebut untuk memperlihatkan ukurannya: 16 G, demikian tertulis.

Waktu donor yang terbilang lebih lama juga berdampak pada sedikit rasa nyeri dan kesemutan yang dirasakan. Termasuk perasaan sedikit kunang-kunang begitu selesai proses pengambilan plasma.

Perasaan seperti ini tidak pernah saya alami ketika berdonor darah. Ini wajar, kata petugas menjelaskan. Bahkan harusnya pendonor juga minum saat proses berlangsung agar darah yang diambil lancar.

Benar saja, saat proses konfirmasi petugas sampai menanyakan dua kali, “apakah benar akan diambil jam 10.00 pagi, Pak?”

Melakukan donor plasma menurut saya merupakan sebuah amalan yang baik, terlebih dilakukan di bulan yang diyakini kesuciannya.

Bulan dimana berbagai amal kebaikan dilipatgandakan. Terlebih banyak hadits yang menjelaskan bahwa bederma (sedekah) tidak selamanya menggunakan uang.

Termasuk perkataan yang baik, bahkan adalah sedekah.

Apalagi donor plasma, yang sangat bermanfaat untuk menyembuhkan pasien yang sedang menjalani perawatan.

Jika satu kali donor bisa digunakan dalam proses penyembuhan oleh tiga pasien, maka kita sudah menjadi perantara kesehatan bagi tiga orang.

Tentu itu akan melahirkan banyak kebaikan setelahnya. Sebagaimana Firman Allah “…dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32). (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda