Opini post authorBob 10 September 2021

Kepemimpinan Profetik untuk Mencegah Pejabat yang Maling

Photo of Kepemimpinan Profetik untuk Mencegah Pejabat yang Maling Wahyu Saefudin

Isu kepemimpinan yang mengedepankan dan menjunjung tinggi aspek moralitas begitu penting di negeri ini. Sebab moralitas yang dimiliki oleh individu memungkinkannya untuk bisa menjunjung tinggi nilai agama dan mengemban amanah yang diberikan padanya.

Sehingga, individu tidak akan menghalalkan segala cara, tidak memikirkan bagaimana memperkaya diri sendiri, dan cenderung akan memikirkan kesejahteraan rakyat serta kemajuan bangsa dan negara.

Ironisnya, moralitas seringkali dikesampingkan, dan tak jarang dilupakan oleh para pemimpin. Baru-baru saja kita melihat dua pemimpin daerah tertangkap oleh KPK. Sebelumnya, dua menteri dalam waktu yang bersamaan.

Tidak heran jika dalam lima tahun terakhir sudah ratusan pemangku kebijakan yang terdiri atas pimpinan lembaga atau kementerian, anggota dewan, duta besar, komisioner, gubernur, walikota/bupati, pejabat eselon, hakim, jaksa, polisi, hingga pihak swasta.

Tingginya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia menyebabkan kerugian negara yang tidak sedikit. Menurut rilis dari Indonesian Corruption Watch (ICW), kerugian yang dialami negara meningkat empat kali lipat di tahun 2020.

Pada 2020 total kerugian negara akibat kasus korupsi sebesar Rp. 56,7 triliun, sedangkan pada 2019 sebesar Rp. 12 triliun. Jumlah ini jauh lebih besar dari anggaran yang dikeluarkan pemerintah dalam program pengadaan vaksin dan vaksinasi pada 2020 yang berjumlah Rp. 35,1 triliun.

Serta alokasi anggaran vaksin pada 2021 yang berjumlah Rp. 13,92 triliun (Kementerian Keuangan, 2021). Maka, dari hal sederhana ini saja dapat dilihat kerusakan yang ditimbulkan oleh pemimpin yang bertindak amoral dan mementingkan pribadi.

Penyebab Korupsi

Tindak pidana korupsi (selanjutnya ditulis: Maling) yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor. Menurut Setiadi (2018) dalam penelitiannya yang berjudul Korupsi di Indonesia, menyebutkan faktor terjadinya maling. Yaitu meliputi sikap toleran yang tidak tepat pada pelaku korupsi, tidak terbukanya pimpinan instansi, rendahnya komitmen menangani korupsi, maupun lemahnya koordinasi antar aparat penegak hukum.

Selain itu, menurut Satria (2020) dalam Kebijakan Kriminal Pencegahan Korupsi Pelayanan Publik, tingginya kasus pencurian yang terjadi di Indonesia juga disebabkan oleh kerawanan moral dari para pemangku kebijakan atau pemimpin yang memegang amanah suatu jabatan publik.

Dengan demikian, mencermati aspek moralitas dalam suatu kepemimpinan adalah sebuah keharusan. Berbagai penelitian yang membahas moralitas pemimpin biasanya menggunakan dua pendekatan. Pertama, mencari korelasi antara komponen moral dengan teori kepemimpinan. Kedua, dilakukan dengan mengembangkan suatu konstruk baru tentang kepemimpinan moral dan kepemimpinan spiritual (Saefudin, 2021).

Salah satu tipe kepemimpinan spiritual yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral adalah kepemimpinan profetik. Kepemimpinan profetik adalah model kepemimpinan cara Nabi yang mengedepankan sifat sidik, amanah, tablig, fatanah, humanis, dan memimpin dengan hati.

Kepemimpinan Profetik

Pada umumnya pengkajian terhadap kepemimpinan dilakukan melalui lima pendekatan, yaitu ciri sifat, perilaku, kekuatan pengaruh, situasional, dan pendekatan integratif. Kepemimpinan profetik merupakan kepemimpinan yang disusun berdasarkan sudut pandang agama, yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat.

Kajian kepemimpinan profetik sendiri menurut Budiharto & Himam (2015) dalam Konstruk Teoritis dan Pengukuran Kepemimpinan Profetik, merupakan bagian dari kepemimpinan moral dan kepemimpinan lintas budaya.

Kepemimpinan profetik juga didasarkan pada kemampuan dalam mengendalikan diri serta mempengaruhi orang lain demi tercapainya sebuah tujuan dengan cara yang tulus.

Maka, dapat diartikan bahwa kemampuan dalam kepemimpinan harus diperjuangkan melalui kekuatan pencerahan jiwa dan pembersihan ruhani.

Proses yang harus dilalui sebelum memengaruhi orang lain, pemimpin harus mampu memengaruhi dan mengatur dirinya. Kekuatan pencerahan jiwa mengandung arti bahwa pemimpin yang memberikan pengaruh sudah terlebih dahulu mempraktikkan apa yang dipengaruhkan. Hal ini sebagai wujud dari jiwanya yang telah tercerahkan. Dengan kata lain, proses mempengaruhi dilakukan atas dasar keteladanan.

Kepemimpinan profetik dalam beberapa penelitian mampu dijadikan sebagai upaya dalam pencegahan tindakan amoral seperti praktik maling. Di samping itu, kepemimpinan profetik juga sudah dijadikan sebagai materi dalam berbagai pelatihan instansi pemerintah maupun swasta karena dianggap mampu membekali pemimpin dengan nilai-nilai moral kenabian.

Model kepemimpinan ini juga berpengaruh pada motivasi kerja, kepuasan kerja, dan komitmen berorganisasi di berbagai organisasi di daerah. Dalam penelitian berjudul Peran Kepemimpinan Profetik dalam Kepemimpinan Nasional, Budiharto (2015) juga menyampaikan bahwa kepemimpinan profetik juga mempunyai peran dalam kepemimpinan nasional karena dapat meningkatkan karakter anti maling pada pejabat daerah.

Dimensi Kepemimpinan Profetik

Kepemimpinan profetik terdiri atas empat dimensi yang meliputi sidik atau jujur, amanah atau dapat dipercaya, tablig atau menyampaikan kebenaran, dan fatanah atau cerdas. Penjelasan mengenai dimensi ini adalah sebagai berikut.

Sidik merupakan individu yang mempunyai dimensi ini adalah seorang yang jujur, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan. Selain itu, dalam setiap tindakan yang dilakukan selalu berdasarkan pada peraturan hukum maupun norma yang ada di masyarakat.

Kemudian amanah, artinya dapat dipercaya, mempunyai legitimasi dan akuntabel dalam menggunakan fasilitas yang digunakan oleh negara. Individu yang memiliki dimensi ini tidak menyalahgunakan jabatan yang dimiliki untuk menguntungkan pribadi. Ketiga tablig, artinya menyampaikan mengenai nilai-nilai kebenaran.

Individu dengan dimensi ini tidak pernah ragu dalam memberantas kemungkaran dan tidak menyembunyikan apa yang harus disampaikan.

Terakhir adalah fatanah artinya mempunyai kecerdasan. Dimensi ini berarti individu mempunyai intelektual yang tinggi, termasuk di dalamnya spiritual dan emosional yang baik. Dalam bersikap yang berkaitan dengan jabatannya akan profesional.

Adapun ketika menghadapi kesulitan maka akan mudah dalam mencari jalan keluar. Tidak lantas memanfaatkan kepintarannya untuk menghalalkan berbagai macam cara.

Jika sudah tahu demikian, sudah saatnya pendidikan latihan kepemimpinan para pejabat harus didasarkan pada kepemimpinan profetik. Sebab, perilaku maling yang amoral harus dilawan dengan nilai-nilai moral yang menjunjung tinggi nilai-nilai kenabian.

Sudah saatnya ekonomi yang tidak merata, kemiskinan yang merajalela, serta ketimpangan yang semakin lebar, yang merupakan dampak dari pelaku maling harus dihilangkan. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda