Opini post authorBob 06 November 2020 146

Pandemi dan Pengangguran

Photo of Pandemi dan Pengangguran Munawaroh, Statistisi Muda BPS Provinsi Kalbar

Akibat pandemi Covid-19, satu persatu tempat usaha berguguran. Tidak pandang bulu dari usaha kecil hingga usaha yang paling besar. Hal ini mendorong terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Sebagian tenaga kerja juga dirumahkan sementara. Pada tanggal 5 November 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat merilis Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kalimantan Barat pada Agustus 2020 sebesar 5,81 persen atau meningkat 1,46 persen jika dibandingkan dengan kondisi Agustus 2019 sebesar 4,35 persen.

TPT merupakan indikator ketenagakerjaan yang cukup penting dengan menghitung rasio (dalam persen) antara jumlah pengangguran terhadap angkatan kerja. 

Jumlah penduduk yang bekerja pada beberapa sektor mengalami penurunan yaitu sektor industri, listrik, gas, dan air, konstruksi, perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi, lembaga keuangan, real estate dan jasa kemasyarakatan.

Penduduk yang bekerja di sektor industri misalnya mengalami penurunan dari 6,02 persen menjadi hanya 5,82 persen. Begitu juga dengan penduduk yang bekerja di sektor perdagangan, rumah makan dan akomodasi mengalami penurunan dari 19,24 persen menjadi 19,18 persen.

Rumah makan dan hotel yang tidak sanggup bertahan memilih tutup. Sebagian usaha yang masih mampu berjuang pun hanya diperbolehkan melayani pembeli dengan maksimal 50 persen dari kapasitas tempat usaha. Hal ini dilakukan demi social distancing dan mengendalikan penyebaran virus Covid-19.

Menjadi pengangguran membuat para tenaga kerja harus memutar otak untuk dapat tetap bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga. Seperti seorang Bapak sebutlah namanya Pak Mamat. Beliau terpaksa berhenti bekerja karena perusahaan tempatnya bekerja sepi permintaan dan terancam bangkrut.

Pak Mamat akhirnya memilih berjualan pot bunga. Ternyata usaha barunya ini sukses. Pot bunga miliknya laku keras, bahkan tidak pernah sepi pengunjung.

Habis gelap, terbitlah terang. Pak Mamat malah menciptakan lapangan kerja baru yang lebih menjanjikan akibat serangan pandemi. Pak Mamat juga adalah salah satu pekerja formal yang beralih menjadi pekerja informal. BPS Provinsi Kalimantan Barat mencatat peningkatan pekerja sektor informal sebesar 2,89 persen poin dari 60,12 persen pada Agustus 2019 menjadi 63,01 persen pada Agustus 2020.

Di lain sisi, penduduk yang bekerja di sektor pertanian mengalami peningkatan dari 48,94 persen menjadi 49,27 persen. Hal ini wajar jika melihat menjamurnya budidaya tanaman hias seperti monstera, aglonema dan caladium di daerah perkotaan.

Sedangkan sebagian pengangguran yang kembali ke desa, memilih untuk membantu menanam padi, karet, sawit atau memulai membudidayakan perikanan.  Penduduk yang bekerja di sektor pertambangan dan penggalian mengalami peningkatan dari 2,24 persen menjadi 3,31 persen.

Permintaan terhadap hasil pertambangan masih cukup tinggi. Pengesahan UU Cipta Kerja juga memberikan kemudahan bagi pengusaha tambang untuk membuka lahan dan melakukan eksplorasi.

Tambahan lagi, terjadi peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan di Kalimantan Barat sebesar 0,94 persen poin dari 52,92 persen menjadi 53,86 persen. Artinya akibat pandemi, perempuan terpaksa harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga karena suami atau ayahnya diPHK dan menganggur.

Menurut tingkat pendidikan, pengangguran terbanyak di Kalimantan Barat pada Agustus 2020 adalah penduduk 15 tahun ke atas yang berpendidikan setara SMA yaitu 31,68 persen. Terbanyak kedua adalah pengangguran yang berpendidikan di bawah SD yaitu 27,29 persen.

Sebenarnya pendidikan yang rendah tidak menjadi penghalang bagi para pencari kerja. Di era digital seperti sekarang ini, meningkatkan keahlian dan mengasah keterampilan dapat dilakukan dengan mudah. Belajar melalui youtube misalnya.

Pengangguran dengan pendidikan setara universitas juga cukup banyak yaitu 11,03 persen. Mereka tidak mampu bersaing di pasar kerja yang ketat. Sedangkan untuk menjadi pekerja informal mungkin gengsi atau sulit sekali jika harus memulai semuanya dari nol.

Mental dan semangat yang kuat harus terus dijaga. Selain, menjaga kesehatan di tengah pandemi ini.  Stimulus pemerintah berupa bantuan modal sangat diperlukan. Kendalanya, pemerintah hanya memiliki data pekerja formal yang diPHK dan tidak punya data yang lengkap mengenai pekerja informal.

Tidak ada kepastian hingga pandemi ini benar-benar berakhir.  Usaha dan doa terus untuk kehidupan yang lebih baik. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda