Opini post authorBob 04 November 2025

Santri, Ulama, dan Penguatan Kebangsaan di Tengah Tantangan Zaman, PWNU Kalbar Gelar Ceramah Kebangsaan Bersama Gus Muawafik: Refleksi HSN 2025

Photo of Santri, Ulama, dan Penguatan Kebangsaan di Tengah Tantangan Zaman, PWNU Kalbar Gelar Ceramah Kebangsaan Bersama Gus Muawafik: Refleksi HSN 2025  Prof. Dr. Syarif, MA - Ketua PWNU Kalimantan Barat

Peran Santri dan Ulama Dalam Menjaga Keutuhan Bangsa dan Mendorong Pembangunan Daerah

Oleh: Prof. Dr. Syarif, MA - Ketua PWNU Kalimantan Barat

Di tengah dinamika bangsa yang semakin kompleks, peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober hadir bukan hanya sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai ruang refleksi nasional.

Momentum ini menjadi pengingat betapa besar jasa santri dan ulama dalam perjalanan panjang Indonesia — dari masa perjuangan kemerdekaan hingga menjaga keutuhan bangsa di era modern yang penuh tantangan ideologis.

Sebagai bagian dari masyarakat religius yang berakar kuat dalam tradisi keislaman dan keindonesiaan, santri memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai kebangsaan.

Mereka bukan hanya pewaris ilmu agama, tetapi juga pewaris semangat nasionalisme yang digelorakan para pendiri bangsa.

Kita tak boleh melupakan sejarah bahwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 di bawah komando Hadlratusy Syekh Hasyim Asy’ari menjadi tonggak penting dalam mempertahankan kemerdekaan.

Dari resolusi itulah lahir semangat juang yang menyalakan api perlawanan hingga terjadinya pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya — yang kini kita kenang sebagai Hari Pahlawan.

Maka, peringatan Hari Santri sesungguhnya adalah bentuk penghormatan terhadap peran ulama dan santri dalam meneguhkan semangat cinta tanah air.

Namun, perjuangan hari ini berbeda bentuknya. Bila dulu penjajahan datang dari luar dalam wujud fisik, maka kini ancaman hadir dalam bentuk ideologi transnasional yang mencoba merusak fondasi kebangsaan.

Ideologi impor yang ingin mengganti sistem kenegaraan kita dengan khilafah Islamiyah tidak hanya menyalahi konstitusi, tetapi juga menyalahi karakter Islam yang damai dan kontekstual dengan bumi Indonesia.

Di sinilah peran santri dan ulama kembali menemukan relevansinya. Mereka dituntut untuk tidak hanya memahami teks agama, tetapi juga mampu membaca konteks kebangsaan.

Islam dan Indonesia tidak dapat dipisahkan; keduanya tumbuh bersama dalam bingkai yang saling menguatkan. Pancasila, UUD 1945, dan NKRI adalah wujud konkret dari nilai-nilai Islam yang menjunjung keadilan, persatuan, dan kemaslahatan.

Saya perlu menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama — termasuk para santri dan ulamanya — tidak pernah sedikit pun berpaling dari komitmen kebangsaan.

Dalam sejarahnya, NU tidak pernah mendukung gerakan makar, kudeta, atau upaya apa pun yang mengancam keutuhan NKRI. Tuduhan bahwa dakwah NU memecah belah bangsa adalah kekeliruan besar.

Dakwah kami adalah dakwah yang menyejukkan, yang mempersatukan umat dengan bahasa kasih sayang, bukan kebencian.

Peringatan Hari Santri di Kalimantan Barat tahun ini menjadi bukti nyata dari semangat itu. Acara ini diusung oleh beragam elemen masyarakat — dari ormas keagamaan, lembaga pendidikan, hingga kelompok etnis — yang bersatu dalam semangat kebhinekaan.

Keberagaman bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang meneguhkan jati diri bangsa. Justru yang berpikir sempit dan kekanak-kanakanlah yang kerap melihat perbedaan sebagai ancaman, padahal bagi yang berpikiran dewasa, perbedaan adalah rahmat yang menyatukan.

Selain menjaga keutuhan bangsa, PWNU Kalimantan Barat juga berkomitmen aktif mendukung pembangunan daerah dan nasional.

Melalui program pendidikan, sosial, dan ekonomi keumatan, NU terus berperan sebagai mitra strategis pemerintah. Penguatan pesantren, pengembangan koperasi syariah, serta peningkatan kapasitas santri dan masyarakat menjadi bagian dari kontribusi nyata NU bagi pembangunan daerah.

Santri harus tampil sebagai sumber daya unggul yang siap bersaing di era global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaannya.

Santri masa kini adalah penjaga moral sekaligus pelaku pembangunan. Mereka tidak hanya membaca kitab kuning, tetapi juga membaca realitas sosial, ekonomi, dan budaya bangsanya.

Dengan kecerdasan spiritual dan intelektual yang berimbang, santri diharapkan menjadi generasi yang mampu membawa bangsa ini menuju kemajuan tanpa kehilangan akar tradisi.

Peringatan Hari Santri bukan hanya seremonial mengenang masa lalu, tetapi juga momentum untuk menegaskan arah masa depan. Santri, ulama, dan seluruh warga NU akan terus menjaga Indonesia dengan cinta, ilmu, dan doa.

Karena bagi kami, mencintai tanah air adalah bagian dari iman, dan menjaga keutuhan NKRI adalah bagian dari ibadah.

Semoga semangat Hari Santri terus menyalakan api kebangsaan di dada setiap anak negeri — agar Indonesia tetap kokoh, damai, dan bermartabat di bawah naungan ridha Allah SWT. (*)

 

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda