Opini post authorBob 17 Maret 2024

Biokonversi Limbah Popok Bayi Menghasilkan Bioetanol Menggunakan Isolate Bakteri Tanah dan Bakteri Saccharomyces cerevisiae

Photo of Biokonversi Limbah Popok Bayi Menghasilkan Bioetanol Menggunakan Isolate Bakteri Tanah dan Bakteri Saccharomyces cerevisiae Yoga Pratama, Mahasiswa Pascasarjana Kimia FMIPA

INDONESIA memiliki angka kelahiran bayi yang cukup tinggi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023 angka kelahiran bayi mencapai mencapai 4,62 juta. Popok bayi (disposable diapers) merupakan kebutuhan yang akan terus menerus meningkat sesuai dengan bertambahnya angka kelahiran bayi.

Penggunaan popok bayi sekali pakai di Indonesia saat ini mencapai 85 persen. Tingginya pemakaian popok bayi tanpa diimbangi sistem pengelolaan atau pemanfaatan limbah tersebut maka akan menjadi permasalahan di bidang lingkungan.

Penggunaan popok sekali pakai menyebabkan masalah lingkungan yang cukup serius, di antaranya adalah sampah dari popok nya itu sendiri, jika misalkan dalam sehari seorang bayi buang air 3 kali dengan berat sampah popok sekitar 0,25 kilogram setidaknya sampah popok dari seorang bayi selama 1 tahun sekitar 270 kilogram.

Sebagian besar isi bagian dalam popok tersebut adalah kapas yang mengandung senyawa polimer selulosa (Cowd, 1991). Adanya selulosa tersebut dapat dijadikan sumber karbon bagi mikroba penghasil selulase.

Bakteri selulolitik merupakan bakteri yang mampu menghasilkan selulase dan menghidrolisis selulosa menjadi produk yang lebih sederhana yaitu glukosa Bakteri selulolitik dijumpai pada habitat yang kaya akan selulosa, salah satunya adalah tanah.

Selulolitik sendiri berarti proses pemecahan selulosa menjadi senyawa atau unit-unit glukosa yang lebih kecil. Beberapa genus bakteri yang memiliki kemampuan selulolitik adalah Achromobacter, Angiococcus, Bacillus, Cellulomonas, Cytophaga, Clostridium, Cellivibrio, Flavobacterium, Pseudomonas, Poliangium, Sorangium, Sporocytophaga, Vibrio, Cellfalcicula (Rao 1994), Citrobacter, Serratia, Klebsiella, Enterobacter dan Aeromonas (Anand, 2009)

Enzim selulase adalah salah satu enzim yang dihasilkan oleh sejumlah mikroorganisme dan pada umumnya merupakan enzim ekstraseluler yang dihasilkan di dalam sel kemudian dikeluarkan ke medium pertumbuhannya, untuk mengkatalisis pemecahan selulosa menjadi glukosa dengan pemutusan ikatan β-1,4-glukosidik yang terdapat pada selulosa.

Enzim ini sangat penting dalam proses biokonversi atau perubahan secara biologi limbah-limbah organik mengandung selulosa menjadi glukosa. Glukosa yang dihasilkan dapat dijadikan bahan baku pembuatan bioetanol (Acharya dkk.,2008).

Bioetanol adalah cairan biokimia yang dapat dihasilkan dari kandungan glukosa, selulosa, dan pati atau karbohidrat dengan bantuan mikroorganisme. Pembuatan bioetanol dari selulosa umumnya melalui tahapan proses hidrolisis, fermentasi dan destilasi.

Penelitian Maya Dahlena pada tahun 2014 mengambil isolat bakteri selulase dari tanah yang menghasilkan enzim selulase. Bakteri selulase memiliki kemampuan mendegradasi substrat dalam hal ini popok bayi.

Popok bayi dengan adanya enzim selulosa akan terhidrolisis menghasilkan glukosa dengan memutus ikatan 1,4 glikosidik.

Selain menggunakan bakteri isolat dari tanah hasil penelitian Maya Dahlena, Thohari Anwar( 2015) melakukan percobaan fermentasi menggunakan bakteri  Saccharomyces cerevisiae sebagai usaha mengurangi sampah popok bayi sekali pakai.

Sebanyak 0,1 Kg popok bayi yang telah dibersihkan dapat menghasilkan rendemen bioetanol sebanyak 70 mL. Dua penelitian ini jika diaplikasikan berguna dalam mengurangi masalah lingkungan yang cukup serius, karena popok habis pakai untuk satu orang balita pengguna dalam setahun menghasilkan 270 kilogram limbah. (*)

 

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda