Opini post authorBob 13 November 2020 135

Dibalik Resminya Resesi, Ekspor Masih Terus Meningkat

Photo of Dibalik Resminya Resesi, Ekspor Masih Terus Meningkat Ulfa Mardiyah, Fungsional Statistisi Ahli Pertama, BPS Kalimantan Barat 

Ibaratnya “Manusia hanya berencana, Tuhan Yang Maha Kuasa yang menentukan”. Begitulah kalimat yang sesuai dengan keadaan yang sedang di alami negeri kita saat ini.

Pemerintah yang tak henti-hentinya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk rakyatnya, mulai dari memberikan bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan hingga kepada pemilik usaha mikro kecil menengah (UMKM) serta banyak bantuan dan keringanan lainnya yang diberikan untuk menyejahterakan rakyatnya di tengah krisis pandemi Covid-19 ini.

Semua ini dilakukan pemerintah untuk mempertahankan kondisi perekonomian negara. Namun nyatanya, terjadilah resesi. 

Kamis, 5 November 2020 Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis angka Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2020 yang terkontraksi sebesar 3,49 persen. Sedangkan untuk Pertumbuhan Ekonomi Kalimantan Barat Triwulan III-2020 terkontraksi sebesar 4,46 persen (y-on-y).

Angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kalbar lebih rendah dibanding dengan angka pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun di saat kondisi perekonomian Kalbar melemah sejak triwulan I 2020 hingga triwulan III 2020, masih terdapat komponen yang menunjukkan petumbuhan positif (y-on-y), yaitu Ekspor Barang dan Jasa.

Selama tiga triwulan di tahun 2020 ini, komponen Ekspor Barang dan Jasa menunjukkan angka pertumbuhan yang positif, pada triwulan I 2020 meningkat sebesar 42,97 pesen, kemudian triwulan II 2020 berhasil meningkat sebesar 19,07 persen walaupun pertumbuhannya tidak setinggi di triwulan sebelumnya, namun dalam kondisi di awal pandemi, komponen tersebut dapat menunjukkan bahwa mampu bertahan dengan angka positif.

Sedangkan triwulan III 2020, dalam kondisi new normal, Ekspor Barang dan Jasa tumbuh meningkat sebesar 24,92 persen, artinya angka ini lebih besar dibanding dengan triwulan sebelumnya.

Kalau ada Ekspor tentunya juga ada Impor, karena mereka saling melengkapi. Contoh ringannya saja, masyarakat Pontianak yang suka ‘nongkrong’ dan ditemani secangkir kopi, padahal di Pontianak tidak ada kebun kopi.

Lalu darimana asal kopi yang di jual oleh warung kopi itu? Pastinya mereka beli kopinya dari luar Kota Pontianak. Itulah yang dinamakan Impor, karena ada barang yang di terima oleh Pontianak dari luar daerah.

Sedangkan yang dinamakan ekspor, misalnya, ketika ada keluarga kita di luar Prov Kalbar yang ingin sekali makan lempok durian khas Kalbar, maka kita yang berada di Kalbar akan mengirimkan makanan tersebut ke luar daerah Kalbar agar keluarga kita bisa menyantap makanan/jajajan khas Kalbar tersebut.

Dan keluarga kita  tidak perlu membuat lempok durian sendiri. Itulah arti saling melengkapi, adanya aktivitas  ekspor dan impor adalah untuk mempermudah masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Kondisi Ekspor dan Impor Provinsi Kalimantan Barat

 

Sebelum membahas tentang kondisi Ekspor dan Impor lebih lanjut, perlu di ketahui konsep dan definisi dari kedua hal tersebut. Menurut BPS, Ekspor dan impor merupakan aktivitas perdagangan barang dan jasa produk domestik dengan pihak di luar negeri.

Secara konsep, transaksi ini terjadi antara pihak “residen” dengan “non-residen”. Transaksi ekspor akan menambah devisa, sebaliknya transaksi impor akan mengurangi devisa negara. Dalam penghitungan PDB, barang dan jasa yang berasal dari impor bukan merupakan bagian dari output domestik. Untuk itu nilai impor harus dikurangkan dari PDB.

Kalau untuk pengertian ekspor dan impor di wilayah Kalimantan Barat yaitu,  perdagangan barang dan jasa produk di daerah Kalbar dengan pihak luar daerah Kalbar dan luar negeri.

Dalam penghitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Prov Kalbar, barang dan jasa yang berasal dari impor bukan merupakan bagian dari output wilayah Kalbar. Untuk itu nilai impor harus dikurangkan dari PDRB Prov Kalbar.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis pada bulan Juli s.d. September Tahun 2020 atau Triwulan III 2020, Neraca Perdagangan mengalami surplus selama tiga bulan berturut-turut, yaitu masing-masing sebesar, US$36,70 juta, US$65,44 juta, dan US$79,01 juta.

Surplus berarti bahwa total ekspor lebih besar dari pada total impor. Sehingga dengan surplusnya neraca perdagangan maka dapat menambah devisa negara.

Komoditas yang sangat berpengaruh dalam ekspor kalbar atau menjadi komoditas unggulan yaitu, Bijih, Kerak, dan Abu Logam, Lemak & Minyak Hewan/Nabati, serta Bahan Kimia Anorganik. Ketiga komoditas tersebut merupakan share terbesar dari total ekspor Kalbar dengan persentase sebesar 84,44 persen pada bulan September 2020.

Sedangkan negara tujuan ekspor Kalbar yang terbesar yaitu Tiongkok, India dan Malaysia. Sekitar 81,22 persen dari total ekspor Kalbar di ekspor ke tiga negara tersebut. (BRS 2 November 2020)

Selain itu, Kalimantan Barat juga mengimpor barang-barang tertentu dari luar negeri untuk kebutuhan produksi di Kalbar. Golongan barang yang menjadi penyumbang impor terbesar di Kalbar yaitu, Bahan Bakar Mineral, Mesin-mesin/Pesawat Mekanik, dan Biji-bijian berminyak.

Ketiga barang tersebut berkontribusi sebsar 88,85 persen terhadap impor Kalbar. Jika diliha dari negara asal, negara yang menyumbang impor terbesar yaitu, Malaysia, Singapura, dan Tiiongkok. Sekitar 88,52 persen dari total impor Kalbar berasal dari ketiga negara tersebut. (BRS 2 November 2020).

Penjelasan diatas merupakan kondisi ekspor barang dan impor barang di Kalbar yang sudah menggambarkan komponen Ekspor dan Impor Barang dalam PDRB Prov Kalbar menurut pengeluaran. Namun ekspor dan impor barang belum cukup, sehingga diperlukan ekspor dan impor jasa.

Lalu bagaimana dengan kondisi ekspor jasa dan impor jasa di Kalimantan Barat? Salah satu contoh aktivitas yang dapat menggambarkan kondisi ekspor jasa di Kalbar yaitu, dengan adanya wisatawan mancanegara (wisman) atau wisatawan domestik dari luar Kalbar yang sedang bekunjung di Kalbar.

Wisman maupun wisatawan domestik tersebut telah menggunakan jasa perjalanan pariwisata di Kalbar, sehingga dapat dikatakan bahwa jasa perjalanan tersebut telah berhasil menjual jasa kepada wisman maupun wisatawan domestik dari luar Kalbar atau bisa disebut dengan ekspor jasa.

Sedangkan salah satu contoh impor jasa itu kebalikan dari ekspor jasa, ketika masyarakat  berasal dari Kalbar (wisatawan Kalbar) sedang berwisata atau melakukan perjalanan wisata ke luar negeri maupun ke luar daerah Kalbar.

Sehingga wisatawan Kalbar membeli jasa perjalanan pariwisata dari luar Kalbar, itulah yang disebut dengan impor jasa. Kedua contoh diatas dapat menggambarkan kondisi ekspor jasa dan impor jasa yang paling mudah untuk diketahui di wilayah Kalbar.

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa dimasa pandemi Covid-19, adanya batasan-batasan untuk mengurangi aktivitas diluar rumah dan menghindari bepergian kalau tidak ada kepentingan mendesak, sangat mempengaruhi aktivitas ekspor dan impor jasa di wilayah Kalbar.

Artinya bahwa selama tiga triwulan di tahun 2020 ini mengalami penurunan yang sangat drastis pada subkomponen ekspor jasa dan impor jasa. Hal ini sesuai dengan angka jumlah kunjungan wisman ke Kalbar pada bulan Maret 2020 merosot tajam sebesar -99,19 persen dan rata-rata jumlah kunjungan wisman dari bulan April hingga September 2020 hanya sekitar 48 wisman.

Angka tersebut menjadi angka yang sangat kecil bila dibandingkan dengan kondisi normal pada tahun 2019 yang rata-rata per tahun mencapai 6,5 ribu wisman yang berkunjung di Kalbar. (BRS 2 November 2020)

Walaupun ekspor jasa turun drastis hampir 100 persen dimasa pandemi ini, namun ekspor barang masih mampu menopang angka pertumbuhan komponen ekspor barang dan jasa, sehingga komponen tersebut berhasil tumbuh dan meningkat dalam periode triwulan I sampai dengan triwulan III 2020 atau berhasil meningkat selama pandemi ini.

Semoga dengan tumbuhnya angka ekspor barang dan jasa di Kalbar ini menjadi stimulus untuk memperbaiki perekonomian di masa krisis pandemi covid-19. Sehingga tidak ada hambatan yang berarti untuk pembangunan perekonomian khususnya di wilayah Kalbar. (*)

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda