Opini post authorBob 09 Agustus 2020 303

Pendataan Angkatan Kerja Saat Virus Corona Melanda

Photo of Pendataan Angkatan Kerja Saat Virus Corona Melanda OlehBudhi SetyonoStatistisi PelaksanaBadan Pusat Stastistik Kubu Raya

Oleh

Budhi Setyono

Statistisi Pelaksana

Badan Pusat Stastistik Kubu Raya

Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 16 tahun 1997 tentang Statistik yang tertuang dalam Pasal 11 menyatakan bahwa dalam menyelenggarakan statistik dasar, Badan Pusat Statistik (BPS) memperoleh data salah satunya dengan cara survei.

Survei adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan sampel untuk memperkirakan karakteristik suatu populasi pada saat tertentu. Saat ini kegiatan survei yang dilaksanakan BPS adalah Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).

Sakernas merupakan agenda rutin yang dilaksankan dua kali dalam satu tahun, yaitu setiap bulan Februari dan bulan Agustus. Pelaksanaan Sakernas bulan ini berbeda dengan Sakernas sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya wabah global yang juga melanda di Indonesia, yaitu Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Dengan adanya virus corona ini, banyak sekali dampak yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia, terutama dalam hal ketenagakerjaan. Data hasil Sakernas banyak digunakan oleh berbagai kalangan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Oleh karena itu, kesinambungan, ketersediaan, dan kualitas data Sakernas harus terus dijaga dan ditingkatkan.

Secara umum, tujuan pengumpulan data Sakernas Agustus 2020 adalah menyediakan data pokok ketenagakerjaan yang berkesinambungan. Secara khusus, Sakernas bertujuan untuk memperoleh estimasi data jumlah penduduk bekerja, jumlah pengangguran, indikator ketenagakerjaan lainnya, serta perkembangannya yang representatif di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.

Selain itu, Sakernas Agustus 2020 juga mempunyai tujuan khusus untuk mengumpulkan informasi terkait dampak Covid-19 terhadap ketenagakerjaan di Indonesia.

Kegiatan Sakernas dilaksanakan di seluruh provinsi di wilayah Republik Indonesia. Besarnya sampel Sakernas Februari 2020 sebanyak 7.500 blok sensus (BS) atau 75.000 rumah tangga. Sakernas Februari dikumpulkan untuk memperoleh estimasi data ketenagakerjaan yang representatif hingga tingkat provinsi. 

Pada Agustus 2020, besarnya sampel Sakernas sebanyak 30.000 BS atau sekitar 300.000 rumah tangga (yang terdiri dari 7.500 BS sampel Sakernas Semester 2 dan 22.500 BS sampel Sakernas Tahunan). Sakernas Agustus dikumpulkan untuk memperoleh estimasi data ketenagakerjaan yang representatif hingga tingkat kabupaten/kota. Sakernas tidak mencakup rumah tangga korps diplomatik, rumah tangga yang tinggal di BS khusus, dan rumah tangga khusus yang berada di BS biasa.

Sakernas mengumpulkan keterangan dari setiap rumah tangga terpilih mengenai keadaan umum setiap anggota rumah tangga (nama, hubungan dengan kepala rumah tangga, jenis kelamin, bulan dan tahun lahir serta umur).

Pada anggota rumah tangga yang berumur 5 tahun ke atas, dikumpulkan informasi Nomor Induk Kependudukan (NIK), status perkawinan, partisipasi sekolah, pendidikan dan pelatihan, tempat tinggal 5 tahun yang lalu, disabilitas, kegiatan bekerja seminggu terakhir, pekerjaan utama, kegiatan mencari pekerjaan/mempersiapkan usaha baru, pengalaman kerja serta kegiatan lainnya.

Pelaksanaan Sakernas Agustus 2020

Penyesuaian proses bisnis Sakernas Agustus 2020 dilakukan untuk mengantisipasi kondisi wilayah pencacahan sehubungan dengan pandemi Covid-19 serta kondisi ‘new normal’ yang mulai diberlakukan oleh pemerintah. Dalam hal pelaksanaan di lapangan, penyesuaian proses bisnis tersebut adalah tahap updating (pemutakhiran rumah tangga) dan tahap pencacahan lapangan yang tidak biasa dilakukan pada Sakernas sebelumnya.

Di wilayah yang oleh BPS Daerah diidentifikasi sebagai zona hijau (wilayah yang memiliki risiko rendah penyebaran Covid-19), maka updating Sakernas Agustus 2020 dilaksanakan door to door, dimana petugas pencacahan mengunjungi satu per satu rumah tangga yang ada dalam satu blok sensus untuk mengecek keberadaan rumah tangga.

Sedangkan di wilayah yang oleh BPS Daerah diidentifikasi sebagai zona merah (wilayah yang memiliki risiko tinggi penyebaran Covid-19) updating Sakernas Agustus 2020 dilaksanakan dengan pendampingan Ketua/Pengurus RT (pemeriksaan daftar preprinted dan verifikasi lapangan).

Penentuan zona hijau dan merah dilakukan oleh BPS Provinsi berkoordinasi dengan BPS Kabupaten/Kota, disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing (data dari Kemenkes). Penetapan zona merah atau hijau dapat ditentukan sampai level kecamatan/desa/kelurahan/blok sensus.

Tahap pencacahan di wilayah zona hijau, pencacahan rumah tangga sampel dilakukan dengan wawancara langsung (wawancara tatap muka). Sementara di zona merah pencacahan dilakukan dengan drop off pick up (DOPU) yaitu pengisian mandiri oleh responden yang dikombinasikan dengan konfirmasi beberapa variabel utama (format quick questions) yang dapat dilakukan melalui telepon. Jika pencacahan DOPU tidak dapat dilakukan, maka mitigasinya adalah wawancara melalui telepon (Computer Assisted Telephone Interviewing / CATI).

Pada kegiatan Sakernas kali ini juga  dilakukan penyempurnaan  kuesioner  yaitu menyesuaikan kondisi ‘new normal’ pada masa pandemi Covid-19 di Indonesia. Perubahan kuesioner tersebut antara lain: 1) Konsep ketenagakerjaan menggunakan konsep International Conference of Labour Statistician 2013 / ICLS-13. 2)

Menambahkan pertanyaan terkait dampak Covid-19 terhadap ketenagakerjaan berdasarkan rekomendasi International Labour Organization (ILO) atau Organisasi Perburuhan Internasional. 3) Penyederhanaan kuesioner dengan mengurangi jumlah pertanyaan dari  65 pertanyaan menjadi sekitar 31 pertanyaan. 4) Redaksi pertanyaan dibuat sederhana agar mudah dipahami oleh responden yang melakukan pencacahan mandiri. 5) Pertanyaan dikelompokkan secara runut berdasarkan masing-masing topik, yaitu topik bekerja, pengangguran, dan bukan angkatan kerja.

Sebuah harapan besar dari BPS adalah agar masyarakat dapat jujur saat menjawab semua pertanyaan dari petugas Sakernas di seluruh wilayah Indonesia. Kerja sama masyarakat untuk memberikan data yang sebenar-benarnya agar hasil sensus akurat adalah sebuah kewajiban sebagai warga negara yang baik.

Masyarakat tidak perlu khawatir data-data pribadi mereka akan tersebar luas. Sebab, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 Tentang Statistik menjamin data pribadi responden yang disensus tidak akan bocor. Peraturan tersebut menyatakan, data responden sensus BPS bersifat sangat rahasia dan tidak boleh disebarluaskan.

Hasil Sakernas Agustus 2019

Rata-rata upah/gaji/pendapatan bersih sebulan pekerja pada Agustus 2019 mencapai 2,64 juta rupiah, mengalami peningkatan dibandingkan dengan Agustus 2018 sebesar 2,55 juta rupiah. Terdapat perbedaan yang nyata antara rata-rata pendapatan bersih sebulan pekerja bebas di pertanian dan nonpertanian dibandingkan dengan rata-rata upah/gaji bersih buruh/karyawan/pegawai.

Pada Agustus 2019, rata-rata pendapatan bersih sebulan pekerja bebas di sektor pertanian dan nonpertanian masing-masing sebesar 1,14 juta rupiah dan 1,70 juta rupiah. Sementara itu, rata-rata upah/gaji bersih sebulan buruh/karyawan/pegawai mencapai 2,91 juta rupiah pada Agustus 2019.

Secara nominal, baik rata-rata upah/gaji/pendapatan bersih sebulan pekerja maupun buruh/karyawan/pegawai mengalami peningkatan dibandingkan keadaan Agustus 2018.

Pada Agustus 2019, dari 17 kategori pekerjaan utama, rata-rata upah/gaji/pendapatan bersih sebulan pekerja tertinggi terdapat di Kategori J (Informasi dan Komunikasi) sebesar 4,30 juta yang diikuti Kategori K (Jasa Keuangan dan Asuransi) dan Kategori B (Pertambangan dan Penggalian) masing-masing sebesar 4,24 juta rupiah dan 4,14 juta rupiah.

Sementara upah/gaji/pendapatan bersih sebulan pekerja terendah terdapat di Kategori A (Pertanaian, Kehutanan, dan Perikanan) sebesar 1,49 juta rupiah.

Rata-rata upah/gaji/pendapatan bersih sebulan pekerja yang dirinci menurut provinsi pada Agustus 2019 memperlihatkan adanya variasi yang tinggi, berkisar antara 1,85 juta rupiah sampai dengan 4,39 juta rupiah.

Rata-rata upah/gaji/pendapatan bersih sebulan pekerja tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (4,39 juta rupiah), Kepulauan Riau (4,20 juta rupiah), dan Papua (3,91 juta rupiah). Sedangkan pada buruh/karyawan/pegawai, rata-rata upah/gaji bersih sebulan tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (4,46 juta rupiah), Kepulauan Riau (4,28 juta rupiah), dan Papua (4,00 juta rupiah).

Besarnya rata-rata jam kerja seminggu pekerja pada Agustus 2019 adalah 42 jam, lebih kecil dibandingkan periode Agustus 2018 yaitu 43 jam. Untuk buruh/karyawan/pegawai, rata-rata jam kerja seminggu pada Agustus 2019 yaitu 43 jam, lebih kecil dibandingkan periode Agustus 2018 yaitu 44 jam.

Rata-rata upah/gaji bersih sebulan buruh/karyawan/pegawai pada Agustus 2019 yang berpendidikan Sekolah Menengah Atas (Umum/Kejuruan) ke atas berkisar antara 2,84 juta rupiah sampai dengan 4,58 juta rupiah. Mereka yang berpendidikan Sekolah Menengah Pertama ke bawah rata-rata upah/gaji bersih sebulan berkisar antara 1,33 juta rupiah sampai dengan 2,12 juta rupiah.

 Hasil Sakernas Februari 2020

Total penduduk Indonesia pada Februari 2020 berdasarkan hasil proyeksi penduduk 2010?2035 diperkirakan sebanyak 270,07 juta orang, dengan jumlah penduduk usia kerja sebesar 199,38 juta orang, bertambah 1,47 juta orang (0,74 persen) dibandingkan keadaan enam bulan sebelumnya (197,91 juta orang) dan bertambah 2,92 juta orang (1,49 persen) dibandingkan keadaan setahun yang lalu (196,46 juta orang).

Angkatan Kerja adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja atau sementara tidak bekerja, dan yang sedang mencari pekerjaan. Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2020 mencapai 137,91 juta orang, bertambah sekitar 4,35 juta orang (3,26 persen) dibanding Agustus 2019 sebesar 133,56 juta orang dan bertambah 1,73 juta orang (1,27 persen) dibanding Februari 2019 sebesar 136,18 juta orang.

Jumlah penduduk yang bekerja pada Februari 2020 sebesar 131,03 juta orang, bertambah sekitar 4,52 juta orang (3,57 persen) jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2019 (126,51 juta orang), dan bertambah 1,67 juta orang (1,29 persen) jika dibandingkan dengan keadaaan Februari 2019 (129,36 juta orang).

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja. Jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2020 mencapai 6,88 juta orang, berkurang sekitar 170 ribu orang jika dibandingkan keadaan Agustus 2019 (7,05 juta orang), dan bertambah 60 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2019 (6,82 juta orang).

TPT di Indonesia pada Februari 2020 mencapai 4,99 persen, mengalami penurunan sebesar 0,29 persen poin dibanding TPT Agustus 2019 (5,28 persen) dan mengalami penurunan sebesar 0,02 persen poin dibanding TPT Februari 2019 (5,01 persen).

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan merupakan lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja dengan menyerap 38,05 juta orang (29,04 persen) pekerja, sementara lapangan usaha Pengadaan Listrik dan Gas paling sedikit menyerap tenaga kerja, yaitu hanya sebesar 340 ribu orang (0,26 persen) pekerja. (*)

Sumber data : Publikasi Keadaan Pekerja di Indonesia Agustus 2019, Publikasi Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Februari 2020, dan Buku Pedoman Sakernas Agustus 2020.

 

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda