Opini post authorBob 20 Maret 2024

Sisi Dalam Makna Syahadat

Photo of Sisi Dalam Makna Syahadat Prof. Dr. K.H. Syarif, S.Ag , MA, Guru Besar Ilmu al-Quran dan Tafsir, Rektor IAIN Pontianak, Ketua PWNU Kalimantan Barat.

SYAHADAT dalam Islam menjadi inti ajaran. Pernyataan tauhîd—tauhid mengawali semua fikrah dan amaliah. Dalam Islam tauhid merupakan ajaran yang sangat pokok. Bahkan seluruh ajaran para nabi disebut sebagai ajaran tauhid.

Syahadatain sebagai rukun pertama dalam rukun Islam. Itu sebabnya, hemat penulis kita sangat perlu untuk tidak sekedar fasih melafazhkannya. Namun sangat baik jika syahadat digali Sisi Dalamnya untuk keutuhan dan kesempurnaan keimanan kita.

Dalam rangka menggali Sisi Dalam syahadat ini mari kita mengintip syarat dan rukun syahadat. Adapun syarat syahada ialah Diketahui, tashdîq dalam hati, diikrar dengan lidah, diamal dengan anggota.

Pertama. Diketahui artinya tidak dimaksudkan ditahu lafazh dan ucapannya. Tetapi harus ditahu siapa sosok atau wujud saksi yang menyaksikan persembahan para hamba kepada Tuhan.

Dalam Q.s. al-fath/48:28 dinyatakan ‘wakafâ billâhi syahîdan – dan cukuplah [Wujud] yang dengan Allah sebagai saksi”. Siapa sosok yang Dengan Allah yang Dianya sebagai saksi? Teks ayat suci itu dilanjutkan di ayat 29 “muhammadur rasûlullahi – Muhammad Rasulullah”.

Sambungan teks ayat ini sebagai penegasan tentang sosok Sang Saksi itu. Itu sebabnya rukun Islam yang pertama ini wajib mengucap dua kalimat syahadat, asyhadu an lâ ilâha illallâh wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.

Tidak sah rukun Islam yang pertama ini, jika tidak disandingkan syahadat Bahwa hanya Allah Tuhan, dan Muhammad Utusan-Nya. Nanti ada penjelasan bahwa tauhîd itu ke-Esa-an Allah, nyata pada Muhammad. Tentu uraian ini tidak melibatkan alam mâddah – materi.

Mengapa Dia Muhammad yang menjadi Saksi persembahan seluruh hamba Allah? Karena hanya Dia satu-satunya wasîlah kepada Allah. Setip hamba yang hendak menuju Allah, mesti berwasilah kepada Muhamamd Rasulullah Saw Q.s. al-Nisâ/4:64, al-Hajj/22:27, al-Isrâ’/17:57, al-Mâidah/5:35. Karena itulah artinya semua hamba yang melakukan persembahan atau menyembah Allah, Muhammad Rasullah Saw menyaksikannya.

Itu sebabnya maka hanya Dia yang bergelar shallallâhu ‘alaihi wasallama. Dianya Muhammad Saw yang di-shalawat oleh Allah (Q.s. al-ahzâb/33:56). Di-shalawat itu artinya Allah ada hubungan dengan Muhammad.

Seperti apa hubungannya? Ialah seperti hubungan Dzat dan Shifat. Nanti di narasi syarah Shifat Yang Duapuluh Bagi Allah, bahwa wujud Shifat Dzat itu satu yaitu Nûr Allah, itulah nyatanya Shifat Dirinya Allah, nafsiyah.

Lalu kemudian ada Shifat Yang Menyifati Shifat Dzat. Itulah yang terurai menjadi syarah Shifat Ma’ânî – qudrat, iradat, ‘ilmu, hayat, sama’, bashar, kalam.

Nûr Allah itulah yang menjadi Ruhaniahnya Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Jika dikaji lebih ke belakang lagi, yaitu ke alam asal kejadian, maka Nûr Allah inilah yang menjadi asal kejadian segala sesuatu “wakhuliqa kullu syain minhu”.

Yang mutlak wajib kembali kepada-Nya dari segala sesuatu adalah Ruh. Inilah dasar yang sangat kuat untuk menerima apa yang Beliau sabdakan “anâ abu al-arwâhi wa âdama abu al-basyari – Aku Bapaknya para ruh dan Adam Bapak segala tubuh”.

Segala sesuatu itu, terutama seluruh Ruh yang sedang bersemayam di seluruh tubuh manusia di permukaan bumi ini, asal kejadiannya hanya satu yaitu Nûr Allâh. Para ruh adalah sebagai turunan Nûr Allah.

Ini berlaku lintas suku-bangsa bahkan agama. Kalau kita mau memahami ushûl-asal  ini, maka akan selesailah perdebatan masalah nasab jasadi itu. Karena yang dinilai di sisi Allah bukanlah jasad kita.

Kedua, tashdîq dalam hati. Tashdîq artinya membenarkan. Jadi sosok atau wujud yang dalam hati membenarkan sesuatu. Wujud yang dalam hati itu ni’mat – anugerah, nyatanya berupa rasa, itu dzat yang dianugerahkan Allah kepada Ruh.

Dzat atau rasa itulah inti atau lubb/albâb atau batin pada kita. Batin inilah yang dipercaya oleh Allah, dialah wujud îmân itu, atau wujud kepercayaan Allah atau sosok yang dipercaya oleh Allah untuk bertugas mengintip dan mencatat perbuatan kita – Ruh.

Apa pun yang kita perbuat dengan tubuh ini, dicatat oleh îmân itu. Dia selalu bersifat shiddîq – jujur, benar. Catatan atas perbuatan kita—Ruh ini, tak pernah bengkok --  walam yaj’al lahû ‘iwaja.

Walaupun kita sendiri yang berbuat salah, tetap ditulis salah di dalam dada sana. Dialah âyât--tanda ada kebenaran dari pada Allah dalam dada, bal huwa âyâtun bayyinâtun fî shuduri al-ladzîna ûtû al-‘ilma – bahkan kitab—catatan itu ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang dikarunia pengetahuan (tentang îmân itu).

Apa sesuatu yang dibenarkan atau di-tashdîq itu? Adalah yang dibenarkan “apakah sudah tahu siapa saksi atau belum”. Dia yang dalam hati itu paham betul akan pengetahuannya. Dia yang dalam hati itu juga benar-benar tahu akan kebodohannya.

Pernyataan di dalam hati tentang tahu atau tidak tahu itu namanya tashdîq. Berikutnya, yang di-tashdîq itu apakah sedang hadir dan ada di hadapan saksi atau tidak.

Saat shalat misalnya, dia yang dalam hati itu tahu betul apakah ingatannya sedang hadir di hadapan Allah atau sedang jalan-jalan di sawah. Menyatakan sedang di sawah atau sedang di hadapan Allah itulah namanya tashdîq.

Di mana dan kapan kita harus hadir dan ada di hadapan saksi? Adalah hadir itu di tempat yang tidak mensyarikati Allah, di Baitullah (Q.s. al-Baqarah/2:125, al-Hajj/22:26).

Maka syarat sah mengucap dua kalimat syahadat itu adalah menghadap kiblat. Tentu bukan muka jasadi ini saja yang menghadap, tapi utamanya hati hadir di kiblat.  Kapan? tempat wajib mengucap dua kalimat syahadat itu ialah kala murtad dan dalam sembahyang.

Saat murtad lalu Taubat, kemudian mengucap dua kalimat syahadat. Dalam sembahyang, tentu syahadatain dibaca dalam bacaan tasyâhud pada salah satu rukun dari rukun sembahyang yang tiga belas yaitu duduk tasyâhud. Duduk tasyâhud itu ada kaitannya dengan syhâdat. Tasyâhud itu bermakna saling menyaksikan.

Tentu ini kinerja hati, immaterial. Mengetahui siapa saksi, lalu hadir hati di hadapannya, berucaplah kita akan syahadatain, tentu Sang Saksi menyaksikan. Saat saksi menyaksikan, maka disebutlah kita yang bersaksi disaksikan.  

Jika hati tidak hadir di hadapannya maka tentu kita tidak disaksikan sebagai hamba yang menyembah Tuhan. Pada saat saksi menyaksikan, dan yang bersaksi disaksikan inilah terjadi peristiwa “syuhûdu al-katsrati fî al-wahdati wa syuhûdu al-wahdati fi al-katsrati—memandang yang banyak pada yang Satu, dan memandang yang Satu dalam yang banyak”.

Ketiga, diikrar dengan lidah. Setelah genah dua syarat di atas, tentu kita mengikrarkannya, menyatakan pengakuan dengan lisan.

Tetapi harus tetap menjadi perhatian ialah bahwa Allah itu tidak menilik kehadiran gerakan dan bacaan tanpa kehadiran wujud yang dalam hati. Maka oleh karena itu ada syarat sah mengucap dua kalimat syahadat, seperti diurai di atas.

Keempat, diamal dengan anggota. Dalam pelaksanaan rukun sembahyang yaitu duduk tasyâhud, ada bacaan tasyâhud akhir di dalamnya diucapkan syahadatain, sembari jari telunjuk bergerak menunjuk tanda satu dan diiringi dengan jempol jari mendampingi.

Gerakan telunjuk jari itulah namanya mengamal dengan anggota tubuh. Gerak jempol menyatu dengan telunjuk itu adalah menyatakan Esa Dzat dan Shifat, terkumpul dalam ucapan syahadatain.

Selanjutnya Rukun Syahadat yaitu: meng-itsbat-kan Dzat-Nya Allah; meng-itsbat-kan Shifat-Nya Allah, meng-itsbat-kan fi'il-Nya Allah; pada meng-itsbat-kan kebenaran Rasulullah. Pertama, Meng-itsbat-kan Dzat-Nya Allah, artinya  tetap Dzat Allah itu Wujud yang Wujudnya meliputi segala sesuatu. Wujud-Nya Muqaddim – mengawali hidup kamu datang dari pada Allah dan Wujud-Nya Muakhkhir – mengakhiri hidup kamu kembali kepada asalnya. Tetap Wujud-Nya, diri-Nya nyata pada Shifat-Nya.

Kedua, meng-itsbat-kan shifat-Nya Allah, artinya tetap shifat-Nya Allah nyata pada Maujûd. Adapun Maujûd adalah kejadian awal-mula dijadikan Allah. “Awwalu mâ khalaqa Allâhu nûran muhammadan wakhuliqa kullu syain minhu-- mula-mula yang dijadikan Allah itu Nur Yang Dipuji [Nur Yang Namanya Nuhamnad] dan segala sesuatu dajadikan dari-Nya”. Awal kejadian ini Wujudnya adalah Nûr yang dari-Nya segala sesuatu diasalkan.

Dialah Maujûd  itu wujudnya Nûr Alláh. Kepadanya Allah berkata “khalaqtu al-asyyáa liajlika wa khalaqtuka liajalî– Kuciptakan segala sesuatu karena Engkau (wahai Muhammad), Aku jadikan Engkau karena Aku – Aku jadikan segala sesuatu untuk nyatanya Engkau, Aku jadikan Engkau untuk nyatanya Aku”. Jadi, susunannya ada:  Wujûd--Allah; ada Maujûd—Nur Allah, Muhammad; ada wujûd ‘alâ Maujûd—segala sesuatu.

Kelompok pertama dari segala sesuatu itu, dijadikan empat ribu tahuan sesudah dijadikannya Nûr Allah dan empat ribu tahun sebelum diciptakan tubuh Adam,  adalah ‘Arsy-Kursy, Surga-Neraka, Mukmin, Bumi. Mukmin itu nama Malaikat, nama Ruh, dan nama Iblis.  Sebelum terbagi tiga setelah diciptakan tubuh Adam, dahulun namanya Mukmin.

Allah menyatakan lagi akan Shifat-Nya Nûr itu “lawlâka má khalaqtu al-aflâq wa lawlâka mâ khalaqtu âdama walâ al-jannta walâ al-nâra – kalau bukan karena Engkau tidak Aku ciptakan jagat raya, dan kalau bukan karena adanya Engkau tidak Aku jadikan Adam, tidak juga surga dan neraka”.

Atas firman dalam hadis-hadis qudsi itu, Sang Maujûd, Sang Nûr Allah, Sang Yang disebut Muhammad itu, berkata:  “anâ nûrullâh wa al-mu’minûna minnî – Aku Nur Allah dan mukmin dari pada Aku; anâ minallâhi wa al-mu’minûna minnî – Aku dari pada Allah dan mukmin dari pada Aku”. Ini bentuk meng-itsbat-kan Shifat-Nya Allah pada maujûd yaitu Nûr Allâh.

Ketiga, meng-itsbat-kan if’al-Nya Allah, ialah tetap fi’il-Nya Allah pada Iradat-Nya, yaitu kehendak Allah pada Muhammad. Apa kehendak-Nya pada Muhammad itu? Ialah hendak Allah menjadikan segala sesuatu dari pada Muhammad – Nûr Allâh. Begitu urutan hadis-hadis qudsi seperti terurai dibatas.

Keempat. Meng-itsbat-kan kebenaran Rasulullah. Ini letak kunci nyatanya semua itsbat di atas. Sehingga tauhîd itu ke-Esa-an Allah, nyata pada Muhammad, hakikat pada kita. Yang nyata itu Shifat, wujud dari Shifat itu adalah Nûr.

Hakikat pada kita itu artinya kita berhakikat atau menuju hati ini kepada Muhammad sebagai satu-satunya wasilah kepada Allah, seperti penyampaian penjelasan di atas. Maka oleh karena itu, Rasulullah Saw Sang pengampu hakikat bersabda “al-haqîqatu ahwâlî – hakikat itu hal Aku”.

Maksudnya barang siapa hendak menuju Allah, tujulah Aku. Barang siapa hendak mengenal Allah, kenalilah Aku. Hadis qudai tentang ini: “fabî ‘arafûnî—maka dengan Wujud yang dengan Aku itu mereka mengenal Aku; ma’rifatullahi billâhi—mengenal Allah melalui Wujud yang Dengan Allah”. Yang Dengan Allah itu Wujûd Shifat, itulah Nûr Allah. Begitu tuntunan Rasulullah kepada para auliyâ’ yang diimaminya.

Adapun kaifiyat meng-itsba-kan kebenaran Rasulullah, adalah dengan merasakan sifat Rasul itu ada pada kita. Selama ini shifat Rasul itu tidak aplikatif pada kita, melainkan hanya normatif sebatas hafal teorinya.

Ialah shifat beliau itu “shiddîq—jujur-benar, amânah—terpercaya, tablîgh—menyampaikan, fathanah—cerdas-bijak”.

Bagaimana mengaplikasikan ini pada kita? Pertama, kenali wujud hakikinya Rasulullah Saw yaitu yang subyek pada tubuh kenabiannya. Adalah yang subyek pada tubuh kenabian Beliau, yaitu Rohaniahnya. Sedangkan Ruhaniah pada Beliau adalah Nûr Allah.  

Kedua, ketahuilah  dan yakinilah seperti diuraikan di atas, bahwa segala sesuatu yang ada ini asal kejadiannya adalah Nûr Allah. Adapun yang mutlak wajib kembali kepada-Nya dari segala sesuatu itu adalah  Ruh, ialah wujud diri kita yang sedang menjadi subyek pada tubuh ini.

Singkatnya Ruh atau kita ini turunan dari Nûr Allah. Itu sebabnya Ruh ini shifat wujudnya adalah cahaya juga (Q.s. al-syûrâ/42:52. Maka kita ini, sesungguhnya melazimi, menuruni, dan mewarisi shifat yang ada pada Rasul. Ini sejalan dengan makna Islam pada tataran aplikatif ini bahwa “islam titah dari pada Allah, shifat pada Muhammad, wajib pada kita”.

Wajib pada kita, apanya? Wajib ditahu:  apa titah dari pada Allah, yakni “ittaqûllâha  haqqa tuqâtihi – bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa”. Takwa yang sebenarnya takwa adalah hadir hati di baiti al-‘atîq (Q.s. al-Hajj/22:32-33). Untuk apa hadir hati di baiti al-‘atîq? Tentu supaya hati ini terpelihara;

Apa yang wajib pada Muhammad? Yakni wajib Shifat Dirinya Allah ada pada Rasul. Bagaimana pahamnya? Wujud Shifat Dirinya Allah ialah Nûr. Dia disebut Nûr Allah, itulah Muhammad.

Inilah yang dinamakan Shifat Nafsiyahnya Allah itu wajib ada pada Rasul, yaitu Muhammad Saw. Awas, ini tidak menyangkut jasadiah, karena jasadiahnya itu disebut tubuh kenabian;

Apa yang wajib pada kita? Wajib ada Shifat Rasul pada kita. Karena asal kejadian Ruh atau kita adalah Nûr Allah--Muhammad, maka kita melazimi, menuruni, dan mewarisi Shifat Rasul itu.

Ini bisa dibuktikan dan dirasakan. Misalnya, Sifat shiddîq—jujur, benar. Mengapa kita tahu dan ingat bahwa kita pernah berbohong? Padahal saat kita berbohong tidak ada seorang pun yang tahu.

Itu karena di dalam dada kita ini ada wujud yang melazimi, menuruni, dan mewarisi shifat shiddîq yang tak bisa dan tak pernah berbohong. Biar diri kita sendiri yang berbohong, tetap ditulis bohong sebagai catatan di dalam dada.

Mengapa dia selalu shiddîq, karena dia si-îmân itu amánah Allah. Dia dipercaya oleh Allah. Dialah sosok kepercayaan Allah.  Maka dia si-îmân itu selalu ber-tablîgh—menyampaikan. Menyampaikan hasil catatan perilaku Ruh—kita menjadi kitáb—catatan di dalam dada.

Pada saat kita sering membaca catatan itu, maka kita jadi orang yang fathanah—cerdas- bijak, karena kita mengerti akan kekurangan kita sendiri.

Jadi, Sisi Dalam Makna Syahadat itu adalah mengenal dirinya  Muhammad yang hanya Dia satu-satunya bergelar shallahu ‘alaihi wasallama itu. Lalu mengenal kedudukan Muhammad Saw di sisi Allah. Adalah Dianya Muhammad Saw sebagai wasîlah satu-satunya kepada Allah.

Bahkan semua para nabi yang 124.313 itu ber-wasîlah kepadanya. Selanjutnya kita harus mengenal diri kita yang hakiki. Karena tubuh ini hanya tunggangan kita.

Maka wajiblah ditahu subyek, yaitu diri kita sendiri--Ruh. Inti sisi dalam syahadat ini ialah wajib ditahu saksi yang menyaksikan, dan wajib ditahu wujud yang bersaksi disaksikan. (*)

 

 

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda