Opini post authorBob 12 Maret 2023

Merawat Kualitas Pendidikan Bangsa

Photo of Merawat Kualitas Pendidikan Bangsa Amalia Irfani, Mahasiswa Doktoral Sosiologi UMM

Oleh:

 

 

 

Amalia Irfani,

 

 

 

Mahasiswa Doktoral Sosiologi UMM

 

 

 

Membaca headline news Suara Pemred Jumat (10/3) tentang kesepakatan damai antara tujuh remaja yang berstatus mahasiswa dan seorang dosen di salah satu Perguruan Tinggi Negeri Pontianak. Sekelompok mahasiswa tersebut secara sadar melakukan penganiayaan dan membuat preseden buruk dunia pendidikan. Apapun motifnya menganiaya pendidik hingga babak belur adalah perbuatan tercela dan melanggar hukum.

Pertanyaan besar pun muncul, sudahkah pendidikan yang diterima oleh penerus bangsa mampu memberikan pemahaman yang sesuai dengan dasar negara yakni Pancasila, apakah pendidikan yang didapatkan generasi telah dapat mengasah kecerdasan intelektual emosional, dan yang terpenting apakah telah membuat generasi memiliki sikap keberagamaan yang baik. Sepertinya perlu dilakukan evaluasi mutu pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi agar preseden pendidikan tidak lagi tercoreng oleh aksi memilukan yang serupa.

Kasus murid menganiaya guru (dosen) dalam jejak digital berita di media online beberapa tahun terakhir adalah momok memilukan yang tidak boleh dianggap sepele. Karena harusnya pendidikan menjadi solusi degradasi moral generasi, atau idealnya yang "telah" terdidik melalui pendidikan dapat memberi kebaikan dimanapun ia berada. Beberapa kasus lain bahkan tega menghabisi nyawa guru tanpa ampun. Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi pernah mengatakan dalam mengaplikasikan hukuman pada siswa memang harus tegas namun tetap mendidik. Tujuannya agar anak tidak terjebak pada perilaku yang justru bisa membuatnya menjadi pelaku kriminal lebih dahsyat lagi dan semakin sulit diubah dikemudian hari.

Untuk proses recovery anak (termasuk juga remaja) yang telah melakukan perbuatan menyimpang, memang bukan hal yang mudah dilakukan. Penanganan harus ekstra dan butuh keseriusan, kesabaran orang tua dan dukungan penuh dari instansi terkait. Pelibatan dan pendampingan unsur seperti konselor, psikolog anak, dokter dan psikiater harus kontinu dilakukan.

Mendidik Agar Terdidik

Mendidik bukanlah tugas remeh temeh semudah membalikkan telapak tangan. Mendidik adalah tugas berat yang harus diemban pendidik bangsa untuk menjadikan generasi bangsa dan penerus estafet perjuangan mampu menjadi unggul. Sehingga gelar pahlawan tanpa tanda jasa tersemat kepada sosok pendidik bangsa bernama guru. Namun memang tidak semua pendidik memiliki kepekaan, kepedulian, kelembutan yang sama. Beberapa terkategori memiliki perilaku kurang menyenangkan bagi peserta didiknyadengan sikap yang dianggap kurang pantas, walau mungkin tidak bermaksud demikian.

Untuk kasus mahasiswa dan dosen diatas, kita sebagai pembaca atau masyarakat harus menilai dengan bijak. Menilai dari kacamata multiperspektif. Ada adab yang harus dan terus dijaga. Ketidaksenangan dan dendam tidak harus selalu ditempuh dengan jalur kekerasan. Jika flashback zaman kolonial dan zaman awal kemerdekaan (generasi baby boomers) gaya pendidikan memang cenderung keras, mungkin bisa terkategori menakutkan untuk anak-anak zaman sekarang yang anti kekerasan baik verbal maupun fisik.

Tetapi hasil didikan yang keras tersebut telah banyak melahirkan generasi emas Indonesia yang juga tetap santun kepada guru dan memiliki kepekaan tinggi terhadap nasib bangsa. Generasi Y seperti penulis masih merasakan penggaris papan tulis "menyentak" betis kaki ketika pekerjaan rumah tidak dikerjakan yang tidak didapatkan oleh generasi Z dan setelahnya. Walaupun demikian tidak pernah ada dendam kepada guru, yang ada hanya malu dan keinginan hati untuk tidak mengulangi perbuatan yang sama.

Merawat Kualitas Pendidikan

Republik ini telah memiliki perangkat lengkap untuk memberikan ruang terang pada generasi melalui pendidikan. UUD 1945, UU Sisdiknas hingga kurikulum pendidikan yang sejak Februari 2022 resmi diluncurkan oleh Medikbudristek Nadiem Makarim dengan nama Merdeka Belajar. Merdeka Belajar adalah bentuk evaluasi dari kurikulum sebelumnya.

Tetapi, perangkat tersebut tidak akan berfungsi baik jika unsur penting yakni masyarakat pendidikan itu sendiri tidak diberikan ruang aman dan nyaman. Khususnya untuk para pendidik, yang sejatinya merupakan ujung tombak dan penjaga mutu pendidikan bangsa. Kesopanan, kesantunan dan menjaga adab harus pertama dan utama ditransfer ke murid (peserta didik) selain ilmu yang bermanfaat.

Merawat harmoni pendidikan sangat penting penanaman moral dan akhlak kepada generasi, dengan memberikan reward dan punishment yang sesuai dengan yang mereka lakukan. Pendidik sebagai komunikator, dan murid sebagai komunikan harus diberikan ruang aman, nyaman dan keamanan dalam melakukan proses belajar mengajar. Agar tidak ada kasus kekerasan murid terhadap guru atau sebaliknya. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda